FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING PADA SAAT INITIAL PUBLIC OFFERINGS (IPO)


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING PADA SAAT
INITIAL PUBLIC OFFERINGS (IPO)

USULAN PENELITIAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan program sarjana (S1)
pada Program Sarjana Ekstensi Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro

Disusun oleh:
CHRISTIAN ADITYA UMBARA
NIM.C2C604191

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2 0 0 8
PENGESAHAN SKRIPSI

Nama Penyusun : Christian Aditya Umbara
Nomor Induk Mahasiswa : C2C604191
Fakultas/ Jurusan : Ekonomi/Akuntansi

Judul Skripsi : FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING PADA SAAT INITIAL PUBLIC OFFERINGS

Dosen Pembimbing : Darsono, SE, MBA, Akt

Semarang, Desember 2008
Dosen Pembimbing,

(Darsono, SE, MBA,Akt)
NIP. 131 875 489
ABSTRAKSI

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti secara empiris apakah reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, umur perusahaan , komposisi dewan komisaris, jumlah saham yang di tawarkan berpengaruh terhadap underpricing. Penelitian ini menggunakan data dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 1999-2007.sampel yang diolah dalam penelitian ini sebanyak 141 perusahaan yang melakukan IPO. Setelah dilakukan seleksi sampel ditetapkan sebanyak 99 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi underpricing dalam penawaran saham perdana. Terdapat pengaruh variabel reputasi underwriter, ukuran perusahaan, komposisi dewan komisaris, dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Tidak ada pengaruh reputasi auditor, pertumbuhan laba, umur perusahaan, jumlah saham yang ditawarkan, dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.

Kata kunci : underpricing,initial public offering

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Ynag Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul ”FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING PADA SAAT INITIAL PUBLIC OFFERINGS (IPO)” sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi pada program akuntansi di Universitas Diponegoro Semarang.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bp. Darsono, SE,MBA,Akt, selaku pembimbing dan dosen wali, yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, yang telah memberikan ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam menyelesaikan studi.
3. Rekan-rekanku jurusan Akuntansi angkatan 2004 Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang yang terus memberikan semangat untuk memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini, sukses untuk kita semua.
4. Seluruh staf pojok BEI Universitas Diponegoro Semarang, yang telah membantu dalam memperoleh data untuk penelitian ini.

Semarang, Desember 2008
Penulis,

Christian Aditya Umbara
NIM. C2C604191

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Suatu Perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya akan memerlukan kebutuhan dana yang besar untuk pembiayaan perusahaannya. kebutuhan akan pembiayaan dapat dipenuhi dari berbagai sumber, yaitu dengan pendanaan dari pengeluaran surat hutang (obligasi), modal sendiri, hutang dari bank atau dari emisi saham. Perusahaan yang belum go public awalnya saham-saham perusahaan tersebut dimiliki oleh manajer-manajernya, sebagian lagi oleh pegawai-pegawai kunci dan hanya sebagian kecil yang dimiliki investor. Menurut Jogiyanto, (2000) apabila saham dijual untuk menambah modal perusahaan, maka saham baru dapat dijual kepada pemegang saham yang sudah ada, dijual kepada karyawan lewat ESOP (employee stock owenership plan), dijual langsung kepada pembeli tunggal (biasanya investor institusi) secara privat ( private placement), dan ditawarkan kepada publik.
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendaanan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan oleh perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa hutang, pembiayaan bentuk lain atau dengan mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada publik atau sering dikenal dengan go public, Untuk go public perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go public atau penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan BAPEPAM-LK. Perusahaan yang mencari sumber pendanaan yang berasal dari saham pada umumnya, perusahaan akan menawarkan sahamnya kepada publik, dengan beredarnya saham perusahaan pada publik, maka akan menunjukan bahwa perusahaan tersebut telah berubah dari perusahaan private menjadi perusahaan publik yang sering disebut dengan go public.
Initial Public offerings (IPO) atau go public merupakan salah satu alternatif pendanaan melalui peningkatan ekuitas perusahaan dengan cara menawarkan efeknya (saham, obligasi, surat-surat berharga lainnya) kepada masyarakat. Bagi suatu perusahaan IPO secara financial merupakan sarana untuk memperoleh modal untuk pengembangan bisnis perusahaan dan sarana lainnya sebagai ukuran bahwa perusahaan tersebut telah menjalankan keterbukaan dalam pengelolaan perusahaan yang dampaknya memperoleh citra perusahaan. Undang-undang yang mengatur IPO adalah Undang-Undang No. 25 tahun 2007 (sebagai pengganti Undang-Undang No.8 tahun 1995) tentang penanaman modal (Sitompul, 2000). Dalam proses go public, Sebelum saham diperdagangkan dipasar sekunder terlebih dahulu dijual di pasar perdana. Harga saham yang akan di jual perusahaan pada pasar perdana ditentukan oleh kesepakatan antara emiten (perusahaan) dengan penjamin emisi atau sering disebut dengan underwriter, Sedangkan harga saham yang dijual pada pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu permintaan dan penawaran (Daljono, 2000).

Setiap perusahaan yang melakukan IPO harus membuat prospektus. Prospektus adalah setiap informasi tertulis sehubungan dengan penawaran umum dengan tujuan agar pihak lain membeli efek yang ditawarkan. Dalam prospektus terdapat banyak informasi yang berhubungan dengan keadaan perusahaan yang melakukan penawaran umum. Informasi dalam prospektus dapat membantu investor dalam membuat keputusan yang rasional mengenai resiko dan nilai saham yang ditawarkan perusahaan (Kim et al.1993). Penyusunan prospektus harus mengacu kepada hal-hal berikut: prospektus harus memuat semua rincian dan fakta material mengenai penawaran umum dari emiten, prospektus harus dibuat sedemikian rupa sehingga jelas dan komunikatif, fakta-fakta dan pertimbangan yang paling penting harus dibuat ringkasannya dan diungkapkan pada bagian awal prospektus, emiten, penjamin pelaksana emisi, lembaga penunjang serta profesi penunjang pasar modal bertanggungjawab untuk menentukan dan mengungkapakn fakta secara jelas dan mudah dibaca.
Sumber informasi lain yang digunakan investor atau calon investor dan underwriter dalam memilih perusahaan yang go public adalah laporan keuangan perusahaan. Persyaratan dalam proses go public adalah laporan keuangan perusahaan harus telah di audit oleh kantor akuntan publik (Keputusan Menteri Keuangan RI No. 859/KMK.01/1987). Persyaratan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi emiten karena tingkat kepercayaan akan lebih besar, investor membutuhkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor berkualifikasi (Rosyati dan Sabeni, 2002).

Emiten seringkali menentukan harga saham yang dijual pada pasar perdana dengan membuka penawaran harga yang tinggi, Karena perusahaan menginginkan pemasukan dana semaksimal mungkin. Sedangkan underwriter sebagai penjamin emisi berusaha untuk meminimalkan resiko agar tidak mengalami kerugian akibat tidak terjualnya saham-saham yang ditawarkan. Cara yang dilakukan underwriter untuk mencegah tidak terjualnya saham-saham emiten adalah dengan melakukan perundingan dengan emiten agar saham yang dijual tidak terlalu tinggi. Karena investor menginginkan harga saham yang wajar dan berkualitas. Bila harga saham pada pasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga saham pada pasar sekunder, maka akan terjadi underpricing.
Kondisi underpricing tidak menguntungkan bagi perusahaan yang melakukan go public, karena dana yang diperoleh dari go public tidak maksimum. Sedangkan bila terjadi overpricing, maka investor yang akan merugi, karena mereka tidak menerima initial return. initial return (IR) adalah keuntungan yang diperoleh pemegang saham karena perbedaan harga saham yang dibeli di pasar perdana saat IPO dengan harga jual yang bersangkutan di hari pertama dipasar sekunder. Para pemilik perusahaan menginginkan agar dapat meminimalisir underpricing, karena terjadinya underpricing akan menyebabkan transfer kemakmuran (wealth) dari pemilik kepada para investor (Beatty, 1989 dalam Daljono, 2000).
Dalam menciptakan harga saham yang wajar dan berkualitas, maka perlu dipelajari faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing. Kegunaan dalam mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing adalah agar perusahaan yang akan go public dapat mengantisipasi terhadap kerugian. Penelitian ini mencoba mencari faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap underpricing, karena penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini masih menunjukan hasil yang tidak konsisten karena perbedaan hasil yang telah diteliti oleh peneliti sebelumnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Rosyati dan Sabeni, (2002) pada periode 1997-2000 adalah penelitian tersebut menyebutkan bahwa variabel reputasi underwriter dan umur perusahaan berhasil menunjukan hubungan yang signifikan terhadap underpricing, Sedangkan variabel reputasi auditor dan kondisi pasar tidak signifikan terhadap underpricing. Penelitian yang dilakukan Nurhidayati dan Indriantoro, (1998) membuktikan reputasi underwriter, reputasi auditor, presentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat, umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing.
Hasil dari ketidakkonsistenan yang ditunjukan oleh penelitian-penelitian sebelumnya, mendorong dilakukannya penelitian kembali yang berusaha melakukan pembuktian secara empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing. Penelitian dilakukan pada perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 1999-2007 yang sekarang berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). pemilihan periode dimulai tahun 1999 karena tahun tersebut merupakan awal bangkitnya Indonesia dari krisis moneter, sehingga dalam penelitian ini diharapkan dapat terlihat pengaruh dari awal bangkitnya krisis ekonomi sampai terciptanya lingkungan yang baik pada pasar modal Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah
Dalam melakukan penjualan saham perdana harga saham perusahaan cenderung underpriced, yaitu harga saham pada penawaran perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan saham di pasar sekunder pada hari pertama.
Emiten sebagai perusahaan yang menginginkan penambahan dana yang maksimal melalui penjualan saham perdana, seringkali menentukan harga saham yang dijual pada pasar perdana dengan membuka penawaran harga yang tinggi. Sedangkan underwriter berusaha melakukan perundingan dengan emiten agar saham yang dijual tidak terlalu tinggi, karena investor menginginkan harga saham yang wajar dan berkualitas.
Faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi tingkat underpricing saham perdana telah diuji oleh para peneliti, namun hasil penelitian yang diperoleh tidak selalu konsisten antara penelitian satu dengan yang lainnya. Pada pasar perdana, informasi yang tersedia terbatas, pada penyediaan prospektus oleh perusahaan emiten. Ketidakseimbangan informasi dianggap sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya underpricing. Informasi prospektus menjadi faktor yang dipertimbangkan oleh investor dalam membuat keputusan investasi. Informasi yang dimaksud adalah reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan komposisi dewan komisaris.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini mencoba memperoleh bukti empiris apakah reputasi underwriter, reputasi auditor, umur perusahaan, ukuran perusahaan, komposisi dewan komisaris, dan jumlah saham yang ditawarkan mempengaruhi tingkat underpricing saham perdana pada perusahaan yang melakukan initial public offerings (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris apakah variabel-variabel independen dalam penelitian ini, yaitu reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, dan komposisi dewan komisaris mempengaruhi tingkat underpricing pada saat initial public offering (IPO).

1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan memberikan bukti empiris atas pengaruh reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, umur perusahaan, pertumbuhan laba, komposisi dewan komisaris dan jumlah saham yang ditawarkan terhadap tingkat underpricing saham perdana pada perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEI. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan masukan yang dapat digunakan untuk penelitian para akademisi dan praktisi di bidang akuntansi.

