ANALISIS SIMULTAN


<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

ANALISIS SIMULTAN

ANTARA KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KEBIJAKAN UTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN, DAN RESIKO DALAM PERSPEKTIF

TEORI KEAGENAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR

  1. Latar Belakang Masalah

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.

Perkembangan globalisasi adalah berkembangnya pasar modal. Salah satu fungsi utama pasar modal adalah sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor yang melaksanakan investasi. Syarat utama bagi para investor untuk menyalurkan dananya melalui pasar modal adalah perasaan aman akan investasinya. Perasaan aman ini diperoleh diantaranya karena para investor memperoleh informasi yang jelas, wajar dan tepat waktu, sebagai dasar pengambilan keputusan investasinya.(Budi Sutrisno dan Retno, 2001)

Pasar modal merupakan jenis pasar di mana para investor melakukan kegiatan menjual surat – surat berharga. Menurut UU RI No. 8/1995 dalam Kertonegoro, (1996 : 6), Pasar modal (capital market) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek-efek. Sementara menurut keputusan Menteri Keuangan RI No 1548/1990, Pasar modal adalah suatu sistem keuangan yang terorganisir, termasuk didalamnya adalah bentuk-bentuk komersil atau semua lembaga-lembaga perantara di bidang keuangan serta keseluruhan surat-surat berharga.

Definisi pasar modal menurut Keputusan Presiden No. 60/1998, adalah bursa yang merupakan sarana untuk menemukan penawar dan peminat dana jangka panjang dalam bentuk efek. Sedangkan Suad Husnan (2001 : 3), menyatakan bahwa pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjual-belikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta lainnya.

Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik (shareholder) melalui keputusan atau kebijakan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal. Tujuan ini sering diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Semakin tinggi harga saham merupakan nilai perusahaan. Semakin tinggi harga saham merupakan cerminan bahwa kesejahteraan pemilik semakin meningkat. Dalam mencapai tujuan tersebut, banyak pemilik (shareholder) yang menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada para profesional yang disebut manajer. Para manajer diharapkan akan bertindak atas nama shareholder, yakni memaksimumkan nilai perusahaan sehingga kemakmuran shareholder akan dapat tercapai. (Silvi dan Lestari, 2008)

Manajer yang diangkat oleh pemegang saham diharapkan akan bertindak yang terbaik bagi pemegang saham dengan memaksimalkan nilai perusahaan. Penunjukan manajerial oleh pemegang saham untuk mengelola perusahaan, oleh Jensen (1986) disebut sebagai pemisahan fungsi decition making (pembuat keputusan) dan risk bearing. Jensen and Mackeling (1986) menyatakan, dalam keadaan ini akan memunculkan perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham. (Chalimah, 2006)

Kenyataannya banyak manajer yang tidak memaksimalkan kemakmuran pemegang saham, melainkan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Keputusan-keputusan yang diambil cenderung untuk keuntungan manajer sendiri, seperti melakukan ekspansi untuk meningkatkan status dan gaji. Kondisi ini akan mengakibatkan munculnya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan manajer yang disebut sebagai agency conflict. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengatasi konflik keagenan disebut dengan biaya keagenan, yang meliputi pengeluaran monitoring, bonding dan residual loss. (Chalimah, 2006) Konflik keagenan yang terjadi dalam perusahaan menurut Brigham dan Gapenski (1999) pada hubungan antara :

  1. Pemegang saham dan manajer.

  2. Manajer dan kreditor.

  3. Manajer, pemegang saham dan kreditor.

Pengeluaran monitoring adalah pengeluaran yang digunakan untuk mengawasi aktivitas dan perilaku manajer. Pengeluaran monitoring antara lain membayar auditor untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan perusahaan atau membayar asuransi untuk melindungi aset perusahaan. Pengeluaran bonding adalah pengeluaran yang dikeluarkan oleh manajer untuk memberi jaminan kepada pemilik bahwa manajer tidak melakukan tindakan yang tidak merugikan perusahaan. Pada kondisi tertentu pemilik mengeluarkan biaya untuk mempengaruhi keputusan manajer dalam memaksimalkan kemakmuran pemilik yang dikenal dengan nama residual loss. (Silvi dan Lestari ,2008)

Perusahaan meningkatkan kepemilikan manajerial atau mensejajarkan kedudukan manajer dari pemegang saham sehingga bertindak sesuai keinginan pemegang saham. Bathala (1994) menyatakan bahwa tingginya tingkat kepemilikan manajerial akan dapat digunakan untuk menurunkan agency cost seperti yang dikutip oleh Chalimah (2006)

