Permintaan Kontrasepsi


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kontrasepsi Suntik
May May, Alumni FE UNDIP

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pengaruh pertumbuhan penduduk pada pembangunan ekonomi telah menarik perhatian para ahli ekonomi sejak Adam Smith menulis bukunya Wealth of Nations. Adam Smith menulis, ”Buruh tahunan setiap bangsa merupakan kekayaan yang pada mulanya memasok bangsa dengan segala kenyamanan hidup yang diperlukan”. Hanya Malthus dan Ricardo yang mencanangkan tanda bahaya mengenai dampak pertumbuhan penduduk di Eropa Barat justru mempercepat proses industrialisasi. Pertumbuhan penduduk membantu ekonomi negara tersebut karena mereka sudah makmur, punya modal melimpah sedang buruh kurang. Di negara seperti itu peningkatan penduduk yang tinggi bagaimanapun akan meningkatkan tingkat produktifitas. Kenyataanya, kenaikan jumlah penduduk menghasilkan kenaikan GNP yang lebih tinggi (Todaro, Michael P)
Penduduk merupakan unsur penting dalam kegiatan ekonomi dan dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi penduduk memegang peranan yang penting karena ia menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan dan tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. Sebagai akibat dari beberapa fungsinya ini maka penduduk bukan saja merupakan faktor produksi, tetapi lebih penting lagi penduduk merupakan unsur yang menciptakan dan mengembangkan teknologi serta yang mengorganisasi penggunaan berbagai faktor produksi.
Akan tetapi di negara terbelakang, akibat pertumbuhan penduduk pada pembangunan tidaklah demikian karena kondisi yang berlaku sama sekali berbeda dengan negara berekonomi maju. Ekonomi negara terbelakang miskin, modal kurang, sedangkan buruh melimpah. Karena itu pertambahan penduduk benar-benar dianggap sebagai hambatan pembangunaan ekonomi. Pertumbuhan penduduk yang cepat memperberat tekanan pada lahan dan menyebabkan pengangguran. Belum lagi masalah penyediaan pangan yang luar biasa banyaknya. Bahkan kebutuhan untuk menyediakan prasarana kepada masyarakat cenderung mengalihkan pengeluaran negara dari aktiva produktif. Tekanan penduduk kian cenderung menimbulkan masalah pada neraca pembayaran. Bahan pangan, barang-barang konsumen, bahan mentah, peralatan modal, dan sebagainya, perlu di impor untuk memenuhi permintaan penduduk yang semakin membengkak.
Di negara-negara berkembang pertumbuhan penduduk yang sangat besar jumlahnya menambah kerumitan masalah-masalah pembangunan yang dihadapi. Dapat dikatakan bahwa masalah kependudukan merupakan salah satu masalah yang paling utama dan paling sulit diatasi. Sudah sejak lama orang menyadari bahwa pengurangan laju perkembangan jumlah penduduk di negara-negara berkembang merupakan suatu langkah penting yang harus dilakukan untuk mempercepat laju perkembangan ekonomi. Usaha-usaha untuk mengurangi perkembangan penduduk mengalami beberapa masalah ekonomi, sosial-budaya, keagamaan, politik dan psikologis sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dalam mengurangi perkembangan penduduk dengan baik dan dalam waktu yang relatif singkat.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia, dimana Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah penduduk yang terbanyak di dunia. Jumlah penduduk Indonesia hanya kalah oleh negara China, India, dan Amerika Serikat (www.google.com)
Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 adalah sebesar 210.241.999 jiwa dengan pertambahan penduduk sekitar 1,9 % (BPS, 2001) dan pada tahun 2007 laju pertumbuhan penduduk diprediksi sudah menurun, namun masih kisaran 1 %. Laju pertambahan penduduk yang tinggi tersebut akan berpengaruh kepada tingkat kehidupan dan kesejahteraan penduduk. Penduduk merupakan unsur penting dalam kegiatan ekonomi dan dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian. Dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi penduduk memegang peranan yang penting karena ia menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan dan tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. Sebagai akibat dari beberapa fungsinya ini maka penduduk bukan saja merupakan faktor produksi, tetapi lebih penting lagi penduduk merupakan unsur yang menciptakan dan mengembangkan teknologi serta yang mengorganisasi penggunaan berbagai faktor produksi.
Apabila diperbandingkan dengan negara maju, implikasi tingginnya laju pertumbuhan penduduk akan lebih terasa di negara miskin, sebab pertambahan angkatan kerja sebagai akibat dari ledakan penduduk di negara miskin yang tidak diimbangi oleh semakin diperluasnya lapangan kerja justru akan menimbulkan angka pengangguran semakin tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan kebijakan yang tidak saja berhenti pada upaya meringankan penderitaan penduduknya yang diakibatkan oleh kemiskinan absolut saja namun juga pada upaya pendistribusian bahan pangan dan pendapatan yang memadai sebagai perwujudan dari keberhasilan pembangunan ekonomi.
Pembangunan ekonomi menurut Meier (1995) adalah proses dimana pendapatan perkapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang. Lebih lanjut Mudrajad Kuncoro (1997) melengkapi pendapat tersebut dengan memberi batasan pada indikator keberhasilan pembangunan ekonomi. Menurutnya pembangunan ekonomi baru akan dikatakan berhasil apabila pertumbuhan penduduk lebih kecil dari pada pertumbuhan pendapatan nasional.
Hasil olah pikir ahli ekonomi ini sejalan dengan hasil kajian pakar masalah kependudukan Prijono Tjipto Herijanto (1997) yang menyatakan bahwa pembangunan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh keadaan peduduknya dikatakanya, penduduk mempunyai peran stratgis dalam pembangunan. Sebab penduduk mempunyai peran ganda, yakni selain sebagai subyek, penduduk sekaligus juga berperan sebagai obyek dalam pembangunan. Sedangkan sebagai obyek, penduduk mempunyai arti sebagai konsumen atau penikmat hasil-hasil pembangunan. Penjelasan ini senada dengan pemikiran N.Haday A Pasay (1991) yang menerangkan tentang peranan penduduk dalam pembangunan. Disebutkanya bahwa penduduk dapat menjadi modal sekaligus sebagai beban. Artinya penduduk merupakan salah satu modal penting dalam pembangunan disuatu negara, yakni sebagai motor penggerak pembangunan karena mampu melakukan kegiatan produktif. Disisi lain untuk kelangsungan hidupnya penduduk membutuhkan barang dan jasa sebagai hasil dari kegiatan produksi. Kegiatan ini selanjutnya disebut sebagai kegiatan konsumtif. Jumlah penduduk yang besar yang tidak diiringi dengan kualitas hanya akan menjadi beban pembangunan. Oleh karena itu penduduk perlu lebih diperhatikan melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Di Indonesia perhatian pada kualitas penduduk tercermin dalam prioritas pembangunan kesejahteraan rakyat, dimana pembangunan kependudukan diarahkan pada peningkatan kualitas penduduk yang ditujukan oleh tingkat pendidikan, derajad kesehatan dan kesejahteraan sosial (UU NO 25 tahun 2000 tentang Propenas).
Menurut Bambang (2007) untuk menanggulanginya maupun untuk kelangsungan program, pemerintah telah mencanangkan program kependudukan dan keluarga berencana (KB) sebagai program nasional. Program pemerintah ini mengakibatkan pengembangan obat-obat kontrasepsi semakin marak tidak saja pengembangan senyawa kimia yang sudah ada namun juga upaya pencarian senyawa dari bahan alam.
Dengan disahkannya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan keluarga sejahtera, Misi program KB semakin luas. Pengertian keluarga berencana menjadi suatu upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Sebagai konsekuensi dari perluasan misi tersebut, semua komponen dan perangkat yang terkandung didalam program KB Nasional menysuaikan diri. Demikian juga pendataan PUS dan peserta KB yang semula hanya mencakup informasi tentang KB diperluas dengan informasi tenatng demografi, keluarga sejahtera, dan individu anggota keluarga sehingga namanya berubah menjadi pendataan keluarga. Visi program KB adalah Keluarga Kecil Berkualitas 2015, dengan misi ”membangun setiap keluarga Indonesia untuk memiliki anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya melalui pengembangan kebijakan, penyediaan layanan promosi, fasilitasi, perlindungan, informasi kependudukan dan keluarga, serta penguatan kelembagaan dan jejaring KB”.
Upaya penurunan kelahiran dilakukan melalui Gerakan Keluarga Berencana (KB) yang didalam perkembanganya diatur dalam UU No. 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Gerakan keluarga berencana tidak hanya sekedar bertujuan untuk menurunkan jumlah anak yang dilahirkan, tetapi mencakup pula tujuan yang lebih luas yaitu meningkatkan kualitas penduduk dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera. Upaya peningkatan kualitas penduduk mencakup berbagai aspek diantaranya aspek kesehatan reproduksi yang berkaitan langsung dengan upaya penurunan kelahiran serta kematian ibu melahirkan, bayi dan anak di bawah lima tahun.
Menurut Nenik (2004) Ketercapaian penurunan angka pertumbuhan penduduk dapat dilihat melalui beberapa indikator, diantaranya jumlah dan laju perubahan penduduk yang terkendali, laju perubahan PUS (pasangan usia subur) yang tidak lebih besar daripada laju perubahan PA KB (peserta KB aktif) dan TFR (Total Fertility Rate atau angka fertilitas) yang rendah. Adapun dalam penelitian ini data kependudukan tentang indikator keberhasilan pengendalian jumlah penduduk di Kota Semarang dilihat dari tahun 2001 sampai 2005.

