Membangun Komunikasi Islam dan Barat


<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { color: #0000ff } –>

Membangun Komunikasi Islam dan Barat

1. Latar Belakang Masalah

Usai pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Kamis (30/3), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik dan mendukung pembentukan UK-Indonesia Islamic Advisory Group untuk kepentingan membangun dunia yang damai, adil, dan sejahtera.

SBY mengemukakan, kerja sama ini dimaksudkan untuk mengurangi gap antara dunia Islam dan non Islam, termasuk bagaimana kedua negara sepakat mendorong dan mensponsori dialog.

Pernyataan SBY tentang perlunya dialog konstruktif atau membangun komunikasi Islam dan Barat tentu bukannnya tanpa sebab. Sudah menjadi rahasia umum, hubungan Islam dan Barat selama ini bisa dibilang tak harmonis. Salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia Kholil Ridwan menilai kendala dan kemacetan komunikasi Islam-Barat mulai mengkristal setelah perang dingin Rusia – AS berakhir. Saat itu Barat menang, mereka mengganggap komunis runtuh, lalu siapa lagi musuhnya yang akan menghalangi mereka berkuasa.

Saat ini, hubungan Islam dan Barat kurang harmonis. Sebelumnya, hubungan Islam dan Barat juga pernah memburuk akibat Perang Salib yang terjadi di abad ke-XI dan XII. Perang ini menimbulkan trauma berkepanjangan di kedua belah pihak. Dengan berjalannya waktu, trauma Perang Salib mulai sirna dan hubungan Islam dan Barat membaik. Tapi sayangnya, hubungan baik ini luluh-lantak dengan peristiwa 11 September 2001 yang menyentakkan dunia. Genderang perang pun ditabuh, masing-masing pihak mengklaim bahwa pihak lain adalah musuh yang berbahaya.

Sebagian umat Islam menganggap bahwa Barat sedang melakukan penjajahan atas umat Islam dengan dalih perang melawan terorisme, sedangkan Barat menganggap umat Islam berusaha merobohkan eksistensi peradaban mereka

Kita harus pahami apa itu komunikasi. Komunikasi adalah proses penciptaan pesan dan pemaknaan pesan. Dalam memelihara hubungan baik antar umat manusia, penciptaan dan pemaknaan pesan positif sangat penting. Bila kita berhasil membangun atau mencipta pesan positif, niscaya akan dimaknai positif. Sebaliknya, jika kita menciptakan pesan yang negatif, niscaya akan dimaknai negatif. Jadi, dalam rangka memulihkan hubungan dan kerjasama, sebaiknya memperbanyak pesan-pesan yang positif dan mengurangi pesan-pesan yang negatif supaya terhindar dari miss komunikasi.

Penciptaan pesan dan pemaknaan pesan terjadi dalam konteks budaya masyarakat. Membangun pesan positif harus disesuaikan dengan budaya orang yang menerima agar pesannya tidak dimaknai negatif. Kita harus menghindari penciptaan pesan positif kalau sekiranya dalam konteks budaya penerimanya akan berubah negatif. Di sinilah berlaku dalam prinsip komunikasi yang disebut dengan “empati”, yaitu menempatkan posisi kita dalam kebudayaan orang lain. Dengan menggunakan prinsip empati ini, pesan positif yang kita sampaikan akan cenderung diterima positif oleh si penerima pesan.

Hubungan Islam dan Barat kurang harmonis. Telah tejadi miss understanding antara Islam dan Barat. Kita ambil contoh peristiwa terorisme yang telah membenturkan kedua belah pihak.

Karena kedua belah pihak membawa persepsinya masing-masing dan tidak mau mendengarkan persepsi “lawannya”. Saat terjadi terorisme, maka terjadi pula proses penciptaan dan penerimaan pesan. Media Barat langsung menciptakan pesan bahwa pelaku tindak terorisme adalah orang Islam. pers Barat seakan-akan ingin membuat pesan bahwa kekerasan ini adalah terorisme Islam. Pesan pers Barat ini tidak dapat diterima oleh umat Islam, kemudian media-media Islam membuat counter opinion dengan menciptakan pesan bahwa semua itu adalah hegemoni Barat. Kedua-duanya tidak berusaha untuk saling memahami dan mengerti satu sama lain, tapi malah saling mengecap (labeling). Inilah yang menyebabkan hubungan umat Islam dan masyarakat Barat tidak baik.

