Pengendalian Kualitas Dengan Six Sigma


Pengendalian Kualitas Dengan Six Sigma

2.1.1 Pengendalian
Pengendalian merupakan kegiatan atau aktifitas yang sudah atau sedang dilakukan yang bertujuan agar kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai dengan harapan. Pengendalian dapat diartikan sebagai berikut :
1. Pengendalian merupakan proses pengukuran kinerja, membandingkan antara hasil sesungguhnya dengan rencana serta mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan. (Schermerhorn, 2003 : 13)
2. Pengendalian merupakan proses mengukur dan mengevaluasi pelaksanaan nyata setiap komponen organisasi dan melaksanakan tindakan korektif jika diperlukan. (Suprianto, 2001 : 10)
3. Pengendalian adalah mengatur agar kegiatan-kegiatan produksi sesuai dengan apa yang direncanakan. (Sukanto, 2000 : 10)
Dari pengertian pengendalian di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian dapat dilakukan apabila ada perencanaan atau standar yang telah ditetapkan dan diharapkan penyimpangan-penyimpangan dapat dihindari. Pengendalian juga untuk melihat sebab-sebab timbulnya penyimpangan.
2.1.2 Kualitas
Banyak orang menyebut kualitas sebagai daya tahan terhadap suatu produk, maka kualitas dapat diartikan sebagai berikut :
1. Kualitas diartikan sebagai suatu cara meningkatkan performansi secara terus menerus pada level operasi atau proses, dari setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan modal yang ada. (Gasperz, 2001 : 5)
2. Kualitas dapat didefinisikan sebagai jumlah dan jasa atribut atau sifat sebagaimana didefinisikan di dalam produk yang bersangkutan. (Ahyari, 2003 : 239)
3. Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk tersebut di produksi. (Handoko, 2000 : 54)
4. Kualitas adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi. (Render, 2001 : 92)
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas adalah kecocokan atau kesesuaian antara produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan kebutuhan yang diinginkan konsumen.
2.1.3 Pengendalian Kualitas
Setelah mengetahui pengertian tentang pengendalian dan kualitas, maka pengertian pengendalian kualitas dapat diartikan sebagai berikut :
1. Pengendalian kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila diperlukan, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah bahan yang rusak. (Sukanto, 2000 : 245)
2. Pengendalian kualitas merupakan upaya mengurangi kerugian-kerugian akibat produk rusak dan banyaknya sisa produk atau scrap. (Handoko, 2000 : 435)
3. Pengendalian kualitas merupakan usaha untuk mempertahankan mutu atau kualitas dari barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan kebijakan pimpinan perusahaan. (Assauri, 1999 : 210)
Berdasarkan beberapa pengertian pengendalian kualitas diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian kualitas merupakan alat yang penting bagi manajemen produksi untuk menjaga, memelihara, memperbaiki dan mempertahankan kualitas produk agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
2.1.4 Tujuan pengendalian kualitas
Beberapa pakar menyatakan bahwa tujuan pengendalian kualitas adalah :
a. Menurut Ahyari (1998 : 234)
Harus mengarah pada beberapa tujuan yag akan dicapai, sehingga para konsumen dapat puas menggunakan produk dan jasa perusahaan, dengan cara harga produk perusahaan tersebut dapat ditekan serendah-rendahnya, serta direncanakan sebelumnya oleh perusahaan.
b. Menurut Assauri (1997 : 228) adalah :
1. Agar produk dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang diharapkan, yang nantinya akan memberikan kepuasan kepada konsumen.
2. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.
3. Untuk mengetahui apakah segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana yang ada.
4. Untuk mengetahui sesuatu telah dijalankan secara efisien atau belum dan apakah mungkin didalan perbaikan.
c. Menurut Yamit (2002 : 339)
Yamit menyatakan bahwa tujuan pengendalian kualitas adalah adalah :
i. Untuk menekan atau mengurangi volume kesalahan dan perbaikan.
ii. Untuk menjaga atau menaikkan kualitas sesuai standar.
iii. Untuk mengurangi keluhan atau penolakan konsumen.
iv. Memungkinkan pengkelasan output (ouput grading).
v. Untuk menaikkan atau menjaga company image.
Pengendalian kualitas harus dapat mengarahkan beberapa tujuan terpadu, sehingga konsumen dapat puas menggunakan produk, baik barang atau jasa perusahaan. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian agar tujuan dapat tercapai, antar lain :
1. Ada standar yang ditetapkan
2. Menentukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan dengan standar yang ada.
3. Meberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada pihak-pihak yang bersangkutan agar tidak terjadi salah paham.
2.1.5 Ruang lingkup pengendalian kualitas
Untuk melaksanakan pengendalian kualitas didalam perusahaan, maka manajemen perusahaan tersebut perlu untuk menentukan melalui apa pengendalian kualitas tersebut akan dilakukan. Untuk menentukannya ada tiga pendekatan. (Ahyari, 1998 : 263) :
1. Pendekatan Bahan Baku
Dalam pendekatan bahan baku untuk pengendalian kualitas, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dikerjakan oleh manajemen perusahaan agar bahan baku yang diterima perusahaan yang bersangkutan dapat dijaga kualitasnya. Beberapa hal tersebut antara lain :
a. Seleksi sumber bahan baku
Seleksi sumber bahan baku merupakan tahap penting dalam pengendalian kualitas. Seleksi sumber bahan baku ini dapat digunakan beberapa cara seperti :
1. Pengalaman hubungan pada waktu yang lalu
Dari pengalaman berhubungan dengan para pemasok pada waktu-waktu yang telah lalu tersebut manajemen perusahaan yang bersangkutan akan dapat mengetahui karakteristik dan kebiasaan dari masing-masing pemasok.

