PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF


PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF

I. Pendahuluan

Pengalaman yang telah lalu, program-program pembangunan banyak diturunkan “dari atas” dan masyarakat tinggal melaksanakan. Program itu direncanakan oleh lembaga penyelenggara program tanpa melibatkan secara langsung warga masyarakat yang menjadi sasaran program tersebut. Kita menyadari bahwa perencanaan program semestinya dimulai dengan suatu “penjajagan kebutuhan” (need assessment) masyarakat, namun hal itu sering dilaksanakan hanya berdasarkan suatu survei (penelitian konvensional) yang dilakukan oleh petugas lembaga, atau oleh ahli-ali dari lembaga penelitian atau perguruan tinggi.

Berbagai kritik sering dilontarkan terhadap pola pengembangan program yang masih “diturunkan dari atas ke bawah” seperti itu. Kritik itu antara lain:
1.Kritik dalam pola tersebut sering terjadi kesenjangan antara peneliti/para pemrakarsa dan para pelaksanan program. Penelitian yang terlalu bersifat akademis seringkali diwarnai wawasan, pikiran, dan pandangan peneliti sendiri, yang sering tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Dengan sendirinya program yang disusun berdasarkan penelitian itu akan berangkat dari asumsi yang keliru, sehingga programnya tidak menyentuh kebutuhan-kebutuhan yang sesungguhnya dirasakan oleh masyarakat.
2.Kritik lain adalah bahwa keterlibatan masyarakat dalam program yang diturunkan berupa paket hanya sekedar sebagai pelaksana, masyarakat tidak merasa sebagai “pemilik program” karena mereka seringkali tidak melihat hubungan antara penelitian yang pernah dilakukan dan program yang akhirnya diturunkan. Dengan sendirinya dukungan masyarakat terhadap program-program seperti itu akan sangat pura-pura, demilkan pula partisipasi mereka.
3.Kritik yang lain lagi adalah keterlibatan masyarakat hanya sebagai pelaksana saja kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program karena prakarsa selalu dating dari “luar”, dan ketrampilan analitis, perencanaan, dan pengorganisasian tetap dimiliki oleh “orang luar”.

Sebenarnya jika masyarakat dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses (dari survei awal sampai perencanaan dan pengorganisasian kegiatan program, selain program itu akan menjadi lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap program akan lebih tinggi, juga ketrampilan analisis dan perencanaan tadi teralihkan kepada masyarakat. Dengan demikian di masa yang akan datang secara bertahap ketergantungan pada pihak “luar” dalam pengambilan prakarsa dan perumusan program akan bisa dikurangi.

II. Perencanaan Pembangunan Partisipatif

Perencanaan pembangunan partisipatif adalah perencanaan yang bertujuan melibatkan kepentingan rakyat dan dalam prosesnya melibatkan rakyat (baik langsung maupun tidak langsung).
Melibatkan masyarakat secara langsung akan membawa tiga dampak penting yaitu:
1.Terhidar dari peluang terjadinya manipulasi. Keterlibatan rakyat akan memperjelas apa yang sebetulnya dikehendaki masyarakat.
2.Memberi nilai tambah pada legitimasi rumusan perencanaan. Semakin banyak jumlah mereka yang terlibat akan semakin baik.
3.Meningkatkan kesadaran dan ketrampilan politik masyarakat.