Saat ini negara-negara Islam didominasi oleh negara-negara Barat. Adakah kaitan antara dominasi dunia global dengan munculnya aksi-aksi kekerasan dan teror belakangan ini. Hal ini tidak dilihat hanya dari aspek komunikasi, tapi juga keadilan dalam kerangka global. Ada dua hal ini sangat tidak seimbang. Dari segi komunikasi terjadi ketimpangan karena arus komunikasi mayoritas datang dari Barat. Sementara negara-negara berkembang yang mayoritas negara-negara Islam hanya sedikit. Pada sisi isi komunikasi media (contents media), ada dominasi dari Barat ke dunia berkembang. Ini menimbulkan reaksi yang disebut sebagai gegar budaya (culture shock) yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpuasan-ketidakpuasan sehingga lahirlah aksi-aksi kekerasan. Di sisi lain, tatanan ekonomi global tidak adil. Negara-negara Barat cenderung menguasai ekonomi dunia sehingga negara-negara berkembang yang mayoritas negara-negara Islam menjadi miskin dan tertinggal. Lalu negara-negara Barat dipertontonkan kemewahan yang mereka miliki, baik di kalangan sendiri dan di kalangan umat Islam, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Hal inilah yang turut mendorong sikap-sikap sentimen dan kekerasan, bahkan mungkin juga terorisme. Kalau ingin menciptakan dunia yang adil, saya sebagai orang komunikasi pertama kali berharap terciptanya keadilan informasi. Dalam arti, tidak ada dominasi informasi dari Barat saja, tapi Barat juga harus mendengar informasi dari umat Islam.

Benar, kekerasan tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja dan atas nama agama dan ideologi apa saja kalau sekelompok orang ada yang merasa ditindas. Kekerasan di Irlandia dan Amerika Latin yang pelakunya bukan orang Islam. Titik permasalahannya adalah persoalan kemanusiaan.

Semua itu tergantung bagaimana seharusnya dunia Islam merespons perkembangan dan kemajuan dunia Barat saat ini. Sederhana saja, kembali kepada “kaidah emas” yang dimiliki; Islam mendorong umatnya untuk maju dan berkembang. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, sebagaimana Firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash [28]: 77).

Persoalannya adalah umat Islam kadang hanya mengetahui makna dari sebuah ayat tapi tidak menerapkannya. Ini adalah tugas para dai. Agar para dai memberi pemahaman terhadap umat bahwa Islam penuh dengan kebaikan. Dalam pengertian, para ulama terdahulu menganjurkan kalau kita berdakwah, maka hendaklah dilihat siapa penerima dakwah. Jika kita berbicara dengan orang pintar, dakwah disampaikan dengan hikmah (ilmiah dan rasional). Dengan orang awam, dakwah menggunakan contoh yang baik. Dan bagi orang-orang yang phobia terhadap Islam, dakwah dilakukan dengan cara berdebat dengan baik dan sopan. Jadi dakwah kita harus segmentif.

Dakwah harus berkelanjutan. Memberi pemahaman ayat Alquran harus bertahap dan harus dibuktikan bahwa ajaran Islam memiliki aspek praktis. Dai harus bisa menjelaskan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat yang terdapat dalam firman Allah dan hadits Nabi. Kemudian dilanjutkan dengan mengaitkan firman Allah dan hadits Nabi dengan konteks sosial masyarakat. Yang pertama disebut sebagai tahap “bayani” dan kedua disebut tahap “burhani”. Selanjutnya dai harus melanjutkan pada tahap berikutnya, yaitu suatu ayat ini memiliki solusi nyata menghadapi permasalahan sehari-hari, inilah yang disebut tahap “‘irfani”; jawaban-jawaban yang sifatnya teknologis.

Contohnya, anjura memelihara kebersihan. Seperti terungkap dalam hadits yang artinya bahwa “kebersihan adalah sebagian daripada iman.” Kemudian juga firman Allah yang menyatakan bahwa Allah menyukai orang yang mensucikan (membersihkan) diri (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” QS al-Baqarah [2]: 222-red). Setelah mengerti makna ayat dan hadits ini (tahap Bayani), dilanjutkan dengan memahami lingkungan, misalnya air, tanah, dan udara (tahap Burhani). Menjaga kebersihan air, tanah dan udara dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempatnya (tahap ‘Irfani). Jadi dakwah seorang dai harus berkelanjutan.