Peningkatan deviden diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan. Hal ini disebabkan dimana Devidend yang besar menyebabkan rasio laba ditahan akan lebih kecil sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana dari sumber eksternal, seperti emisi saham baru. Penambahan dana menyebabkan kinerja manajer dimonitor oleh bursa dan penyedia dana baru. Pengawasan kinerja menyebabkan manajer bertindaj sesuai dengan kepentingan pemegang saham sehingga mengurangi biaya yang berkaitan dengan emisi saham baru (floating cost). (Crutchey dan Hansen, 1989)

Penggunaan utang diharapkan dapat mengurangi konflik keagenan. Penambahan utang dalam struktur modal dapat mengurangi penggunaan saham sehingga biaya keagenan ekuitas. Perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan membayar beban bunga secara periodik. Kondisi ini menyebabkan manajer bekerja keras untuk meningkatkan laba sehingga dapat memenuhi kewajiban dari penggunaan utang. Sebagai konsekuensi dari kebijakan ini, perusahaan menghadapi biaya keagenan utang dan resiko kebangkrutan (Chrutchley dan Hansen, 1989)

Tingkat risiko dapat digunakan untuk mengurangi konflik keagenan. Dalam kerangka konflik keagenan, resiko digunakan sebagai dasar untuk menentukan kepamilikan manajerial, kebijakan utang dan kebijakan deviden tetapi dapat pula dipengaruhi oleh ketiga kebijakan tersebut. Jensen , Solberg dan Zorn (1992) membuktikan bahwa hubungan kausalitas positif antara risiko dan kepemilikan manajerial dapat mengurangi konflik keagenan. Dengan cara ini manajer memiliki kekuasaan dalam mengambil keputusan dan termotivasi untuk meningkatkan kemakmuran pemegang saham.

Agency cost dapat dikurangi dengan mengaktifkan monitoring melalui investor-investor institusional. Adanya kepemilikan institusional investor akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. Kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen.

Dalam penelitian ini, kelima variabel akan digunakan sebagai variabel endogen dan merupakan bagian integral dalam mengurangi konflik keagenan. Penggunaan persamaan simultan untuk menguji independensi pada pada kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dengan kebijakan utang, substitusi antara kepemilikan manajerial dengan resiko dan hubungan komplementer antara resiko dan hubungan komplementer antara risiko dengan kepemilikan manajerial.

Pasar modal merupakan salah satu wahana yang dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi dana, baik dalam atau luar negeri. Pasar modal sangat populer dipandang sebagai salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mempresentasikan kondisi perekonomian suatu negara. Makin maju dan berkembang pasar modal suatu negara, semakin maju dan berkembang perekonomian negara tersebut, begitu sebaliknya.

Penelitian ini bermaksud untuk menguji hubungan antara kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan hutang, kebijakan dividen, dan risiko dengan menggunakan basic agency theory dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dengan menggabungkan penelitian darei Chen dan Steiner (1999). Wahdiyati (2002), Fitri dan MamDuh (2003) dan menambahkan variabel alternatif yang diduga dapat lebih menjelaskan perilaku perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam meminimalkan agency cost-nya. Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan apakah terdapat hubungan interdependensi yang signifikan antara kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan utang, kebijakan dividen dan risiko. Serta apakah terdapat hubungan antara variabel eksogen dan variabel endogen dalam hal ini kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan utang, kebijakan dividen dan risiko dengan menggunakan metode analisis kuadrat terkecil dua tahap (two stage least square atau 2 SLS) pada suatu sistem persamaan yang mencakup satu persamaan untuk masing-masing kebijakan tersebut. Pengamatan dilakukan dari tahun 2006-2007, yang dianggap mewakili kondisi Indonesia dan dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI, karena perusahaan manufaktur cukup sensitif pada setiap kejadian. ( Silvi dan Lestari, 2008) Disamping saham yang go pablic di BEI adalah didominasi oleh mayoritas saham manufaktur.

Populasi penelitian ini adalah perusahaan industri manufaktur yang listed di BEI sejak tahun 2006 dan masih aktif hingga tahun 2007. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Go Publik yang tercatat di Bursa Efek Jakarta tahun 2006-2007. Perkembangan harga saham dapat dilihat pada indeks harga saham-saham manufaktur pada penutupan akhir bulan seperti berikut :

Tabel 1.

Indeks Harga Saham-Saham Manufaktur

(per bulan tahun 2006-2007)

Manufacture

Year

2006

2007

Bulan

Januari

210,483

280,143

Februari

213,157

280,388

Maret

221,612

274,513
April

241,102

288,020

Mei

208,994

311,568

Juni

210,255

336,381

Juli

215,338

362,423

Agustus

228,770

336,148

September

242,286

350,774

Oktober

250,600

393,448

November

271,946

390,156

Desember

284,829

403,006

Mean

233,281

333,914

Sumber : IDX Statistics, data kumulatif 2006-2007.