TABEL 1.1
KOMPOSISI PENDUDUK, PUS, PA KB, TOTAL FERTILITY RATE (TFR) DAN PREVALENSI KOTA SEMARANG 2001 – 2005
Tahun
Penduduk
PUS
PA KB
Prevalensi
TFR

Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%

2001
1.322.320

213.329

168.947

79,19
1,64
2002
1.350.005
2,09
219.754
3.01
171.138
1,29
77,87
1,69
2003
1.378.193
2,09
224.096
1.97
176.424
3,08
78,72
1,61
2004
1.399.133
1,52
227.155
1,36
179.059
1,49
78,82
1,47
2005
1.419.478
1,45
232.386
2,25
183.154
2,28
78,81
1,65
Rata-rata perubahan

1.43

2,15

2,03

Sumber BKKBN kota Semarang
Dapat diketahui bahwa jumlah absolut penduduk kota semarang dari tahun 2001-2005 terus mengalami peningkatan, dengan rata-rata peningkatan relatif pertahun sebesar 1,43 persen. Hal ini sangat erat kaitanya dengan daya tarik Kota Semarang yaitu sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah yang sekaligus sebagai pusat perekonomian dan pusat pendidikan. Apalagi sejak terjadinya krisis ekonomi terlihat arus urbanisasi ke Kota Semarang semakin meningkat, sehingga kondisi ini menjadi tantangan bagi aparat pemerintah daerah maupun instansi terkait dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkanya. Peningkatan angka secara relatif ini juga terjadi pada PUS. Ternyata peningkatan jumlah PUS secara relatif terlihat jauh lebih besar dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk, dimana rata-rata peningkatan jumlah PUS pertahun sebesar 2,15 persen. Lebih besarnya rata-rata peningkatan jumlah PUS dari pada jumlah penduduk ini merupakan potensi terjadinya pelipatan jumlah penduduk dalam waktu yang lebih pendek. Selanjutnya angka pertumbuhan penduduk akan dapat terkendali jika rata-rata peningkatan jumlah PUS secara relatif lebih kecil daripada peningkatan jumlah peserta KB aktif. Namun kenyataanya yang terjadi dikota semarang justru sebaliknya secara relatif rata-rata peningkatan jumlah PUS pertahun jauh lebih besar daripada peningkatan jumlah peserta KB aktif dimana rata-rata peningkatan jumlah peserta KB aktif secara relatif pertahun hanya 2,03 persen saja. kondisi ini juga menjadi pemicu terjadinya ledakan penduduk dalam waktu yang lebih singkat. Ancaman terjadinya ledakan penduduk juga dapat dilihat dari rendahnya tingkat prevalensi kesertaan KB, yakni perbandingan antara jumlah peserta KB aktif terhadap jumlah PUS. Banyaknya PUS menunjukkan besarnya permintaan potensial kontrasepsi oleh penduduk sebab secara keseluruhan bagian dari penduduk inilah yang benar-benar membutuhkan, memanfaatkan dan melakukan permintaan kontrasepsi dalam rangka mengatur jumlah anak, menjarangkan ataupun membatasi kelahiran. Sedangkan bagian dari PUS yang masih aktif memakai atau menggunakan kontrasepsi dapatlah dijadikan petunjuk akan besarnya permintaan efektif kontrasepsi yakni permintaan akan kontrasepsi yang didukung oleh kemampuan daya beli bagian dari PUS tersebut.
Selanjutnya adanya ketidakseimbangan antara perubahan jumlah penduduk dengan jumlah PUS yang disertai dengan adanya ketidakseimbangan antara perubahan jumlah PUS dengan jumlah peserta KB aktif di Kota Semarang tetap harus diwaspadai dan sekaligus terus berlanjut sama artinya dengan membiarkan angka kelahiran (TFR) melaju tinggi.
Data kependudukan selama tahun pengamatan menunjukkan bahwa TFR Kota Semarang sempat menunjukkan gejala menurun yakni pada tahun 2003 hingga 2004 namun kenyataanya berangkat dari tahun 2004 hingga akhir tahun pengamatan besaran TFR cenderung merayap naik, bahkan pada tahun 2005 besarnya mencapai angka 1,65 dampak dari tingginya TFR menurut Mantra (2000) adalah terjadinya ledakan penduduk (Explosion of population). Ancaman ini akan berimbas pada penurunan kualitas penduduk, ceteris paribus. Dampak negatif semacam ini berlaku sama disemua wilayah kabupaten/kota. Oleh karena itu guna mengantisipasi ancaman ledakan penduduk telah diupayakan kebijakan pengendalian jumlah penduduk dan kebijakan penurunan tingkat pertumbuhan penduduk yang dilakukan melalui gerakan peningkatan kesertaan KB aktif di Kota Semarang.
Ada beberapa jenis alat kontrasepsi yang digunakan di Kota Semarang antara lain: Suntikan KB, Susuk KB, Pil KB, Kondom, AKDR / IUD, Tubektomi / MOW, Vasektomi / MOP. Untuk mendapatkan alat kontrasepsi tersebut sekarang ini sudah banyak tempat yang melayani atau menyediakan beberapa alat kontrasepsi tersebut seperti RS Pemerintah, RS Swasta, Praktek dokter, PUSKESMAS / PUSTU, Praktek Bidan, Polindes, Apotik. Suntik merupakan alat kontrasepsi yang mudah diperoleh yaitu bisa di Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Swasta, Puskesmas, dokter praktek, bidan praktek. Hal ini bisa dilihat dalam tabel di bawah ini.
TABEL1.3
DISTRIBUSI PENDUDUK WANITA 15-49 YANG BER-KB MODERN MENURUT SUMBER PELAYAN ALAT / CARA KB YANG TERKAHIR DI KOTA SEMARANG TAHUN 2005-2006

Sumber Pelayanan KB
Tahun

2005
2006
– RS Pemerintah
5,48
2,50
– RS Swasta
1,45
1,68
– Praktek dokter
0,48
1,08
– PUSKESMAS / PUSTU
31,19
19,78
– Praktek Bidan
21,08
25,08
– Polindes
31,85
41,28
– Apotik
3,61
1,18
– Lainya
4,65
7,32
Jumlah
100,00
100,00
Sumber: BPS, 2005-2005
Berdasarkan data 2005 sampai 2006 dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 ternyata semakin berkurang yang mendatangi RS Pemerintah maupun Pustu (Puskesmas pembantu) untuk mendapatkan alat/cara KB dibanding tahun 2005 seperti terlihat pada Tabel 1.3 yaitu berkurang sebesar 2,98 dan 11,51 persen.
Hal ini disebabkan karena semakin banyak praktek dokter atau bidan yang menyediakan alat KB yang lebih mudah untuk didatangi oleh mereka dan keamanan serta kenyamanan yang diberikan oleh RS pemerintah maupun puskesmas / pustu.
Pada tahun 2002-2006 alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh PUS di Kota Semarang yaitu suntikan KB lalu disusul dengan pil KB bila dibandingkan dengan alat atau cara kontrasepsi lainnya. Alat kontrasepsi yang terus digunakan seperti suntik lebih banyak yang menggunakan dibandingkan dengan alat kontrasepsi yang sekali pakai untuk jangka waktu yang lama. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
TABEL 1.2
BANYAKNYA AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA LESTARI DI KOTA SEMARANG TAHUN 2002-2006
Alat / cara KB yang terakhir
2002
2003
2004

2005

2006

Jumlah
Suntikan KB
89.773
93.596
94.818
100.202
104.531
482.920
Pil KB
26.180
26.937
27.498
27.198
28.030
135.843
AKDR / IUD
15.588
15.609
15.371
15.040
28.030
89.638
MOW&MOP
16.966
17.213
17.256
17.143
17.090
85.668
Susuk KB
12.104
12.537
13.530
12.850
12.590
63.611
Kondom
10.587
10.496
10.576
10.721
10.695
53.075
Jumlah
171.198
176.388
179.049
183.154
200.966
910.755
Sumber: BPS 2002-2006.
Berdasarkan data tahun 2002 sampai 2006 di atas maka terlihat bahwa di Kota Semarang selama kurun waktu lima tahun yaitu tahun 2002 sampai 2006 alat kontrasepsi suntik merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak penggunanya dibanding dengan alat kontrasepsi yang lain selanjutnya di susul dengan alat kontrasepsi Pil KB.
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi yang mengandung hormon sintetik. Penyuntikan dilakukan dalam 2-3 kali dalam sebulan, ada juga yang setiap 3 bulan, setiap 10 minggu, dan setiap bulan. Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu produksi ASI. Pemakaian hormon ini juga bisa mengurangi rasa nyeri pada saat haid.jika tidak dikontrol akan menyebabkan obesitas karena nafsu makan meningkat. (Febriansyah Darus, 2007).
Wanita yang ingin memakai mendapat suntikan periodik untuk mencegah kehamilan. Ada beberapa KB suntik yang dipasarkan diindonesia yaitu: Depo Provera (suntikan setiap 3 bulan sekali), Noristerat (suntikan setiap 2 bulan sekali), dan Cyclovem (suntikan setiap 1 bulan sekali). Cara kerja dari kontrasepsi suntik yaitu menghentikan (meniadakan) keluarnya sel telur dari indung telur, membuat sperma sulit memasuki rahim karena mengentalkan lendir mulut rahim (serviks). Kegagalan pada pemakai KB suntik hanya sekitar 0,3 kehamilan dari 100 pemakai pada tahun pertama pemakaian (1 dari 333 pemakai masih bisa hamil). Keuntungan dari pemakaian KB suntik yaitu cocok untuk mencegah kehamilan atau menjarangkan kehamilan dalam jangka panjang dan kesuburan dapat pulih kembali, tidak terpengaruh faktor lupa dari pemakai (tidak seperti memakai pil KB), tidak mengganggu hubungan suami istri, dapat dipakai semua umur pada masa reproduktif, tidak mengganggu laktasi (menyusui), dapat dipakai segera setelah keguguran, membantu mencegah kehamilan diluar kandungan, membantu mencegah kanker Endometrium (rahim), Membantu mencegah kejadian mioma uteri (tumor jinak rahim), mengurangi kejadian anemia kekurangan zat besi, khusus untuk penderita epilepsi mengurangi kejadian kejang. Adapun efek samping dari kontrasepsi suntik adalah efek sampingnya terhadap siklus haid sering tidak menyenangkan namun tidak berbahaya dan bukan kelainan, dapat menyebabkan (tidak pada semua akseptor) sakit kepala, nyeri payudara, jerawat, rambut rontok, sering menaikkan berat badan. (Sofie Rifayani, 2007).
Suntik tiga bulan harganya lebih murah dari pada yang suntik satu bulan, Namun suntik yang tiga bulan memiliki efek samping seperti gemuk dan flek hitam diwajah, berbeda dengan suntik yang satu bulan efek sampingnya tidak nyata. suntik KB sangat efektif untuk mencegah kehamilan bila disuntik setiap satu bulan atau tiga bulan (sesuai dengan jenis suntik KB) gangguan pendarahan biasa terjadi-seperti flek-flek, pendarahan ringan diantara dua masa haid.setelah pemakaian satu tahun sering tidak mengalami haid. Kenaikan berat badan juga biasa terjadi atau timbul sakit kepala ringan. Bila berhenti memakai cara KB ini, kehamilan dapat segera terjadi. Aman digunakan pada masa menyusui, setelah 6 minggu setelah melahirkan (www.google.com)
Data tentang kesertaan KB khususnya jumlah, persentase, perubahan dan rata-rata perubahan kesertaan KB aktif di Kota Semarang pada tahun 2002 hingga 2006 menurut jenis alat kontrasepsi suntik dan pil yang berada pada jalur kemandirian disajikan dalam Tabel 1.4.
TABEL 1.4
KOMPOSISI PESERTA KB AKTIF MENURUT JALUR KEMANDIRIAN DIKOTA SEMARANG TAHUN 2002 – 2006
Tahun
Jenis Kontrasepsi