1.5. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini disusun secara sistematis ke dalam lima bab yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Berisi Landasan teori tentang konsep teoritis sebagai dasar untuk menganalisis permasalahan yang merupakan hasil dari tinjauan pustaka, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Metode penelitian berisi variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis.
BAB IV : HASIL PEMBAHASAN
Bab ini berisi gambaran umum dan hasil penelitian serta analisisnya.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran – saran yang merupakan hasil dari analisis data

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dikemukakan tinjauan pustaka dan hipotesis yang merupakan dasar dari pembahasan, analisis dan evaluasi atas kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari hasil penelitian yang akan diuraikan dalam bab ini selanjutnya, Tujuan dari tinjauan pustaka dan hipotesis ini adalah sebagai landasan dalam penelitian ini agar penelitian yang dilakukan bersifat ilmiah.

2.1. Landasan Teori
Penjelasan literatur mengenai underpricing adalah adanya asimetri informasi. Asimetri informasi dapat terjadi antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi, atau antar investor. Pada model Baron, (1982) dalam Daljono, (2000) menganggap bahwa underwriter memiliki informasi lebih tentang pasar modal, Sedangkan emiten merupakan pihak yang tidak memiliki informasi. Undewriter memanfaatkan informasi yang dimilikinya untuk membuat kesepakatan harga IPO yang optimal baginya. Karena emiten kurang memiliki informasi, maka emiten menerima harga yang murah bagi penawaran sahamnya. Semakin besar ketidakpastian emiten tentang kewajaran harga sahamnya, maka lebih besar permintaan terhadap jasa underwriter dalam menetapkan harga. Kompensasinya atas informasi yang diberikan underwriter adalah dengan mengijinkan underwriter menawarkan harga perdana sahamnya dibawah harga equilibrium.dengan demikian semakin besar ketidakpastian akan semakin besar risiko yang dihadapi underwriter, maka akan menyebabkan tingkat underpricing semakin tinggi.
Pada model Rock, (1982) dalam Daljono (2000) asimetri informasi terjadi antara kelompok investor yang memiliki informasi dan kelompok investor yang tidak memiliki informasi tentang prospek perusahaan. Kelompok yang investor yang memiliki informasi lebih baik, akan membeli saham-saham initial public offering (IPO) yang underpriced. Sedangkan kelompok yang kurang memiliki informasi tentang prospek emiten , akan membeli saham secara sembarangan, baik saham yang underpriced maupun saham yang overpriced. Akibatnya kelompok yang tidak memiliki informasi akan memperoleh proporsi yang lebih besar pada saham yang overpriced.

2.1.1 Agency Theory
Agency theory menggambarkan bagaimana hubungan antara manajemen dengan pemilik perusahaan merupakan paradigma hubungan antara prinsipal- agen, dan pemilik perusahaan sebagai prinsipal memberikan kepercayaan kepada manajemen sebagai agen yang memberikan jasa manajerialnya. Agen menutup kontrak untuk melakukan tugas-tugas tertentu bagi prinsipal, sedangkan prinsipal menutup kontrak untuk memberikan imbalan kepada agen. Menurut Jensen dan Meckling, (1976) hubungan keagenan adalah suatu kontrak antara dua pihak yang memuat pendelegasian pekerjaan dan wewenang oleh pihak pertama sebagai prinsipal kepada pihak kedua sebagai agen, agar pihak kedua bersedia melakukan pekerjaan tersebut untuk kepentingan pihak pertama. Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan dirinya dengan tingkat profitabilitas yang selalu meningkat, sedangkan agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya antara lain dalam memperoleh investasi, pinjaman, maupun kompensasi.
Kontrak tersebut bisa dalam bentuk kontrak kerja ataupun kontrak pinjaman. kontrak kerja dilakukan oleh pemilik perusahaan dan manajer perusahaan, sedangkan kontrak pinjaman dilakukan oleh manajer perusahaan dengan pemberi pinjaman. Terdapat dua masalah yang timbul akibat kontrak tersebut, yaitu:
1. Masalah Keagenan
Masalah keagenan muncul karena perbedaan tujuan antara prinsipal dengan agen dan mahalnya biaya bagi prinsipal untuk memeriksa atau memonitor apa yang dikerjakan oleh agen. Konsekuensi dari pendelegasian wewenang oleh prinsipal kepada agen adalah keterbatasan prinsipal untuk mengetahui seluruh tindakan agen.
2. Masalah Risk Sharing
Masalah ini muncul karena perbedaan preferensi risiko antara prinsipal dengan agen. Manajemen perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan biaya pihak lain. Oleh karena itu manajemen cenderung melakukan pengeluaran yang bersifat konsumtif dan tidak produktif untuk kepentingan pribadinya, Seperti peningkatan gaji dan status. Dalam keputusan pendanaan, para pemegang saham hanya peduli terhadap resiko sistematik dari saham perusahaan. Sebaliknya manajemen lebih peduli pada risiko perusahaan secara keseluruhan.
Agen mempunyai banyak informasi mengenai perusahaan daripada prinsipal, sehingga dengan asimetri informasi yang dimilikinya agen dapat lebih fleksibel mempengaruhi pelaporan keuangan untuk memaksimalkan kepentingannya. Jika masing- masing kelompok yang berhubungan memaksimalkan utility mereka, maka sangat beralasan jika agen tidak selalu bertindak untuk kepentingan terbaik prinsipal. prinsipal dapat membatasi perbedaan kepentingan ini dengan menentukan insentif yang tepat terhadap agen dan mengadakan monitoring untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang. Prinsipal dapat memanfaatkan jasa auditor untuk mengaudit laporan keuangan dalam rangka memberikan jaminan bagi prinsipal bahwa agen tidak akan melakukan aktivitas yang merugikan perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976).
Penelitian pada teori keagenan lebih difokuskan pada masalah-masalah yang ditimbulkan oleh informasi yang tidak lengkap, yaitu ketika tidak semua keadaan diketahui oleh kedua belah pihak. Akibatnya konsekuensi-konsekuensi tertentu tidak ikut dipertimbangkan oleh pihak-pihak tersebut. situasi seperti ini dikenal sebagai information asymmetries atau asimetri informasi.

2.1.2 Konsep Good Corporate Governance (GCG)
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) Corporate Governance didefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu system yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Penerapan corporate governance perusahaan dikatakan baik apabila perusahaan memenuhi prinsip-prinsipnya,yaitu Kewajaran (fairness), Keterbukaan informasi (transparency), Dapat dipertanggungjawabkan (accountability) dan Pertanggungjawaban (responsibility).
Penelitian yang dilakukan oleh Surya dan Yustiavadana, (2006) menyatakan bahwa penerapan prinsip dasar good corporate governance dengan baik dapat meningkatkan nilai perusahaan. Sejarah lahirnya GCG berawal dari reaksi pemegang saham di Amerika Serikat tahun 1980-an yang terancam kepentingannya karena adanya gejolak ekonomi yang luar biasa, karena disebabkan adanya kesalahan manajemen dalam pengambilan keputusan. Banyak perusahaan melakukan restrukturisasi dengan menghalalkan segala cara untuk merebut kontrol atas perusahaan lain. Hal ini menyebabkan publik menilai manajemen perusahaan mengabaikan kepentingan para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan. untuk menjamin dan mengamankan kepentingan pemegang saham, Saat ini Bapepam mewajibkan setiap emiten untuk melakukan good corporate governance, keterbukaan informasi (transparancy) dan larangan melakukan tindakan yang bersifat conflict of interest. Peraturan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manajemen pada perusahaan. Emiten diwajibkan untuk menjalankan perusahaan dengan sebaik-baiknya, dimulai dari jajaran yang paling atas, yaitu top management. Rapat umum pemegang saham (RUPS), dewan komisaris, dan dewan direksi merupakan tiga lapisan top management. Pemisahan fungsi dari tiga organisasi top management itu harus tercermin dalam bagan organisasi resmi yang disusun oleh emiten.
Corporate Governance merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa manajemen bertindak yang terbaik untuk kepentingan stakeholders. Pelaksanaan good corporate governance menuntut adanya perlindungan yang kuat terhadap hak-hak pemegang saham, terutama pemegang saham minoritas. Prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan corporate governance menunjukan adanya perlindungan tersebut tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi meliputi seluruh pihak yang terlibat dalam perusahaan termasuk masyarakat (Komisyah, 2003).
Sebelum go public perusahaan lebih sering menutup informasi bagi pihak luar perusahaan, tetapi setelah go public perusahaan diwajibkan membuka informasi kepada pihak luar perusahaan. Sebelum go public suatu perusahaan bebas melakukan transaksi, tetapi setelah perusahaan tersebut go public transaksi yang dilakukan tidak bisa lagi dilakukan secara bebas, tetapi harus mementingkan kepentingan pemegang saham minoritas, yaitu transaksi yang mengandung conflict of interest. Setiap transaksi yang mengandung conflict of interest harus mengikuti prosedur yang diatur oleh Bapepam. Peraturan ini dimaksudkan agar manajemen perusahaan dalam mengambil kebijakan harus bersifat independen dan tidak merugikan pemegang saham.
Penelitian yang dilakukan Mc Kinsey dan Co, (2002) menunjukan bahwa corporate governance telah menjadi perhatian utama investor, khususnya pada pasar yang sedang berkembang. Investor akan cenderung menghindari perusahaan-perusahaan yang memiliki penerapan corporate governance yang buruk. Penerapan corporate governance dapat dicerminkan dalam nilai perusahaan yang dilihat dari harga saham perusahaan, selain keterkaitan antara corporate governance dengan nilai perusahaan, salah satu isu yang berkaitan dengan corporate governance adalah komposisi dari dewan. Adanya organ-organ perusahaan (dewan komisaris dan direksi) merupakan bukti pengaplikasian prinsip corporate governance (Surya dan Yustiavadana, 2006).

2.3. Initial Public Offering
Initial public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana adalah kegiatan penjualan sekuritas kepada masyarakat baik perorangan maupun lembaga di pasar perdana. Penawaran perdana ini dilakukan setelah mendapat ijin dari BAPEPAM dan sebelum sekuritas tersebut diperdagangkan di pasar sekunder (bursa efek).
Dalam penawaran umum mencakup kegiatan-kegiatan antara lain:
1. Periode pasar perdana, yaitu ketika efek ditawarkan kepada pemodal oleh penjamin emisi melalui para agen penjual yang ditunjuk
2. Penjatahan saham, yaitu pengalokasian efek pesanan para pemodal sesuai dengan jumlah efek yang tersedia
3. Pencatatan efek di bursa, yaitu saat efek tersebut mulai diperdagangkan.
Sebelum menawarkan saham di pasar perdana, perusahaan akan menerbitkan prospektus (informasi mengenai perusahaan secara detail) ringkas yang diumumkan di media massa. Prospektus ini berfungsi untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada para calon investor, sehingga dengan adanya informasi maka investor bisa mengetahui prospek perusahaan dimasa mendatang, dan selanjutnya akan tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan emiten.
Prospektus juga mencantumkan harga saham yang akan dijual (offering price) yang telah ditentukan dahulu oleh emiten dan underwriter. Dalam menentukan offering price, underwriter dan emiten banyak menghadapi kesulitan untuk menentukan harga wajar. underwriter cenderung untuk menentukan offering price lebih rendah dari harga yang diinginkan oleh perusahaan, dengan tujuan untuk menekan resiko tanggung jawabnya jika saham yang ditawarkan tidak habis dijual.
Proses penawaran umum saham dapat dikelompokan menjadi 4 tahapan berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses penawaran umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka penawaran umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan penunjukan penjamin emisi serta lembaga penunjang pasar yaitu:
a. Penjamin Emisi (underwriter), merupakan pihak yang paling banyak keterlibatanya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain: menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus, dan memberikan penjaminan atas penerbitan.
b. Akuntan Publik, bertugas melakukan audit atau pemerikasaan atas laporan keuangan calon emiten
c. Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut
d. Konsultan hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion)
e. Notaris untuk membuat akta-akta perubahan anggaran dasar, akta perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen-notulen rapat.
2. Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
Pada tahap ini dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK menyatakan pendaftaran menjadi efektif.
3. Tahap Penawaran saham
Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Masa penawaran sekurang-kurangnya tiga hari jam kerja.
4 Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek
Setelah selesai melakukan penjualan saham dipasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

