SIX big losse trafo


SIX big losse trafo
5.1 . Transformator Daya dan Cara Pengujiannya
Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentransformasikan tegangan). Dalam operasi umumnya, trafo-trafo tenaga ditanahkan pada titik netralnya sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan/proteksi, sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya. Transformator yang telah diproduksi terlebih dahulu melalui pengujian sesuai standar yang telah ditetapkan.
a. Klasifikasi
Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut Pasangan:
· Pasangan dalam
· Pasangan luar
Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut Fungsi/Pemakaian
· Transformator mesin
· Transformator Gardu Induk
· Transformator
Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut Distribusi
· Kapasitas
· Tegangan
Untuk mempermudah pengawasan dalam operasi trafo dapat dibagi menjadi :
· Trafo besar,
· Trafo sedang,
· Trafo kecil.
b. Cara Kerja dan Fungsi Tiap-tiap Bagian
Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai fungsi masing-masing:
1. Bagian utama
· Inti besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh “Eddy Current”.
· Kumparan trafo
Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan. Kumparan tersebut diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain dengan isolasi padat seperti karton, pertinax dan lain-lain.
Umumnya pada trafo terdapat kumparan primer dan sekunder. Bila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluksi yang menginduksikan tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban) maka akan mengalir arus pada kumparan ini. Jadi kumparan sebagai alat transformasi tegangan dan arus.
· Kumparan tertier
Kumparan tertier diperlukan untuk memperoleh tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta. Kumparan tertier sering dipergunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua trafo daya mempunyai kumparan tertier.
· Minyak trafo
Sebagian besar trafo tenaga kumparan-kumparan dan intinya direndam dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan bersifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- kekuatan isolasi tinggi
- penyalur panas yang baikberat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat
- viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan pendinginan menjadi lebih baik
- titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yang dapat membahayakan
- tidak merusak bahan isolasi padat
- sifat kimia yang stabil.
- Bushing
Hubungan antara kumparan trafo ke jaringan luar melalui sebuah busing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut denga tangki trafo.