Melihat tabel di atas terlihat bahwa Indeks harga saham manufaktur terus meningkat dari bulan Januari sampai April 2006, menurun lagi pada bulan Mei 2006 dan membaik kembali pada Desember 2006. Peningkatan indeks harga juga terjadi dari bulan Januari 2007 sampai Februari 2007, meski terdapat penurunan di bulan Maret 2008 harga saham naik lagi sampai bulan Juli 2007. Harga saham mengalami penurunan kembali pada bulan Agustus 2007 sampai Oktober 2007. Bulan November turun kembali pada bulan November 2007.

Secara Grafik dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 1.

Sumber : IDX Statistics, data kumulatif 2006-2007.

Dengan membentuk tabel 1 menjadi grafik 1 diatas terlihat bahwa ada perbedaan harga saham manufaktur tahun 2006 rata-rata sebesar 233,281 sangat menonjol dengan tahun 2007 rata-rata sebesar 333,914. Pada tahun 2006 harga saham manufaktur cenderung stabil, sedangkan pada tahun 2007 lebih fluktuatif. Namun sebenarnya masih kelihatan stabil, oleh karena itu maka harga saham manufaktur dapat dijadikan sebagai variabel yang digunakan dalam Analisis Simultan antara Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, dan Resiko dalam Perspektif Teori Keagenan pada Perusahaan Manufaktur

Alasan lain diambil perusahaan manufaktur karena metode laporan keuangan adalah sejenis, dan cukup berbeda secara signifikan dengan laporan keuangan perusahaan perbankan, perdagangan dan Jasa.

  1. Perumusan Masalah

Rumusan masalah muncul akibat berbagai macam penelitian tidak memiliki kesimpulan yang seragam serta berbeda antara keinginan dan kenyataan di lapangan dan di dalam teori. Maka rumusan masalah dapat dilihat dalam gab teori atau riset gab yang memunculkan pembuktian secara terus meneurus dari konsep penelitian dan berbagai peneliti. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh

Tabel 1

Riset Gab Dari Beberapa Peneliti

No.

Gab

Judul

Penulis

Model

1.

Terjadi Interdependensi antar semua Variabel Endogen

Analisis Simultan kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Utang dan Dividen dalam Perspektif Teori Keagenan (2002-2004) N= 116

Imanda FP dan M. Nasir

2 SLS

2.

Risiko tidak berpengaruh thd kepemilikan manajerial, kepemilikan manajerial tidak signifikan thd utang, dividen tidak berpengaruh thd utang, kepemilikan manajerial berpengaruh thd dividen dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh thd risiko. (tidak ada interdependensi dari seluruh variabel endogen )

Analisis Simultan antara Kepemilikan Manajerial, Utang, dividen dan risiko dalam perspektif Teori Keagenan. (1994 – 2004)

N= 466

Melisa S dan Wiwik L (2008)

2SLS

3.

Sebagian variabel endogen saja yang memiliki interdependensi.

Analisis keterkaitan antara utang, Dividen, Kepemilikan Manajerial, dan Institusional dalam rangka mengurangi Konflik Manajer dan Pemilik Modal.(1999-2002) N=104.

Chalimah (2006)

3 SLS

Sumber : Jurnal Ilmiah, dikutip dari berbagi sumber.

Dari ketiga hasil riset di atas menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok antara penelitan ke-1 ada keterkaitan antar variabel Endogen dan ke-3 ada keterkaitan sebagian variabel endogen dan sisanya tidak. Dan Penelitian ke-2 (tidak ada keterkaitan antar variabel Endogen) menunjukkan bahwa ada hasil yang berbeda dari hasil perhitungan beberapa riset gap di atas, Hal ini berkaitan dengan tahun yang berbeda dan juga jumlah perusahaan yan berbeda-beda pula. Maka penelitian ini akan mempertegas perdebatan gab teori di atas dengan melihat berbagai rumusan masalah sebagai berikut, membukutikan teori yang menyatakan bahwa :

  1. Apakah pengaruh Variabel kepemilikan institusional, risiko, dividen dan utang terhadap kepemilikan manajerial Secara Bersama-sama.

  1. Apakah Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial?

  2. Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial?

  3. Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial?

  4. Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial?

  1. Apakah ada pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial institusional, Dividen dan risiko terhadap kepemilikan utang Secara bersamaaan?

  1. H2a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

  2. ApakahKepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijaan utang.

  3. Apakah Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

  4. Apakah Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn utang.

  1. Apakah ada pengaruh Variabel kepemilikan manajerial, institusional, risiko dan utang terhadap bijakan dividen Secara bersamaaan?