Tabel 2.3. Ringkasan Tahapan-Tahapan Penawaran Umum Saham

Intern Perusahaan BAPEPAM Pasar perdana Pasar sekunder Pelaporan
Rencana
go public
RUPS
Penunjukan:
Underwriter
Profesi penunjang
Lembaga penunjang
Mempersiapkan dokomen-dokumen
Konfirmasi sebagai agen penjual oleh penjamin
Kontrak pendahuluan dengan bursa efek
Penandatanganan perjanjian-perjanjian
Publik ekspose 1.Pernyataan pendaftaran
2.Ekspose terbatas
di Bapepam
3.Tanggapan atas: kelengkapan dokumen, kecukupan dan kejelasan informasi, keterbukaan (aspek hukum, akuntansi keuangan dan manajemen )
4.Komentar tertulis dalam waktu 45 hari
5.Pernyantaan pendaftaran dinyatakan efektif 1. Penawaran umum
2. Penjatahan kepada pemodal oleh sindikasi penjamin emisi
dan emiten
3. Distribusi efek kepada pemodal secara elektronik Emiten
mencatatkan
sahamnya dibursa
efek Perdagangan
1. Laporan berkala, misalnya laporan tahunan dan tengah tahunan
2. Laporan kejadian penting dan relevan, misalnya akuisisi dan pergantian direksi

Menurut Sitompul, (2000) Beberapa keuntungan dan kekurangan dalam go public antara lain:
Keuntungan :
1. Dengan penjualan saham Perusahaan akan mendapatkan uang tunai yang dapat digunakan sebagai modal jangka panjang,
2. Dengan dana yang diperoleh, perusahaan dapat mengembangkan usahanya dan untuk membayar hutang dan tujuan-tujuan lainnya.
3. Dengan go public akan meningkatkan nilai pasar dari perusahaan, karena umumnya perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik likuiditasnya akan lebih meningkat dibandingkan dengan perusahaan yang masih tertutup.
4. Citra dan perkembangan perusahaan akan meningkat dengan melakukan go public
5. Setelah perusahaan memasuki pasar modal dan menunjukan kinerja yang baik, maka akan mudah mendapatkan tambahan modal dari investor-investor individual maupun investor institusional lainnya
Disamping keuntungan, juga terdapat kekurangan yang harus dihadapi perusahaan yang go public antara lain:
1. Proses go public membutuhkan tenaga, pengorbanan waktu dan biaya
2. Masuknya peserta baru yang akan ikut mengambil bagian dalam kebijakan perusahaan, ikut memiliki klaim atas hasil usaha dan harta perusahaan
3. Kewajiban untuk memenuhi keterbukaan informasi yang terus menerus, yang juga membutuhkan biaya, waktu dan tenaga
4. Transformasi sikap dan tindak tanduk manajemen maupun pemegang saham pendiri, terutama menyangkut pembinaan hubungan baik jangka panjang dengan pemegang saham publik yang minoritas.

2.4. Underpricing
Underpricing adalah suatu keadaan dimana harga saham pada saat penawaran perdana lebih rendah dibandingkan dengan ketika diperdagangkan di pasar sekunder (Arum Prastiwi, 2001). Bagi perusahaan yang mengeluarkan saham, apabila terjadi underpricing berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dana maksimal. Sebaliknya bila terjadi overpricing perusahaan akan berhasil menghimpun dana lebih murah, sehingga akan mendapatkan dana yang maksimal.
Studi tentang IPO secara internasional menyatakan bahwa 9 dari 10 penelitian menyimpulkan telah terjadi underpricing (Aggarwal et al. 1994). underpricing juga terjadi karena ex–ante uncertaint harga saham pada saat penawaran perdana. kondisi ini mendorong permintaan terhadap auditor yang berkualitas. Untuk mengurangi ex–ante uncertainty, underwriter meminta laporan keuangan perusahaan emiten agar diaudit oleh auditor yang bereputasi tinggi.

2.4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing
1. Reputasi Underwriter
Underwriter adalah perusahaan yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan penawaran umum bagi kepentingan emiten, dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang terjual. Peran dari underwriter adalah dalam mengurangi ketidakpastian. Dalam melakukan penawaran saham perdana, untuk mengurangi risiko yang akan dihadapi, maka emiten akan meminta underwriter untuk menjamin penjualan saham tersebut.
Adanya fungsi penjaminan saham tersebut berarti underwriter mempunyai peranan kunci bagi kesuksesan emisi surat berharga suatu perusahaan. Ditinjau dari tanggung jawab underwriter sebagai penjamin emisi, terdapat empat tipe penjaminan, yaitu :
a. Full Commitment
Underwriter sebagai penjamin dengan tipe full commitment ini memberikan jaminan kepada emiten, bahwa penjamin emisi akan membeli surat berharga yang ditawarkan dan kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang dibayarkan kepada emiten dengan risiko jika sebagian atau seluruh efek tersebut tidak laku terjual maka seluruhnya menjadi beban penjamin emisi.
b. Best Effort
Underwriter sebagai penjamin dengan tipe best effort ini menempatkan para penjamin emisi hanya berperan sebagai agen dari emiten saja, yaitu dengan menjualkan emisi surat berharga sebaik – baiknya. Penjamin emisi tipe ini hanya akan membayar sebesar harga efek yang laku terjual.
c. Standby Commitment
Underwriter sebagai penjamin emisi dengan tipe standby commitment ini bertanggungjawab untuk menawarkan dan menjual suatu emisi surat berharga dan menyanggupi untuk membeli sisa efek yang tidak laku terjual dengan tingkat harga tertentu sesuai dengan syarat yang dijanjikan.
d. All or None Commitment
Underwriter sebagai penjamin emisi dengan tipe all or none commitment ini, sebelum menjual efek, sudah memiliki dan membeli efek tersebut sehingga mereka dapat menjual dengan harga tertentu. Pada umumnya underwriter mempunyai tiga fungsi (Jogiyanto, 2000) yaitu:
1. Sebagai pemberi saran kepada perusahaan yang akan melakukan go public (advisory function)
2. Sebagai penjamin penjualan saham perdana dan bersedia membeli sisa sekuritas yang tidak terjual (underwriting function)
3. Sebagai pemasar saham kepada investor (marketing function).
Namun dalam prakteknya tidak semua underwriter bersedia memberikan jaminan full commitment (menjamin semua saham akan terjual), tetapi biasanya hanya berani memberikan jaminan best effort (berusaha sebaik mungkin) untuk menjual saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Dengan adanya reputasi underwriter akan mampu menaikan harga saham dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus kualitas perusahaan yang IPO. Reputasi underwriter akan dapat menyakinkan emiten bahwa saham yang ditawarkan akan laku terjual, karena underwriter akan mengalami kerugian bila saham yang ditawarkan tidak laku dijual. Reputasi underwriter berpengaruh signifikan terhadap tinggi rendahnya tingkat underpriced, karena pihak underwriter sangat berperan dalam penentuan harga saham dipasar perdana dan underwriter yang lebih tahu keadaan pasar. Semakin tinggi reputasi underwriter maka tingkat underpricing akan semakin rendah.

2. Reputasi Auditor
Menurut pasal 64 UU No. 8 tahun 1995, auditor berfungsi untuk memberikan pendapat atas kewajiban laporan keuangan emiten atau calon emiten dan bertanggungjawab atas kewajiban keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum serta peraturan BAPEPAM.
Persyaratan yang diharuskan oleh BEJ untuk dipenuhi oleh perusahaan yang akan melakukan proses go public adalah laporan keuangan perusahaan calon emiten harus wajar tanpa syarat. Oleh karena itu auditor sebagai pemeriksa laporan keuangan mempunyai peran yang sangat besar bagi perusahaan calon emiten untuk menentukan bisa atau tidaknya listing di pasar modal. Dengan menyewa auditor yang memiliki reputasi tinggi, maka akan memberikan harga penawaran yang paling tinggi. bila harga penawaran tinggi maka tingkat underpricing emiten akan semakin rendah.

3. Ukuran Perusahaan
Perusahaan yang berskala besar umumnya lebih dikenal masyarakat luas apabila dibandingkan dengan perusahaan yang ukurannya kecil. Skala atau ukuran perusahaan ini berpengaruh terhadap tingkat underpriced. Pada umumnya skala atau ukuran perusahaan menjadi faktor dalam memutuskan untuk membeli saham di bursa efek. Hasil penelitian Kim, Krinsky, Lee, (1993) menunjukan adanya hubungan yang negatif antara ukuran perusahaan dengan tingkat underpriced. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan, maka tingkat underpriced-nya akan semakin rendah.

4. Pertumbuhan Laba
Pertumbuhan laba merupakan proksi yang digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan perusahaan antara dua periode. Semakin baik tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin baik posisi perusahaan tersebut mempertahankan posisi ekonominya, baik dalam industri maupun dalam kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Dalam penelitian ini diduga pertumbuhan laba berpengaruh terhadap terjadinya underpricing, karena dalam keputusan investasinya diduga investor akan mempertimbangkan pertumbuhan laba untuk melihat apakah perusahaan bisa mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan labanya dimasa mendatang. Sehingga semakin tinggi tingkat pertumbuhan laba maka semakin rendah tingkat Underpricing-nya.