· Tangki dan Konservator
Pada umumnya bagian-bagian dari trafo yang terendam minyak trafo berada (ditempatkan) dalam tangki. Untuk menampung pemuaian minyak trafo, tangki dilengkapi dengan konservator.
2. Peralatan Bantu
· Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi di dalam trafo, maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut trafo perlu dilengkapi dengan sistem pendingin untuk menyalurkan panas keluar trafo.
Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat berupa: Udara/gas, minyak dan air. Pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara :
- Alamiah (natural)
- Tekanan/paksaan (forced).
Macam-macam dan sistem pendingin trafo berdasarkan dapat dibedakan dalam media dan cara pengalirannya.
· Tap Changer (perubah tap)
Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load), tergantung jenisnya.
· Alat pernapasan
Karena pengaruh naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka suhu minyakpun akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki.
Kedua proses di atas disebut pernapasan trafo. Permukaan minyak trafo akan selalu bersinggungan dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus minyak trafo, maka untuk mencegah hal tersebut, pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal zat hygroskopis.
3. Indikator
Untuk mengawasi selama trafo beroperasi, maka perlu adanya indicator pada trafo sebagai berikut:
· indikator suhu minyak
· indikator permukaan minyak
· indikator sistem pendingin
· indikator kedudukan tap dan sebagainya.
4. Peralatan Proteksi
· Rele Bucholz
Rele Bucholz adalah rele alat/rele untuk mendeteksi dan mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo yang menimbulkan gas.
Gas yang timbul diakibatkan oleh:
a. Hubung singkat antar lilitan pada/dalam phasa
b. Hubung singkat antar phasa
c. Hubung singkat antar phasa ke tanah
d. Busur api listrik antar laminasi
e. Busur api listrik karena kontak yang kurang baik.
· Pengaman tekanan lebih
Alat ini berupa membran yang dibuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas, berfungsi sebagai pengaman tangki trafo terhadap kenaikan tekan gas yang timbul di dalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu dan kekuatannya lebih rendah dari kakuatan tangi trafo.
· Rele tekanan lebih
Rele ini berfungsi hampir sama seperti rele Bucholz, yakni mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo. Bedanya rele ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan P.M.T.
· Rele Diferensial
Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan di dalam trafo antara lain flash over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan.
· Rele Arus lebih
Befungsi mengamankan trafo arus yang melebihi dari arus yang diperkenankan lewat dari trafo terseut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat.
· Rele Tangki tanah
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila ada hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada trafo.
· Rele Hubung tanah
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila terjadi gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah.
· Rele Termis
Berfungsi untuk mencegah/mengamankan trafo dari kerusakan isolasi kumparan, akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus lebih. Besaran yang diukur di dalam rele ini adalah kenaikan temperatur.
5. Pengujian Transformator
Pengujian transformator dilaksanakan menurut SPLN’50-1982 dengan melalui tiga macam pengujian, sebagaimana diuraikan juga dalam IEC 76 (1976), yaitu :
· Pengujian Rutin
Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap setiap transformator, meliputi:
• pengujian tahanan isolasi
• pengujian tahanan kumparan
• pengujian perbandingan belitan Pengujian vector group
• pengujian rugi besi dan arus beban kosong
• pengujian rugi tembaga dan impedansi
• pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
• pengujian tegangan induksi (Induce Test).
· Pengujian jenis
Pengujian jenis adalah pengujian yang dilaksanakan terhadap sebuah trafo yang mewakili trafo lainnya yang sejenis, guna menunjukkan bahwa semua trafo jenis ini memenuhi persyaratan yang belum diliput oleh pengujian rutin. Pengujian jenis meliputi:
• pengujian kenaikan suhu
• pengujian impedansi
· Pengujian khusus
Pengujian khusus adalah pengujian yang lain dari uji rutin dan jenis, dilaksanakan atas persetujuan pabrik denga pmbeli dan hanya dilaksanakan terhadap satu atau lebih trafo dari sejumlah trafo yang dipesan dalam suatu kontrak. Pengujian khusus meliputi :
• pengujian dielektrik
• pengujian impedansi urutan nol pada trafo tiga phasa
• pengujian hubung singkat
• pengujian harmonik pada arus beban kosong
• pengujian tingkat bunyi akuistik
• pengukuran daya yang diambil oleh motor-motor kipas dan pompa minyak.
· Pengujian Rutin
- Pengukuran tahanan isolasi
Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada awal pengujian dimaksudkan untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi trafo, untuk menghindari kegagalan yang fatal dan pengujian selanjutnya, pengukuran dilakukan antara:
- sisi HV – LV
- sisi HV – Ground
- sisi LV- Groud
- X1/X2-X3/X4 (trafo 1 fasa)
- X1-X2 dan X3-X4 )trafo 1 fasa yang dilengkapi dengan circuit breaker.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan megger, lebih baik yang menggunakan baterai karena dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Harga tahanan isolasi ini digunakan untuk kriteria kering tidaknya trafo, juga untuk mengetahui apakah ada bagian-bagian yang terhubung singkat.
- Pengukuran tahanan kumparan
Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila kumparan tersebut dialiri arus.
Nilai tahanan belitan dipakai untuk perhitungan rugi-rugi tembaga trafo.
Pada saat melakukan pengukuran yang perlu diperhatikan adalah suhu belitan pada saat pengukuran yang diusahakan sama dengan suhu udara sekitar, oleh karenanya diusahakan arus pengukuran kecil.
Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tahanan di atas 1 ohm adalah Wheatstone Bridge, sedangkan untuk tahanan yang lebih kecil dari 1 ohm digunakan Precition Double Bridge.
Pengukuran dilakukan pada setiap fasa trafo, yaitu antara terminal:
Untuk terminal tegangan tinggi:
a. Trafo 3 fasa
– fasa A – fasa B
- fasa B – fasa C
- fasa C – fasa A
b. Trafi 1 fasa
- terminal H1-H2 untuk trafo double bushing
- terminal H1-Ground untuk trafo single bushing
Untuk sisi tegangan rendah
a. Trafo 3 fasa
– fasa a – fasa b
- fasa b – fasa c
- fasa c – fasa a
b. Trafo 1 fasa
– terminal X1-X4 dengan X2-X3 dihubung singkat.
Pengukuran dengan Wheatstone bridge digunakan untuk tahanan di atas 1 ohm. Rangkaian pengukuran dapat dilihat pada Gambar 1. Pada keadaan seimbang berlaku rumus:
Rx adalah hagra tahanan belitan yang diukur = factor pengali. Pengukuran dengan Precition double bridge digunakan untuk tahanan yang lebih kecil dar 1 ohm. Rangkaian pengukuran seperti Gambar 2. Tahanan yang diukur Rx dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
- Pengukuran perbandingan belitan
Pengukuran perbandingan belitan adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah kumparan sisi tegangan tinggi dan sisi tegangan rendah pada setiap tapping, sehingga tegangan output yang dihasilkan oleh trafo sesuai dengan yang dikehendaki. toleransi yang diijinkan adalah:
1. 0,5 % dari rasio tegangan atau b. 1/10 dari persentase impedansi pada tapping nominal. Pengukuran perbandingan belitan dilakukan pada saat semi assembling yaitu setelah coil trafo di assembling dengan inti besi dan setelah tap changer terpasang, pengujian kedua ini bertujuan untuk mengetahui apakah posisi tap trafo telah terpasang secara benar dan juga untuk pemeriksaan vector group trafo.
2. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan Transformer Turn Ratio Test (TTR), misalnya merk Jemes G. Biddle Co Cat. No.55005 atau Cat. No. 550100-47.
6. Pemeriksaan Vector Group
Pemeriksaan vector group bertujuan untuk mengetahui apakah polaritas terminal-terminal trafo positif atau negatif. Standar dari notasi yang dipakai adalah ADDITIVE dan SUBTRACTIVE.
- Pengukuran rugi dan arus beban kosong
Pengukuran ini untuk mengetahui berapa daya yang hilang yang disebabkan oleh rugi histerisis dan eddy current dari inti besi (core) dan besarnya arus yang ditimbulkan oleh kerugian tersebut. Pengukuran dilakukan dengan memberikan tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka.
- Pengukuran rugi tembaga dan impedansi
Pengukuran ini bertujuan untum mengetahui besarnya daya yang hilang pada saat trafo beroperasi akibat dari tembaga (Wcu) dan strey loss (Ws) trafo yang digunakan.
Pengukuran dilakukan dengan memberi arus nominal pada salah satu sisi dan pada sisi yang lain dihubung-singkat, dengan demikian akan terbangkit juga arus nominal pada sisi tersebut, sehingga trafo seolah-olah dibebani penuh.
Perhitungan rugi beban penuh (Wcu) dan impedansi (Iz), dimana pada waktu pengukuran tahanan belitan (R), Wcu dan Iz dilakukan pada saat suhu rendah (udara sekitar (t)), maka Wcu dan Iz perlu dikoreksi terhadap suhu acuan 75ºC, dimana factor koreksi (a) adalah :
– Pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji kekuatan isolasi antara kumparan dan body tangki.
Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan uji sesuai denga standar uji dan dilakukan pada:
1. sisi tegangan tinggi terhadap sisi tegangan rendah dan body yang di ke tanahkan
2. sisi tegangan rendah terhadap sisi tegangan tinggi dan body yang di ke tanahkan.
3. waktu pengujian 60 detik.
4. Pengujian tegangan induksi
Pengujian tegangan induksi bertujuan untuk mengetahui kekuatan isolasi antara layer dari tiap-tiap belitan dan kekuatan isolasi antara belitan trafo. Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan supply dua kali tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. Untuk mengatasi kejenuhan pada inti besi (core) maka frekwensi yang digunakan harus dinaikkan sesuai denga kebutuhan. Lama pengujian tergantung pada besarnya frekwensi pengujian berdasarkan rumus:
waktu pengujian maksimum adalah 60 detik.
– Pengujian kebocoran tangki
Pengujian kebocoran tangki dilakukan setelah semua komponen trafo terpasang. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kondisi paking dan las trafo. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan nitrogen (N2) sebesar kurang lebih 5 psi dan dilakukan pengamatan pada bagian-bagian las dan paking dengan memberikan cairan sabun pada bagian tersebut. Pengujian dilakukan sekitar 3 jam apakah terjadi penurunan tekanan.
7. Pengujian Jenis (Type Test)
· Pengujian kenaikan suhu
Pengujian kenaikan suhu dimaksudkan untuk mengetahui berapa kenaikan suhu oli dan kumparan trafo yang disebabkan oleh rugi-rugi trafo apabila trafo dibebani. Pengujian ini juga bertujuan untuk melihat apakah penyebab panas trafo sudah cukup effisien atau belum.
Pada trafo dengan tapping tegangan di atas 5% pengujian kenaikan suhu dilakukan pada tappng tegangan terendah (arus tertinggi), pada trafo dengan tapping maksimum 5% pengujian dilakukan pada tapping nominal.
Pengujian kenaikan suhu sama dengan pengujian beban penuh, pengujian dilakukan dengan memberikan arus trafo sedemikian hingga membangkitkan rugi-rugi trafo, yaitu rugi beban penuh dan rugi beban kosong.
Suhu kumparan dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:
t adalah suhu sekitar pada saat akhir pengujian.
· Pengujian tegangan impulse
Pengujian impulse ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik dari sistem isolasi trafo terhadap tegangan surja petir.
Pengujian impuls adalah pengujian dengan memberi tegangan lebih sesaat dengan bentuk gelombang tertentu. Bila trafo mengalami tegangan lebih, maka tegangan tersebut hampir didistribusikan melalui effek kapasitansi yang terdapat pada :
- antar lilitan trafo
- antar layer trafo
- antara coil denga ground.
- Pengujian tegangan tembus oli
Pengujian tegangan tembus oli dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik oli. Hal ini dilakukan karena selain berfungsi sebagai pendingin dari trafo, oli juga berfungsi sebagai isolasi.
Persyaratan yang ditentukan adalah sesuai denga standart SPLN 49 – 1 : 1982, IEC 158 dan IEC 296 yaitu:
- > = 30 KV/2,5 mm sebelum purifying
- > = 50 KV/2,5 mm setelah purifying
Peralatan yang dapat digunakan misalnya merk Hipotronics type EP600CD. Cara pengujian:
- bersihkan tempat sample oli dari kotoran dengan mencucinya dengan oli sampai bersih.
- ambil contoh/sample oli yang akan diuji, usahakan pada saat pengambilan sample oli tidak tersentuh tangan atau terlalu lama terkena udara luar karena oli ini sanga sensitive.
- tempatkan sample oli padaalat tetes.
- nyalakan power alat tetes.
- tekan tombol start dan counter akan mencatat secara otomatis sejauh mana kemampuan dielektrik oli tersebut. Setelah counter berhenti dan tombol reset menyala, tekan tombol reset untuk mengembalikan ke posisi semula.
- hasil pengujian tegangan tembus diambil rata-ratanya setelah dilakukan 5 (lima) kali dengan selang waktu 2 menit.
Kesimpulannya bahwa :
a. Kelayakan operasi dari suatu transformator daya dapat ditetapkan setelah melalui tahapan-tahapan pengujian berdasarkan standar yang berlaku.
b. Ketelitian dari proses pengujian transformator daya sangan dipengaruhi oleh temperatur ruang serta ketepatan waktu pelaksanaannya.
c. Keandalan transformator selama masa operasi, sangat ditentukan oleh cara pemeliharaannya, sehingga jadwal waktu pemeliharaan perlu dikaji lebih lanjut. (Hamma, 2001)
5.2 Proses Transmisi dan distribusi
Sebelum dibahas tentang pengertian proses transmisi dan distribusi , ada baiknya diketahui arti dari proses. Proses adalah cara, metode dan teknik bagaimana sumber-sumber yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Sedangkan transmisi dan distribusi adalah kegiatan untuk memindahkan atau menciptakan nilai kegunaan suatu barang atau jasa karena perpindahan tempat(Assuari, 1999:75). Beberapa pengertian proses produksi dari beberapa tokoh :
a. Proses transmisi atau distribusi merupakan cara atau metode maupun teknik bagaimana kegiatan penciptaan manfaat baru tersebut karena perpindahan tempat (Ahyari, 1998:8).
b. Proses transmisi adalah cara cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau kegiatan menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber tenaga kerja, mesin, kapasitas, dan dana yang ada (Assuari, 1999:75).
c. Proses transmisi dan distribusi adalah proses perubahan atau transformasi input atau masukan menjadi barang atau jasa karena tempat(Render, 1999:12).