2. Evaluasi dengan daftar pertanyaan
Hal ini akan dijumpai didalam beberapa perusahaan yang baru, atau belum lama beroperasi sehingga pengalaman hubungan dengan para pemasok bahan ini belum dapat dijadikan dasar untuk penyusunan daftar urutan prioritas para pemasok bahan.
3. Penelitian kualitas produk
Cara yang lain yang dapat dilaksanakan untuk mengetahui karakteristik masing-masing pemasok adalah dengan jalan mengadakan penelitian terhadap kualitas para perusahaan pemasok bahan baku yang ada.
b. Pemeriksaan dokumen pembelian
Dokumen yang dibuat dalam rangka pengadaan bahan baku pada suatu perusahaan akan merupakan dokumen yang sangat penting didalam hubungannya dengan pengendalian kualitas bahan baku yang dilaksanakan didalam perusahaan yang bersangkutan. Apabila perusahaan yang akan memerlukan bahan baku ini sudah menentukan perusahaan pemasok yang akan mengirimkan bahan baku tersebut, maka hal berikutnya yang perlu untuk dilaksanakan adalah mengadakan pemeriksaan terhadap dokumen pembelian yang ada.
c. Pemeriksaan penerimaan bahan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan bahan baku adalah :
a. Rencana pemeriksaan
Sehubungan dengan penyusunan rencana pemeriksaan ini terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan oleh manajemen, antara lain :
1. Pola umum pemeriksaan
2. Diskripsi pemeriksaan yang jelas
3. Daftar peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan
4. Daftar bahan lain yang diperlukan untuk pemeriksaan
5. Penentuan frekuensi pemeriksaan
b. Pemeriksaan dasar
Dimaksudkan dengan pemeriksaan dasar ini adlah merupakan pemeriksaan yang diterapkan untuk bahan baku yang sama sekali baru, baik bentuk, jenis maupun kegunaannya.
c. Pemeriksaan contoh bahan
Di dalam hubunganya dengan pemeriksan bahan baku yang datang di dalam gudang perusahaan ini, maka kadang-kadang perusahaan yang bersangkutan tidak mengadakan pemeriksaan terhadap seluruh bahan baku yang datang tersebut.
d. Catatan pemeriksaan
Keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan catatan pemeriksaan :
1. Data tentang karakter para pemasok
2. Penyimakan terhadap perkembangan pemasok
3. Penjagaan gudang
Apabila bahan baku yang dikirimkan oleh perusahaan pemasok bahan kedalam gudang perusahaan tersebut telah dinyatakan diterima, maka pada umumnya bahan baku tersebut akan disimpan di dalam gudang untuk suatu jangka waktu tertentu.
2. Pendekatan Proses Produksi
Pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi dibagi menjadi tiga tahap :
1. Persiapan
Tahap ini memerlukan beberapa hal :
a. Penentuan kualitas standar
Dalam hal ini perlu digunakan batasan praktis misalnya ; panjang, idameter, berat, dan sebagainya.
b. Perencanaan untuk mencapai kualitas yang distandarkan
a. Penggunaan metode kerja yang baik
b. Menyediakan peralatan yang dibutuhkan dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan
c. Pemakaian bahan baku yang baik
d. Latihan dan seleksi karyawan agar mampu menyelesaikan jenis produksi dengan baik