PIL
Suntik
Total
Jumlah (unit)
2002
26.180
89.773
115.953
2003
26.937
93.596
120.533
2004
27.508
94.818
122.326
2005
27.198
100.202
127.400
2006
28.030
104.351
132.381
Perubahan (%)
2003
2,89
4.25
3,94
2004
2,11
1,30
1,48
2005
(1,22)
5,67
4,14
2006
3,05
4,14
3,90
Sumber BKKBN kota semarang
Berdasarkan Tabel 1.2 diketahui bahwa permintaan kontrasepsi suntik memang menunjukkan kondisi yang positif. Hal ini dicerminkan oleh semakin meningkatnya jumlah kontrasepsi suntik yang diminta, begitupun juga dengan permintaan kontrasepsi pil. Sementara tingkat pertumbuhanya mengalami penurunan pada tahun 2004 yaitu sebesar 2,46 % dan untuk tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup tajam yaitu sebesar 2,66. Namun pada tahun 2006 keadaanya sama seperti pada tahun 2003.
Selanjutnya apabila pengamatan tentang tingkat kesertaan KB aktif mandiri dibandingkan dengan jumlah PUS secara detail diarahkan ke masing-masing kecamatan di Kota Semarang selama periode tahun 2002 sampai tahun 2006 dapat dilihat dari kesertaan KB aktif di setiap kecamatan maka diantara 16 kecamatan di Kota Semarang diketahui bahwa Kecamatan yang paling banyak menggunakan alat kontrasepsi suntik dari data lima tahun terakhir adalah Kecamatan Pedurungan yaitu sebesar 11.356. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

TABEL 1.5
JUMLAH PASANGAN USIA SUBUR, JUMLAH PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DAN PROSENTASE PEMAKAI ALAT KONTRASEPSI SUNTIK TERHADAP PUS DI KOTA SEMARANG
TAHUN 2006
Kecamatan
Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS)
Jumlah pemakai alat kontrasepsi suntik
Prosentase pemakai alat kontrasepsi suntik terhadap PUS (%)
Mijen
9.936
4.398
44,26
Gunung Pati
13.849
6.140
44,33
Banyumanik
20.683
7.371
35,64
Gajah Mungkur
8.366
2.722
32,54
Semarang Selatan
9.463
3.402
35,95
Candisari
12.865
5.990
46,56
Tembalang
25.312
10.769
42,54
Pedurungan
28.400
11.356
39,99
Genuk
14.764
8.238
55,79
Gayamsari
10.507
5.078
48,33
Semarang Timur
10.911
4.850
44,45
Semarang Utara
18.064
8.732
48,34
Semarang Tengah
7.213
2.535
35,14
Semarang Barat
23.289
10.381
44,57
Tugu
4.802
2.492
51,89
Ngaliyan
21.294
9.537
44,79
Jumlah
239.718
103.991
43,38
Sumber: BPS 2006

1.2 Perumusan Masalah
Jumlah penduduk di Kota Semarang dalam jangka waktu tahun 2002 sampai tahun 2006 terus mengalami peningkatan, demikian juga halnya dengan jumlah PUS dan peserta KB aktif. Namun rata-rata peningkatan dari tahun ketahun relatif ketiga komponen yaitu jumlah PUS, jumlah penduduk, dan jumlah peserta KB aktif ternyata tidak mengindikasikan pengendalian jumlah penduduk, Dimana rata-rata peningkatan jumlah PUS (2,15 persen) lebih besar dibandingkan dengan rata-rata jumlah penduduk (1,64 persen) dan rata-rata jumlah PUS masih lebih besar dari pada rata-rata jumlah peserta KB aktif (2,03).
Berdasarkan tabel 1.2 maka jumlah akseptor terbesar di Kota Semarang yaitu kontrasepsi suntik dibandingkan dengan kontrasepsi pil, dan kontrasepsi pil merupakan barang pengganti dari suntik yaitu jika harga kontrasepsi suntik naik maka masyarakat tidak akan keberatan untuk menggantinya dengan pil. Pil merupakan pengganti kontrasepsi suntik karena dilihat dari Tabel 1.2 diatas kontrasepsi pil juga menempati urutan kedua dari penggunaan banyaknya alat kontrasepsi setelah suntik. Hal ini dikarenakan perbedaan harga kontrasepsi suntik dan pil tidak terlalu jauh. Kedua alat kontrasepsi tersebut merupakan kontrasepsi non MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang) dan kedua alat kontrasepsi tersebut dipakai hanya oleh perempuan. Dari berbagai permasalahan di atas, maka penelitian ini mencoba menganalisis mengapa permintaan penggunaan kontrasepsi suntik di Kota Semarang menunjukkan angka yang tinggi dan bagaimana perubahan pemakaian kontrasepsi suntik oleh wanita pasangan usia subur di Kota Semarang. Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan dalam penelitian ini yaitu:
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi di daerah penelitian dalam kaitanya dengan permintaan kontrasepsi suntik?
2. Faktor-faktor apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi pemakaian kontrasepsi di daerah penelitian dalam kaitanya dengan
permintaan kontrasepsi suntik.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi di daerah penelitian dalam kaitanya dengan permintaan kontrasepsi suntik?
2. Menganalisis faktor-faktor apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi pemakaian kontrasepsi di daerah penelitian dalam kaitanya dengan permintaan kontrasepsi suntik.
1.3.2 Manfaat Penelitian.
Penelitian ini diharapkan dapat :
1. Memberikan informasi tentang karakteristik PUS kota semarang serta faktor – faktor penentu yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi suntik oleh PUS
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah selaku pengambil keputusan dan penentu kebijakan bidang sosial ekonomi dan kependudukan kab / kota.

1.3.3 Sistematika Penulisan
Sistematika dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
BAB I : Merupakan pendahuluan, yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian.
BAB II : Mengenai tinjauan pustaka, berisi tentang landasan teori yang dipakai sebagai acuan dalam melakukan analisis pemakaian alat kontrasepsi di Kota semarang. Selain itu juga terdapat penelitian terdahulu sebagai bahan referensi pembanding bagi penelitian ini serta terdapat kerangka penelitian.
BAB III : Mengenai metode penelitian, di dalamnya diulas mengenai variabel penelitian dan definisi operasional, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori permintaan
Konsep pemilihan kontrasepsi dalam penelitian ini dikaji dengan menggunakan grand teori permintaan, dengan pertimbangan konsep pilihan atas pemakaian kontrasepsi dapat didekati dengan konsep permintaan.
Teori permintaan menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan harga. Dalam hukum permintaan dijelaskan sifat hubungan antara permintaan suatu barang dengan tingkat harganya. Hubungan yang terjadi merupakan hubungan terbalik antara jumlah barang yang diminta dengan harga; artinya jika terjadi kenaikan harga maka akan diikuti dengan penurunan jumlah barang yang diminta, ceteris paribis. Pengertian ceteris paribus adalah beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi diabaikan atau tidak berubah. Secara sederhana dapat dituliskan dalam persamaan (Said Kelana, 1996):
Qdx = f (px)
Qdx = jumlah barang yang diminta
Dalam menganalisi permintaan, istilah permintaan dan jumlah barang yang diminta terdapat perbedaan. Permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan dari pada hubungan antara haega dan jumlah permintaan, sedangkan jumlah barang yang diminta dimaksudkan sebagai banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu (Sadono Sukirno, 2003).
Permintaan terhadap suatu barang dapat dilihat dari dua sudut, yaitu permintaan perseorangan dan permintaan pasar. Permintaan perseorangan merupakan permintaan yang dilakukan oleh seseorang atau individu tertentu, sedangkan permintaan pasar merupakan permintaan yang dilakukan oleh semua orang dalam pasar, diperoleh dengan menjumlahkan permintaan dari individu-individu dalam pasar.
2.1.2 Pengaruh Faktor Harga dan Bukan Harga Terhadap Permintaan
Hukum permintaan terutama memperhatikan sifat hubungan antara harga sesuatu barang dengan jumlah barang yang diminta. Dalam keadaan yang sebenarnya, permintaan terhadap sesuatu barang juga ditentukan oleh faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap permintaan. Dengan demikian, faktor terpenting yang mempengaruhi permintaan diantarnya adalah harga itu sendiri, pendapatan, jumlah penduduk. Dinotasikan dengan fungsi sebagai berikut (Said Kelana, 1996)
D = f (Px , I, N)
Dimana :
Px = Harga Barang
I = Pendapatan.
N = Jumlah Penduduk.
2.1.2.1 Pengaruh Perubahan Harga Terhadap Jumlah Barang yang Diminta
Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesa yang menyatakan: makin rendah harga suatu barang, maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang, maka makin sedikit permintaan terhadap barng tersebut. Jumlah prmintaan dan tingkat harga memiliki hubungan seperti tersebut diatas, dikarenakan : pertama sifat hubungan seperti itu disebabkan karena kenaikan harga menyebabkan para pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan harga. Sebaliknya apabila harga turun, maka orang mengurangi pembelian terhadap barang lain yang sama jenisnya dan menambah pembelian terhadap barang yang mengalami penurunan harga; kenaikan harga menyebabkan pendapatan pendapatan riil para pembeli berkurang. Pendapatan yang menurun mengakibatkan pembeli mengurangi pembelian terhadap berbagai jenis barang, terutama barang yang mengalami kenikan harga (Sadono Sukirno, 2003).
2.1.2.2 Pengaruh Perubahan Pendapatan Terhadap Jumlah Barang yang Diminta
Pendapatan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan corak permintaan terhadap berbagai barang. Perubahan pendapatan akan menimbulkan perubahan atas permintaan barang kebutuhan. Untuk golongan barang inferior, barang yang banyak diminta oleh orang-orang yang berpendapatan rendah bertambah tingginya pendapatan mengakibatkan permintaan barang atas golongan ini akan menurun, sedangkan permintaan untuk barang yang termasuk golongan normal akan mengalami kenikan seiring dengan bertambah tingginya pendapatan yang diterima. Pertambahan permintaan pendapatan menambah kemampuan untuk membeli lebih banyak barang (Sadono Sukirno, 2003).
Permintaan akan suatu barang adalah keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli konsumen selama periode waktu dan keadaan tertentu (Lincolyn Arsyad,1996). Sementara itu Sukirno (1998) menjelaskan bahwa teori permintaan pada hakekatnya adalah hipotesis yang menyatakan : makin rendah harga suatu barang maka makin banyak jumlah barang tersebut yang diminta, dan sebaliknya. Artinya jumlah barang yang diminta dipengaruhi oleh harga barang yang bersangkutan, Ceteris Paribus, oleh Sukirno (1998) disebutkan ada 7 faktor yang dianggap paling penting, yaitu: harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, pendapatan rumah tangga, corak distribusi pendapatan masyarakat, selera, jumlah penduduk, dan ramalan masa depan.
Konsumen cenderung berprilaku seperti yang dilakukan oleh hukum permintaan. Pendekatan yang digunakan diantaranya Indifferent Curve Approach. Menurut Billas (1997) pendekatan ini didasarkan atas 3 asumsi :
1. Kombinasi konsumsi 2 macam komoditi dilukiskan dalam kurva Indifferent.
2. Konsumen berusaha mencapai tingkat kepuasan maksimal.
3. Besarnya pendapatan konsumen terbatas.
GAMBAR 2.1
KESEIMBANGAN KONSUMEN: PENDEKATAN KURVA INDIFFERENT