5. Komposisi Dewan Komisaris
Dewan komisaris merupakan salah satu inti dari mekanisme pengendalian internal. Tugas utama dean komisaris adalah melakukan pengawasan terhadap dewan direksi dan manjemen atas pengelolaan sumber daya perusahaan agar dapat berjalan secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai tujuan organisasi, selain itu juga menyeleksi, mengganti dewan direksi, serta mengawasi jalannya pergantian direksi.
Perusahaan harus memiliki dewan komisaris yang kredibel serta memiliki independensi. Kredibilitas dapat dibentuk dengan melakukan penataan terhadap dewan komisaris. Terdapat faktor-faktor yang harus dicermati, yaitu:
1. Menentukan jumlah komisaris yang efektif, jumlah komisaris tidak boleh terlalu sedikit karena akan mengganggu kinerja dewan direksi itu sendiri tetapi juga tidak boleh terlalu banyak karena akan berdampak pada efisiensi.
2. Faktor pendidikan, dimana tugas-tugas pokok dewan komisaris adalah berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat strategik. Oleh karena itu, dukungan dari latar belakang pendidikan yang memadai akan sangat menentukan kualitas keahlian, pengetahuan, dan pengolahan informasi sehingga akan berdampak pada pengawasan yang diberikan.
3. Faktor pengalaman, dimana anggota dewan komisaris yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik akan lebih baik apabila didukung oleh pengalaman yang cukup.
Dalam code for good corporate governance yang dituangkan dalam Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-315/BEI/062000 butir C mengenai pembentukan dewan komisaris independen, menjadi salah satu hal yang diwajibkan bagi perusahaan-perusahaan publik yang listing di BEI. Keberadaan komisaris independen sangat diperlukan karena tujuan dibentuknya dewan komisaris adalah sebagai wakil dari pemegang saham khususnya dan stakeholders lain, yang bertugas mengawasi aktivitas manajemen sehingga asimetris informasi antara manajer dan pemegang saham dapat diatasi. Dengan asumsi dewan komisaris mewakili pemegang saham, maka dewan komisaris merupakan alat pengendali dan merupakan elemen yang sangat penting. Anggota dewan komisaris terdiri dari orang-orang yang berasal dari dalam perusahaan (intern) dan dari luar perusahaan (ekstern). anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan ini disebut juga sebagai komisaris independen (Utama dan Afriani, 2005).
Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia mengenai pembentukan komisaris independen, ditetapkan bahwa jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30 persen dari jumlah seluruh anggota komisaris. Prosentase 30 persen ini dianggap bisa mewakili pemilik saham yang dianggap minoritas, sehingga kemungkinan terjadinya perbedaan perlakuan antara pemilik saham mayoritas dan minoritas tidak perlu terjadi.
Dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan perushaan yang baik, maka diperlukan dewan komisaris yang berintegrasi, mempunyai kemampuan, mempunyai latar belakang pendidikan yang baik, tidak cacat hukum, serta tidak memiliki hubungan bisnis dengan pihak lain yang dapat merugikan perusahaan. Komposisi dewan komisaris harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara independen dalam arti tidak mempunyai kepentingan yang menganggu kemempuannya untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri dan kritis. Komposisi dewan komisaris harus memiliki kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan, agar tujuan perusahaan dalam menjaga kualitas manajemen dan mempertahankan nilai perusahaan di mata investor tercapai sesuai dengan standar corporate governance yang diwajibkan oleh Bapepam kepada perusahaan yang go public. peraturan di Indonesia mengenai board governance merupakan suatu bentuk upaya dari pemerintah sebagai pihak regulator untuk memperbaiki corporate governance di Indonesia, terutama paska krisis ekonomi tahun 1997.
Dengan demikian semakin baik komposisi dewan komisaris maka akan meningkatkan nilai perusahaan. Semakin baik komposisi dewan komisaris, maka semakin kecil tingkat ketidakpastian di masa mendatang, sehingga tingkat underpricing-nya akan rendah

2.5. Hasil Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang dilakukan oleh Daljono, (2000), dan Nasirwan, (2000) menunjukan bahwa koefisien reputasi penjamin emisi (underwriter) berasosiasi secara statistik signifikan dan positif dengan return awal. Penelitian yang dilakukan Ali dan Hartono, (2003) menunjukkan bahwa variabel penjamin emisi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat initial return.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rosyati dan Sabeni, (2002) hasil dari penelitian tersebut membuktikan bahwa reputasi underwriter berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Sedangkan reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan tehadap underpricing.
Penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati, (1999) menunjukan bahwa Umur perusahaan berpengaruh signifikan positif terhadap intial return. Sedangkan Penelitian yang dilakukan oleh Gumanti, (2002) menunjukan bahwa umur perusahaan tidak menunjukan hubungan yang signifikan terhadap underpriced.
Menurut Nurhidayati dan Indriantoro, (1998) dengan metode analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa auditor, underwriter, persentase saham yang ditawarkan ke masyarakat, umur perusahaan serta ukuran perusahaan tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap underpriced.
Jeong Bon Kim, Itzhak Krinsky, Jason Lee, (1993) melakukan penelitian dengan mengambil sampel 177 perusahaan yang melakukan IPO di KSE periode juli 1988 sampai maret 1990. Penelitian ini menguji tingkat underpricing dalam penawaran saham perdana. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan sistematis dalam kinerja harga saham perdana dari saham baru yang dikeluarkan bila ada perbedaan tujuan atau motif dari go public. Tingkat underpricing secara signifikan lebih tinggi bila perusahaan memandang go public sebagai sumber terakhir pendanaan, daripada keinginan pemegang saham untuk mendeversifikasikan kepemilikan mereka. Pengujian yang dilakukan oleh Kim et al, (1993) terhadap underpricing dikaitkan pula dengan kualitas penjamin emisi. menguji variabel keuangan financial leverage, ROA, dan proceeds untuk investasi, serta variabel signaling kualitas penjamin emisi, retensi kepemilikan dan ukuran penawaran. Hasil penelitiannya menunjukkan variabel financial leverage berkorelasi positif dengan initial return, variabel ROA berkorelasi negatif dengan initial return. Sedangkan proceeds untuk investasi tidak signifikan terhadap initial return.Untuk variabel signaling, hanya reputasi penjamin emisi yang signifikan terhadap initial return.
Penelitian yang dilakukan oleh Gerinta, (2008) menunjukan reputasi underwriter dan profitabilitas perusahaan berkorelasi positif terhadap tingkat underpricing. Sedangakan auditor, umur perusahaan, presentase kepemilikan Saham yang ditawarkan ke publik, financial leverage, solvability Ratio, ukuran perusahaan dan kepemilikan pemerintah (BUMN) tidak mempunyai hubungan secara signifikan dengan tingkat underpricing.
Menurut Ardiansyah, (2004) dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda dalam analisisnya menjelaskan bahwa EPS berpengaruh signifikan negatif terhadap initial return. ROA, financial leverage, ukuran penawaran, pertumbuhan laba, current ratio serta besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap initial return. Sementara itu, financial leverage dan EPS berpengaruh signifikan negatif terhadap return 15 hari setelah IPO. ROA, ukuran penawaran, pertumbuhan laba, current ratio serta besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap return 15 hari setelah IPO. Variabel non – keuangan hanya kondisi perekonomian yang berpengaruh secara signifikan terhadap initial return dan return 15 hari setelah IPO. Hasil analisis ini tidak berhasil menunjukkan bahwa besaran perusahaan merupakan moderating variabel hubungan antara financial leverage, EPS dan pertumbuhan laba.
Menurut penelitian Kunz dan Aggrawal, (1994) dalam penelitiannya mengenai terjadinya underpricing di Swiss dengan periode penelitian dari 1983-1989 menemukan bahwa asimetri informasi dan persaingan antar banker investasi berpengaruh secara signifikan terhadap underpricing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cross section regression.
Penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti, (2007) menyatakan bahwa variabel ukuran dewan dan ukuran perusahaan terbukti secara statistik tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan variabel dewan direksi wanita, keberadaan etnis tionghoa, usia anggota dewan, serta latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2.1.7 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1.7
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing
Reputasi Underwriter

Reputasi Auditor

Ukuran Perusahan
Underpricing

Pertumbuhan Laba

Komposisi Dewan komisaris

2.1.8. Hipotesis
Berdasarkan penjabaran tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran diatas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:
1. Reputasi Underwriter
Dalam proses IPO, underwriter bertanggung jawab atas terjualnya saham. Apabila saham masih tersisa, maka underwriter berkewajiban untuk membelinya. Bagi underwriter yang belum mempunyai reputasi, maka akan sangat hati-hati untuk menghindari resiko tersebut. Untuk menghindari resiko, maka underwriter menginginkan harga yang rendah. Sedangkan bagi underwriter yang memiliki reputasi tinggi akan berani memberikan harga yang tinggi sebagai konsekuensi dari kualitas penjaminannya. Menurut hasil penelitian Kim, Krinsky dan Lee, (1993) bahwa underwriter yang profesional akan berpengaruh pada rendahnya tingkat underpriced. Dengan demikian disusun hipotesis sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):
Ha1 : Reputasi underwriter berpengaruh terhadap underpricing pada saat initial Public Offering

2. Reputasi Auditor
Auditor yang mempunyai reputasi yang tinggi, akan mempertahankan reputasinya dengan memberikan kualitas audit yang tinggi pula. Kredibilitas laporan keuangan tergantung dari persepsi kualitas audit, karena kualitas audit tidak dapat diobservasi. Penggunaan auditor yang bereputasi tinggi dapat digunakan sebagai tanda petunjuk terhadap kualitas perusahaan emiten (Holland dan Horton,1993). Dengan memakai auditor yang profesional atau berkualitas, maka akan mengurangi kesempatan emiten melakukan kecurangan dalam menyajikan informasi yang tidak menyesatkan mengenai prospeknya dimada mendatang. Hal ini berarti penggunaan auditor bereputasi tinggi akan mengurangi ketidakpastian di masa mendatang. Dengan demikian disusun hipotesis sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):
Ha2 : Reputasi auditor berpengaruh terhadap underpricing pada saat initial public offering

3. Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan diduga mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan investasi, perusahaan yang besar umumnya lebih dikenal di masyarakat, sehingga informasi mengenai prospek perusahaan besar lebih mudah diperoleh investor daripada perusahaan kecil. Tingkat ketidakpastian investor mengenai masa depan perusahaan emiten dapat diperkecil apabila informasi yang diperoleh banyak. Dengan demikian disusun hipotesis sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):
Ha3 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap underpricing pada saat initial public offering

4. Pertumbuhan Laba
Pertumbuhan laba merupakan proksi yang digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan perusahaan antara dua periode. Semakin baik tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin baik posisi perusahaan tersebut mempertahankan posisi ekonominya, baik dalam industri maupun dalam kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Dalam penelitian ini diduga pertumbuhan laba berpengaruh terhadap terjadinya underpricing karena dalam keputusan investasinya diduga investor akan mempertimbangkan pertumbuhan laba untuk melihat apakah perusahaan bisa mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan labanya dimasa mendatang. Dengan demikian disusun hipotesis sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):
Ha4 :Pertumbuhan laba berpengaruh terhadap underpricing pada saat initial public offering

5. Komposisi Dewan komisaris
Komposisi dewan komisaris merupakan unsur yang harus dipertimbangkan oleh investor. Karena dengan komposisi dewan komisaris yang baik, maka kinerja komisaris dalam perusahaan akan maksimal dan secara otomatis akan menaikan nilai perusahaan dan harga saham. Dengan demikian semakin baik komposisi dewan komisaris, maka akan meningkatkan nilai perusahaan. Semakin baik komposisi dewan komisaris, maka semakin kecil tingkat ketidakpastian di masa mendatang, sehingga tingkat underpricing-nya akan rendah. Dengan demikian dapat disusun hipotesis sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):
Ha6 : Komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadap underpricing pada saat initial public offering

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional Variabel :
Variabel independen dalam penelitian ini adalah reputasi underwriter, reputasi auditor, pertumbuhan laba, ukuran perusahaan, umur perusahaan,jumlah saham yang ditawarkan, komposisi dewan komisaris. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah underpricing.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai identifikasi dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
1. Underpricing
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah underpricing saham yang diukur dengan menggunakan initial return. Initial retrun adalah keuntungan yang diperoleh pemegang saham karena perbedaan harga saham yang dibeli dipasar perdana saat IPO dengan harga jual saham pada hari pertama dipasar sekunder.
Pada penelitian ini, Menurut Kunz dan Aggarwal, (1994) underpricing dapat dihitung dengan menggunakan Rumus:
Underpricing = P1-Po x 100%
Po
Keterangan:
Po = harga penawaran perdana
P1= harga penutupan

2. Reputasi Underwriter
Pengukuran variabel ini dengan menggunakan dummy variable, yaitu apabila underwriter yang digunakan oleh emiten termasuk dalam reputasi yang tinggi maka akan mendapat nilai 1 dan underwriter dengan reputasi rendah mendapat nilai 0. penentuan rangking dilakukan dengan merekap data underwriter pada perusahaan sampel. Data hasil rekap dicari mediannya, underwriter yang berada diatas 3 berarti mempunyai tingkat prestisius tinggi dan yang berada dibawah median 3 berarti mempunyai tingkat prestisius yang rendah.
3. Reputasi Auditor
Variabel ini diukur dengan menggunakan variabel dummy. Variabel ini ditentukan dengan skala 1 untuk auditor yang prestigious dan 0 untuk auditor yang non-prestigious. Pengukuran auditor dapat dilihat dari seberapa banyak auditor mengaudit di pasar modal terhadap perusahaan yang go public selama periode sample. Data nama auditor yang digunakan perusahaan sampel di rekap dan di cari median-nya yang paling sering digunakan oleh perusahaan. Kantor akuntan publik yang berada diatas 3 berarti mempunyai tingkat prestisius tinggi dan yang berada dibawah 3 berarti mempunyai tingkat prestisius yang rendah.
4. Ukuran Perusahaan
Variabel ini diukur menggunakan besarnya skala atau ukuran dari perusahaan adalah dengan melihat total aktiva dari laporan keuangan perusahaan tahun terakhir sebelum perusahaan tersebut melakukan initial public offering di bursa (Nurhidayati dan Indriantono, 1998).