Semua pihak harus turut menyelesaikan macetnya komunikasi tersebut. Terutama, kata dia, pemerintah dan tokoh agama setempat. Tokoh agama Barat harus yang sudah mengerti tentang Islam dan harus berusaha meluruskan pandangan yang sudah salah ini. Jangan lantas tokoh agama Barat memanas-manasi pemerintahnya. Walau kita tahu mereka punya misi 3G, gold, gospel, dan glory.”

Sementara, dari sisi Islam, tokoh agama harus memberi pemahaman bahwa Barat tak sebaik yang diduga, namun bukan berarti harus menjadi antiBarat. “Kita harus menunjukkan wajah Islam yang ramah, yang rahmatan alamin,” tegasnya.

Saat ini sebenarnya sudah ada pemuka agama Islam dan Barat yang membicarakan perdamaian. Hanya saja, lanjut dia, hasilnya belum terlalu terlihat. Mekanismenya harus ada dialog Islam-Barat yang jujur, fair dan setara.

Pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (2008), mengatakan bahwa sebenarnya komunikasi Barat dengan Islam sudah lebih intensif ketimbang sebelumnya. Namun kalau bicara tentang dialog, mungkin sampai sekarang masih kurang. Dialog bukan sekadar komunikasi, tapi upaya untuk mengerti, memahami, dan berempati pada pihak lain.

Jalaluddin Rakhmat dan Alwi Shihab pernah diundang oleh Pemerintah Jerman pascareunifikasi, untuk ikut diskusi antara Islam dan Barat. Diskusi itu, lanjut dia, antara lain berisi bantahan tesis Huntington bahwa antara Islam dan Barat selalu terjadi benturan peradaban, clash of civilization.

Sebetulnya yang terjadi adalah encounter. Islam menyumbangkan banyak sekali hal kepada peradaban Barat dan sebaliknya. Waktu itu, kami masing-masing membicarakan sumbangan Islam pada peradaban lain. Ternyata dialog itu bisa terjadi, dan berlangsung dengan baik.

Kalau dialog-dialog dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, tidak akan terjadilah peristiwa-peristiwa semacam pemuatan karikatur Nabi di Denmark. Tapi sayang, dialog-dialog yang coba dibangun sekarang ini sering dihancurkan oleh sikap arogan AS terhadap Islam. Walaupun dengan kelihaian diplomasinya, Amerika selalu menisbahkan terorisme kepada dunia Islam. Islam juga belum memahami Barat. Pertama, dialog-dialog yang dilakukan untuk membangun jembatan hubungan Barat-Islam itu masih teramat kurang, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Kedua, sering ada usaha-usaha tertentu – biasanya karena kepentingan politik – untuk menutup dialog itu dan menyuburkan purbasangka.

Islam menuding Amerika sebagai sumber dari segala prasangka itu. Celakanya, prasangka itu kemudian dibalas dengan prasangka yang buruk pula oleh orang-orang Islam. Di dunia Barat sendiri banyak orang yang tidak suka dengan mereka yang disebutnya sebagai pengeruhan pikiran, atau merekayasa opini publik dengan kebohongan. Dari kalangan Islam sendiri, ada banyak orang yang berusaha menumbuhkan saling pengertian. Terutama para tokoh agama. Tapi sama juga, seperti di Barat, di dunia Islam sendiri juga muncul kelompok-kelompok yang membenarkan cerita Amerika itu. Kalau Amerika mencitrakan kita sebagai teroris, mereka mungkin bisa cerita saja, tapi untuk buktinya perilaku beberapa kalangan kita sendiri yang bisa dijadikan bukti.

Saat ini yang terjadi di dunia bukanlah globalisasi, melainkan lebih merupakan hegemoni Barat terhadap dunia ketiga. Atau bahkan hampir seluruh dunia saya kira, tunduk pada hegemoni Barat, baik secara ekonomi, politik, bahkan mungkin secara kebudayaan. Produk-produk budaya yang sekarang tersebar ke seluruh dunia, lewat layar televisi umpamanya, adalah representasi budaya Barat.