M/Py

A
B

IC2
IC1

BL2
BL1

M/Px
M/Px

Sumber : Budiono, 1997

Gambar 2.1 menunjukkan bahwa tingkat kepuasan maksimum dicapai bila garis anggaran (BL1) menyinggung kurva indifferent (IC) yang tertinggi. Bila terjadi penurunan harga X, maka jumlah X yang diminta akan naik, sehingga posisi keseimbangan konsumen akan bergeser dari A ke B. Perilaku konsumen menurut hukum permintaan dengan adanya hal ini menjadi terbukti.
2.1.3 Permintaan Akan Anak
Faktor mikro yang berkaitan dengan tingkat fertilitas keluarga berpijak pada teori neoklasik tentang perilaku konsumen sebagai dasar analisis dimana anak dapat dianggap sebagai komoditi, seperti halnya barang-barang rumah tangga yang lain, semisal TV, kulkas, dan sebagainya.
Menurut Todaro (2000) di banyak negara berkembang anak dipandang sebagai investasi, yaitu sebagai tambahan tenaga untuk menyerap lahan, atau sebagai gantungan hidup, atau sebagai tabungan dihari tua. Dengan demikian penentuan fertilitas keluarga atau tingkat permintaan akan anak merupakan bentuk pilihan ekonomi yang rasional bagi konsumen (dalam hal ini keluarga). Pilihan menambah jumlah anak diperoleh dengan cara mengorbankan pilihan terhadap barang lain, dimana keputusan itu pada akhirnya efek substitusi dan efek pendapatan. Jumlah anak yang diinginkan dipengaruhi secara positif oleh pendapatan keluarga, ceteris paribus. Disisi lain jumlah anak yang diinginkan akan berhubungan secara negatif terhadap biaya pemeliharaan anak serta kuatnya keinginan untuk memiliki barang lain. Secara matematis, hubungan tersebut dinyatakan dengan (Todaro, 2000).
QC=f (Y,PC,PX,TX)
Keterangan:
 QC = permintaan akan anak, yaitu jumlah anak yang diinginkan yang diikuti dengan usaha untuk mempertahankan kehidupan anak
 Y = tingkat pendapatan keluarga
 PC = harga neto anak, yaitu biaya oportunitas ditambah biaya-biaya lain guna mempertahankan kehidupan anak
 PX = harga barang-barang lain selain anak
 TX = besar kecilnya referensi terhadap barang-barang lain selain anak
Teori Neoklasik menjelaskan bahwa apabila terjadi perubahan pada faktor diatas, maka berimplikasi jumlah anak yang diminta oleh keluarga, yang dijelaskan sebagai berikut :
Jika artinya semakin tinggi pendapatan keluarga akan semakin besar jumlah anak yang ingin dimiliki atau diminta.
Jika artinya semakin tinggi harga netto anak, maka akan semakin kecil jumlah anakyang ingin dimiliki.
Jika artinya semakin tinggi harga barang lain maka akan semakin besar jumlah anak yang ingin dimiliki.
Jika artinya semakin besar preferensi keluarga terhadap barang lain maka jumlah anak yang ingin dimiliki semakin kecil.
Menurut Mahadevan (1986) yang dimaksud dengan harga neto anak adalah biaya oportunitas yag ditambah dengan biaya-biaya lain guna mempertahankan kehidupan anak, kesemuanya dapat dinilai atau diukur dengan uang. Komponen yang menyangkut harga neto anak adalah :
 Biaya emosi: ketegangan emosi dalam mendisiplinkan anak, mendidik dan menumbuhkan tingkah laku dan moral yang biak, kekhawatiran atas sehatnya, kegaduhan dalam keluarga, serta kerewelan anak
 Biaya ekonomi : biaya merawat kesehatan anak dan biaya pendidikanya.
 Biaya oportunitas : kekurangan kebebasan, keterbatasan untuk bersosialisasi, kekurangan kesempatan untuk mengurus diri sendiri, keterbatasan dalam bekerja, tidak punya waktu untuk mempertahankan kebutuhan diri sendiri.
 Kebutuhan fisik : kegitatan rumah tangga menjadi lebih banyak, merawat anak, kehilangan waktu istirahat dan keharusan memenuhi kebutuhan pakaian anak.
 Biaya keluarga : munculnya ketidaksepakatan dalam perawatan anak, serta berkurangnya kesempatan untuk mencurahkan kasih sayang kepada pasangan.
Secara grafis, permintaan akan anak yang dipengaruhi oleh harga ’neto’ anak, ceteris paribus, dengan asumsi anak adalah final goods tersaji dalam gambar 2.2.
GAMBAR 2.2
PERMINTAAN AKAN ANAK

Jumlah anak yang diinginkan
b’
C
D
b
d
b’’
Barang lain yang dikonsumsi

A’
B
A
IC1
IC2
IC33
IC4

Sumber Todaro, 2000
berdasar gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa pada tingkat pendapatan keluarga yang terbatas yang ditunjukkan dengan garis anggaran a-b, dimana harga neto anak dan barang konsumsi lain sudah tertentu, sementara faktor-faktor lain yang berpengaruh dianggap tetap, maka tingkat kepuasan maksimal keluarga terletak pada titik B, dengan jumlah anak dan barang lain yang dikonsumsi yang tertentu pula.
Selanjutnya apabila terjadi kenaikan pada harga neto anak sementara harga konsumsi barang lain masih tetap, maka keinginan untk menambah anak akan ditunda atau bahkan dibatalkan, yang kemudian ini berarti keluarga terpaksa harus mencari kepuasan maksimal yang leih rendah dari sebelumnya, yang secara grafis ditunjukkan dengan berkurangnya tingkat kepuasan maksimal yakni dari titik B pindah ketitik A, karenanya garis anggaran berayun kekiri yakni dari a-b berayun ke a-b”
Apabila terjadi kenaikan pendapatan keluarga entah karena semakin terbukanya kesemapatan kerja bagi wanita atau karena semakin tingginya tingkat upah yang diterima, maka keluarga kini memunyai kesempatan untuk menambah konsumsi barang dan anak seara bersamaan, yang akan membawa peningkatan kepuasan maksimal keluarga. Secara grafis ditunjukkan Budget line a-b akan bergeser keatas menjadi a’-b’, dan tingkat kepuasan maksimal akan bergeser dari titik B ke D.
Apabila kenaikan pendapatan terjadi bersamaan waktunya dengan kenaikan harga neto anak, misalkan pemerintah kini memberlakukan pajak terhadap anak mulai yang nomor 4 dan seterusnya, maka garis anggaran yang semula c-d yang ditunjukkan dengan garis anggaran putus-putus dengan demikian akan terjadi kombinasi yang baru atas anak dan barang lain, dan tingkat kepuasan maksimal keluarga yang baru ditunjukkan dengan titik c. Disini jumlah anak yang diinginkan keluarga menjadi semakin sedikit dan diganti dengan mengkonsumsi barang lain karena tambahan penghasilan ternyata lebih banyak digunakan untuk mengkonsumsi barang lain. Hal ini banyak terjadi pada keluarga yang berpenghasilan rendah, dimana tambahan-tambahan penghasilan umumnya dipergunakan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan keluarga mereka.
2.1.4 Permintaan Kontrasepsi
Ada hubungan yang erat antara jumlah anak yang diinginkan (fertilitas) dengan permintaan kontrasepsi. Fertilitas dan permintaan kontrasepsi mempunyai hubungan negatif, artinya sepasang PUS yang berkeinginan untuk memiliki jumlah anak sedikit, memiliki kecenderungan untuk melakukan permintaan kontrasepsi dengan lebih kontinyu. Pernyataan ini didukung oleh hasil studi yang dilakukan oleh Hatmadji (1990) tentang pengaruh program KB pada perubahan kontrasepsi mempunyai pengaruh yang sibnifikan terhadap penurunan fertilitas.
Selanjutnya dapat ditarik benang merah bahwa terdapat hubungan yang berkebalikan antara jumlah anak dengan jumlah kontrasepsi. Khusus bagi keluarga miskin dengan kemampuan ekonomi yang rendah dan pendapatan yang terbatas akan bertindak realistis, bahwa naiknya harga neto anak menyebabkan jumlah anak yang ingin dimiliki menjadi semakin sedikit, selanjutnya keluarga akan menggantikanya dengan mengkonsumsi dengan barang lain yang bersifat substitusi yang akan memberikan tingkat kepuasan yang sama. Apabila bagian yang dimaksud adalah kontrasepsi maka selanjutnya untuk membuktikan bahwa permintaan kontrasepsi memang dipengaruhi oleh harga kontrasepsi itu sendiri, dapat dilihat melalui gambar berikut ini.
GAMBAR 2.3
Anak
Harga kontrasepsi

Jumlah kontrasepsi
Kontrasepsi
PK1
PK2
K1
K2
E
D
F
IC1
IC2
PENGEMBANGAN KURVA PERMINTAAN KONTRASEPSI
Sumber Todaro (2003) dalam Nenik (2004) dengan modifikasi

Dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang berkebalikan yang bersifat substitusi antara jumlah anak yang diinginkan dengan jumlah kontrasepsi turun, sementara harga neto anak tetap hal ini akan berakibat pada bertambahnya jumlah kontrasepsi yang diminta. Berdasar gambar 2.3 dapat dijelaskan bahwa apabila harga kontrasepsi turun (dari pk 1 bergeser ke pk 2), ceteris paribus, maka: jumlah kontrasepsi yang diminta semakin banyak (dari k1 ke k2) artinya pemakaian kontrasepsi dapat lebih kontinyu. Dengan turunya harga kontrasepsi maka kepuasan atau utilitas keluarga untuk tidak menambah anak akan semakin besar, dimana titik kepuasan konsumen, dalam hal ini keluarga akan bergeser ke kanan dari E ke F.
Permintaan kontrasepsi bukanlah permintaan asli tetapi permintaan turunan. Dimana permintaan kontrasepsi hanya ada karena adanya perminataan akan fertilitas (kelahiran). Jadi, secara teoritis permintaan kontrasepsi haruslah diturunkan fertilitas. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Todaro (2000).
Berikut ini adalah kurva yang melukiskan tentang permintaaan kontrasepsi yang merupakan turunan dari permintaan akan anak, dengan asumsi bahwa anak merupakan komoditi sebagaimana halnya barang-barang rumah tangga yang lain yang bisa dikonsumsi untuk diambil manfaatnya.