Perencanaan pembangunan partisipatif akan berjalan dengan baik apabila prakondisi yang diperlukan dapat terpenuhi. Setidaknya ada enam prinsip dasar dalam perencanaan partisipatif, yaitu :
a.Saling percaya.
Diantara semua pihak yang terlibat dalam penyusunan perencanaan harus saling percaya, saling mengenal dan dapat bekerjasama. Untuk menumbuhkan rasa saling percaya dituntut adanya kejujuran dan keterbukaan.
b.Kesetaraan.
Prinsip kesetaraan dimaksudkan agar semua pihak yang terlibat dalam penyusunan perencanaan dapat berbicara dan mengemukakan pendapatnya, tanpa adanya perasaan tertekan (bhs. Jawa; rikuh atau ewuh-pekewuh).
c.Demokratis.
Prinsip demokrasi menuntut adanya proses pengambilan keputusan yang merupakan kesepakatan bersama, bukan meripakan rekayasa kelompok tertentu.
d.Nyata.
Perencanaan hendaknya didasarkan pada segala sesuatu masalah atau kebutuhan yang nyata, bukan berdasarkan sesuatu yang belum jelas keberadaanya atau kepalsuan (fiktif).
e.Taat asas dalam berpikir.
Prinsip ini menghendaki dalam penyusunan perencanaan harus menggunakan cara berpikir obyektif, runtut dan mantap.
f.Terfokus pada kepentingan warga masyarakat.
Perencanaan pembangunan hendaknya disusun berdasarkan permasalahan dan kebutuhan yang dekat dengan keidupan masyarakat. Perencanaan yang berdasarkan pada masalah dan kebutuhan nyata masyarakat, akan mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat.

Proses perencanaan pembangunan desa harus dilakukan melalui serangkaian forum musyawarah dengan melibatkan seluruh unsure pelaku pembanguan di wilayah setempat. Unsur pelaku pembangunan desa tersebut meliputi elemen-elemen warga masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan desa, aparatur pemerintah desa, aparatur pemerintah kabupaten (khususnya SKPD terkait), LSM dan institusi lain yang terkait. Proses penyusunan perencanaan pembangunan seperti inilah yang dimaksudkan sebagai perencanaan pembangunan partisipatif.

Penyusunan perencanaan pembanguan desa harus berdasarkan data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, rencana pembangunan desa itu harus disusun berdasarkan kenyataan yang ada di desa, baik itu berupa masalah maupun potensi yang dimiliki desa. Dengan demikian, perencanaan pembangunan desa yang tersusun dapat sesuai dengan kebutuhan pembangunan, bukan sekedar daftar keinginan yang jauh dari kenyataan dan kemampuan untuk mewujudkannya.

III. Metode Perencanaan Partisipatif

Berbagai metode perencanaan partisipatif yang langsung melibatkan peran serta masyarakat antara lain :
1.Metode ZOPP, yaitu perencanaan proyek yang berorientasi pada tujuan. ZOPP adalah singkatan dari:
a.Ziel, berarti tujuan.
b.Orienterte, yang berarti berorientasi.
c.Projekt, berarti proyek.
d.Plannung, berarti perencanaan.

Perencanaan partisipatif melalui metode ZOPP ini dilakukan dengan menggunakan empat alat kajian dalam rangka mengkaji keadaan desa, yaitu :
a.Kajian permasalahan; dimaksudkan untuk menyidik masalah-masalah yang terkait dengan suatu keadaan yang ingin diperbaiki melalui suatu proyek pembangunan.
b.Kajian tujuan; untuk meneliti tujuan-tujuan yang dapat dicapai sebagai akibat dari pemecahan masalah-masalah tersebut.
c.Kajian alternatif (pilihan-pilihan); untuk menetapkan pendekatan proyek yang paling memberi harapan untuk berhasil.
d.Kajian peran; untuk mendata berbagai pihak (lembaga, kelompok masyarakat dsb) yang terkait dengan proyek, selanjutnya mengkaji kepentingan dan potensi.

Melalui penggunaan alat kajian itu maka metode ZOPP bertujuan untuk mengembangkan rencana proyek yang taat asas dalam suatu kerangka logis.

Metode ZOPP, dalam penerapannya dapat dikenali dari ciri-ciri utamanya, yaitu:
a. Adanya kerja kelompok. Perencanaan dilakukan oleh semua pihak yang terkait dengan proyek (mencirikan keterbukaan).
b. Adanya peragaan; pada setiap tahap dalam perencanaan direkam secara serentak dan lengkap serta dipaparkan agar semua pihak selalu mengetahui perkembangan perencanaan secara jelas (mencirikan keterbukaan).
c. Adanya kepemanduan; yakni kerjasama dalam penyusunan perencanaan diperlancar oleh orang atau sekelompok orang yang tidak terkait dengan proyek, tetapi membantu untuk mencapai mufakat (mencirikan kepemanduan).
Perencanaan dengan metode ZOPP mempunyai kegunaan untuk meningkatkan kerjasama semua pihak yang terkait, mengetahui keadaan yang ingin diperbaiki melalui proyek, merumuskan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan sebagai dasar pelaksanaan proyek. Mutu hasil perencanaan ini sangat tergantung pada informasi yang tersedia dan yang diberikan.