c. Memeriksa peralatan
Pemeriksaan peralatan perlu dilaksanakan secara periode sebelum proses produksi dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar peralatan terpelihara dengan baik dan bekerja sesuai dengan standar yang diinginkan perusahaan.
2. Pengendalian proses
Ada beberapa hal yang perlu dilengkapi dalam proses pengendalian kualitas selama proses produksi berlangsung ;
a. Jalannya proses produksi
Pengendalian kualitas yang dilakukan melalui jalannya proses produksi perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahan proses produksi yang mengakibatkan penurunan kualitas produksi.
b. Penentuan frekuensi pemeriksaan
Penentuan frekuensi pemeriksaan dilakukan setiap saat dan sering agar mesin-mesin tidak timbul kerusakaan dan kerugian bagi perusahaan.
c. Pelaksanaan pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan sangat dibutuhkan orang yang ahli untuk melakukan pemeriksaan sehingga produk yang dihasilkan dapat terjamin kualitasnya.
d. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel sangat diperlukan karena banyaknya produk yang harus diperiksa tidak memungkinkan kalau setiap produk harus dilakukan pemeriksaan untuk menjamin kualitasmya.
3. Pendekatan Produk Akhir
Pada pendekatan produk akhir, baik penentuan standar kualitas yang akan dipergunakan serta usaha pencampaian terhadap standar kualitas yang berlaku tersebut akan dilaksanakan kedua-duanya. Dan tujuan dari pendekatan produk akhir ini adalah untuk mengetahui keadaan produk secara lebih pasti sebelum produk dikirim ke gudang dan saluran pemeriksaan akhir ini dititikberatkan pada pekerjaan mekanisme proses pengendalian kualitas dan hasil yang dicapai.
2.1.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
Menurut Handoko (1995 : 135), kualitas produksi secara langsung dipengaruhi oleh sembilan bidang dasar yang dikenal sebagai “9M”. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tersebut adalah :
1. Market (pasar)
Keinginan dan kebutuhan konsumen secara hati-hati didefinisikan oleh bisnis masa kini sebagai suatu dasar untuk mengembangkan produk-produk baru. Pada masa sekarang konsumen meminta dan memperoleh produksi yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan mereka, dengan demikian pasar menjadi luas lingkupnya dan secara fungsional lebih terspesialisasi di dalam barang dan jasa yang ditawarkan. Akibatnya bisnis yang ada harus lebih fleksibel dan mampu berubah dengan cepat.
2. Money (uang)
Peningkatan persaingan di berbagai bidang bisnis bersamaan dengan terjadinya fluktuasi ekonomi dunia sehingga menyebabkan penurunan laba. Pada waktu bersamaan harus melakukan modernisasi mesin produksi sehingga mmebuat pengeluaran biasa semakin besar.
3. Management (manajemen)
Penanggungjawab mutu hendaknya mendistribusikan secara khusus kepada kelompok-kelompok tertentu dalam perusahaan. Kelompok-kelompok tersebut antara lain meliputi : bagian pemasaran, teknisis produk, mandor, bagian rekayasa, bagian kendali mutu dan mutu pelayanan produk sampai ke tangan konsumen.
4. Man (manusia)
Manusia merupakan faktor penting dalam proses produksi, karena sehebat apapun teknologi yang digunakan tetapi akan sangat tergantung pada faktor manusia. Oleh karena itu perusahaan perlu selalu untuk meningkatkan kualitas manusia sehingga mereka dapat berperan seefesien dan seefektif mungkin dalam perusahaan.
5. Motivation (motivasi)
Suatu kekuatan yang berasal dari dalam untuk melakukan suatu tindakan motivasi untuk bersama-sama melakukan pentingnya kualitas produk yang dihasilkan mutlak diperlukan dalam pengendalian kualitas.
6. Material (bahan)
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi harus mempunyai kualitas yang baik, karena kualitas yang sempurna tidk akan dapat terjadi jika bahan yang digunakan tidak baik.
7. Machines and Mechonization (mesin dan mekanisme)
Dengan adanya mesin dan mekanisme yang baik maka proses produksi akan dapat berjalan dengan baik. Keinginan perusahaan untuk menurunkan biaya volume produksi adar dapat memuaskan pelanggan dalam pasar telah mendorong penggunaan perlengkapan pabrik yang telah mantap.
8. Modern Information Method (metode informasi mesin)
Metode pemrosesan data yang baru dan secara konstan menjadi lebih baik, dapat meningkatkan kemampuan manajemen informasi untuk dapat menjadi lebih bermanfaat, lebih akurat, tepat waktu dan bersifat ramalan yang mendasari keputusan-keputusan yang membimbing masa depan bisnis.
9. Mounting Product Requrements (persyaratan proses produk)
Kemajuan yang pesat didalam perekayasaan rancangan produk memerlukan kendali yang jauh lebih ketat pada seluruh proses produk. Meningkatkan persayaratan-persyaratan prestasi yang lebih tinggi pada produk telah menekankan pentingnya keamanan dan keterandalan dalam proses produksi, sehingga proses produknya yang selalu disempurnakan kearah yang lebih baik menuju pada efektif dan efesien.
Sedangkan menurut Yamit (1998 : 338), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Fasilitas operasi seperti kondisi fisik bangunan
2. Bahan baku atau material
3. Peralatan dan perlengkapan
4. Pekerja atau staf organisasi
Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pasar atau tingkat persaingan
Persaingan merupakan salah satu faktor penting dlam menetapkan tingkat kualitas output suatu perusahaan, makin tinggi tingkat persaingan akan memberikan pengaruh pada perusahaan untuk menghasilkan produk berkualitas.
2. Tujuan organisasi
Apakah perusahaan bertujuan untuk menghasilkan volume output tinggi, barang yang berharga rendh atau menghasilkan barang yang tertinggi dan eksklusif.
3. Proses produksi
Prosedur untuk memproduksi dapat menentyukan kualitas produk yang dihasilkan.
4. Design produk
Cara mendesain produk pada awalnya dapat menentukan kualitas produk itu sendiri.
5. Kualitas input
Jika bahan yang digunakan tidak memenuhi standar, tenaga kerja tidak terlatih atau perlengkapan yang digunakan tidak tepat, akan berakibat pada produk yang dihasilkan.
6. Standar kualitas
Jika perhatian terhadap kualitas dalam organisasi tidak tampak, tidak ada testing maupun inspeksi, maka kualitas produk yang tinggi akan sulit dicapai.
7. Umpan balik konsumen
Jika perusahaan kurang sensitif terhadap keluhan konsumen, kualitas tidak akan meningkat secara signifikan
8. Testing produk
Testing yang kurang memadai terdapat produk yang dihasilkan dapat berakibat kegagalan dalam mengungkapkan kekurangan yang terdapat pada produk.