GAMBAR 2.4
DERIVASI KURVA PERMINTAAN KONTRASEPSI DARI KURVA PERMINTAAN AKAN ANAK

Barang lain

PA1
PA2
B1
B2
Dk
IC
DA
K2
K2
K1
K1
A2
A1
A1
A2
A2
A1
Sumber : Todaro (2000) dalam Nenik (2004) dengan modifikasi
anak
anak
anak
kontrasepsi
Harga kontrasepsi

Penjelasan teoritis gambar 2.4 dimulai dari kurva pertama bertanda bintang (*) yang terletak disebelah kanan atas (yang dilanutkan ke kurva sebelah kiri dan terus berputar melawan arah perputaran jam. Berdasarkan kurva pertama dapat dijelaskan bahwa perubahan harga neto anak, ceteris paribus akan berakibat pada perubahan jumlah anak yang diinginkan oleh sebuah keluarga. Apabila terjadi kenaikan harga neto anak. Seperti yang telukis pada kurva pertama, yang ditunjukkan dengan bergesernya harga neto anak dari PA1 berpindah ke PA2, maka jumlah anak yang direncanakan untuk dimilikipun menjadi berkurang. Jumlah anak (dinotasikan dengan A) yang sebelumnya ingin dimiliki sebesar A1 dengan adanya kenaikan harga neto anak tersebut maka keluarga akan berfikir realistis, memutuskan untuk menguranginya menjadi A2.
Asumsi yang digunakan dalam kajian teori ini adalah bahwa anak dianggap sama dengan barang lain dalam rumah tangga. Dimana harga barang lain tersebut tidak mengalami perubahan harga atau tetap, demikian juga dengan besarnya pendapatan keluarga, maka keputusan keluarga untuk mengurangi jumlah anak yang diinginkan akan diikuti dengan keputusan berikutnya yaitu menambah jumlah barang lain yang bersifat substitusi terhadap anak (dinotasikan dengan B). Hal ini dutunjukkan dengan B1 yang bergeser ke B2 sebagai akibat dari A1 yang bergeser ke A2.
Keputusan keluarga untuk mengurangi jumlah anak yang diinginkan membuat kebutuhan akan kontrasepsi (dinotasikan dengan K) menjadi semakin meningkat. Asumsi yang digunakan adalah kontrasepsi dipandang sebagai final goods adalah suatu barang atau komoditi yang dikonsumsi oleh konsumen akhir. Dalam hal ini kontrasepsi oleh PUS. penjelasan ini dicerminkan dengan bergesernya K1 keatas yakni ke K2 sebagai respon atas pergeseran A1 ke A2.
Sebagai halnya hukum permintaan yang menyatakan bahwa pada saat harga rendah jumlah komoditi yang diminta besar, dan sebaliknya pada saat harga tinggi jumlah komoditi yang diminta kecil atau dikurangi, hukum permintaan juga berlaku dalam kajian ini. Sebagaimana telah dijelaskan didepan bahwa kontrasepsi diasumsikan sebagai barang normal. Sebagai barang normal pada saat harga kontrasepsi naik maka jumlah kontrasepsi yang diminta oleh konsumen (dalam hal ini keluarga) akan berkurang. Dengan kata lain jumlah kontrasepsi yang diminta dipengaruhi oleh harga kontrasepsi itu sendiri. Hal ini dapat dijelaskan dalam kurve terakhir dalam rangkaian gambar diatas. Kenaikan harga kontrasepsi dari PK2 ke PK1 mengakibatkan jumlah kontrasepsi yang diminta menjadi berkurang atau menurun yang ditunjukkan dengan bergesernya K2 kebawah menuju ke K1. yang perlu diperhatikan, kurve terakhir yang terletak disebelah kanan bawah, menyajikan kurve permintaan dalam bentuk yang sedikit kurang lazim dimana sumbu horizontal menunjukkan harga sedangkan sumbu vertikal menunjukkan jumlah ketidaklaziman ini diperlukan dan bisa diterima sebab secara esensial tidak menyimpang dari teori ekonomi mikro semata. Namun demikian secara matematis justru penempatan variabel dependen (dalam hal ini kontrasepsi) pada sumbu horisontal, dan penempatan variabel indepensen (jumlah kontrasepsi yang diminta) pada sumbu vertikal adalah penyajian diagram yang benar, dan menganut apa yang telah dikatakan oleh ahli ekonomi Marshall.
2.1.5 Hubungan Antara Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kontrasepsi suntik dengan Kontrasepsi pil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kontrasepsi suntik pada studi ini yakni sebagai berikut:
1. Hubungan antara harga perolehan kontrasepsi dan permintaan kontrasepsi.
Apabila harga perolehan kontrasepsi berubah, ceteris paribus, akan mempengaruhi jumlah kontrasepsi yang dipakai atau diminta. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan (Nicholson, 1998) bahwa perubahan harga berlawanan arah dengan jumlah barang yang diminta. Apabila digambarkan terlihat perubahan harga perolehan kontrasepsi akan menyebabkan perubahan jumlah komoditi yang dipakai atau yang diminta disepanjang kurva permintaanya,.
Pada saat harga pelayanan kontrasepsi sebesar OP2 maka jumlah yang diminta sebesar OQ2. namun ketika harga menyerap naik (menjadi OP1), maka jumlah kontrasepsi yang diminta akan turun (menjadi sebesar OQ1). Jadi perubahan harga perolehan kontrasepsi mengakibatkan perubahan jumlah yang diminta.
Besarnya variabel harga perolehan kontrasepsi disini adalah akumulasi dari indikator-indikator harga perolehan kontrasepsi. Yaitu harga per unit kontrasepsi yang dipakai oleh responden saat ini, biaya pemasanganya, biaya retribusi dan biaya transportasi.

2. Hubungan antara harga Pil dengan permintaan suntik
Harga Pil di sini dianggap sebagai barang substitusi atau barang pengganti. Barang pengganti adalah barang yang dapat menggantikan atau digantikan barang lain apabila barang penggantinya sukar diperoleh atau harganya meningkat. Suntik dan Pil adalah barang yang dapat saling menggantikan fungsinya. Seseorang yang suka memakai Suntik selalu dapat menerima Pil apabila suntik tidak ada. Sebaliknya seseorang yang suka memakai Pil tidak akan menolak untuk memakai Suntik apabila Pil tidak ada. Harga barang pengganti dapat mempengaruhi permintaan barang yang dapat digantikanya. Sekiranya harga barang pengganti bertambah murah maka barang yang digantikanya akan mengalami pengurangan dalam permintaan. Dengan demikian apabila harga Suntik turun maka permintaan terhadap Pil akan berkurang. Sebaliknya, apabila Suntik naik maka permintaan terhadap Pil akan meningkat. (Sadono, 1994).
3. Hubungan antara pendapatan keluarga dengan permintaan kontrasepsi suntik.
Dalam Nenik, 2004 pendapatan keluarga adalah rata-rata besarnya pendapatan yang biasa diterima oleh seluruh anggota keluarga yang bekerja pada setiap bulan, baik itu oleh ayah, ibu maupun anak yang secara nyata telah bekerja secara produktif.
Teori ekonomi mikro menjelaskan bahwa apabila suatu saat pendapatan keluarga yang diterima berubah, Ceteris paribus maka hal itu akan merubah jumlah komoditi yang diminta (Miller, 2000). Teori ini juga berlaku pada kontrasepsi yang sejak awal telah diasumsikan sebagai barang normal. Selain itu dalam penelitian ini juga memakai asumsi bahwa keluarga lebih mengutamakan kualitas anak dari pada jumlahnya. Dengan demikian, apabila terjadi kenaikan pendapatan riil keluarga maka jumlah kontrasepsi yang diminta juga akan semakin meningkat. Adapun variabel pendapatan pada studi ini terdiri dari dua komponen, yakni pendapatan utama dan pendapatan tambahan. Pendapatan utama adalah pedapatan pokok yang diterima oleh suami atau istri atau keduanya yang diperolehnya dapat diandalkan dan senantiasa rutin di setiap bulan. Sedangkan pendapatan tambahan adalah pendapaan keluarga yang bersifat insidentil karena nilai kesempatan dan kepastian perolehanya tidak dapat diandalkan di setiap bulannya. Besarnya variabel pendapatan keluarga merupakan akumulasi dari rata-rata pendapatan utama dan pendapatan tambahan setiap bulan.
4. Selera.
Perubahan selera konsumen bisa ditunjukkan oleh perubahan bentuk atau posisi dari indifference map. Tanpa ada perubahan harga barang-barang maupun income, permintaan akan suatu barang bisa berubah karena perubahan selera. (Budiono, 1989).

2.2 PenelitianTerdahulu
TABEL 2.1
PENELITIAN TERDAHULU
Peneliti (Tahun)
Responden Dan Jumlahnya
Alat Analisis
Hasil Penelitian
Femikale J. Feyisetan, et al (1996)

Wanita pernah menikah dan menikah di Nigeria
Binary Regression Logistic
Pemakaian kontrasepsi modern dipengaruhi secara signifikan oleh: harga perolehan kontrasepsi itu (+), biaya oportunitas wanita atas waktu yang hilang (+), biaya merawat anak (+), pendapatan keluarga (+)
Martha Ainsworth, et al (1996)
Wanita PUS berpendidikan di 14 negara sub sahara Afrika
N = 3000
OLS untuk permintaan fertilitas dan Binary Regression Logit untuk pemakaian kontrasepsi modern
Permintaan akan anak dipengaruhi secara signifikan oleh umur wanita (-), pendidikan (-), tempat tinggal dikota (-), pendapatan keluarga (-) pemakaian kontraspsi dipengaruhi oleh umur wanita (+), pendapatan (+), tempat tinggal dikota (+), pendapatan keluarga (+)
Kofi Benefo. Et al (1996)
Wanita dengan minimal 1 anak
N= 1943 di cote d’lvoire
N = 2.237
OLS atau Regresi linear berganda
Permintaan fertilitas dipengaruhi secara signifikan oleh pendidikan (-), umur (-), tingkat kematian anak (-), harga dan jarakpasar (-), aset rumah tangga (-)
Duncan Thomas, et al (1996)
Wanita dan keluarganya
N = 4.200
OLS untuk permintaan anak dan Binary Regressions Logistic untuk pemakaian kontrasepsi
Permintaan akan anak dipengaruhi secarasignifikan oleh pendidikan istri (+), pendidikan suami (+), pendapatan keluarga (+), pemakaian kontrasepsi moden dipengaruhi oleh pendidikan istri (+), penghasilan keluarga (+), umur istri (+), tempat tinggal istri dikota (+), pendidikan suami (+).
Nenik Woyanti, (2004)
Wanita PUS
N = 400
Binary Regression Logistic
Pilihan terhadap kontrasepsi dipengaruhi secara signifikan oleh harga perolehan kontrasepsi (+), kualitas pelayanan KB (+), biaya hidup anak (+), pendapatan keluarga (+), nilai anak (+), tahun sukses sekolah (-), status kerja (-).