2.Metode Participatory Rural Appraisal (PRA)
Ini dimaksudkan sebagai metode pendekatan belajar tentang kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan, dan oleh masyarakat desa sendiri. Pengertian belajar di sini mempunyai arti luas, karena meliputi juga kegiatan mengkaji, merencanakan, dan bertindak. Penggunaan metode PRA dimaksudkan menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan.
Dalam metode PRA ini dikenal adanya teknik-teknik penggalian masalah sampai dengan teknik pemecahan masalah. Dalam Permendagri No. 66/2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa menggunakan teknik-teknik yang sesuai dengan metode PRA ini.

IV. Teknik Perencanaan Partisipatif

Dalam Permendagri No. 66/2007 dikenal adanya pentahapan dalam proses perencanaan desa, yaitu: masukan – proses – hasil – dampak. Pada kesempatan ini, yang akan kita pelajari hanya pada 2 tahap yang pertama, yaitu: tahap masukan dan tahap proses. Alasan pemilihan topic bahasan 2 tahapan ini adalah, kadar tuntutan partisipasi warga masyarakat paling tinggi, sedangkan 2 tahapan terakhir lebih menuntut keterampilan/keahlian teknis sehingga perlu menggunakan pendekatan teknokratik.

1.MASUKAN

Dalam hal ini yang dimaksud masukan adalah informasi atau data yang diperoleh melalui kegiatan penggalian masalah dan potensi desa. Dalam melakukan penggalian masalah dan potensi desa dapat menggunakan alat atau instrumen bantu berupa sketsa desa, kalender musim dan bagan kelembagaan.
Berikut ini merupakan contoh hasil penggalian masalah dan potensi dengan menggunakan tiga instrumen tersebut.

SKETSA DESA
Sketsa desa pada dasarnya merupakan gambar kasar mengenai keadaan desa. Sketsa desa dapat mempermudah bagi setiap pemangku kepentingan atau pelaku pembangunan desa (khususnya warga masyarakat setempat) untuk mengenali setiap bagian dari wilayah desa. Oleh karenanya setiap orang akan dipermudah dalam mengenali masalah dan potensi beserta letak lokasinya.

Sketsa desa dapat dibuat di atas kertas atau karton dengan pensil, akan lebih baik apabila menggunakan pensil/pena/spidol berwarna.

Untuk membuat sketsa desa ini akan lebih mudah jika telah tersedia peta desa. Berdasarkan peta dasar desa, kemudian dilengkapi dengan gambar situasi desa sesuai dengan keperluan. Misalnya: dari peta dasar kemudian dilengkapi gambar situasi kantor desa, sawah, lading, perkebunan, sungai, rumah, gereja, masjid, puskesmas, posyandu, dan lain-lain.

Pembuatan sketsa desa beserta penggunaanya seperti contoh berikut ini.

POTRET / SKETSA DESA

Contoh:
DAFTAR MASALAH DAN POTENSI BERDASARKAN SKETSA DESA

No
MASALAH
POTENSI
1
Jalan desa di wilayah RW 02 sepnjang 1.200 meter rusak berat.
Batu
Pasir
Tenaga Gotong Royong
2
Lingkungan perumahan penduduk RW 07 tidak sehat.
LK-Desa dan PKK
Kader-kader di desa
Puskesmas pembantu
3
Banyak anak balita di RW 13 menederita penyakit campak
Puskesmas pembantu
Posyandu
Kader Posyandu
4
Tambak/kolam ikan kurang dimanfaatkan oleh patani ikan
Kolam/lahan tambak
Aliran/irigasi
Petani tampak
5
Jembatan di Dusun Damai longsor
Batu dan pasir
Kayu dan bambu
Tenaga Gotong Royong

KALENDER MUSIM
Kegiatan-kegiatan dalam daur kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi siklus musim. Kalender musim menunjukkan perubahan dan perulangan keadaan-keadaan seperti cuaca, siklus tanaman, pembagian tenaga kerja, keberadaan ama dan penyakit dan lain-lain, dalam satu kurun waktu tertentu (musiman).