5.3 Mesin Transmisi dan Distribusi
Pada kegiatan transmisi dan distibusi dibutuhkan peralatan atau mesin /traffo guna terselenggaranya kegiatan atau proses transmisi dan distribusi secara efektif. Mesin Traffo sebagai faktor pengiriman atau transmisi mempunyai peranan penting mengirimkan daya listrik menuju suatu tempat atau tujuan. Mesin Traffo diarahkan untuk mencapai proses transmisi dan distribusi yang menghasilkan kapasitas yang optimal, mutu yang lebih baik dan efisiensi waktu. Adapun pengertian mesin traffo adalah “suatu peralatan yang digerakkan oleh suatu kekuatan atau tenaga yang dipergunakan untuk membantu manusia dalam mengirimkan daya listrik atau tujuan-tujuan tertentu”.
Mesin dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Mesin-mesin yang bersifat umum atau bersifat sebaguna (General Purpose Machines)
Merupakan mesin-mesin yang dibuat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tertentu untuk jenis barang atau produk (Parts), biasanya dipergunakan oleh perusahaan yang memproduksi sejumlah jenis barang dalam jumlah atau volume produksinya kecil dan bengkel-bengkel untuk mereparasi dan pemeliharaan (maintenance).
b. Mesin-mesin yang bersifat khusus (Special Purpose Machine).
Mesin-mesin bertujuan atau bersifat khusus adalah mesin-mesin yang direncanakan dan dibuat untuk mengerjakan satu atau beberapa jenis kegiatan yang sama. Mesin-mesin ini biasanya ditemui pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan produksi massa.