9. Perawatan perlengkapan
Apabila perlengkapan tidak dirawat secara tepat atau suku cadang tidak tersedia maka kualitas produk akan kurang dari semestinya.
Menurut Sudibyo (2003) dalam skripsinya, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas adalah manusia (man), mesin (machine) dan metode (method) yang berpengaruh terhadap produk cacat. Selain itu menurut Ivone (2004), unsur bahan baku yang kurang baik dan ketidak efektifan pada proses produksi juga berpengaruh terhadap kualitas. Dan menurut Liem Betty Gunawan (2003), tangbles, reliability, responssiveness, assurance dan empathy juga berpengaruh terhadap kinerja, harapan dan tingkat kepentingan dalam kualitas jasa.
2.1.7 Langkah-langkah pengendalian
Ada empat langkah dalam melakukan quality control, yaitu sebagai berikut :
1. Menetapkan standar kualitas produk yang akan dibuat
Sebelum produk berkualitas dibuat oleh perusahaan, ada baiknya ditetapkan standar yang jelas batasannya untuk mempermudah pengendalian.
2. Menilai kesesuaian kualitas yang dibuat dengan standar yang ditetapkan
Sebelum produk berkualitas dibuat oleh perusahaan, ada baiknya ditetapkan standar yang jelas batasannya untuk mempermudah pengendalian.
3. Mengambil tindakan korektif terhadap masalah dan penyebab yang terjadi dimana hal itu mempengaruhi kualitas produksi.
Bila suatu kejadian terjadi pada proses produksi dan ini sangat mengganggu kualitas produk sebaiknya mengambil tindkan yang tepat dalam penanggulangan.
4. Merencanakan perbaikan untuk meningkatkan kualitas
Bila perusahaan ingin produknya berada dalam posisi pasar yang sangat menguntungkan maka perlu mengadakan perencanaan perbaikan.
2.1.8 Usaha-usaha untuk menjaga standar kualitas
Agar kualitas produksi sesuai dengan yang direncanakan, maka perlu diperhatikan standar sebagai berikut :
1. Bahan baku
Bahan baku merupakan salah satu faktor yang perlu ditentukan standarnya. Penetapan standar bahan baku ini dapat digunakan juga sebagai pedoman atas petunjuk bagi karyawan mesin yang langsung memproses bahan baku. Jadi kualitas bahan baku akan sangat baik apabila lebih dulu ditentukan standarnya, karena hal ini mempunyai hubungan yang kuat dengan proses serta kualitas produk akhir perusahaan.
2. Tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses propduksi yang mana akan sangat menentukan tercapai tidaknya standar kualitas produk yang telah ditetapkan. Oleh karena itu perlu ditentukan atau diperhatikan mengenai standar jam kerja dan standar upah.
3. Peralatan produksi
Peralatan produksi dari suatu perusahaan sangat perlu untuk ditentukan standarnya. Hal ini sangat erat hubungannya dengan operasi perusahaan terutama dalam penentuan tingkat operasi yang optimal. Penggunaan peralatan produksi tanpa memperhatikan standar pemakaian maksimal dari masing-masing mesin akan menimbulkan berbagai macam kesulitan yang akhirnya akan menyebabkan produk akhir perusahaan tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
4. Proses produksi
Proses produksi juga dapat mempengaruhi produk dan produktivitas perusahaan. Oleh karena itu perlu adanya standar proses produksi sehingga lama waktu proses akan dapat direncanakan dan perusahaan dapat memperkirakan waktu penyelesaian proses dengan baik.
2.1.9 Pengertian Six Sigma
Menurut beberapa ahli, Six Sigma dapat diartikan sebagai berikut :
1. Six Sigma merupakan suatu metode atau teknik pengendalian dan peningkatan kualitas dramatik yang merupakan terobosan baru dalam bidang manajemen kualitas. (Gaspersz, 2001 : 301)
2. Six Sigma adalah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan, dan memaksimalkan sukses bisnis. Six Sigma secara unik dikendalikan olah pemahaman yang kuat terhadap fakta, data, dan analisis statistik, serta perhatian yang cermat untuk mengelola, memperbaiki, dan menanamkan proses bisnis. (Pande, 2002 : 11)
3. Six Sigma adalah konsep statistik yang mengukur suatu proses yang berkaitan dengan cacat. Six Sigma pun merupakan falsafah manajemen yang berfokus untuk menghapus cacat dengan cara menekankan pemahaman, pengukuran, dan perbaikan proses. (Brue, 2002 : 2)
Berdasarkan pngertian di atas dapat disimpulkan bahwa Six Sigma merupakan suatu metode atau teknik dalam hal pengendalian dan peningkatan produk dimana sistem ini sangat komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan, dan memaksimalkan kesuksesan suatu usaha.
2.1.10 Manfaat Six Sigma
Menurut Pande (2002), terdapat beberapa manfaat Six Sigma bagi perusahaan yaitu :
A. Menghasilkan sukses yang berkelanjutan
Cara untuk melanjutkan dan tetap menguasai pertumbuhan sebuah pasar yang aman adalah dengan terus menerus berinovasi dan membuat kembali organisasi. Six Sigma menciptakan keahlian dan budaya untuk terus menerus bangkit kembali.
B. Mengatur tujuan kinerja untuk setiap orang
Dalam sebuah perusahaan, membuat setiap orang bekerja dalam arah yang sama dan berfokus satu tujuan bersama. Masing-masing fungsi, unit bisnis, dan individu mempunyai sasaran dan target yang berbeda-beda. Sekalipun demikian, ada hal yang dimiliki oleh semua orang di dalam maupun di luar perusahaan. Six Sigma menggunakan hal tersebut untuk menciptakan sebuah tujuan yang konsisten.
C. Memperkuat nilai pada pelanggan
Dengan persaingan yang ketat di setiap industri, biaya pengiriman produk dan jasa yang bermutu ataupun bebas cacat tidaklah menjamin sukses. Fokus pada pelanggan dan merencanakan bagaimana menkirimkannya kepada mereka secara menguntungkan.
D. Mempercapat tingkat perbaikan
Dengan teknologi informasi yang menentukan kecepatan langkah, maka harapan pelanggan terhadap perbaikannya semakin nyata. Perusahaan yang tercepat melakukan perbaikan, kemungkinan besar akan memenangkan persaingan, dengan menjamin alat-alat dan ide-ide dari banyak disiplin ilmu, six sigma membantu pekerjaan untuk tidak hanya meningkatkan kinerja tetapi juga meningkatkan perbaikan.
E. Mempromosikan pembelanjaan
Six Sigma merupakan suatu pendekatan yang meningkatkan dan mempercepat perkembangan dan penyebaran ide-ide baru di sebuah organisasi keseluruhan. Orang-orang yang terlatih dengan keahlian dalam banyak proses serta bagaimana mengelola dan memperbaiki proses, dapat dipindah ke devisi lain dengan kemampuan untuk menerapkan proses dengan lebih cepat.
F. Melakukan perbahan strategi