Saat ini mungkin tinggal berharap adanya pemimpin-pemimpin Barat yang tercerahkan. Jerman, misalnya, pernah menampilkan pemimpin yang tercerahkan semacam itu. Tapi belakangan itu hilang lagi dari peredaran. Prancis saya kira juga serupa.

2. Rumusan Masalah

Komunikasi Islam dan Barat mengalami banyak hambatan dan kendala sehingga secara lebih jauh terjadi konflik antara mereka secara kepanjangan. Sebenarnya ada beberapa pemahaman yang berbeda dari kebanyakan orang Islam apakah itu barat dengan Arab atau dengan Islam. Hal ini mensiratlan bahwa konflik itu bukan karena komunikasi namun merupakan kepentingan antara kedua belah pihak dalam perebutan kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi.

Sejauh ini penulisan ini akan mengkaji dan mengurai terntang :

Apa penyebab retaknya hubungan dan bagaimana merajut hubungan mesra Islam dan Barat ditinjau dari ilmu komunikasi?

Apakah peran penting komunikasi dalam memelihara hubungan baik dan kerjasama antarsesama umat manusia?

Bagaimana menerapkan prinsip empati dalam komunikasi Islam dan Barat, apakah menempatkan Islam dalam pandangan Barat sehingga muncul istilah Islam moderat atau fundamentalis?

Hal inilah yang membuat komunikasi Barat dan Islam ada kendala yang latin dan sulit untuk diselesaikan, karena secara prinsip komunikasi yang baik sangat bergantung pada siapa yang berkomunikasi, apa , dimana, dan mengapa mereka melakukan komunikasi.

3. Landasan Teori

3.1 Pandangan Islam dalam Sistem Komunikasi

Sistem komunikasi yang berdsarkan Al-Qur’an dan Sunnah tidak menafsirkan konsep-konsep komunikasi manusia yang berlandaskan pengalaman dan pengetahuan manusia. Menurut pandangan sekuler, komunikasi adalah kemampuan manusia yang diperoleh melalui perkembangan biologis di mana organ-organ utama manusia memainkan peran penting, namun pada saat yang sama para peneliti mengatakan, ” Tidak seorang pun yang tahu bagaimana kemampuan berbicara makhluk ini mulia. Namun menurut pandangan Islam, manusia adalah makhluk paling mulia yang semua kemampuan yang diperolehnya menunjukan anugrah Allah. Selain dianugrahi kemampuan-kemampuan lainnya , manusia dianugrahi kemampuan untuk berbicara, memahami, membedakan, dan menjelaskan apapun yang ia persepsi, amati, dan alami. Al-Qur’an menggunakan istilah Bayyan untuk menunjukkan kualitas ini. ” ( ali, 1996:227 ).

Dalam konteks ini, terdapat  pengakuan Allah sendiri yang memberikan panduan bagaimana manusia harus berkomunikasi, dan manusia wajib mengikuti prinsip-prinsip komunikasi tersebut. Dengan kata lain, sistem komunikasi Islam didasarkan atas ideologi atau ajaran Islam itu sendiri, yang sering disebut pandangan hidup dan jalan hidup ( Ad-din ). Misi Islam adalah untuk kebaikan bagi manusia, sebagai rahmat bagi semesta alam, agar manusia menjadi khalifah di bumi dengan tugas untuk mewujudkan sifat-sifat Allah ( Adil, pemaaf, pengasih, penyayang, dan sebagainya ), sebatas kemampuan mereka , juga untuk menyuruh kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dengan misi demikian , Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia , termasuk cara berkomunikasi yan gharus dilakukan manusia dengan sesamanya.

Allah lewat firman-Nya dan Nabi lewat sunnah-Nya mengajarkan bagaimana manusia harus berkomunikasi dengan orang tua, anak, tetangga, tamu, yatim piatu, janda, orang miskin dan lain sebagainya. Al-Qur’an mengajarkan sifat-sifat baik yang haurs dimiliki oleh peserta komunikasi, seperti kebajikan, ihsan, keadilan, kebenaran, makruf, dan takwa. ( Ali, 1996:230-232 ).