2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis
Satu persepsi yang diambil dalam penelitian ini adalah bahwa anak dianggap sebagai komoditi seperti halnya barang-barang rumah tangga lainya yang bersifat normal. Jumlah anak yang ingin dimiliki dapat diatur dengan pemakaian kontrasepsi.

GAMBAR 2.6
KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
Harga Kontrasepsi Suntik (Suntik)
Harga Kontrasepsi Pil (Pil)
Pendapatan Keluarga (Pendapatan)
Selera (Selera)
Permintaan kontrasepsi suntik

2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoritis dan hasil penelitian sebelumnya, dengan asumsi bahwa alat kontrasepsi merupakan barang normal, maka hipotesis yang akan diuji kebenaranya secara empiris sebagai berikut:
1. Harga kontrasepsi suntik berpengaruh negatif terhadap permintaan kontrasepsi.
2. Harga kontrasepsi pil berpengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi pil.
3.Pendapatan keluarga berpengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik.
4.Selera berpengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Dalam penelitian ini dipergunakan beberapa variabel penelitian, variabel pada dasarnya adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulanya. Variabel dalam penelitian ini dibedakan sebagai berikut, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahanya atau timbulnya variabel lain (variabel dependent) yang terdiri dari harga, kualitas pelayanan KB, biaya, pendapatan keluarga, nilai anak, dan pendidikan. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen, dalampenelitian ini adalah pemakaian kontrasepsi.
Adapun definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Harga kontrasepsi suntik (dinotasikan dengan suntik) adalah harga kontrasepsi ditambah dengan biaya pemasangan, biaya retribusi dan biaya transportasi untuk penggunaan satu bulan, diukur dengan skala rasio (Rp)
2. Harga kontrasepsi Pil (dinotasikan dengan pil) adalah harga kontrasepsi pil yang dikonsumsi setiap hari dimana harga kontrasepsi ini di asumsikan sebagai barang substitusi (pengganti) dari kontrasepsi suntuk, diukur dengan skala rasio (Rp)
3. Pendapatan Keluarga (dinotasikan dengan pendapatan) adalah rata-rata pendapatan setiap bulan yang diterima oleh seluruh anggota keluarga yang bekerja, diukur dengan skala rasio (Rp)
4. Selera (dinotasikan dengan selera) adalah keinginan dari pasangan usia subur untuk memakai alat kontrasepsi suntik ataupun tidak memakai alat kontrasepsi suntik. Variabel selera diukur dengan menggunakan skala likert (satu sampai dengan lima).
5. Permintaan kontrsepsi suntik diartikan sebagai permintaan KB suntik, adalah antara memilih KB suntik atau yang lain (pil, spiral, susuk, dll). Yang ditumuskan untuk KB suntik adalah 1 dan bukan KB suntik adalah 0.

3.2 Jenis dan Sumber Data
Menurut Supranto (1991), data adalah suatu yang diketahui atau dianggap yang mempunyai sifat bisa memberikan bambaran tentang suatu keadaan atau keadaan atau personal. Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan menentukan metode pengumpulan data. Data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pada pengelompokannya yaitu:

1. Data Primer
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh seara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara) data primer ini diperoleh dari kuesioner yang diedarkan pada responden selaku pemakai kontrasepsi suntik di Kecamatan Pedurungan.
2. Data Sekunder.
Yaitu data yang dikumpulkan oleh pihak lain secara berkala dari waktu kewaktu untuk melihat perkembangan obyek penelitian selama periode tertentu. Data tersebut diperoleh dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Kota Semarang, Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, laporan, publikasi, dan literatur-literatur lain yang membahas mengenai materi penelitian ini.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian.
Berdasarkan data di BPS tahun 2005, jumlah pemakai kontrasepsi jenis suntik tersebut berjumlah 11.129 orang. Populasi pada penelitian ini adalah PUS wanita yang berlokasi di Kota Semarang. Apabila didasarkan pada rumus Slovin jumlah sampel pada studi ini adalah 99,12 dari perhitungan

Dimana: n = sampel
N = populasi
E = nilai kritis yang diinginkan, merupakan persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir. Maksimum kelonggaran yaitu 10 % atau 0,1.
Dengan menggunakan rumus tersebut, maka diperoleh jumlah sampel sebagai berikut:

N = 99,13 dibulatkan menjadi 100

3.4 Metode pengumpulan data.
Data mempunyai sifat memberikan gambaran tentang suatu masalah atau persoalan. Data primer yang langsung dikumpulkan dan diperoleh dilapangan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Wawancara
Menurut Masri Singaribuan (1989), wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden
4. Kuesioner
Menurut Masri Singaribuan (1989), Kuesioner sebagai sejumlah pertanyaan tertulis yang berguna untuk mengumpulkan informasi dari responden. Kuesioner merupakan hal yang pokok untuk mengumpulkan data. Hasil kuedioner tersebut akan terjelma dalam angka-angka, tabel-tabel, analisa statistik dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner digunakan untuk memperoleh data primer.
5. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu pengumpulan data dengan mempelajari atau meneliti dokumen-dokumen atau sumber-sumber tertulis serta arsip-arsip lainya yang sesuai dengan penelitian.
6. Observasi.
Yaitu peneliti mengadakan penelitian dengan cara melakukan pengamatan secara langsung dan cermat terhadap segala fenomena yang ada hubunganya dengan pemakaian kontrasepsi suntik dan kemudian dicatat guna melengkapi data yang diperoleh. Karena objek penelitian tersebut bersifat prilaku manusia (Sugiyono, 2000).

3.5 Skala Pengukuran.
Di dalam melakukan penelitian, item-item variabel dalam penelitian disusun dengan memberikan skala untuk mengukur jawaban dari masing-masing pertanyaan pada variabel. Skala yang digunakan adalah Skala Likert. Menurut Sugiyono (2004) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial.
Dengan skala likert, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata dan untuk keperluan analisis kuantitatif maka jawaban itu diberi skor. Dalam skala likert disebutkan semakin tinggi skor atau nilai yang diperoleh, maka individu tersebut mempunyai sikap yang positif atau mendukung dan sebaliknya semakin rendah skor atau nilai yang diperoleh, maka individu tersebut mempunyai sikap negatif atau tidak mendukung.
Setiap variabel diukur rentang skalanya setiap item pertanyaan menggunakan skala jenjang, yaitu:
a. Kategori untuk jawaban sangat tinggi diberi skor 5
b. Kategori untuk jawaban tinggi diberi skor 4
c. Kategori untuk jawaban cukup tinggi diberi skor 3
d. Kategori untuk jawaban rendah diberi skor 2
e. Kategori untuk jawaban sangat rendah diberi skor 1
3.6 Metode Analisis
Metode analisis yang dipergunakan dalam metode ini adalah analisis regresi linier berganda. Untuk mengetahui besarnya pengaruh dari perubahan suatu variabel inependen terhadap variabel dependen dinotasikan secara fungsional :
Y = f (X1, X2, X3…….. Xn) ……………………………………………………………………(1)
Persamaan secara matematis untuk regresi berganda adalah:
Y = a + b1lnX1 + b2 lnX2 + b3 lnX3 + b4 lnX4+e ………………………………………….(2)
a = intersep
b1,b2……….b4 = koefisien regresi / parameter
e = frekuensi gangguan skohastik.
X1 = Pendapatan Keluarga tiap bulan.
X2 = Selera
X3 = Harga kontreasepsi suntii
X4 = Harga Kontrasepsi Pil.

3.7 Asumsi-Asumsi Dasar Regresi
Dalam penggunaan regresi, terdapat beberapa asumsi dasar yang dapat menghasilkan estimator linier tidak bias. Dengan terpenuhinya asumsi tersebut, maka hasil yang diperoleh dapat lebih akrat dan mendekati atau sama dengan kenyataan. Asumsi-asumsi dasar itu dikenal sebagai asumsi klasik yaitu :
1. Distribusi kesalahan adalah normal
2. Nonmultikolinearitas, berarti antara variabel bebas yang satu dengan yang lain dalam model regresi tidak terjasdi hubungan yang mendekati sempurna ataupun hubungan yang sempurna
3. Nonautokorelasi, berarti tidak ada pengaruh dari variabel dalam modelnya melalui selang waktu atau tidak terjadi korelasi diantara random
4. Homoskedastisitas, berarti varians dari variabel bebas adalah sama atau konstan untuk setiap nilai tertentu dari variabel bebas lainya atau variasi residu sama untuk semua pengamatan
Penyimpangan dari multikolinearitas dikenal sebagai multikolinearitas, penyimpangan dari non autokorelasi dikenal sebagai auto korelasi, dan penyimpangan terhadap homoskedastisitas dikenal sebagai heteroskedastisitas untuk mendeteksi terjadi atau tidak penyimpangan terhadap asumsi klasik dalam model regresi yang dipergunakan maka dilakukan beberapa cara.

1. Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual memiliki distribusi normal, seandainya asumsi ini dilanggar, maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Untuk menguji apakah residual berdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan analisis grafik. Analisis ini dilakukan dengan mengamati grafik Histogram dan grafik normal probability plot. Dalam grafik histogram terlihat perbandingan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probalility plot yang mem\bandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribus idata residual normal, maka garis yang mengambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Dasar pengambilan keputusan:
 Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik Histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
 Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

2. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik harusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Multikolinearitas dalam model regresi adalah sebagai berikut :
a. nilai R2 yang dihasillkan oleh suatu estimasi model regresi sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat
b. Menganalisis Matriks korelasi variabel-variabel bebas. Jika variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90), mengidentifikasikan adanya multikolinearitas.
c. Multikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas manakala yang dijelaskan oleh variabel bebas lainya. Jika tolerance kurang dari 10 persen dan nilai VIF diatas 10, maka terjadi Multikolinearitas.
3. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi ini berarti terdapatnya korelasi antara anggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan berdasarkan waktu, sehingga munculnya suatu datum dipengaruhi oleh datum sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi umum karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Cara untuk mendeteksinya adalah melalui uji Durbin-Watson (DW test) dan uji Box pierce dan Ljung Box. Menurut Iqbal Hasan (2002) keputusan ada atau tidak adanya autokorelasi dengan mempergunakan uji Durbin-Watson:
a. Untuk autokorelasi positif
 Jika nilai d > du (upperbound) maka tidak ada autokorelasi.
 Jika nilai d < dl, maka ada autokorelasi positif.
 Jika dl < d du (Upper Bound) maka tidak ada autokorelasi.
 Jika nilai (4-d) < dl maka ada autokorelasi negatif.
 Jika dl < (4-d) < du maka tidak ada kesimpulan (diperlukan observasi lebih lanjut.
c. Untuk pengujian hipotesis dua arah, maka:
 Jika d < dl atau (4-d) < dl maka dinyatakan (signifikan) dan ada autokorelasi (positif atau negatif).
 Jika d < du atau (4-d) < du maka tidak nyata dan tidak ada autokorelasi lain kedua hal diatas, maka tidak ada kesimpulan.
d. Uji Box pierce dan Ljung Box digunakan untuk melihat autokorelasai dengan lag lebih dari dua. Berdasarkan uji ini, kriteria atau tidaknya autokorelasi dalam regresi:
 Jika jumlah lag yang signifikan lebih dari dua, maka dikatakan terjadi autokorelasi.
 Jika lag yang signifikan dua atau kurang dari dua, maka dikatakan tidak ada autokorelasi.
4. Uji Heteroskedatisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Heteroskedastisitas. Jika berbeda disebut Hetereoskedatisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedatisitas, atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi dilakukan dengan melihat grafik plot. Jika mempergunakan grafik plot pengambilan keputusan ada atau tidaknya heteroskedastisitas:
 Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
 Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.8 Uji Statistik
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fitnya. Secara statistik, dapat diukur dari koefisien determinasi (R2), nilai statistik F, dan nilai statistik t
1. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilsi R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependent amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk mempprediksi variasi variabel dependen.
Secara matematis diformulasikan :
b1ΣSuntikY + b2ΣPil+b3ΣPendapatanY Y + b4ΣSeleraY