Tahapan dalam Kalender Musim
1.Menggambar sebuah kalender dengan 12 bulan (atau 8 bulan) sesuai kebutuhan. Tidak Tidak perlu mengikuti kalender tahunan, bisa mulai pada bulan lain, misalnya sesuai musim tanam.
2.Diskusi umum tentang jenis-jenis kegitan serta keadaan yang paling sering terjadi pada bilan-bulan tertentu dan apakah kegiatan itu selalu terulang dari tahun ke tahun.
3.Menggambar kegiatan-kegiatan utama serta keadaan-keadaan kritis yang berkibat besar bagi masyarakat dalam kalender (menyepakati tentang simbol-simbol dulu).
4.Mendiskusikan tentang keadaan, masalah-masalah, sebab dan akibatnya.
5.Menyesuaikan gambaran dengan hasil diskusi.
6.Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi.
7.Mendokumentasikan semua hasil diskusi.

Contoh:
KALENDER MUSIM

MASALAH/
KEGIATAN/
KEADAAN
PANCAROBA
KEMARAU
MUSIM HUJAN
MRT
APR
MEI
JUN
JUL
AGT
SEP
OKT
NOV
DES
JAN
FEB
Kekurangan air bersih
-
-
-
-
**
****
**
**
-
-
-
-
Kekurangan pangan
-
-
-
*
***
****
-
-
-
-
-
-
Kesehatan (banyak penyakit)
-
-
-
-
**
-
-
-
**
***
****
-
Banjir
-
-
-
-
-
-
-
**
***
****
*
-
Panen
***
***
-
-
-
***
-
-
-
-
-
-
Tanam
-
-
-
-
-
-
-
-
***
****
-
-
Dst

DAFTAR MASALAH DAN POTENSI BERDASARKAN KALENDER MUSIM

No
MASALAH
POTENSI
1
Pada musim kemarau, di dua dusun kekurangan air bersih.
Sungai
Mata air
Swadaya masyarakat
Batu pasir
2
Pada musim kemarau, hasil panen merosot (gagal).
Irigasi tersier
Luas lahan persawahan
Kelompok Tani
KUD
3
Pada musim pancaroba banyak masyarakat desa terserang ispa (infeksi saluran pernafasan akut).
Puskesmas pembantu
Kebun obat keluarga
Posyandu
4
Pada musim hujan banyak masyarakat di Dusun Suci terkena diare.
Puskesmas pembantu
Posyandu
Bidan desa
Kebun obat keluarga
5
Pada musim hujan, sebagin besar rumah penduduk di Dusun Damai tergenang air setinggi 1 meter.
Batu dan pasir
Kayu dan bambu
Tenaga Gotong Royong

BAGAN KELEMBAGAAN

Bagan kelembagaan merupakan teknik yang bermanfaat untuk melihat hubungan masyarakat dengan berbagai lembaga yang terdapat di desa (dan lingkungannya). Selain itu, bagan kelembagaan dapat digunakan untuk memfasilitasi diskusi masyarakat untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang berada di desa, serta menganalisis dan mengkaji perannya, kepentingannya untuk masyarakat dan manfaat untuk masyarakat. Lembaga yang dikaji meliputi lembaga-lembaga lokal, lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga swasta (termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat).