Secara sederhana, sistem komunikasi Islam didasri dua misi utama Islam. yakni untuk menegakkan tauhid ( Ke-esaan Tuhan ) dan amar ma’ruf nahi munkar ( Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

3.2 Bahasa dalam Komunikasi

Bahasa dari perkataan communicate bermaksud penyertaan atau pemberitahuan, satu proses interaksi antara dua orang atau lebih, hasilnya manusia beroleh persefahaman, pemindahan maklumat, kesenangan, tindakan bersesuaian dan sebagainya. Semua bentuk komunikasi adalah dibenarkan selagi tiada perkara yang bertentangan dengan syariat.

Perkataan yang bermaksud komunikasi yang terakam dalam al-Quran :

  • “Wasola” : membawa maksud sampaikan.

  • “al-Alaq” : bermaksud bacalah

  • “al-Nisa” : bermaksud Khabarkanlah

  • ” al-Mu’min” : bermaksud Katakanlah

  • “al-Asr” : bermaksud berpesan-pesan.

  • ” al-Maidah” : bermaksud dengarkanlah.

Dari perspektif agama, Islam dilihat sebagai agama yang bersifat mission yang menggesa penganutnya supaya berterusan menyebarkan mesej sama ada kepada rakan-rakan muslim ataupun kepada bukan muslim. Setiap individu muslim dianggap komunikator agama atau da’i (pendakwah) di mana diwajibkan menyampaikan mesej mengikut kadar keupayaan masing-masing.

Beberapa prinsip komunikasi Islam yang dinyatakan dalam al-Quran antaranya :

  • Firman Allah yang bermaksud ” Perkataan yang baik dan pemberian maaf adalah lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)…

  • ayat lain bermaksud ” dan katakanlah kepada hamba-hambaKU : hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)…”

3.3 Kepentingan Komunikasi

Komunikasi adalah satu aktiviti yang dianggap mulia oleh Islam.Malah Allah menyatakan bahawa seseorang yang menggunakan komunikasinya untuk menyerukan orang lain kepada mengesakan Allah, mematuhi perintah Allah dan ia sendiri melakukan kebaikan, orang tersebut adalah dianggap lebih baik perkataanya ( ahsana qaulan).

Pada aspek lain dalam konteks komunikasi ini merupakan arahan daripada Allah supaya memberi peringatan dan amaran kepada umat manusia. Arahan ini semakin nyata melalui lisan sebagai elemen penting komunikasi yang mana Rasulallah s.a.w menuntut supaya melakukan pencegahan terhadap kemungkaran yang dilihatnya.

Kepentingan komunikasi lisan untuk melakukan perubahan dan tegahan dapat diperhati kepada hadis rasulallah mengkalsifikasikan peranan lisan di tempat kedua selepas tangan yang bermaksud :” Barangsiapa diantara kamu melihat sesuatu kemungkaran yang telah berlaku maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya jika tak berkuasa, maka hendaklah ia mengubah dengan lisan, jika tak berkuasa juga ia mengubah dengan hatinya bagi yang selemah-lemah iman”.

Percakapan adalah cara yang menjadi gambaran di dlam hati dan terjemaham dalam bentuk bahasa kepada orang lain untuk menyampaikan hasrat. Komunikasi juga adalah cara untuk menjalankan aktiviti kumpulan. Tanpa komunikasi mustahil kegitan kumpulan dapat dijalankan.

Komunikasi juga digunakan untuk membebaskan atau mengongkong, untuk mencipta atau memusnahkan, untuk memperbaiki mutu kehidupan di dunia ini atau melenyapkannya.

3.4 Jenis-jenis Komunikasi

3.4.1. Komunikasi dengan Pencipta.

Komunikasi dengan Pencipta yaitu ibadah secara khusus. Setiap individu muslim wajib mengadakan hubungan terus dengan Allah sekurang-kurangnya 5 kali sehari melalui sembahyang. Ibadah menjadi komunikasi langsung antara hamba dan Pencipta, ini sangat penting kerana ia akan mencegah daripada melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan kemungkaran.