Memperkenalkan produk baru, meluncurkan kerja sama baru, memasuki pasar baru, merupakan aktivitas-aktivitas bisnis sehari-hari yang biasa dilakukan oleh perusahaan. Dengan lebih memahami proses dan prosedur perusahaan, akan memberikan kemampuan yang lebih besar untuk melakukan penyesuaian kecil maupun penyesuaian besar.
2.1.11 Keunggulan Six Sigma
Six Sigma merupakan solusi bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya dalam memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dan sebagai strategi bisnis yang menitikberatkan fokus kegiatan atau proses usaha pada penciptaan value produk dan jasa yang mendekati sempurna. Tujuan utama yang ingin dicapai six sigma selalu berusaha meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pengurangan tingkat kesalahan (defect) dan waktu siklus. (Gaspersz, 2001 : 304)
Six Sigma memiliki keunggulan, secara konseptual keunggulannya adalah sebagai berikut : (Pande et.al, 2002 : 11-14)
1. Terdapat atau adanya hubungan ke lini dasar bisnis dan personal, dimana penempatan manajemen proses, perbaikan dan pengukuran kedalam tindakan sebagai bagian dari tanggungjawab sehari-hari terutama menajer produksi.
2. Kepemimpinan dibarisan depan, dimana kesiapan bagi sebuah perusahaan untuk masuk ke dalam six sigma adalah hanya ketika orang-orang atasnya membuat suatu keputusan bahwa perusabahan adalah penting bagi sukses terus menerus.
3. Mengadaptasi alat dan tingkat kekakuan lingkungan, dimana penggunaan alat dan pendekatan yang mendatangkan hasil dengan kemudahan dan kesederhanaan paling besar.
4. Six Sigma merupakan suatu perubahan inkremental eksponensial, dimana perbaikan kecil maupun besar adalah bagian penting dari siklus bisnis.
2.1.12 Konsep Kunci Sistem Six Sigma
Pengetahuan tentang pelanggan dan ukuran-ukuran yang efektif merupakan bahan bakar dalam sistem six sigma. Keduanya mendorong mesin yang terdiri dari tiga unsur dasar (perbaikan proses, desain atau desain ulang proses, dan menajemen proses) yang sebelumya berfokus pada proses organisasi. Hubungan pendekatan-pendekatan tersebut merupakan salah satu inovasi penting yang membuat six sigma berhasil. Ketiga unsur dasar tersebut adalah : (Nasfiendry, 2003 : 278)
1. Perbaikan proses
Menemukan solusi-solusi target. Istilah perbaikan proses merujuk pada sebuah strategi membangun solusi terfokus untuk mengeliminasi akar penyebab dari masalah kinerja bisnis. Pada dasarnya, usaha perbaikan proses berusaha menyelesaikan sebuah masalah sementara meninggalkan struktur dasar dan proses kerja yang utuh.
2. Desain ulang proses
Membangun bisnis yang lebih baik. Six Sigma membawa bersama-sama baik perbaikan proses maupun perancangan ulang, menggabungkannya sebagai strategi paling penting yang komplementer untuk meraih sukses terus menerus. Pada model desain ulang sasarannya bukanlah untuk memperbaiki melainkan untuk mengganti dengan proses yang baru.
3. Manajemen proses
Infrastruktur untuk kepemimpinan six sigma merupakan strategi yang paling revolusioner karena melibatkan suatu perubahan fokus, dari kekeliruan dan arah fungsi-fungsi kepada memahami dan memfasilitasi proses-proses, aliran kerja yang memberikan nilai kepada pelanggan dan para pemegang saham.
Terdapat 6 hal yang harus diperhatikan bila konsep kunci six sigma akan diterapkan dalam perusahaan manufaktur, yaitu :
1. Indentifikasi produk yang akan memuaskan pelanggan
2. Mengklasifikasikan semua karakteristik kualitas itu sebagai CTQ (Critical To Quality) individual.
3. Menetapkan apakah setiap CTQ dapat dikendalikan melalui pengendalian material, mesin-mesin, proses kerja dan lain-lain.
4. Menentukan batas maksimum toleransi CTQ sesuai dengan yang diinginkan pelanggan.
5. Menentukan maksimum variasi proses untuk setiap CTQ (nilai maksimal standar deviasi).
6. Mengubah desain produk atau proses sedemikian hingga agar mencapai nilai target six sigma.
2.1.13 Pengukuran Baseline Kinerja (Performance Baseline)
1. Pengukuran baseline kinerja pada tingkat proses.
Pengukuran ini dilakukan jika suatu proses terdiri dari beberapa sub proses. Pengukuran baseline kinerja menjelaskan masalah-masalah kualitas yang tidak tampak jelas jika pengukuran kinerjanya hanya dilakukan pada tingkat output.
2. Pengukuran baseline kinerja pada tngkat output
Pengukuran baseline kinerja pada tingkat output dilakukan secara langsung pada produk akhir (barang/jasa) yang akan diserahkan kepada pelanggan. Pengukuran pada tingkat ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana output akhir dari proses dapat memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan sebelum sampai ketangan pelanggan.
3. Pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome
Pengukuran ini dilakukan secara langsung pada pelanggan yang menerima output dari proses. Aktivitas ini dalam program peningkatan kualitas Six Sigma disebut sebagai :“Mendengarkan Suara Pelanggan”, pada umumnya terdapat 6 cara untuk mendengarkan suara pelanggan, ke enam cara itu adalah :
a. Survey kepuasan global, merupakan suatu survey berskala besar kepada pelanggan, pada umumnya menggunakan ukuran contoh/sampel siza).
b. Survey transaksi mengikuti suatu kegiatan, sebagai misal, seorang pelanggan mungkin disurvey setelah adanya panggilan telepon untuk perbaikan, instalasi, atau ketika mengajukan suatu keluhan (complaint).
c. Data keluhan (complaint data), yang diperoleh melalui pelanggan yang mengeluhkan tentang isu-isu yang berkaitan dengan produk dan pelayanan.
d. Analisis kehilangan pelanggan yang membutuhkan survey terhadap pelanggan yang telah berpindah atau memindahkan bisnis mereka kepada pesaing lain.
e. Kontak proaktif yang menanyakan lebih jauh kepada pelanggan tentang bagaimana mereka menggunakan produk itu serta persepsi mereka tentang produk dan pelayanan yang diterima.
f. Kebanyakan organisasi memiliki pelanggan-pelanggan kunci yang menentukan sukses dari organisasi. Pelanggan-pelanggan ini membutuhkan perlakuan khusus dan hubungan yang lebih akrab.
Langkah-langkah untuk melakukan baseline kinerja (Gaspersx : 2002) adalah :
a. Menetapkan periode waktu yang akan diuji.
b. Menuliskan jumlah produk yang akan diperiksa selama periode no. 1 pada kolom tabel B.
c. Menuliskan jumlah produk cacat dalam kolom tabel C.
d. Menuliskan jumlah CTQ potensial penyebab kecacatan produk pada kolom D.
e. Menghitung dan menuliskan DPMO dengan menggunakan rumus :
DPMO =
Ket :
C : Jumlah produk cacat
B : Jumlah produk yang diperiksa
D : Jumlah CTQ potensial
f. Mengkonvensi DPMO menjadi nilai Sigma dengan menggunakan tabel konveksi hasil bebas cacat ke nilai sigma dan DPMO.