5.4 Efektivitas Traffo
Efektivitas traffo adalah suatu usaha untuk memaksimalkan efektivitas peralatan, dengan kata lain, mengupayakan biaya yang paling ekonomis selama umur peralatan. Rumus untuk menghitung efektivitas peralatan adalah :
1. Availability adalah tingkat ketersediaan peralatan produksi untuk digunakan dalam proses produksi.

2. Efisiensi performa atau efisiensi kinerja adalah sejauh mana tingkat efisiensi peralatan produksi yang digunakan untuk proses produksi.

3. Tingkat mutu produk adalah tingkat mutu dari produk yang dihasilkan.
Jumlah Waktu Operasi – operasi OpeProduCacat

Jumlah Waktu operasi
x 100 %
Tingkat mutu Operasi =

4. Efektivitas mesin menghasilkan efektivitas sistem atau efektivitas peralatan menyeluruh (Overall Equipment Effectivities) melalui kombinasi antara ketersediaan avability, efisiensi performa, dan tingkat mutu operasi/kapasitas.
Efektivitas Mesin = Availability x Efisiensi Performa x Tingkat Mutu Operasi/Kapasitas.
5.5 Efisiensi Traffo.
Efisiensi merupakan ukuran dalam membandingkan penggunaan input yang direncanakan dengan realisasi penggunaan masukan. Jika masukan yang sesungguhnya semakin besar penghematannya, maka tingkat efisiensinya semakin tinggi, tetapi semakin kecil masukan yang dapat dihemat, maka semakin rendah tingkat efisiensinya (Yamit, 2002:13).
Peralatan transmisi dan distribusi yang dipakai untuk proses transmisi dan distribusi , tingkat efisiensinya tidak mungkin dicapai 100%, mengingat adanya faktor-faktor untuk persiapan (set-up), kerusakan (breakdown), perbaikan (repair), atau hal-hal lain yang mengakibatkan pekerjaan tertunda (idle). Disamping faktor-faktor tersebut, tingkat efisiensi peralatan akan tergantung pula oleh macam atau tipe peralatan yang digunakan, cara pengoperasian peralatan, dan kebijakan perawatan atau pemeliharaan (Yamit, 2002:159).
5.6 Enam Pemborosan Utama (Six Big Losses)
Kegiatan pemeliharaan atau perawatan peralatan dan mesin traffo secara maksimal. Peningkatan daya guna peralatan dan mesin traffo dengan tujuan akan dapat mengurangi enam jenis pemborosan atau kerugian yang terjadi selama proses transmisi dan distribusi, antara lain :
A. Kehilangan Waktu (Down Time Losses)
Adalah berkurangnya waktu operasi (distribusi dan transmisi). Hal ini meliputi :
a. Kerusakan atau gangguan tidak terduga.
b. Penyetelan dan penyesuaian karena ada perubahan daya , pengoperasian, injeksi, dan sebagainya.
B. Kehilangan Kecepatan (Speed Losses)
Adalah berkurangnya waktu operasi netto perusahaan. Speed Losses ini meliputi :
a. Kekosongan (idle) dan kemacetan dari pengoperasian sensor, sumbatan pada saluran dan sebagainya.
b. Pengurangan kecepatan dari perbedaan antara rencana dan kecepatan aktual peralatan.
C. Cacat (Defect)
Adalah produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar pada operasi nyatanya. Detect terdiri dari :
a. Cacat pada proses dan cacat atau rusak memerlukan perbaikan.
b. Penurunan kapasitas antara permulaan (start) operasi sampai pada operasi yang stabil.
5.7 Kerangka Pikir
Kerangka pikir penelitian merupakan pendayagunaan atau model atau pola pikir yang dapat menggambarkan berbagai variabel dengan variabel yang lain sehingga akan mudah dirumuskan masalah penelitiannya.
Kerangka pikir dalam penelitian ini secara singkat dapat dilihat pada gambar berikut.
Mesin Belum Optimal
Analisis efisiensi
Availability
· Kerusakan traffo
· Penyetelan dan penyesuaian
Analisis efektifitas
Efisiensi Performa
· Pemadaman dan Pemutusan Listrik
· Pengurangan kapasitas
Tingkat efektivitas dan efisiensi traffo
Implikasi Manajerial
Tingkat Mutu Produk
· Listrik Mati
· Penurunan daya yang di hasilkan