5. Pertumbuhan laba
Pertumbuhan laba merupakan proksi yang digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan perusahaan antara dua periode. Variabel ini diukur dengan menghitung selisih antara laba perusahaan sebelum listing dikurangi laba periode sebelumnya.
6. Komposisi Dewan Komisaris
Komposisi dewan komisaris independen dihitung dengan membagi jumlah dewan komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris (Siregar dan Utama, 2005).
Tabel 3.1
Deskripsi Variabel Yang Digunakan Dalam Penelitian

Jenis
Variabel Deskripsi Skala
Underpricing Harga saham pada saat penawaran perdana lebih rendah dibandingkan ketika diperdagangkan dipasar sekunder Selisih antara harga penawaran saham perdana pada pasar sekuder dengan harga penawaran saham saat IPO
Reputasi
Underwriter Jumlah transaksi yang dilakukan selama periode sample Dummy variabel
Reputasi
Auditor Jumlah transaksi yang dilakukan selama periode sample Dummy variabel
Umur
Perusahaan Jumlah tahun sejak perusahaan mulai berdiri sampai dengan perusahaan listing di BEI Tahun
Pertumbuhan Laba Selisih laba satu tahun sebelum listing dengan tahun sebelumnya ∆ Net Income
Ukuran
Perusahaan Diukur dengan Jumlah total aktiva perusahaan Log Total Aktiva
Komposisi
Dewan Komisaris Diukur dengan membagi total jumlah dewan komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris Persen

3.2. Jenis Data dan Sumber Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data tersebut antara lain:
1. Daftar nama dan tanggal perusahaan yang listing di BEI tahun 1999-2007, tanggal didirikannya perusahaan yang listing, Harga perdana perusahaan IPO dan Harga penutupan saham di hari pertama pasar sekunder diperoleh dari Data Base Pasar Modal Pojok BEJ Universitas Diponegoro dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 1999-2007.
2. data laporan keuangan perusahaan 1 tahun sebelum IPO untuk mengetahui total asset dan data laporan keuangan 2 tahun sebelum IPO untuk mengetahui tingkat pertumbuhan laba perusahaan diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 1999-2007 dan http://www.idx.co.id
3. Data nama underwriter, data nama auditor yang mengaudit laporan keuangan diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 1999-2007 dan JSX Watch 1999-2007.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari Januari 1999 sampai dengan Desember 2007. Penentuan sampel dalam penelitian ini mengunakan metode purposive sampling dengan menerapkan beberapa kriteria tertentu:
1. Perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia pada periode Januari 1999 sampai dengan desember 2007 yang sahamnya mengalami underpricing.
2. Tersedia data laporan keuangan satu tahun dan dua tahun sebelum IPO
3. Tersedia data harga saham,tanggal listing di BEI selama periode penelitian
4. Tersedia tahun perusahaan berdiri
5. Tersedia nama auditor yang mengaudit dan nama underwriter

3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder, sehingga metode pengumpulan data dilakukan dengan cara:
1. Studi observasi, yaitu dengan mencatat harga saham penutupan di pasar sekunder sesuai dengan tanggal listing masing-masing perusahaan dari bulan januari 1999 sampai dengan bulan desember 2007, umur perusahaan, jumlah saham yang ditawarkan ke publik, jumlah dewan komisaris independen.
2. Studi pustaka, yaitu dengan menelaah maupun mengutip langsung dari sumber tertulis lainnya yang berhubungan dengan masalah yang dapat digunakan sebagai landasan teoritisnya.

3.5. Metode Analisis Data
3.5.1 Analisis Regresi
Untuk mengetahui pengaruh perubahan variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun secara bersama-sama, maka digunakan regresi berganda (Multipel Regression). Sebelum dilakukan pengujian dengan regresi berganda, Variabel-variabel yang digunakan diuji terlebih dahulu apakah memenuhi asumsi klasik persamaan regresi berganda. Uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas dan uji heteroksidastisitas.
Teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi secara signifikan terhadap tingkat underpricing, yaitu reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, umur perusahaan, komposisi dewan komisaris, jumlah saham yang ditawarkan, Untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen, menggunakan model empiris sebagai berikut:
Log Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + ε (1)
Dimana :
Log Y = Logaritma dari Tingkat underpricing
α = Konstanta
X1 = Reputasi underwriter
X2 = Reputasi auditor
X3 = Ukuran perusahaan
X4 = Pertumbuhan laba
X5 = Komposisi dewan komisaris
β1 = Koefisien regresi reputasi underwriter
β2 = Koefisien regresi reputasi Auditor
β3 = Koefisien regresi ukuran perusahaan
β4 = Koefisien regresi pertumbuhan laba
β5 = Koefisien regresi komposisi dewan komisaris
ε = error term
Dalam analisis regresi selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Jadi analisis regresi berganda merupakan analisa untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, umur perusahaan, komposisi dewan komisaris, jumlah saham yang ditawarkan dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.

3.5.2 Pengujian Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat atau variabel dependen dan variabel independen variabel keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak (Ghozali, 2005). regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal.
Secara statistik uji normalitas dapat dilakukan dengan one sample kolmogrov – mirnov test. Dasar pengambilan keputusan adalah jika probabilitas signifikasinya diatas tingkat kepercayaan 5 persen, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2005)

2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel-variabel independen. Jika variabel-variabel saling berkorelasi, maka variabel-variabel tidak orthogonal. variabel orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas adalah nol (Ghozali, 2005).
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan korelasi antar varibel-variabel independen yang akan digunakan dalam persamaan regresi dengan menghitung nilai tolerance dan VIF (Variance Information Factors). Apabila nilai VIF dibawah 10. maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas dan apabila nilai tolerance tidak kurang dari 0,1 maka dapat dikatakan bahwa model terbebas dari multikoleniaritas.

3. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pada periode t. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi.
Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin Waston (DW). Kriteria pengambilan kesimpualan dalam uji Durbin Waston (DW) adalah apabila nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (4-du), maka disimpulkan tidak ada autokorelasi.

4. Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedaskisitas, dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokesdastisitas.
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Heterokedastisitas yaitu dengan menggunakan Glesjer-test dengan meregres nilai absolut residual terhadap variabel independen. Jika nilai probabilitas signifikasinya di atas 5 persen, maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heterokesdastisitas.

3.5.3 Teknik Pengujian Hipotesis
1. Uji statistik t
Prosedur pengujian Hipotesis dengan menggunakan Uji-t (pengujian regresi secara parsial), dengan tujuan mengetahui apakah ada pengaruh yang nyata secara parsial antara variabel terikat (Y) dengan variabel bebas (X).
2. Uji statistik F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen, yaitu pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, umur perusahaan, pertumbuhan laba, ukuran perusahaan, komposisi dewan komisaris, jumlah sahan yang ditawarkan secara simultan terhadap underpricing.
Dasar pengambilan keputusan yang digunakan adalah yaitu dengan membandingkan nilai signifikansi atau probabilitas dibandingkan dengan nilai alpha.
1. Ho ditolak
Apabila nilai probabilitas ( signifikan ) alpha ( 0.05 )

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
Deskripsi dari obyek penelitian penting dijelaskan dalam penelitian ini sebagai batasan dari data yang digunakan dalam penelitian ini. Sehingga diperoleh data-data yang memenuhi asumsi dasar penelitian kuantitaif, yaitu asumsi klasik. Sehingga penelitian dengan menggunakan alat analisis Ordinery Least Square ini (OLS) dapat memenuhi kriteria data-data yang mampu menjelaskan model dalam penelitian.
Gambaran ini adalah berisi tentang distribusi statistik obyek penelitian berupa Variabel yang digunakan yaitu variabel Dependen yaitu : Y yang diwakili dengan logaritma dari tingkat Y (log Y) yaitu logaritma dari tingkat underpricing dan variabel dipenden yaitu X2 (Reputasi auditor) X3 (Ukuran perusahaan), X4 (Pertumbuhan laba), dan X5 (Komposisi dewan komisaris).
4.1.1 Rata-rata dan Simpangan Baku
Dalam penelitian ini mengambil sampel perusahaan yang go public selama 9 tahun (1999-2007) terdapat 141 perusahaan yang melakukan initial public offerings (IPO). Dari 141 perusahaan yang melakukan IPO, terdapat 99 perusahaan (87,23 persen) yang mengalami underpricing dan yang mengalami overpricing 9 perusahaan (6,38 persen), Sedangkan 9 perusahaan tidak mengalami perubahan /normal (6,38 persen). Dalam penelitian ini sebanyak 24 perusahaan dikeluarkan dari sample karena tidak memenuhi kriteria dalam penelitian ini. Dengan demikian terdapat 99 perusahaan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini.
Deskripsi Obyek penelitian dapat dilihat dalam tabel data 4.1 sebagai berikut ini :
Tabel 4.1