2.1.14 Langkah-langkah Implementasi Peningkatan Kualitas Six Sigma
Menurut Gaspersz (2002), langkah-langkah implementasi peningkatan kualitas Sig Sigma terdiri dari lima langkah yaitu :
1. Define
Define adalah penetapan sasaran dari aktivitas peningkatan kualitas Six Sigma. Pada bidang operasional sasaran tersebut dapat berupa penurunan tingkat produk cacat dan biaya operasional serta peningkatan output produksi dan produktivtas. Langkah ini jug amendefinisikan rencana tindakan yang harus dilakukan untuk melakukan penigkatan dari setiap tahap proses bisnis kunci. Define merupakan langkah operasional pertama dalam proyek peningkatan kualitas Six Sigma, yang meliputi :
a. Mendefinisikan kriteria pemilihan proyek Six Sigma
Dalam langkah ini, pemilihan proyek terbaik berdasarkanpada identifikasi proyak yang terbaik sepadan dengan kebutuhan, kapabilitas, dan tujuan organisasi. Secara umum setiap proses Six Sigma yang terpilih harus memenuhi kategori :
1). Memberikan manfaat bisnis atau hasil-hasil
2) Kelayakan
3) Memberikan dampak positif pada organisasi
b. Mendefinisikan peran orang-orang yang terllihat dalam Six Sigma
Dilangkah kedua ini, didefiniskan peran orang-orang yang terlibat dalam proyek implementasi Six Sigma adalah :
1) Dewan kepemimpinan
2) Champions
3) Master Black Belts
4) Black Belts
5) Green Belts
6) Anggota-anggota Tim Proyek Six Sigma
c. Mendefinisikan kebutuhan pelatihan dalam proyek Six Sigma
Proses transformasi pengetahuan dan metodologi Six Sigma yang paling efektif adalah dengan menciptakan sistem pelatihan Six Sigma yang terstruktur dan sistematik. Sistem ini diberikan kepada orang yang telah terpilih berdasarkan kriteria pemilihan proyek Six Sigma yang telah ditentukan. Hal ini berarti bahwa organisasi harus secara terus menerus mengenai informasi dan pandangan baru dari pelanggannya, lingkungan eksternal dan proses-proses.
d. Mendefinisikan proses kunci beserta pelanggan dari proyek Six Sigma
Proyek Six Sigma yang telah ditentukan, harus didefinisikan dalam proses kunci dan pelanggan yang terlibat dalam proses tersebut. Sebelum melakukan langkah ini perlu diketahui model proses SIPOC (Suppliers Inouts Processes Outputs Customers) sebagai berikut :
1) Suppliers, merupakan kelompok orang yang memberikan informasi kunci, material, atau sumber daya lain kepada proses.
2) Inputs, merupakan segala hal yang diberikan oleh supplier pada proses
3) Processes, merupakan langkah-langkah transformasi untuk menambah nilai padainputs.
4) Output, merupakan produk berupa barang dan jasa dari suatu proses.
5) Customers, merupakan kelompok orang yang menerima outputs.
e. Mendefinisikan kebutuhan spesifik dari pelanggan yang terlihat dalam proyek Six Sigma
Dalam mendefinisikan kebutuhan spesifik dari pelanggan, terdapat dua persyaratan kritis, yaitu :
1) Merupakan karakteristik produk akhir (barang/jasa) yang diserahkan kepada pelanggan pada akhir suatu proses yang berkaitan dengan efektivitas produk akhir tersebut. Dalam persyaratan ini tim proyek Six Sigma harus mampu mendaftar semua persyaratan output yang diinginkan oleh pelanggan.
2) Persyaratan pelayanan
Petunjuk bagaimana pelanggan sebaiknya diperalkukan selama eksekusi dari proses tersebut. Misalnya melakukan pelanggan dengan ramah.
Setelah persyaratan output dan persyaratan pelayanan tersebut didefinisikan langkah selanjutnya adalah mengendalikan kualitas dan mendefinisikan melakui karakteristik kualitas, yang disebut sebagai Critical to Quality.
f. Mendefinisikan pernyataan tujuan proyek Six Sigma
Mendefinisikan tujuan dari proyek Six Sigma harus mengikuti prinsip SMART sebagai berikut :
1) Specific (spesifik)
Tujuan dari proyek Six Sigma harus dinyatakan secara spesifik dan tegas, sehingga tidak menimbulkan pengertian yang rancu.
2) Measureble (dapat diukur)
Tujuan dari proyek Six Sigma dapat diukur dengan memakai indikator pengukuran yang tepat untuk mencapai keberhasilan, peninjauan ulang atau tindakan perbaikan dimasa yang akan datang.
3) Achievable (dapat dicapai)
Tujuan dari proyek Six Sigma harus dapat dicapai atau terjangkau oleh semua sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
4) Result-oriented (berfokus pada hasil)
Tujuan dari proyek Six Sigma harus berorientasi pada hasil-hasil yang berupa pencapaian target-target kualitas yang harus ditetapkan, yang ditunjukkan melalui penurunan Defect Per Million Opportunities, peningkatan Process Capability, dan lain-lain.
5) Time bound (adanya batas waktu)
Tujuan dari proyek Six Sigma harus memiliki batas waktu untuk mencapai batas waktu yang telah ditentukan. Target yang telah ditentukan harus dicapai secara tepat waktu.
2. Measure
Tahap measure merupaka tahap dimana melakukan pemetaan proses, pengevaluasian sistem pengukuran dan menaksir kemampuan baseline kinerja dalam perusahaan.
Terdapat tiga hal pokok dalam tahap measure
a. Menetapkan karakteristik kualitas (Critical to Quality) kunci