Gambar 2 : Skema kerangka pikir tingkat efektifitas dan efisiensi mesin
5.8 Definisi Operasional
Definisi operasional dari penelitian ini adalah :
1. Traffo yang digunakan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang berfungsi belum optimal, merupakan keadaan dimana mesin yang digunakan belum mencapai hasil yang sesuai dengan harapan.
2. Kerusakan atau waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memperbaiki Traffo yang digunakan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang mesin yang rusak karena ada gangguan yang tidak terduga.
3. Penyetelan dan penyesuaian adalah waktu yang dibutuhkan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang untuk memperbaiki Traffo yang digunakan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang
4. Kekosongan dan kemacetan adalah waktu yang dibutuhkan karena adanya waktu tidak bekerjanya traffo karena belum diperbaikinya dan keterlambatan perbaikan dan kemacetan pada traffo yang digunakan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang.
5. Pengurangan kecepatan adalah waktu yang dibutuhkan karena adanya perbedaan antara rencana dan kapasitas aktual dari traffo yang digunakan PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang
6. Penurunan hasil adalah jumlah kapasitas yang tidak sesuai dengan target yang sudah ditentukan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang.
7. Efisiensi traffo yang digunakan oleh PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang adalah traffo yang dipakai untuk proses distribusi listrik, tingkat efisiensinya tidak mungkin dicapai 100%, mengingat adanya faktor untuk persiapan, kerusakan atau gangguan yang membuat kemacetan atau pemadaman.
8. Efektivitas traffo yang digunakan oleh adalah suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh traffo dapat mencapai target secara kualitas maupun waktu melalui analisis availibility, analisis efisiensi performa, dan analisis tingkat mutu produk atau dapat diformulasikan.

6 Metode Penelitian
6.1 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini lokasi yang menjadi objek penelitian adalah PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang. Adapun jenis alat yang digunakan adalah mesin Offset, otomatis dan mini offset.
Alasan dipilihnya perusahaan ini sebagai objek adalah karena pada PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang belum pernah dilakukan perhitungan efektivitas dan efisiensi dari mesin-mesin yang ada dengan menggunakan Six Big Losses tetapi telah menggunakan metode Balanced Scorecard (BSC), Six Sigma, MBO untuk mencapai ISO 9002, selain itu pada PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang merupakan perusahaan yang mengalami perkembangan yang pesat dan memiliki prospek yang cerah dalm bidang Jasa dan Kontruksi terutama dalam bidang perbaikan traffo. Namun dalam melakukan proses produksinya masih terdapat indikasi adanya pemborosan yang menunjukkan bahwa peralatan berupa traffo tersebut belum bekerja secara optimal.
6.2 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Data primer
Merupakan data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau tidak melalui media perantara. Data primer yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :
a. Waktu untuk penyetelan dan penyesuaian traffo.
b. Waktu pengecekan dan kerusakan traffo.
c. Siklus waktu teoritis.
d. Waktu operasi traffo.
2. Data Sekunder
Merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau diperoleh dan dicatat dari pihak lain. Data yang diperoleh peneliti berupa:
a. Jumlah kapasitas Listrik yang didistribusikan.
b. Data distribusi yang dihasilkan.
c. Data kemacetan, kematian dan pemadaman yang terjadi.
d. Data kerusakan.
6.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Metode observasi
3.1. Metode observasi merupakan proses pencatatan pola perilaku subjek, objek, atau kejadin yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti (Indriantoro, 1999:153). Data yang diperoleh dengan metode observasi ini adalah waktu kerusakan dan pengecekan mesin, waktu operasi dan siklus waktu teoritis mesin dalan hal ini traffo yang digunakan PT PLN (Persero) J&P Jalan Siliwangi Semarang.
2. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, dokumen, buku, atau transkrip (Arikunto, 1998,236). Data yang dikumpulkan dengan metode ini adalah jenis dan fungsi traffo , data kapasitas, toleranai dan data jumlah kerusakan dan kemacetan yang terjadi.