Y2

R2 =

Penggunaan koefisien determinasi memiliki kelemahan, yaitu bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Setiap penambahan satu variabel indepenen, maka R2 pasti meningkat, tidak peduli
Nilai R2 berkisar antar 0 dan 1. Semakin besar nilai R2 berarti semakin besar variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. Sebaliknya semakin kecil nilai R2 berarti semakin kecil variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. Kelemahan mendasar penggunaan uji determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan dalam model, karena setiap tambahan satu variabel independen berpengaruh terhadap hasil penelitian, maka banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi model regresi terbaik.
2. Pengujian Koefisien Regresi Secara Serentak (Uji F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara keseluruhan signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variabel dependen. Apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel maka variabel-variabel independen secara keseluruhan berpengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis yang digunakan :
Ho : b1 = b2 = ……………………………….= B1 = 0
Hi : b1 # b2 = ……………………………….= Bi # 0, atau paling tidak ada sebuah Bi # 0.
Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut :
…………………………………………………………………… (3)
Dimana :
k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta.
N = jumlah observasi.
Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut :
1. Ho diterima dan Hi ditolak apabila F hitung F tabel, yang artinya variabel penjelas secara serentak atau bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.
3. Pengujian koefisien Regresi Secara Individual (Uji t)
Uji t dilakukan untuk mengetahui berarti tidaknya suatu variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Mula-mula ditentukan hipotesis nol atau Null Hypotesis (Ho) yang menyatakan bahwa masing-masing variabel penjelas berpengaruh terhadap variabel yang dijelaskan secara individu.
Ho : bi = 0, i = 1,2,3,……….k
Hi : bi # 0, i = 1,2,3,……….k
Dimana :
bi = koefisien regresi masing-masing variabel penjelas
k = jumlah variabel yang digunakan
Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1997 :124) :
………………………………………………………………………………. (4)
Dimana :
βi = Parameter yang diestimasi
βi * = Nilai hipotesis dari βi (Ho : βi = βi *)
SE (βi ) = Simpangan baku βi

Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Ho ditolak apabila t hitung > t tabel, yang berarti variabel independen (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).
2. Ho diterima apabila t hitung < t tabel, yang berarti independen (X) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).
3.9 Analisis Variabel Yang Mempengaruhi (X)
Koefisien regresi dalam persamaan regresi linier berganda yang menggunakan SPSS For Windows nilainya dapat diketahui dalam unstandardized coefficients, dengan melihat beta masing-masing variabel penelitian. Unstandardized coefficients ini dipergunakan karena di dalamnya terdapat nilai konstanta.
Untuk menentukan variabel independen yang memiliki pengaruh paling dominan dalam model regresi, dipergunakan Unstandardized coefficients, dengan melihat beta dari masing-masing variabel independen. Variabel independen dengan nilai beta terbesar merupakan variabel yang domonan. Unstandardized coefficients ini dipergunakan untuk analisis variabel yang dominan berpengaruh, dikarenakan variabel dalam penelitian merupakan variabel dengan unit ukuran yang berbeda (persen, rupiah) ukuran variabel-variabel ini perlu disandarkan dahulu dalam rangka penentuan variabel dominan, oleh karena itulah maka dipergunakan unstandardized coefficients.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum
4.1.1 Gambaran Umum Kecamatan Pedurungan

4.1.2 Gambaran Umum Obyek Penelitian
4.1.2.1 Umur Responen
Umur responden rata-rata adalah usia subur dimana rentang umur responden bisa dilihat sebagai berikut :
Tabel 4.1
Umur Responden
No
Umur
Jumlah
Prosen
1
17-25
30
30
2
26-35
50
50
3
35-45
20
20
 Total
 
100
100
Data primer diolah, 2008
Jumlah usia antara 17 sampai 25 adalah 30 orang, sedangkan usia diantara 26 sampai 35 tahun adalah 50 orang. Umur responden yang diatas 35 tahun dan dibawah 45 tahun adalah 20 orang.
4.1.2.2 Agama
Agama yang dianut atau dipeluk oleh responden dalam penelitian ini terdiri dari berbagai macam agama, yang dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.2
Umur Responden
No
Agama
Jumlah
Prosen
1
Islam
80
80
2
Katoilk
15
15
3
Kristen
5
5
 Total
 
100
100
Data primer diolah, 2008
80 orang responden beragama Islam, 15 orang responden beragama katolik dan 5 orang responden beragama kristen.
4.1.2.3 Pendidikan Tertinggi
Tingkat pendidikan responden yang diteliti adalah bermacam-macam dari tidak bersekolah sampai dengan menempuh pendidikan sarjana. Keterangan lebih dalam dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 4.3
Tingkat Pendidikan Responden
No
Pendidikan
Jumlah
Prosen
1
Tidak Sekolah
2
2
2
SD
5
5
3
SMP
20
20
4
SMA
55
55
5
Diploma
10
10
6
Sarjana
8
8
 
Total
100
100
Data primer diolah, 2008
Pendidikan responden antara lain dapat dijelaskan dengan tabel di atas, dari 100 orang responden yang diwawancarai. Ada 2 orang responden yang tidak pernah menempuh pendidikan sekolah. 5 oarang hanya menempuh pendidikan sekolah dasar, 20 orang berependidikan SLTP, 55 orang menempuh SMA, 10 orang lulus Diploma dan 8 orang menyelesaikan pendidikan sarjana.

4.1.2.4 Pekerjaan
Pekerjaan responden adalah bermacam-macam. Pekerjaan yang diklasifikasikan dalam 9 klasifikasi pekerjaan dapat diperoleh informasi bahwa :
Tabel 4.4
Jenis Pekerjaan Responden

No
Pekerjaan
Jumlah
Prosen
1
Tidak Kerja
9
9
2
PNS/ABRI
10
10
3
Pegawai Swasta
40
40
4
Petani
0
0
5
Tukang
0
0
6
Buruh Pabrik
20
20
7
Wiraswasta
10
10
8
Pensiunan
0
0
9
Lainnya
11
11

100
100
Data primer diolah, 2008
Diperoleh keterangan dari responden bahwa 9 orang tidak bekerja, 10 orang PNS, 40 orang pegawai swasta, 20 orang buruh pabrik, 10 orang wiraswasta, dan lainnua 11 orang.
4.1.2.5 Pemakaian Kontrasepsi Suntik
Jenis kontrasepsi yang banyak digunakan oleh responden adalah suntik dan bukan suntik. Tabel yang menununjukkan jenis kontrasepsi adalah suntik dan bukan suntik (pil, spiral, kondom, dll) adalah :

Tabel 4.4
Jenis Kontrasepsi
No
Kontrasepsi
Jumlah
Prosen
1
Suntik
45
45
2
Bukan Suntik
55
55
 Total
100
100
Data primer diolah, 2008
Wawancara dengan 100 responden secara acak di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang, diperoleh jawaban 45 orang pakai suntik dan sisanya 55 orang bukan suntik.
4.1.2.6 Pendapatan Responden
Besarnya pendapatan responden adalah bervariasi, namun dalam pelaksanaan wawancara diperoleh responden menengah ke bawah dengan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.5
Pendapatan Responden
No
Pendapatan
Jumlah (orang)
Persen
1
0-249.999
3
3
2
250.000-499.999
15
15
3
500.000-749.999
16
16
4
750.000-999.999
32
32
5
1.000.000 – 1.249.999
14
14
6
1.250.000 – 1.499.999
3
3
7
1.500.000 – 1.749.999
13
13
8
1.750.000 – lebih
4
4
 
Total
100
100
Data primer diolah, 2008
Pendapatan dibawah Rp. 249.999,00 ada 3 responden, lebih besar dari Rp. 250.000,00 dan lebih kecil dari Rp. 499.999,00 ada 15 responden, antara Rp. 500.000,00 sampai dengan Rp 749.999,00 ada 16 responden, dan antara Rp. 750.000 sampai denganRp. 999.999,00 adalah 32 responden. Pendapatan yang diatas Rp. 1.000.000,00 sampaiRp. 1.249.999,00 diwakili 14 responden, Pendapatan Rp 1.250.000 sampai Rp. 1.499.999,00 ada 3 responden, pendapatn antara Rp. 1.500.000,00 – Rp. 1.749.999 ada 13 orang responden, dan sisanya diatas Rp. 1.750.000,00 adalah 4 orang.
4.1.2.7 Variasi Harga Kontrasepsi Suntik dan Pemasangan rata-rata per bulan.
Variasi biaya yang dikeluarkan oleh responden untuk KB suntik adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6
Biaya Kontrasepsi Suntik yang dikeluarkan Responden
No
Harga
Jumlah (orang)
Persen
1
10.000-12.999
3
3
2
13.000-15.999
85
85
3
16.000-18.999
12
12
 
Toral
100
100
Data primer diolah, 2008
Biaya yang harus dikeluarkan oleh responden untuk biaya KB suntik adalah Rp. 10.000,00 – Rp. 132.999,00 ada 3 orang, antara 13.000,00 – 15.999,00 ada 85 orang, dan antara Rp. 16.000,00 – 18.999,00 ada 12 orang. Jawaban diperoleh secara acak dari 100 responden perempuan yang diteliti.
4.1.2.7 Variasi Harga Kontrasepsi Pil KB rata-rata per bulan.
Biaya yang dikeluarkan oleh Pil KB adalah bervariasi, dan lebih variatif dibanding penggunaan KB suntik, karena masing-masing memiliki kebutuhan masing-masing. Data dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4.7
Harga Kontrasepsi Pil per bulan
No
Harga
Jumlah (orang)
Persen
1
5.000-9.999
5
5
2
10.000-14.999
55
55
3
15.000-19.999
31
31
4
20.000-24.999
9
9
 