Dalam menentapkan karakteristik kualitas kunci harus mempertimbangkan setiap aspek dan proses operasional yang mempengaruhi persepsi pelanggan tentang nilai kuaitas. Perusahaan harus melakukan pengukuran terhadap hal-hal yang memiliki keterkaitan dengan kepuasan konsumen dan strategi bisnis perusahaan. Penerapan karakteristik berkaitan langsung dengan kebutuhan pelanggan akan sangat tergantung pada situasi dan kondisi dari masing-masing perusahaan. Dalam hal ini perusahaan harus mempertahankan aspek internal dan aspek eksternalnya.
b. Mengembangkan rencana pengumpulan data
Pada dasanya pengumpulan karakteristik kualitas dapat dilakukan pada tiga tingkat.
1) Pengukuran pada tingkat proses
Pengukuran ini mengukur aktivitas dalam proses dan karakteristik kualitas input yang diserahkan oleh pemasok (supplier) yang mempengaruhi karakteristik kualitas putput yang diinginkan.
Tujuan dari pengukuran ini untuk mengidentifikasikan perilaku yang mengatur setiap langkah dalam proses untuk mengendalikan dan meningkatkan proses serta memperkirakan output sebelum output diproduksi dan diserahkan kepada pelanggan.
2) Pengukuran pada tingkat output
Pengukuran ini mengukur karakteristik kualitas output yang dihasilkan dari suatu proses dibandingkan dengan spesifikasi karakteristik kualitas yang diinginkan pelanggan.
3) Pengukuran pada tingkat outcome
Pengukuran ini mengukur bagaimana baiknya suatu prodeuk dapat memenuhi kebutuhan spesifik dari pelanggan.
c. Pengukuran baseline kinerja (performance baseline)
Sebelum proyek Six Sigma dimulai, perusahaan harus mengetahui tingkat kinerja yang sekarang (baseline kinerja). Setelah ini maka peningkatan yang dicapai dapat diukur sepanjang jalannya proyek Six Sigma. Baseline kinerja dalam Six Sigma dapat ditentukan dengan menggunakan suatu pengukuran DPMO (Defect Per Million Opportunities) dan tingkat kapabilitas Sigma (sigma level).
Ada tiga baseline kinerja yaitu :
1) Pengukuran ini dilakukan jika suatu proses terdiri dari beberapa sub proses.
2) Pengukuran baseline kinerja menjelaskan masalah-masalah kualitas yang tidak tampak jelas jika pengukuran kinerjanya hanya dilakukan pada tingkat output.
3) Pengukuran baseline kinerja pada tingkat output
Pengukuran baseline kinerja pada tingkat output dilakukan secara langsung pada produk akhir (barang/jasa) yang akan diserahkan kepada pelanggan. Pengukuran pada tingkat ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana output akhir dari proses dapat memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan, sebelum sampai ketangan pelanggan.
3. Analisis
Tahap ini merupakan tahap dimana perusahaan harus mencari dan memahami mengapa produk-produk cacat dapat terjadi. Dengan kata lain pada tahap ini, perusahaan melalui Six Sigma mereka, mencari input mana saja yang mempengaruhi kualitas output.
Pada tahap ini perusahaan harus melakukan beberapa hal yaitu sebagai berikut :
a. Menentukan stabilitas dan kemampuan (kapabilitas) proses
Proses produksi harus merupakan sebagai suatu proses peningkatan yang terus menerus (continues improvement), yang dimulai dari ide-ide untuk menghasilkan suatu produk, mengembangkan produk, proses produksi, sampai pada distribusi kepada pelanggan..
b. Menetapkan target-target kinerja dari karakteristik kualitas (Critical to Quality) kunci.
Setelah melakukan analisis stabilitas dan kemampuan proses, maka harus ditetapkan target-target kinerja dari karakteristik kualitas (CTQ) kunci untuk ditingkatkan selama masa proyek Six Sigma. Penetapan ini mempertimbangkan kemajuan proses dan kesiapan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan.
c. Mengidentifikasikasi sumber-sumber dan akar penyebab masalah kualitas
Perusahaan harus memahami produk penyebab cacat kemudian merincinya menjadi berbagai alasan yang jelas.
Penyebab yang dapat menimbulkan terjadinya produk cacat adalah :
a) Penyebab yang tidak dapat dikendalikan
Penyebab ini ada dua macam yaitu yang pertama penyebab yang dapat diperkirakan sehingga memungkinkan pihak manajemen untuk mengantisipasi dan mencegahnya. Sedangkan yang kedua adalah penyebab yang tidak dapat diperkirakan karena tidak adanya pengetahuan tentang kejadian itu sebelumnya.
b) Penyebab yang dapat dikendalikan
Penyebab ini berada pada lingkup tanggung jawab dan wewenang manajemen sehingga dapat diambil tindakan untuk menghilangkan penyebab tersebut.
4. Improve
Pada langkah ini ditetapkan suatu rencana tindakan untuk meningkatkan kualitas Six Sigma. Tim peningkatan kualitas harus mengetahui target yang harus dicapai, mengapa rencana tindakan itu harus dilakukan, siapa penanggung jawab rencana tindakan itu, bagaimana melaksanakan rencana tindakan itu.
5. Control
Pada tahap ini hasil-hasil peningkatan kualitas didokumentasikan dan disebarluaskan, praktek-praktek terbaik yang sukses dalam meningkatkan proses distandarsasikan dan disebarluaskan, dan dijadikan pedoman kerja standar, serta kepemimpinan atas tanggung jawab ditransfer dari tim Six Sigma kepada pemilik atau penanggung jawab proses.