Contoh Pengkajian Bagan Kelembagaan

DAFTAR MASALAH DAN POTENSI BERDASARKAN BAGAN KELEMBAGAAN

No
LEMBAGA
MASALAH
POTENSI
1
PEMDES dan BPD
Perangkat desa kurang dalam memberikan pelayanan pada masyarakat
Perangkat lengkap
Sarana tersedia
2
LK-Desa
Pengurus LK sebagian besar tidak tampak kegiatannya
Pengurus lengkap
Tenaga pengurus potensial
3
KELOMPOK TANI
Kegiatan kelompok tani di Dusun Damai macet
Lembaga ada
Pengurus lengkap
4
SIMPAN PINJAM
Pengurus Simpan Pinjam tidak pernah melakukan musyawarah dengan anggota
Modal usaha besar
Pengurus lengkap
5
KUD
Kuran bermanfaat dalam memasarkan hasil pertanian
Ada program pelatihan
Ada kredit bunga rendah tersedia
6
dst
dst
dst

2.PROSES

Dalam hal ini yang dimaksud proses adalah kegiatan untuk menindaklanjuti masukan atau analisis data yang dilakukan melalui pengelompokan masalah, penentuan peringkat masalah, pengkajian tindakan pemecahan masalah, dan penentuan peringkat tindakan.

CONTOH PENGELOMPOKAN MASALAH

No
MASALAH
POTENSI
1
Jalan desa di wilayah RW 02 sepanjang 1.200 m, rusak berat
Batu dan Pasir
Tenaga Gotong Royong
2
Lingkungan perumahan penduduk RW 07 tidak sehat
LK-Desa dan PKK
Kader-kader di desa
3
Pada musim kemarau, di dua dusun kekurangan air bersih.
Sungai
Mata air
Swadaya masyarakat
Batu pasir
4
Pada musim hujan, sebagin besar rumah penduduk di Dusun Damai tergenang air setinggi 1 meter.
Selokan dan parit; Batu dan pasir
Gotong Royong masyarakat
5
Banyak anak balita di RW 03 menderita penyakit campak
Puskesmas pembantu; Posyndu
Kader Posyandu
6
Pada musim hujan banyak masyarkat di Dusun Suci terkena diare
Puskesmas pembantu; Posyandu; Bidan desa
Kebun obat keluarga
7
Pada musim kemarau hasil panen merosot (gagal)
Irigasi tersier; Lahan persawahan luas
Kelompok Tani dan KUD
8
Perangkat desa dinilai kurang dalam memberikan pelayanan masyarakat
Perangkat lengkap
Sarana
9
Sebagian besar pengurus LK-Des tidak tampak kegiatannya
Pengurus lengkap
Tenaga/pengurus potensial

Dst
Dst

CONTOH HASIL PENENTUAN PERINGKAT MASALAH

No.
Masalah
Dirasakan oleh orang banyak
Sangat parah
Menghambat peningkatan pendapatan
Kesenjangan terjadi
Tersedia potensi untuk memecahkan masalah
Jumlah nilai
Urutan peringkat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
Jalan desa di wilayah RW 02 sepanjang 1.200 m rusak berat
3
3
3
1
3
13
9
2
Lingkungan perumahan penduduk RW 07 tidak sehat
3
4
2
2
3
14
7
3
Pada musim kemarau, di 3 dusun kekurangan air bersih
5
4
2
5
5
21
1
4
Pada musim hujan, sebagian besar rumah penduduk di Dusun Damai tergenang air
4
4
2
4
4
18
3
5
Banyak anak balita di RW 03 menderita penyakit campak
3
4
3
4
3
17
4
6
Pada musim hujan banyak masyarakat di Deusun Suci diare
3
3
2
2
3
13
9
7
Pada musim kemarau hasil panen merosot (gagal)
4
4
5
2
4
19
2
8
Perangkat desa dinilai kurang memberikan pelayanan pada masyarakat
3
2
1
3
2
11
10
9
Sebagian besar pengurus LK-Desa tidak tampak kegiatannya
4
3
1
3
3
14
8

dst
dst
dst
dst
dst
dst
dst
dst

Catatan:
Pemberian nilai (skor) untuk menentukan peringkat masalah disarankan dengan angka minimal “1” dan maksimal “5”. Dasar penilaian menggunakan pedoman seperti tercantum pada kolom 3 – 4 – 5 – 6 – 7 pada table di atas.