3.4.2. Komunikasi dengan diri sendiri.

Komunikasi dengan diri berlaku dahulu sebelum komunikasi dengan pihak luar. Unsur komunikasi dengan diri sendiri ialah niat dan berfikir. Faktor niat penting sehingga boleh menentukan sah atau tidak perbuatan seseorang. Sabda Rasulallah yg bermaksud : ” sesungguhnya setiap perbuatan adalah dengan niat

3.4.3. Komunikasi dengan alam atau makhluk.

Selain dari komunikasi dengan pencipta dan diri sendiri. Komunikasi peringkat ini berlaku sam ada memberi kesah negetif atau positif bergantung kepada sejauh mana ketepatan dan kebenaran proses komunikasi dilakukan pada komunikasi peringkat pertama dan kedua. Islam mengiktiraf dan menerima segala bentuk peralatan komunikasi moden yang beraneka jenis zaman kini yang menjadi elemen perantara asalkan ia tidak mendatangkan kesan negetif kepada keaslian fitrah manusia yang memerlukan keamanan, kebaikan dan lian-lain. Komunikasi peringkrat ini tak terbatas kepada sesama manusia sahaja. Nabi sulaiman boleh berkomunikasi dengan Jin dan binatang.

3.5 Bentuk-bentuk komunikasi

Komunikasi Islam biasanya berbentuk :

  • Lisan, perbualan, pengajaran, khutbah, forum, debat

  • Bukan lisan, surat, e-mail, faks, sms, buku, majalah

  • Media, elektronik: tv, radio, internet dan cetak: surat khabar, majalah

3.6 Prinsip Komunikasi Islam

Prinsip-primsip komunikasi adalah :

  1. Bercakap dengan lemah lembut.

Ini berdasarkan firman Allah yang bermaksud ” Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufuran. Hendaklah kamu berkata kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut semoga ia beringat atau takut”

  1. Menggunakan perkataan yang baik-baik.

Sebagaimana firman Allah ” dan katakanlah kepada hamba-hambaKU ( yang beriman)  supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat bai,… “.

  1. Menggunaan hikmah dan nasihat yang baik.

Fiman Allah : ” Serulah ke jalan Tuhanmu ( wahai Muhammad) dengan kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik.

  1. Menguasai bahasa dan isi percakapan dengan kecerdasan akal dan pandangan.

Rasulallah bersabda ” Berbicaralah kepada manusia menrut akal (kecerdasan) mereka masing-masing.

  1. Berbahas dengan cara yang lebih baik. Prinsip ini bersandarkan firman allah yang bermaksud :” …. dan berbahaslah dengan menreka ( yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik … “

  2. Menyebut perkara penting berulang kali. Prinsip ini bersandarkan kepada amalan Rasulallah s.a.w ” Apabila baginda mengucapkan sesuatu kata-kata, baginda mengulanginya 3 kali sehingga kata-kata itu difahami”.

  3. Mengotakan apa yang dikatakan. Prinsip ini bersandarkan firman Allah s.w.t : “wahai ornga-orang yang beriman, mengapa kamu memeperkatakan apa yang kamu tidak melakukannnya”.

3.7 Peranan komunikasi dalam kehidupan

Peranan komunikasi dalam kehidupanadalah :

  • memindahkan maklumat, pendidikan.

  • meyampaikan arahan atau perintah

  • bertanya khabar, bermesyuarat

  • berdakwah

Komunikasi berkesan :

  • alat penerima maklumat: telinga, mata, kulit

  • mata paling berkesan: sebab itu hukuman ke atas penjenayah dijalankan di hadapan orang ramai

  • cara Nabi s.a.w. berkomunikasi:

a) Suara jelas, tidak perlahan dan tidak terlalu kuat

b) Tidak cepat

c) Diulang-ulang tiga kali

d) Mengetahui latar belakang sasaran

e) Bahasa yang mudah

  • asas-asas komunikasi:

a) Taqwa

b) Ukhuwwah

c) Rahmah

d) Melebihkan orang lain

e) Kemaafan

4. Pembahasan

Komunikasi Islam dan Barat “tidak nyambung” atau ada bias dalam komunikasi Islam dan Barat. Masing-masing pihak bersikukuh dengan persepsi masing-masing. Tidak berusaha untuk saling memahami.