6.4 Metode Analisi Data
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Analisis Efektivitas Peralatan
Alat analisis ini digunakan untuk mengetahui tingkat efektivitas mesin atau peralatan dalam suatu perusahaan yang mengadakan proses produksi dengan tujuan agar pendayagunaan peralatan tidak terjadi pemborosan-pemborosan yang dapat merugikan perusahaan.
Analisis Six Big Losses meliputi :
a. Boros Waktu (Down Time)
1) Kerusakan
2) Penyetelan dan penyesuaian
b. Boros Kecepatan (Speed)
1) Kekosongan dan kemacetan
2) Pengurangan kecepatan
c. Boros karena kerusakan atau kemacetan.
1) Kematian dan pemadaman pada proses
2) Penurunan kapasitas hasil
Rumus yang digunakan :
Waktu Beban – Down Time

x 100 %

Waktu Beban
Availability =

Waktu Operasi

x 100 %

Waktu Beban
Avaialbility =

Jumlah Daya Terdistibusi – Daya Tidak Teristribusi

x 100 %

Jumlah Daya Terdistibusi
Tingkat Mutu Traffo =

Efektivitas Traffo = Availability x Efisiensi Performa x Tingkat Mutu Pendistribusian.
Keterangan :
Waktu beban = jumlah menit operasi traffo setiap periode dalam satuan menit
Waktu beban = jam beroperasi perhari x hari beroperasi x 60 menit
Down time = waktu penyetelan + waktu penyesuaian + waktu perbaikan kerusakan
Siklus waktu teoritis = waktu yang dibutuhkan untuk mendistribusikan 1 kilo Volt Ampere pengiriman.
Waktu operasi = waktu beban – down time
Untuk kriteria efektivitas mesin adalah sebagai berikut :
§ < 80% = belum efektif
§ 80% – 100% = efektif
Alasan digunakan 80% adalah berdasarkan kebijakan dari perusahaan jika Ef ektivitas mesin dibawah 80% maka berarti kerja mesin belum efektif. Selain itu sisa umur ekonomis traffo pada PT PLN (Persero) Jasa dan Produksi Semarang Jalan Siliwangi No. 379 Semarang
2. Analisis Efisiensi Traffo.
Mesin atau peralatan produksi yang dipakai untuk proses produksi, tingkat efisiensinya tidak mungkin mecapai 100%, mengingat adanya faktor-faktor untuk persiapan (set-up), kerusakan (breakdown), perbaikan (repair), atau hal-hal lain yang mengakibatkan pekerjaan tertunda (idle).
Disamping faktor-faktor diatas, tingkat efisiensi mesin akan tergantung pula oleh faktor-faktor seperti : tipe atau jenis mesin yang digunakan, cara pengoperasian mesin, dan kebijakan perawatan atau pemeliharaan.
Tingkat efisiensi mesin atau peralatan produksi dapat ditentukan berdasarkan rumus berikut ini :
Efisiensi Mesin = i -
Down time + set up mesin
Waktu kerja mesin
x 100 %

Untuk kriteria efektivitas mesin adalah sebagai berikut :
§ < 80% = belum efektif
§ 80% – 100% = efektif
Alasan digunakan 80% adalah berdasarkan kebijakan dari perusahaan jika efektivitas mesin dibawah 80% maka berarti kerja mesin belum efektif. Selain itu sisa umur ekonomis traffo dari PT PLN (Persero) Jasa dan Produksi Semarang Jalan Siliwangi No. 379 Semarang

About these ads

3 comments

  1. Dear Expert,

    Saya butuh informasi yang mana ideal susunan dibawah ini :
    1. PLN – Isolation Transformer – UPS – Beban
    2. PLN – UPS – Isolation Transformer – Beban
    Mohon infonya kelebihan dan kekurangan masing-masing point diatas.
    Thanks sebelum dan sesudahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s