CONTOH HASIL PENGKAJIAN TINDAKAN PEMECAHAN MASALAH

No
Masalah
Penyebab
Potensi
Alternatif Tindakan Pemecahan Masalah
Tindakan yang layak
1
2
3
4
5
6
1
Di dua dusun pada musim kemarau kekuranga air bersih
1.Debit sumber air bersih semakin berkurang
2.Banyak pipa-pipa yang bocor
Sungai
Mata air di luar desa
Biaya dari swadaya
1.Pembangunan bak penampungan air hujan (bak tadah hujan)
2.Penggantian pipa-pipa saluran air yang bocor
1.Pembangunan bak penampungan air hujan (bak tadah hujan)
2.Penggantian pipa-pipa saluran air yang bocor
2
Pada musim kemarau hasil petani merosot (gagal)
1.Sebagian besar petani tidak mengikuti pola tanam yang baik
2.Tanaman padi banyak terserang hama (penyakit)
Irigasi tersier
Luas lahan persawahan
Kelompok tani
KUD
1.Penyuluhan kepada kelompok tani tentang pola tanam yang baik
2.Pengadaan obat-obatan hama (penyakit)
Penyuluhan kepada kelompok tani tentang pola tanam
3
Pada musim hujan di Dusun Damai sebagian besar rumah penduduk tergenang air
1.Parit/selokan air banyak yang rusak dan tersumbat
2.Bronjong di sungai B jebol sepanjang 35m
Selokan/parit
Batu
Gotong royong
Perbaikan parit/selokan air
Perbaikan selokan air
4
Banyak anak balita di RW 03 terserang penyakit campak
1.Kesadaran ibu-ibu tentang kesehatan rendah
2.Posyandu belum mengadakan imunisasi campak
3.Lingkungan RW 03 kurang sehat
Puskesmas pembantu
Posyandu
Kader posyandu
1.Pembinaan dan penyuluhan kesehatan ibu dan anak
2.Mengadakan imuniasi bagi anak balita di RW 03
3.Mengadakan gerakan kebersihan lingkungan
1. Pembinaan dan penyuluhan kesehatan ibu dan anak
2. Imunisasi bagi anak balita di RW 03
5
Tambak/kolam ikan kurang dimanfaatkan oleh petani tambak
1.Hasil tambak kurang mencukupi biaya pemeliharaan
2.Petani tambak kurang trampil mengolah hasil
Kolam/lahan tambak
Irigasi pengairan
Petani tambak
Pelatihan TTG/pengolahan ikan bagi petani tambak
Pelatihan TTG pengolahan ikan bagi petani
6
KUD kurang dalam pemasaran hasil pertanian
1.Pengurus KUD tidak aktif membina para petani
2.Dana terbatas untuk pembelian hasil pertanian
Ada program pelatihan
Kredit bunga rendah
Penambahan dana melalui kredit bunga
Penambahan dana melalui kredit bunga rendah

CONTOH PENENTUAN PERINGKAT TINDAKAN

Tindakan yang Layak
Pemenuhan Kebutuhan Orang Banyak
Dukungan peningkatan pendapatan Masyarakat
Dukungan Potensi
Jumlah Nilai
Peringkat Tindakan
1
2
3
4
5
6
Pembangunan bak penampungan air hujan (bak tadah hujan)
5
3
5
13
2
Penggantian pipa-pipa saluran air yang bocor
4
2
2
8
6
Penyuluhan kepada kelompok tani tentang pola tanam
4
3
2
9
7
Perbaikan selokan air
3
1
3
7
8
Perbaikan bronjong di sungai B
3
1
1
6
9
Pembinaan dan penyuluan kesehatan ibu dan anak
5
4
5
14
1
Mengadakan imunisasi bagi anak balita di RW 03
5
2
5
14
3
Pelatihan TTG pengolahan ikan bagi petani tambak
3
5
2
10
5
Penambahan dana melalui kredit bunga rendah
1
4
3
11
4
dst
dst
dst
dst
dst
Dst

Catatan:
Pemberian nilai (skor) untuk menentukan peringkat TINDAKAN disarankan dengan angka minimal “1” dan maksimal “5”. Dasar penilaian menggunakan pedoman seperti tercantum pada kolom 2 – 3 – 4 pada tabel di atas.

BAHAN BACAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIP

About these ads

One thought on “PERENCANAAN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s