Kedua belah pihak, Islam dan Barat, kalau terjadi peristiwa yang bisa menggiring kedua belah pihak berbenturan hendaknya tidak menciptakan pesan yang saling menuding. Tapi menempatkan peristiwa sebagai hal yang tidak berhubungan dengan umat Islam atau pun dengan masyarakat Barat. Dalam arti lain, tidak langsung mengecap umat Islam, misalnya, sebagai teroris atau pun umat Islam mencap Barat sedang melakukan hegemoni atas umat Islam. Dalam kasus terorisme, disebut saja pelakunya dengan inisial tertentu sambil menunggu bukti kongkret. Jika ada bukti, baru disebutkan orang Islamnya bernama siapa dan berasal dari mana. Karena kalau menyebut langsung (mengecap) terorisme Islam, tanpa ada bukti yang mendahului, tentu menyakiti hati umat Islam. Misalnya dalam kasus 11 September 2001, hanya beberapa menit setelah kejadian pers Barat langsung menyebut peristiwa ini sebagai terorisme Islam.

Di harapkan Islam dan Barat menghilangkan sikap saling mengecap ini agar hubungan Islam dan Barat segera membaik

Pahami saja apa yang menjadi ciri khas orang Barat. Sebutlah misalnya orang Barat rasional, individual, dan sportif. Agar Islam mendapat kesan positif di mata masyarakat Barat, umat Islam dalam menciptakan pesan kepada masyarakat harus memperlihatkan bahwa Islam memiliki sisi rasional, menghargai posisi individu dan sportif. Dengan menggunakan cara menciptakan pesan seperti ini, Islam akan berkesan positif di mata masyarakat Barat karena ajaran Islam dinilai sejajar dengan cara mereka berfikir. Kita tidak perlu mengubah Islam, tapi kita terangkan Islam sebagaimana kadar pemikiran orang Barat. Itu yang dimaksud prinsip empati dalam berkomunikasi.

Jika kita berbicara tentang Islam kepada Barat, kita memperlihatkan gambaran-gambaran Islam yang kita miliki saja. Bukan Islam yang dimaksud untuk dipahamkan kepada Barat.

Bahwa umat Islam masih menampakkan Islam sebagaimana apa yang kita pahami, belum menunjukkan Islam yang ingin dipahami Barat. Kita harus sadar, bahwa Islam tidak lepas dari citra penganutnya. Penganut agama Islam ada yang berasal dari Arab, Indonesia, Asia, Eropa dan lain sebagainya. Kebanyakan di antara mereka, ketika mengkomunikasikan Islam ke Barat cenderung memperlihatkan “Islam Timur Tengah”, “Islam Indonesia”, “Islam Asia Selatan” dan sebagainya. Seharusnya diperlihatkan hakikat dan inti ajaran Islam yang sesuai dengan budaya Barat, seperti rasional dan individual. Islam memiliki aspek-aspek yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Barat, sehingga orang Barat akan berfikir bahwa Islam sesuai dengan akal dan budaya mereka. Jadi, ketika masyarakat Barat diajak mengenal Islam mereka tidak merasa diajak untuk mengenal orang Arab, Indonesia, Asia, dan lain sebagainya.

Permasalahan yang muncul dalam komunikasi adalah apakah yang menjadikan tujuan komunikasi itu sendiri. Dimana komunikasi memiliki tujuan dan kepentingan tersendiri. Pada hakekatnya komunikasi secara positif dan normatif cukup berbeda. Kepentingan yang berbeda itu didorong oleh misi dan visi tertentu yang tidak sesuai ajaram, karena fanatisme yang berlebihan akan mengganggu komunikasi yang sehat.

Komunikasi satu arah dan propaganda akan melahirkan perserpsi yang berbeda sehingga konflik terus terjadi di antara kedua belah pihak, sehingga masing-masing tidak mau mengalah dan mau mendengarkan perbedaan pemikiran yang mereka komunikasikan. Karena kebenaran masing-masing pihak adalah subyektif menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

Membangun komunikasi yang tanpa prasangka dari bagian-bagian atau kelompok yang berkomunikasi adalah cukup sulit karena berkomunikasi harus dewasa. Kedewasaan komunikasi dibangun tidak hanya dari satu sisi saja. Komunikasi yang tidak dewasa dan kekanak-kanakan biasanya terjadi antara pihak-pihak yang berkuasa karena berebut kekuasaan tanpa memandang akibat dari pihak lain yang terkena imbasnya.