Toral
100
100
Data primer diolah, 2008
Biaya yang dikeluarkan tiap bulannya adalah Rp. 5.000,00 sampai Rp. 9.999,00 adalah 5 orang, antara Rp. 10.000,00 sampai Rp. 14.999,00 ada 55 responden, antara Rp. 15.000,00 sampai RP. 19.999,00 adalah 31 orang, dan yang antara Rp 20.000-24.999 ada 9 orang responden yang menjawab ya.
4.1.2.8 Selera Memilih Alat Kontrasepsi Suntik dibanding Pil.
Lebih jauh lagi, peran selera cukup dominan dalam pengambilan keputusan oleh responden dalam menentukan pilihan KB suntik. Jawaban responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.8
Selera responden dalam memilih Kontrasepsi suntik
No
pendapat tentang alat kontrasepsi suntik.
Sangat tidak setuju
Tidak setuju
Ragu-ragu
setuju
Sangat setuju
Total
1
Harganya terjangkau
11
11
0
44
34
100
2
Pemakaiannya tidak repot hanya perlu kontrol saja.
11
11
0
33
45
100
3
Mudah di peroleh
22
22
0
12
44
100
4
Tidak memakan jangka waktu yang lama misalnya seperti IUD atau yang lainnya
33
22
0
1
44
100
5
Tidak mengganggu kualitas ASI
22
11
0
34
33
100
 
Total
99
77
0
124
160
 
Data primer diolah, 2008

Responden banyak mengambil kesimpulan bahwa harga cukup terjangkau bagi kontrasepsi suntik adalah 44 orang setuju dan 34 sangat setuju. Sedangkan yang tmenjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju masing-masing 11 responden.
Responden yang menganggap pemakaian tidak repot adalah dapat dilihat dari berbagai pilihan sikap. Ada 11 responden menjawab sangat tidak setuju, 11 responden menjawab setuju. Responden yang menjawab setuju ada 33 responden dan yang menjawab sangat setuju ada 45 responden.
Pemakaian yang menyatakan tidak memakan waktu yang lama diperoleh jawaban sebagai berikut : bahwa 33 menjawab sangat tidak setuju, 22 menjawab tidak setuju, 1 orang menjawab setuju dan 44 responden menjawab sangat setuju.
Kemudahan memperoleh ditanggapi responden yang setuju ada 22 yang sangat tidak setuju, yang memberi respontidak setuju ada 22 orang, yang memberi respon setuju ada 1 orang, dan sangat setuju ada 44 orang.
Jawaban terakhir tentang efek pada kualitas ASI. Responden menjawab sangat tidak setuju ada 22, menjawab tidak setuju ada 11, menjawab setuju ada 34 dan sisanya 33 responden menjawab sangat setuju.

4.2 Pembahasan
Hasil perhitungan statistik berganda dengan model OLS dengan menggunakan logaritma Natural adalah sebagai berikut :
Y = 2,687 + 0,130 lnX1 + 0,647 lnX2 – 0,958 ln X3+ 0,354 lnX4 + e
t = (0,442) (2,505) (9,394) (-2,698) (2,801)
R2 = 0,666
F = 47,348
Dw = 1,548
Apabila Y= Permintaan Kontrasepsi Suntik, X1 = Pendapatan Keluarga, X2= Selera, X3 = Harga Kontrasepsi Suntik dan X4 = harga Kontrasepsi Pil menunjukkan hasil estimasi ekonomi sebagai berikut :
1.Elastisitas pendapatan terhadap permintaan kontrasepsi suntik adalah 0,13 berarti bahwa kenaikan Pendapatan berpengaruh positif terhadap Permintaan Kontrasepsi dengan derajat keyakinan 95%.
2.Elastisitas selera terhadap permintaan kontrasepsi adalah 0,647 berarti bahwa selera pengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 95%.
3. Elastisitas Harga Kontrsepsi Suntik terhadap permintaan kontrasepsi Suntik adalah -0,958 berarti bahwa kenaikan harga kontrasepsi suntik pengaruh negatif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 95%.
4.Elastisitas kenaikan harga pil terhadap permintaan kontrasepsi suntik adalah 0,354 berarti bahwa kenaikan harga pil memiliki pengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 90%.

4.2.1 Uji Statistik
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fitnya. Secara statistik, dapat diukur dari koefisien determinasi (R2), nilai statistik F, dan nilai statistik t
1.Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependent amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk mempprediksi variasi variabel dependen.
Nilai R2 berkisar antar 0 dan 1. Semakin besar nilai R2 berarti semakin besar variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen. Sebaliknya semakin kecil nilai R2 berarti semakin kecil variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independen.
Nilai R2 adalah 0,666 artinya bahwa 66,6 % variabel terikat dijelaskan oleh variabel independen dan sisanya di jelaskan oleh variabel di luar variabel bebas tersebut.
2.Pengujian Koefisien Regresi Secara Serentak (Uji F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara keseluruhan signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variabel dependen. Apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel maka variabel-variabel independen secara keseluruhan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen . Besarnya F hitung adalah 47,348 lebih besar dari F tabel (2,53) dengan derajat kebebasan (df)= 96 ; 4 derajat kebebasan 95%.
3.Pengujian koefisien Regresi Secara Individual (Uji t)
Uji t dilakukan untuk mengetahui berarti tidaknya suatu variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Besarnya t hitung untuk X1 (pendapatan keluarga) adalah 2,505 lebih besar dari t tabel (df = 99, a = 5% sebesar 1,660). Besarnya t hitung untuk X2 (selera) adalah 9,394 lebih besar dari t tabel (df = 99, a = 5% sebesar 1,660). Besarnya t hitung untuk X3 yaitu kontrasepsi suntik adalah 2,698 lebih besar dari t tabel (df = 99, a = 5% sebesar 1,660). Besarnya t hitung untuk X4 (Harga Pil KB) sebesar 2,801 lebih besar dari t tabel (df = 99, a = 5% sebesar 1,660). Uji 2 arah untuk semua variabel bebas menunjukka bahwa ada pengaruh secara signifikan dari masing-masing variabel secara parsial mempengaruhi permintaan kontrasepsi suntik.

4.1.2 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
1.Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual memiliki distribusi normal, seandainya asumsi ini dilanggar, maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Untuk menguji apakah residual berdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan analisis grafik. Analisis ini dilakukan dengan mengamati grafik Histogram dan grafik normal probability plot. Dalam grafik histogram terlihat perbandingan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probalility plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.
Hasil grafik dan histogram adalah sebagai berikut :

Dan,

Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribus idata residual normal, maka garis yang mengambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Karena data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik Histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2.Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik harusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Multikolinearitas dalam model regresi adalah sebagai berikut :
a.nilai R2 yang dihasillkan oleh suatu estimasi model regresi sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat Karena variabel independen seluruhnya signifikan diukur dati t hitung dan F hitung dengan R2 yang cukup tinggi (66,6%) menunjukkan bahwa asumsi multikolinearitas tidak terpenuhi.
b. Menganalisis Matriks korelasi variabel-variabel bebas. Jika variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90), mengidentifikasikan adanya multikolinearitas. Karena korelasi dari seluruh variabel bebas dibawah 90 persen maka tidak terjadi aumsi multikolineritas.
c.Multikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas manakala yang dijelaskan oleh variabel bebas lainya. Jika tolerance kurang dari 10 persen dan nilai VIF diatas 10, maka terjadi Multikolinearitas.
Tabel 4.1
Toleransi dan VIF

Variabel
Tolerance
VIF

X1
,878
1,138
X2
,756
1,323
X3
,973
1,028
X4
,742
1,347
a Dependent Variable: Y

Karena Toleransi di atas 10 persen maka data tidak terjadi multikolineritas, dan VIF dibawah 10 tidak terjadi multikolinearitas.
3. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi ini berarti terdapatnya korelasi antara anggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan berdasarkan waktu, sehingga munculnya suatu datum dipengaruhi oleh datum sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi umum karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Cara untuk mendeteksinya adalah melalui uji Durbin-Watson (DW test) dan uji Box pierce dan Ljung Box. Menurut Iqbal Hasan (2002) keputusan ada atau tidak adanya autokorelasi dengan mempergunakan uji Durbin-Watson:
Besarnya dw adalah 1,543 menunjukkan tidak ada autokorelasi positif karena tabel dw test besarnya du = 1,758 dan dl = 1,679 lebih kecil dari 4-d (2,457)
4. Uji Heteroskedatisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Heteroskedastisitas. Jika berbeda disebut Hetereoskedatisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedatisitas, atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi dilakukan dengan melihat grafik plot. Jika mempergunakan grafik plot pengambilan keputusan ada atau tidaknya heteroskedastisitas:
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Data di atas menunjukkan tidak adanya hubungan yang beraturan dari dua garis yang dihubungkan oleh titik-titik. Menunjukkan bahwa tidak adanya heterokedastisitas di dalam model diatas.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil dalam penelitian yang memabahas tentang pengaruh harga pil, harga kontrasepsi suntik, selera dan penadapatan keluarga terhadap permintaan kontrasepsi suntik di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang adalah :
1.Elastisitas pendapatan terhadap permintaan kontrasepsi suntik adalah 0,13 berarti bahwa kenaikan Pendapatan berpengaruh positif terhadap Permintaan Kontrasepsi dengan derajat keyakinan 95%.
2.Elastisitas selera terhadap permintaan kontrasepsi adalah 0,647 berarti bahwa selera pengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 95%.
3. Elastisitas Harga Kontrsepsi Suntik terhadap permintaan kontrasepsi Suntik adalah -0,958 berarti bahwa kenaikan harga kontrasepsi suntik pengaruh negatif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 95%.
4.Elastisitas kenaikan harga pil terhadap permintaan kontrasepsi suntik adalah 0,354 berarti bahwa kenaikan harga pil memiliki pengaruh positif terhadap permintaan kontrasepsi suntik dengan derajat keyakinan 90%.
5.Secara bersama-sama semua varibel bebas memiliki pengaruh secara signifikan terhadap variable tetikat, demikian pula secara parsial.
Hasil dari penelitian ini emghasilkan kesimpulan yang cukup konsisten karena semua hipotesis nol ditolak.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah bahwa pendapatan yang cukup bagi keluarga dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat membeli alat kontrasepsi. Masyarakat mengaharapkan bahwa harga kontrasepsi terjangakau karean harga cukup berpengaruh dalam keputusan menggunakan alat kontrasepssi.
Masyarakat memiliki varians yang cukup bervarriasi dalam memenuhi selera mereka untuk memilih alat kontraepsi. Oleh karena itu ketersediaan alat kontrasepsi yang cukup memadahi cukup dibutuhkan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s