Hasil perhitungan deskripsi data dari 99 sampel data dari tabel di atas sebagai berikut ini. Rata-Rata nilai LogY(logaritma Underpricing) adalah 1,9628 dengan nilai maksimum 3,75 dan minimum 0,7. Rata-rata X1 ( reputasi underwriter) adalah 0,6061 dengan nilai minimum 0,00 dan maksimum 1,00. Rata-rata X2 (Reputasi auditor) 0,7576 dengan nilai nilai minimum 0,00 dan maksimum 1,00. Rata-rata X3 (Ukuran perusahaan) adalah 5,445 dengan nilai minimum 3,86 dan nilai maksimum 8,40. Rata-rata X4 (Pertumbuhan laba) adalah 194, 6372, dengan nilai minimum -318,90 dan maksimum 5965,73. Rata-rata X5 (Komposisi dewan komisaris) adalah 0,45 dengan nilai minimu 0,20 dan nilai maksimum 0,87.
Simpangan baku dari masing-masing data adalah LogY(logaritma Underpricing) adalah 0,56498, Simpangan baku X1 ( reputasi underwriter) adalah 0,49111 , simpangan baku X2 (Reputasi auditor) 0,43073 , simpangan baku X3 (Ukuran perusahaan) adalah 0,88519, simpangan baku X4 (Pertumbuhan laba) adalah 594,48544 , simpangan baku X5 (Komposisi dewan komisaris) adalah 0,152.
Deskripsi obyektif dibutuhkan untuk menerangkan bahwa data-data yang digunakan adalah data-data dengan kriteria tertentu.
4.1.2 Obyek yang diteliti
Perusahaan yang diteliti dalam penelitian ini adalah 99 perusahaan dari tahun 1999 sampai dengan 2007. Terdiri dari tahun 1999 ada 6 perusahaan, 10 perusahaan pada tahun 2000. Kemudian
Obyek yang diteliti adalah perusahan yang go Publik di Bursa Efek Indonesia dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.2
Data tahun 1999 ada 6 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 29/12/1999 BMSR Bintang Mitra Semestaraya Tbk Prasetio, Utomo & Co
2 13/12/1999 TIRT Tirta Mahakam Plywood Inds Tbk Drs. Johan, Malonda & Co
3 3/12/1999 BDPC Bank Danpac Tbk Drs. Robert Yogi
4 8/11/1999 BASS Bahtera Adimina Samudera Tbk Rasin, Ichwan & Co
5 30/06/1999 BVIC Bank Victoria Int Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
6 19/05/1999 CKRA Ciptojaya Kontridoreksu Tbk Prasetio, Utomo & Co
Sumber : BEI, 1999
Tabel di atas menggambarkan nama-nama 6 perusahaan yang melakukan initial public offerings (IPO) di tahun 1999. 1 perusahaan di bulan Mei, 1 Perusahaan di bulan Juni, 1 perusahaan di bulan November dan 3 perusahaan di bulan Desember.
Sebagai auditor adalah 2 perusahaan oleh Auditor Prsetyo Utomo &Co. Lainya masing-masing oleh auditor Johan Malonda &Co, Robert Yogi, Rasin, Ichwan & Co, dan Hans Tuana Kotta & Mustofa.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2000 adalah terdiri dari 16 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3
Data tahun 2000 ada 16 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 18/01/2000 ALFA Alfa Retailindo Tbk Prasetio, Utomo & Co
2 31/01/2000 TRIM Trimegah Sekurities Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
3 02/02/2000 ADFO Adindo Foresta Indonesia Tbk Prasetio, Utomo & Co
4 14/02/2000 TBLA Tunas Baru Lampung Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
5 24/03/2000 DSFI Dharma Samudra Fishing Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
6 28/03/2000 SIMM Surya Intrindo Makmur Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
7 30/03/2000 KPIG Krida Perdana Indah Graha Tbk Alb. Hadori & Co
8 01/05/2000 APLI Asia Plast Industries Tbk Prasetio, Utomo & Co
9 31/05/2000 PANS Panin Sekuritas Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
10 30/06/2000 FMII Fortune Mate Indonesia Tbk Prasetio, Utomo & Co
11 03/07/2000 SMPL Summit Plast Tbk Prasetio, Utomo & Co
12 28/07/2000 BBIA Bank Buana Indonesia Tbk Siddarta, Siddharta & Harsono
13 16/10/2000 MANY Manly Unitama Finance Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
14 02/11/2000 ANKB Bank Artha Niaga Kencana Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
15 04/12/2000 ACAP Andhi Candra Automotive Tbk Prasetio, Utomo & Co
16 11/12/2000 DNET Dyviacom Intrabumi Tbk Drs. Johan malonda & Co
Sumber : BEI, 2000
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2000 yang diteliti adalah 16 perrusahaan, yaitu 2 perusahaan pada bulan Januari, 2 perusahaan bulan Februari, 3 perusahaan bulan Maret, 2 perusahaan bulan Mei, 1 perusahaan bulan Juni, 2 perusahaan bulan Juli, 1 perusahaan bulan Oktober, 1 perusahaan bulan November, dan 2 perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2001 adalah terdiri dari 26 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4
Data tahun 2001 ada 26 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 08/01/2001 TMPO Tempo Inti Media Tbk Prasetio Utomo & Co
2 10/01/2001 BBNP Bank Nusantara Parahyangan Tbk Drs. Robert Yogi
3 16/03/2001 PLAS Plaspack Prima Industri Tbk Prasetio Utomo & Co
4 22/03/2001 IDSR Indosiar Visual Mandiri Tbk Prasetio Utomo & Co
5 23/04/2001 KOPI Kopitime Dot Com Tbk Murni & Bachtiar
6 08/06/2001 BCAP Bhakti Capital Indonesia Tbk Prasetio Utomo & Co
7 22/03/2001 WAPO Wahana Phonix Mandiri Tbk Prasetio Utomo & Co
8 07/07/2001 KAEF Kimia Farma Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
9 13/07/2001 BEKS Bank Eksekutif Internasional Tbk Drs. J. Tanzil & Co
10 13/07/2001 AKSI Asia Kapitalindo Securities Tbk Prasetio Utomo & Co
11 17/07/2001 LAPD Lapindo Internasional Tbk Amir Abadi Jusuf & Aryanto
12 17/07/2001 ARNA Arwana Citramulia Tbk Prasetio Utomo & Co
13 18/07/2001 META Metamedia Technologies Tbk Drs. Johan, Malonda & Co
14 18/07/2001 LAMI Lamicitra Nusantara Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
15 18/07/2001 BTON Beton Jaya Manunggal Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
16 20/07/2001 KARK Karya Yasa Profilia Tbk Alb Hadori & Co
17 20/07/2001 AIMS Akbar Indo Makmur Stimec Tbk Drs. Joseph Susilo
18 19/09/2001 PANR Panorama Sentra Wisata Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
19 16/10/2001 PYFA Pyridam Farma Tbk Prasetio Utomo & Co
20 17/10/2001 RYAN Ryane Adibusana Tbk Prasetio Utomo & Co
21 22/10/2001 RODA Roda Panggon Harapan Tbk Drs. Johan, Malonda & Co
22 01/11/2001 CENT Centrin Online Tbk Rasin, Ichwan & Co
23 15/11/2001 IATG Info Asia Teknologi Global Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
24 21/11/2001 CNKO Central Korporindo Internasional Tbk Drs. A. Rodi Kartamulya
25 30/11/2001 CLPI Colorpak Indonesia Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
26 28/12/2001 LMAS Limas Stokhomindo Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
Sumber : BEI, 2001
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2001 yang diteliti adalah 26 perusahaan, yaitu 2 perusahaan pada bulan Januari, 3 perusahaan bulan Maret, 1 perusahaan bulan April, 1 perusahaan bulan Juni, 2 perusahaan bulan Juli, 10, 1 perusahaan bulan september, 3 perusahaan bulan Oktober, 4 perusahaan bulan November, dan 1 perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2002 adalah terdiri dari 18 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 4.5
Data tahun 2002 ada 18 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 17/01/2002 FORU Fortune Indonesia Tbk Prasetio Utomo & Co
2 18/01/2002 FISH Fishindo Kusuma Sejahtera Tbk Drs. Arsyad
3 18/01/2002 ANTA Anta Express Tour & Travel Service Tbk Thomas, Trisno, Hendang & Co
4 20/03/2002 CITA Cipta Panelutama Tbk Amir Abadi Jusuf & Aryanto
5 21/03/2002 FPNI Fatrapolindo Busa Industri Tbk Prasetio Utomo & Co
6 03/04/2002 ABBA Abdi Bangsa tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
7 16/04/2002 JTPE Jasuindo Tiga Perkasa Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
8 18/04/2002 UNIT United Capital Indonesia Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
9 01/05/2002 BSWD Bank Swadesi Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
10 19/06/2002 SUGI Sugi Samapersada Tbk Drs. Johan, Malonda & Co
11 15/07/2002 BABP Bank Bumi Putera Indonesia Tbk Prasetio Utomo & Co
12 16/07/2002 SCMA Surya Citra Media Tbk Prasetio Utomo & Co
13 14/10/2002 IIKP Inti Indah karya Plasindo Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
14 05/11/02 ARTA Artha Securities Tbk Rasin, Ichwan & Co
15 21/11/2002 BKSW Bank Kesawan Tbk Amir Abadi Jusuf & Aryanto
16 28/11/2002 TRUS Trust Finance Indonesia Tbk Drs. Djoko Sutardjo
17 18/12/2002 AIPC Artha Pasific Securities Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
18 23/12/2002 PTBA Tambang batubara Bukit Asam Tbk Drs. Hadi Sutanto & Co
Sumber : BEI, 2002
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2002 yang diteliti adalah 18 perusahaan, yaitu 3 perusahaan pada bulan Januari, 3 perusahaan bulan Maret, 1 perusahaan bulan April, 1 perusahaan bulan Mei, 1 perusahaan bulan Juni, 2 perusahaan bulan Juli, 1 perusahaan bulan Oktober, 3 perusahaan bulan November, dan 2 perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2003 adalah terdiri dari 5 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6
Data tahun 2003 ada 5 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 30/04/2003 ARTI Arona Bina Sejati Tbk Rodi Kartamulya & Budiman
2 14/07/2003 BMRI Bank Mandiri Tbk Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja
3 10/11/2003 BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja
4 15/12/2003 PGAS Perusahaan Gas Negara Tbk Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja
5 29/12/2003 ASJT Asuransi Jasa Tania Tbk Dr. Sugeng, Junaedi, Chairul
Sumber : BEI, 2003
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2003 yang diteliti adalah 5 perusahaan, yaitu 1 perusahaan bulan April, 1 perushaan bulan Juli, 1 perusahaan bulan November, 2 perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2004 adalah terdiri dari 5 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 4.7
Data tahun 2004 ada 5 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 12/04/2004 HADE Hortus Danavest Tbk Doli, Bambang dan Sudarmadji
2 14/05/2004 BTEK Bumi Teknokultura Unggul Tbk Drs. Ismanul dan Drs. Wiarwan
3 07/06/2004 ENRG Energi Mega Persada Tbk Hans Tuana Kotta & Mustofa
4 15/07/2004 SQMI Sanex Qiajiang Motor Internasional Tbk Kokasih & Nurdiyaman
5 01/11/2004 AKKU Aneka Kemasindo Utama Tbk Dedy Zeinirwan Santosa
Sumber : BEI, 2004
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2004 yang diteliti adalah 18 perusahaan, yaitu 1 perusahaan bulan April, 1 perusahaan bulan Mei, 1 Perusahaan bulan Juni, 1 perusahaan bulan Juli dan 1 perusahaan bulan November.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2005 adalah terdiri dari 7 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8
Data tahun 2005 ada 7 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 22/06/2005 APOL Arpeni Pratama Ocean Line Tbk Prasetio, Sarwoko & Sundjaja
2 09/06/2005 MASA Multistrada Arah Sarana Tbk Prasetio, Sarwoko & Sundjaja
3 24/06/2005 PEGE Panca Global Securities Tbk Doli, Bambang, Sudarmadji & Dadang
4 13/07/2005 RELI Reliance Securities Tbk Aryanto, Amir Yusuf & Mawar
5 29/09/2005 EXCL Excelcomindo Pratama Tbk Haryanto Sahari & Co
6 21/12/2005 MICE Multi Indocitra Tbk Johan Malonda Astika & Co
7 23/12/2005 AMAG Asuransi Multi Artha Guna Tbk Osman, Ramli Satrio & Co
Sumber : BEI, 1999
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2002 yang diteliti adalah 18 perusahaan, yaitu 3 perusahaan bulan Juni, 1 perusahaan bulan Juli, 1 perusahaan bulan September, 2 perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2006 adalah terdiri dari 10 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 4.9
Data tahun 2006 ada 10 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 03/02/2006 BTEL Bakrie Telkom Tbk Jimmy Budhi & Co
2 10/02/2006 MAIN Malindo Feed Mill Tbk Drs. Anwar BAP
3 01/06/2006 BNBA Bank Bumi Artha Tbk Osman Ramli Satrio
4 10/07/2006 BBKP Bank Bukopin Tbk Purwanto, Sarwoko & Sandjaja
5 17/07/2006 RAJA Radiant Raharja Tbk Osman Ramli Satrio
6 25/07/2006 TOTL Total Bangun Persada Tbk Aryanto Amir Jusuf & Mawar
7 13/09/2006 IATA Indonesia Air Transport Tbk Osman Ramli Satrio
8 28/11/2006 CPRO Central Proteinaprima Tbk Paul Hadiwinata, Hidayat & Arsono
9 29/11/2006 FREN Mobile -8 Telecom Tbk Osman Ramli Satrio
10 15/12/2006 SDRA Bank Himpunan Saudara Tbk Andiek Sumaryanto
Sumber : BEI, 2006
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2006 yang diteliti adalah 10 perusahaan, yaitu 2 perusahaan bulan Februari, 1 perusahaan bulan Juni, 3 perusahaan bulan Juli, 1 perusahaan bulan September, 2 Perusaan bulan November, dan 1 Perusahaan bulan Desember.
Perusahaan yang diteliti yang diambil dari tahun 2007 adalah terdiri dari 6 perusahaan yang go publics di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 4.10
Data tahun 2007 ada 6 perusahaan Emiten dan Auditor