Biasanya antara dua belah pihak yang berseteru memahami bahwa komunikasi adalah confirm to conforn atau conform to comfirm. Seperti kesepakatan-kesepakatan antara pihak sekutu dan timur tengah bahwa pelucutan senjata yang disepakati kebanyakan tidak membuahkan pelaksanaan sesuai kesepakatan. Misalnya mereka saling menuduh bahwa pihak barat tidak percaya bahwa penghentian dan pemusnahan senjata pemusnah masal belum dilakukan dengan timur tengah. Namun timur tengah menganggap barat melakukan intervenasi dalam neger mereka.

Meja-meja konferensi kadang berbeda dengan kondisi di lapangan, karena komunikasi di lapangan cukup memakan waktu energi dan mengalami bias, sehingga intruksi-instruksi untuk menjalankan kesepakatan memiliki banyak kesalah pahaman. Sering juga sebaliknya konfirmasi dan kesepakatan muncul dan terjadi dialog melalui konferensi terjadi setelah terjadi konfrontasi seperti gejolak baik pertempuran, pemgeboman dan komunikasi.

Pemahaman ajaran Islam yang baik dan benar kadang-kadang menjadi alat kepentingan perebutan kekuasaan dan penanaman kekuasaan. Disatu sisi Islam mampu membangun fanatisme pengikutnya namun di satu sisi cukup tertinggan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Komunikasi tidak terjadi dengan sehat apabila tidak ada keseimbangan antara kedua belah pihak.

Dalam sejarahnya negara Islam adalah negara Jajahan barat dan merupakan negara berkembang sedangkan barat merupakan negara maju, sehingga sifat utama negara penjajah dan jajahan dalam komunikasi tidak bisa berjalan baik. Salah satu menjadi hegemoni dan salah satu terhegemoni. Islam memberikan tuduhan pada barat, itu bukan tuduhan tapi fakta. Namun hegemoni tidak dapat terlepas apabila dari satu belah pihak adalah apabila tidak terjadi usaha Islam untuk mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebenarnya terorisme adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap ketidak terimaan bangsa Arab yang merupakan legitimasi Islam pada bangsa barat. Namun perlu disadari bahwa terjadi ketergantungan teknologi pada Barat. Bagaimanapun komunikasi yang tidak seimbangan akan mengalami berbagai macam masalah dan kendala.

5. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulannya akan terjadi perbaikan masalah ketimpangan komunikasi antara Islam dan Barat maka perlu disadari bahwa :

  1. Siapa yang berkomunikasi harus seimbang, ada politikal will dari yang kuat yaitu negara barat, dan ada kesadaran yang tinggi akan harapan kesetaraan sebagai komunitas atau bangsa dari negara-negara Islam.

  2. Keseimbangan antara masing-masing subyek komunikasi terhadap obyek yang dikomunikasikan agar terjadi hasil yang saling menguntungkan dan memanusiakan.

  3. Latar belakang ego dan emosi dari masing-masing pihak adalah penyebab komunikasi tidak berjalan lancar.

  4. Adanya komunikasi yang tidak dua arah anta mereka dan terjadi bias komunikasi.

  5. Ada perbedaan situasi kondisi di lapangan untuk merealisasikan sesuatu yang dikomunikasikan.

Sarannya adalah sebagai beriku, tentang apa yang harus dilakukan :

  1. Saling menyadari bahwa antara kedua belah pihak harus dapat melakukan posisioning dalam berkomunikasi.

  2. Membangun kepercayaan dan menghilangkan ego dan fanatisme antara keduanya.

  3. Ada kepentingan yang mendorong komunikasi dua arah untuk dibuang jauh-jauh, sehingga diperoleh kesepakatan dari komunikasi yang saling tidak merugikan.

  4. Perlunya paradigma baru dalam komunikasi Islam barat.

Namun saran ini hanya idealitas saja kenyataannya sulit untuk direalisasikan karena latar belakang yang panjang antara Islam dan Barat dalam konflik kekuasaan.

Daftar Pustaka

___________________, 2006, “ Membangun Komunikasi Islam dan Barat” Center For Moderat Muslim Indonesia, 2006.

Soemarno, Deddy mulyana, Darmawan Zainun, 2006 , “Pandangan Islam dalam Sistem Komunikasi” , Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved. © 2008 Multiply, Inc. 2006.

Khazalii, 2008 “Komunikasi Dalam Islam”, UDI3052 , 2008.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s