2.2 Kerangka Pikir
Dengan meilhat proses produksi pada Perusda Percetakan Kota Semarang akan dilakukan pengendalian kualitas produk offset/cetak karena tingkat kerusakan relatif besar dan tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Adapun metode yang dilakukan adalah menggunakan Six Sigma yaitu DMAIC.
Gambar 1
Kerangka Pikir
Produksi

Pengendalian Kualitas
- Define
- Measure
- Analyze

- Improve
- Control

Rancangan Pengendalian Kualitas

Keterangan :

Rancangan

5.3 Definisi Operasional
1. Produk Perusda Percetakan Kota Semarang
Produk yang dihasilkan oleh Perusda Percetakan Kota Semarang
2. Pengendalian kualitas Perusda Percetakan Kota Semarang
Merupakan suatu aktivitas perusahaan untuk mengurangi kegiatan akibat produk cacat dan mengarahkan adar kualitas produk tetap terjaga.
3. Rancangan Pengendalian Kualitas Perusda Percetakan Kota Semarang
Rancangan pengendalian kualitas yaitu rancangan yang akan dilakukan didalam Perusda Percetakan Kota Semarang untuk melakukan pengendalian kualitas.

About these ads

3 comments

  1. saya sedang mengerjakan final project mengenai six sigma pda pelayanan pasien rawat inap. saya bingung dengan perhitungan kapabilitas perusahaan sekarang. kira2 dalam penerapan six sigma pada jasa rumkit, KPI dalam perhitungan kapabilitasnya apa, ya??? makasih atas bantuannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s