No. Tgl IPO Kode Emiten Auditor
1 28/05/2007 BISI Bisi Internasional Tbk Purwanto, Sarwoko & Sandjaja
2 15/07/2007 BKDP Bukit Darmo Property Tbk Santoso & Co
3 04/12/2007 JKON Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk Aryanto Amir Jusuf & Mawar
4 12/12/2007 CSAP Catur Sentosa Adi Prana Tbk Purwanto, Sarwoko & Sandjaja
5 18/12/2007 ITMG Indo Tambang Raya Megah Tbk Haryanto Suhari & Co
6 19/12/2007 COWL Cowell Development Tbk Aria & Jonnardi
Sumber : BEI, 1999
Perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2007 yang diteliti adalah 6 perusahaan, yaitu 1 perusahaan bulan Mei, 1 Perusahaan bulan Juli, dan 4 perusahaan bulan Desember.
Jadi jumlah perusahaan yang dijadikan sampel dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2007 ada 99 perusahaan yang go publik.
4.1.3 Reputasi Underwriter
Perusahaan yang diteliti memiliki reputasi underwriter prestisius dan non prestisius adalah sebagai berikut :
Tabel 4.11
Reputasi Underwriter

No Reputasi Auditor Jumlah Prosentase
1 Tinggi 60 60,7
2 Rendah 39 39,3
Jumlah 99 100
Kesimpulan yang diambil adalah perusahaan yang memiliki reputasi auditor Prestisius ada 60 perusahaan dengan prosentase 60,7 persen. Perusahaan yang memiliki reputasi auditor non prestisius ada 39 perusahaan atau 39, 3 persen.
4.1.4 Reputasi Auditor.
Perusahaan yang diteliti memiliki reputasi auditor prestisius dan non prestisius adalah sebagai berikut :
Tabel 4.12
Reputasi Auditor

No Reputasi Auditor Jumlah Prosentase
1 Prestisius 75 75,7
2 Non Prestisius 24 24,3
Jumlah 99 100

Kesimpulan yang diambil adalah perusahaan yang memiliki reputasi auditor Prestisius ada 75 perusahaan dengan prosentase 75,7 persen. Perusahaan yang memiliki reputasi auditor non prestisius ada 24 perusahaan atau 24, 3 persen.
4.1.5 Pertumbuhan Perusahaan
Perusahaan yang diteliti memiliki pertumbuhan perusahaan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.13
Peringkat Pertumbuhan Perusahaan

No Keterangan Jumlah Prosentase
1 dibawah penurunan 100% 4 4,04
2 dibawah penurunan 0% diatas 100% 16 16,16
3 Diatas kenaikan 0% dibawah 100% 52 52,53
4 Kenaikan diatas 100% 27 27,27
99 100

Bahwa perusahaan yang memiliki pertumbuhan menurun atau negatif dibawah 100 persen adalah ada 4 perusahaan. Perusahaan yang pertumbuhannya negatif atau mengalami penurunan antara 0 sampai 100 ada 16 perusahaan. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan positif atau mengalami peningkatan sampai 100 persen ada 52 perusahaan, dan perusahaan yang mengalami pertumbuhan diatas 100 persen ada 27 perusahaan.
4.1. 6 Ukuran Perusahaan
Perusahaan yang diteliti memiliki ukuran perusahaan dengan tingkat atau kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.14
Tingkat Ukuran Peusahaan

No Keterngan (Rp) Jumlah Prosentase
1 dibawah 100 Milyar 34 34,34
2 100-200 milyar 19 19,19
3 200-300 milyar 6 6,06
4 300-400 milyar 4 4,04
5 400-500 millyar 3 3,03
6 500-600 Milyar 3 3,03
7 600-700 milyar 3 3,03
8 700-800 milyar 4 4,04
9 800-900 milyar 2 2,02
10 900 milyar – 1trilyun- 1 1,01
11 diatas 1 trilyun 20 20,20
    99 100

Perusahaan denga total aset dibawah 100 milyar ada 34 perusahaan. Perusahaan yang memiliki aset antara 100-200 milyar ada 19 perusahaan, yang memiliki aset 200-300 milyar ada 6 perusahaan. Masing masing dengan tingkat saet perusaan 300-400 milyar ada 4 perurasahaan. Ada 3 perusahan asetnya antars 400-500 Milyar. Jumlah perusahaan yang asetnya antara 500-600 Milyar ada 3. Perusahaan yang beraset 600-700 milyar sejumlah 3 perusahaan, 4 perusahaan asetnya antara 700-800 Milyar, dan dengan aset sebesar antara 800-900 milyar ditempati 2 perusahaan. Sedangkan hanya 1 perusaahaan yang memiliki aset antara 900 milyar – 1 trilyun rupiah. Sisanya ada 20 perusahaan yang memiliki aset di atas 1 trilyun rupiah.
4.1.7 Komposisi Dewan Komisaris Independen
Perusahaan yang diteliti memiliki komposisi komisaris independen dengan tingkat atau kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.12
Komposisi Dewan Komisaris

No Komposisi Jumlah Prosentase
1 <25% 6 6,06
2 25<Kompkomp>50% 43 43,43
4 >75% 6 6,06
  Jumlah 99 100

Komposisi komisaris lebih kecil 25% ada 6 perusahan, 44 perusahaan memiliki komposisi antara 25 sampai 50% , 43 perusahaan komposisi antara 50% sampai 75%, dan sisanya di atas 75 % ada 6 perusahaan.
4.1.8 Tingkat Underpricing
Perusahaan yang diteliti memiliki tingkat underpricing dengan tingkat atau kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.12
Tingkat Underpricing

No Keterangan Jumlah Prosentase
1 0-25 poin 19 19,19
2 diatas 25 poin sampai 50 poin 12 12,12
3 diatas 50 poin sampai 75 poin 11 11,11
4 diatas 75 poin sampai 100 poin 12 12,12
5 diatas 100 pon sampai 125 poin 6 6,06
6 diatas 125 poin sampai 150 poin 6 6,06
7 diatas 150 poin sampai 175 poin 4 4,04
8 diatas 175 poin sampai 200 poin 3 3,03
9 diatas 200 poin sampai 225 poin 3 3,03
10 diatas 225 poin sampai 250 poin 4 4,04
11 diatas 250 poin 19 19,19
    99 100
Jumlah underpricing dibawah 25 poin ada 19 perusahaan, 25-50 poin ada 12 perusahaan, 50-75 poin ada 11 perusahaan, 75-100poin ada 12 perusahaan. Antara 100-125 poin sejumlah 6 perusahaan. Dan yang lebih diatas 250 poin adala 19 perusahaan.

4.2 Analisis Data dan Pembahasan
4.2.1 Analisis Regresi
Untuk mengetahui pengaruh perubahan variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun secara bersama-sama, maka digunakan Regresi Berganda (Multipel Regression). Sebelum dilakukan pengujian dengan regresi berganda, Variabel-variabel yang digunakan diuji terlebih dahulu apakah memenuhi asumsi klasik persamaan regresi berganda. Uji asumsi klasik meliputi uji normalitas,uji autokorelasi, uji multikolinieritas dan uji heteroksidastisitas.
Teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi secara signifikan terhadap tingkat underpricing, yaitu reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, umur perusahaan, komposisi dewan komisaris, Jumlah saham yang ditawarkan, Untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen, menggunakan model empiris sebagai berikut:
Log Y = 1,899 + 0,234X1 – 0,074X2 – 0,025X3 + 0,000X4 + 0,92X5
See (0,515) (0,116) (0,135) (0,073) (0,000) (0,376)
t (3,685) (2,016) (0,547) (-0,338) (2,048) (0,245)
prob (0,00) (0,047) (0,586) (0,736) (0,043) (0,807)
R2 = 0,112
F = 2,344 prob : 0,047
Dw = 1,963
Dalam analisis regresi selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Ada pengaruh variabel reputasi underwriter (X1), dan pertumbuhan laba (X4), dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Tidak ada pengaruh reputasi auditor (X2), ukuran perusahaan (X3), komposisi komisaris independen(X5), dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh reputasi underwriter (X1) berpengaruh positif terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia hal ini konsisten dengan teori. Karena dalam landasan teori dijelaskan apabila semakin prestisius underwriter akan semakin besar underpricing harga saham perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia . pertumbuhan perusahaan berpegaruh negatif terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia artinya semakin besar ukuran perusahaan semakin kecil underpricing. Hal ini konsisten dengan teori dimana makin besar tingkat pertumbuhan perusahaan yang diukur dari peningkatan laba perusahaan akan semakin kecil tingkat under pricing. Reputasi Auditor, Ukuran Perusahaan dan Komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia, tidak konsisten dengan teori tetapi konsisten dengan penemuan peneliti yang sudah meneliti sebelumnya. Penelitian ini digunakan dengan derajat kesalahan 5 % untuk t hitung >t tabel a= 5 % adalah 1,987 untuk uji satu arah.
Maka untuk mengurangi tingkat underpricing perlu diperhatikan reputasi underwriter, ukuran perusahaan dalam hal ini besarnya asset dan komposisi direktur perlu menjadikan pertimbangan yang cukup penting. Sedangkan untuk variabel reputasi underwriter (X2), dan pertumbuhan laba (X4).
Sedangkan Reputasi Auditor, Ukuran Perusahaan dan Komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing menunjukkan bahwa kesimpulan bahwa investor dalam menentukan pembelian saham yang go publik tidaklah begitu memperhatikan tiga variabel diatas.

4.3 Pengujian Asumsi Klasik
4.3.1 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat atau variabel dependen dan variabel independen variabel keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak (Ghozali, 2005). regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal.
Secara statistik uji normalitas dapat dilakukan dengan one sample kolmogrov -smirnov test. Dasar pengambilan keputusan adalah jika probabilitas signifikasinya diatas tingkat kepercayaan 5 persen, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas Ghozali, (2005).
Hasil pengujian normalitas terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3.1
Uji Normalitas

Hasil pengujian menunjukan bahwa nilai signifikasi dari unstandard residusl adalah sebesar 0,904 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa data dalam penelitian ini terdistribusi secara normal
Dari perhitungan one sample kolmogrov -s mirnov test diperoleh informasi bahwa semua variabel dependen dan variabel independen terdistribusi normal. Dapat dilihat dengan melihat pada titik-titik, menunjukkan tidak beraturan dan berkumpul di garis diagonal pada grafik normal P- plot, sebagai berikut :
Gambar 4.3.1
Hasil Uji Normalitas

Menunjukkan bahwa data secara umum dapat dikatakan terdistribusi normal.

4.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel -variabel independen. Jika variabel-variabel saling berkorelasi, maka variabel -variabel tidak orthogonal. variabel orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas adalah nol (Ghozali, 2005).
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan korelasi antar varibel-variabel independen yang akan digunakan dalam persamaan regresi dengan menghitung nilai tolerance dan VIF (Variance Information Factors). Apabila nilai VIF dibawah 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi Multikolinearitas dan apabila nilai tolerance tidak kurang dari 0,1 maka dapat dikatakan bahwa model terbebas dari multikoleniaritas.
Tabel 4.3.2
Tabel VIF dan Tolerance

variabel Tolerance VIF
X1 ,935 1,069
X2 ,897 1,115
X3 ,722 1,386
X4 ,797 1,255
X5 ,925 1,081
a Dependent Variable: LOGY

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa VIF di bawah 10 dan Tolerance diatas 0,1 maka menunjukkan tidak adanya multikolinearitas dalam penelitian ini.

4.3.3 Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pada periode t. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi.
Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dengan menggunakan Uji Durbin Waston (DW). Kriteria pengambilan kesimpualan dalam uji Durbin Waston (DW) adalah apabila nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (4-du), maka disimpulkan tidak ada autokorelasi.
Uji autokorelasi bertujuan untuk mendeteksi apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan-kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan t-1. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada masalah autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu dengan yang lain. Uji Autokorelasi dengan melakukan Durbin Watson test dengan berbagai macam syarat dimana tidak terjadi autokorelasi apabila :
1. 0 < dw < dL ada autokorelasi positif.
2. dL < dw < dU tidak ada autokorelasi positif
3. 4 – dL < dw < 4 tidak ada autokorelasi negatif
4. 4 – du < dw < 4 – dL tidak ada negatif autokorelasi
5. dU < dw < 4 – dU tidak ada positif atau negatif autokorelasi.
Apabila terjadi autokorelasi maka dilakukan regres ulang dengan memasukkan unsur autoregresi dari variabel independen dalam model.
Nilai Durbin Watson test adalah 1,963 menunjukkan bahwa tidak ada autokorelasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokoralasi dalam model regresi. Dari jumlah sampel sebesar 99 dan jumlah variabel bebas 5 didapatkan nilai dl = 1,575 dan du = 1,778 Letak dw, yaitu 1,577<1,963 tidak ada autokorelasi .

4.3.4 Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedaskisitas, dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokesdastisitas.
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Heterokedastisitas yaitu dengan menggunakan Glesjer-test dengan meregres nilai absolut residual terhadap variabel independen. Jika nilai probabilitas signifikasinya di atas 5 persen, maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heterokesdastisitas.Dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 4.3.4
Uji Glesjer-test

Cara untuk mendeteksi dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik data yang diperoleh dengan menggunakan regresi berganda heterokedaskitas, dimana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y diprediksi –Y sesungguhnya). Dasar pengambilan keputusan menurut Gujarati, (1997) adalah:
§ Jika pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi heterokedaskitas.
§ Jika pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah sumbu Y, maka terjadi heterokedaskitas.
Gambar 4.3.4
Hasil Uji Heteroskesdastisitas

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa data bisa dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas.

4.3.5 Teknik Pengujian Hipotesis
1. Uji statistik t
Prosedur pengujian Hipotesis dengan menggunakan Uji-t (pengujian regresi secara parsial), dengan tujuan mengetahui apakah ada pengaruh yang nyata secara parsial antara variable terikat (Y) dengan variabel bebas (X). Hasil pengujian persamaan regresi secara parsial dapat dilihat pada tabel 4.3.5 berikut:
Tabel 4.3.5
Hasil Uji t

Variabel t Sig.
(Constant) 3,685 0,000
Underwriter (X1) 2,016 0,047
Reputasi Auditor (X2) 0,547 0,586
Ukuran Perusahaan(X3) -0,338 0,736
Pertumbuhan laba(X4) -2,048 0,43
Komposisi direktur (X5) 0,245 0,807
a Dependent Variable: LOGY

Ada pengaruh signifikan dari variabel underwriter (X1), dan pertumbuhan laba (X4), terhadap underpricing. Sedangkan tidak ada pengaruh secara signifikan dari Variabel reputasi auditor (X2), Ukuran perusahaan (X3) dan komposisi dewan komisaris (X5) terhadap underpricing.
2. Uji statistik F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen, yaitu pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, umur perusahaan, pertumbuhan laba, ukuran perusahaan, komposisi direktur, jumlah sahan yang ditawarkan secara simultan terhadap underpricing.
Dasar pengambilan keputusan yang digunakan adalah yaitu dengan membandingkan nilai signifikansi atau probabilitas dibandingkan dengan nilai alpha.
1. Ho ditolak
Apabila nilai probabilitas ( signifikan ) alpha (0,05)

Tabel 4.3.5
Hasil Uji F

Hasil uji F dengan derajat kebebasan (5,94) diperoleh F hitung 2,344 lebih besar dari F tabel 2,25 dengan probabilitas 0,047 berarti seluruh variabel independen mempengaruhi secara signifikan variabel dependen dengan derajat keyakinan 95%.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam analisis regresi selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Jadi analisis regresi berganda merupakan analisa untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, pertumbuhan laba, umur perusahaan, komposisi direktur, jumlah saham yang ditawarkan dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Dalam analisis regresi selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Dari hasil penelitian ini terdapat pengaruh variabel reputasi underwriter (X1), dan pertumbuhan laba (X4), dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini juga menyatakan tidak ada pengaruh reputasi auditor (X2), ukuran perusahaan (X3), komposisi komisaris independen (X5), dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh reputasi underwriter (X1) berpengaruh positif terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Ukuran perusahaan (X3) tidak berpegaruh terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Komposisi dewan komisasris independen (X5) tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Penelitian ini digunakan dengan derajat kesalahan 5%.

5.2 Saran
Dari hasil penelitian ini, maka untuk mengurangi tingkat underpricing perlu diperhatikan reputasi underwriter (X1), dan pertumbuhan laba (X4) perlu menjadikan pertimbangan yang cukup penting. Sedangkan untuk variabel reputasi auditor (X2), ukuran perusahaan (X3) dalam hal ini besarnya aset dan komposisi dewan komisaris Independen (X5) sesuai hasil penelitian ini dapat diabaikan.
Dalam penelitian ini diharapkan bagi pihak yang tertarik dengan penelitian ini. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variabel lain yang kemungkinan mempengaruhi tingkat underpricing pada perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO).

DAFTAR PUSTAKA

Ali , Syaiful dan Jogiyanto Hartono, 2003, “Pengaruh Pemilihan Metode Akuntansi Terhadap Underpricing Saham Perdana”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia , Vol.6, No. 1, Hlm. 41-53

Ardiansyah, Misnen, 2004,”Pengaruh Variabel Keuangan terhadap Return Awal dan Return 15 hari setelah IPO Serta Moderasi Besaran Perusahaan terhadap hubungan antara Variabel Keuangan Dengan Return Awal dan Return 15 hari setelah IPO di Bursa Efek Jakarta”.Jurnal Riset Akuntansi Indonesia,Vol. 7, No.2, Hlm.125-153.

Asril, Sitompul, 2000, ”Pasar Modal: Penawaran Umum dan Permasalahannya”, Penerbit PT. Aditya Kencana Bakti, Bandung.

Daljono, 2000, ”Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Initial Return Saham Yang Listing DI BEJ TH 1990-1997”, Kumpulan makalah Simposium Nasional Akuntansi III.hal.556-572.

Ghozali, Imam, 2005,”Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS”.Edisi ketiga, Semarang: Badan pererbit UNDIP

Gujarati, Damodar, 1997, “Ekonometrika Dasar”, Erlangga, Jakarta

Gumanti, Tatang Ary, 2002, ” Underpricing dan Biaya-Biaya di sekitar Initial Public Offering”, Wahana, Vol. 5, No. 2, Hlm. 135-147.

Holland

Jensen, M.C amd W.H. Meckling, 1976, “The Theory of the Firm:Manajerial Behaviour, Agency Cost, and Owenership Structure”. http://www.sfu.ca/wainring/econ400/jensen-mecling.pdf.

Jogiyanto, 2000, ”Teori Portofolio dan Analisis Investasi”. Edisi 3, Yogyakarta

Kim, Joeng – Bon, Itzhak Krinsky dan Janson Lee, 1993, “Motives for Going Public and Underpricing : New Finding from Korea”, Journal of Business Accounting, Januari, pp. 195 – 221.

Khomsiyah, 2003,” Hubungan Corporate Governance Dan Pengungkapan Informasi: Pengujian Secara Simultan”, Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi VI, oktober, hal 200-213

Kunz, R.M. and Aggarwal, R. (1994), “ Why Initial Public Offerings are underpriced: Evidence from Switzerland”, Journal of Banking and Finance, Vol.18

Kusumastuti, Supatmi dan Perdana, 2007,” Pengaruh Board Diversity Terhadap Nilai Perusahaan dalam Perspektif Corporate Governance”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan,Vol.9, No.2, November, hal 88-98.

Siregar dan Utama, 2005, “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Good Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management)”, Proceeding Simposium Akuntansi VIII: Solo, 15-16 september, hal 475-490

McKinsey & Company, Global Investor Opinion Survey 2002 :key Findings, july 2002. di download dari http://www.mckinsey.com/governance

Nasirwan, 2002, “ Reputasi Penjamin Emisi, Return Awal, Return 15 Hari Setelah IPO dan Kinerja Perusahaan Satu Tahun Setelah IPO di BEJ ”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia vol.5 no. 1, Januari, hal 64 – 84

Nurhidayati, Siti dan Nur Indriantoro, 1998, “Analisis Faktor – Faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Underpriced Pada Penawaran Perdana di Bursa Efek Jakarta”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia vol. 13 no. 1, hal. 21 – 30.

Pakaryanigsih, E, dan Y.S. Wibowo,2006, ” Pengaruh Board Composition terhadap kinerja perusahaan: Tinjauan Terhadap Konsep Agency Theory dan Stewardship Theory dalam Corporate Governance”, Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis, Vol.1No. 1, Juli

Prastiwi, Arum, 2001,” Underpricing: The Puzzling Phenomenon”, Jurnal Ekonomi dan Manajemen, Vol.2, No.1, Juni,hal 79-87.

Rosyati dan Sabeni, 2002, “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing saham pada perusahaan go public di BEJ tahun 1997-2000”. Simposium Nasional Akuntansi V. Hal 286-298.

Surya, Indra dan I. Yustiavadana, 2006, ”Penerapan Good Corporate Governance:Mengesampingkan Hak-Hak Istimewa Demi Kelangsungan Usaha”, Penerbit Kencana, Jakarta.

Syakhroza, Akhmad, 2003, “ Teori Corporate Governance”, Usahawan, No. 08 tahun XXXII, agustus, hal 19-25

Trisnawati,Rina, 1999,” Pengaruh Informasi Prospektus Pada Retrun Saham di Pasar Perdana”, Simposium Nasional Akuntansi II, IAI, hlm.1-15.

Wirawan, Gerinta, 2008, ”Penyebab Underpricing Pada Penawaran Saham Perdana Di Bursa Efek Jakarta”, Media AUDI Jurnal Akuntansi dan Bisnis,Vol.3, No.2, Juli, Denpasar Bali.

Wardani, 2006, ” Mekanisme Corporate Governance dalam perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan (Financial Distressed Firms)”, Simposium Nasional Akuntansi VII, Denpasar Bali.

http://www.idx.co.id, ”Annual Report”
http://www.idx.co.id, ”Proses go public”
http://www.saham-bei.com, ”Prospektus”

About these ads

6 comments

  1. Tolong diabantu dong, untuk olah data reputasi auditor dan reputasi underwiter itu gmn ya? . Skripsi ku jg lagi bahas ini. Kalo bole bls ke email ku. Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s