  1. Apakah Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

  2. Apakah Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

  3. Apakah Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

  4. Apakah Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

  1. Apakah ada pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial, institusional, dividen dan utang terhadap risiko Secara bersamaaan?

  1. Apakah Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

  2. Apakah Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn pengambilan risiko.

  3. Apakah Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

  4. Apakah Kebijak dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

  1. Apakah pengharuh Variabel Kepemilikan Manajerial, utang, dividen dan risiko terhadap kepemilikan institusioanal Secara bersamaaan?

  1. Apakah Kepemilikan manajerial mempunyai mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

  2. Apakah Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

  3. Apakah Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

  4. Apakah Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

Guna membuktikan bahwa kenyataan akan konsisten dengan teori yang ada perlu dibuktikan lebih jauh dalam penelitian ini.

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Menguji hubungan negatif antara utang dengan dividen.

  2. Menguji hubungan negatif antara utang dengan kepemilikan manajerial.

  3. Menguji hubungan negatif antara utang dengan institusional.

  4. Menguji hubungan negatif antara deviden dengan kepemilikan manajerial.

  5. Menguji hubungan negatif antara dividen dengan kepemilikan institusional.

  6. Menguji hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dengan kepemilikan institusional.

  7. Menguji hubungan positif antara kepemilikan manajerial dengan risiko.

  8. Menguji hubungan substitusi antara resiko dengan kepemilikan manajerial.

3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat untuk :

1.  Bagi penulis, bermanfaat sebagai media untuk menerapkan dan mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh selama kuliah dan juga untuk menambah pengalaman di bidang penelitian.

2.   Bagi perusahaan, pialang, investor dan manajer investasi, sebagai pertimbangan dan sumbangan penelitian bagi perusahaan dalam merumuskan strategi perusahaan, pilang, investor dan manajer investasi dan sebagai bahan perbandingan terhadap langkah-langkah yang telah diambil.

3.   Bagi pihak lain, sebagai sumbangan informasi pada semua pihak yang terkait dengan topik penelitian ini sekaligus sebagai bahan perbandingan untuk peneliti-peneliti lain.

4. Landasan Teori

4.1 Kepemilikan Manajerial

Risiko merupakan indikator ketidakstabilan harga saham dan return yang diterima oleh pemegang saham. Menurut Damzet dan Lehn (1985), hubungan antara risiko dengan kepemilikan manajerial, dimana perusahaan yang beroperasi pada pasar berisiko tinggi mengalami kesulitan dalam memonitor kondisi eksternal sehingga manajer yang risk aversion, hubungan risiko tinggi dengan kepemilikan manajerial berubah menjadi negatif. Pada tingkat risiko tinggi manajer mengurangi keterlibatan dalam kepemilikan saham dan membatasi penawaran kepemilikan manajerial. Manajer melakukan diversivikasi dengan persyaratan mendapatkan expected rate of return lebih besar dibandingkan dengan insentif yang diterima dari peningkatan risiko (Damzetz dan Lehn, 1995)

Menurut Crutchey dan Hansen (1989), Jenson, Solberg dan Zorn (1992), terdapat hubungan positif antara risiko dengan kepemilikan manajerial tetapi hasil penelitian Jenson, Solberg dan Zorn (1992) tidaklah signifikan. Penelitian Crutchey dan Hansen, menghasilkan estimasi positif signifikan. Hubungan ini terjadi pada manajer yang risk seeker. Peningkatan kepemilikan manajerial berarti mensejajarkan kedudukan manajer seperti pemilik atau pemegang saham sehingga bertanggung jawab terhadap kinerja perusahaan. Pada kondisi ini manajer melakukan diversivikasi kekayaan secara optimal pada kesempatan investasi lain sehingga menurunkan risiko. Penelitian Damzetz dan Lehn (1985), melakukan pemisahan kedua tingkat risiko sedangkan penelitian Crutchley dan Hansen (1989); Jensen, Solberg dan Zorn (1992): Bathala, Moon dan Rao (1994), tidak memisahkan antara risiko tinggi dan rendah.

Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan kepemilikan institusional berpengaruh secara positif terhadap kepemilikan manajerial. Kepemilikan institusional secara meyoritas akan mengurangi kemungkinan perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk memperbesar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri dan Mamduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan semakin meningkatkan pengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan.

Menurut Crutchley dan Hansen (1989), Sena Chen dan Steiner (1999) terdapat hubungan positif antara risiko dengan kepemilikan manajreial. Hubungan ini terjadi pada Manajer yang risk taker. Peningkatan risiko menyebabkan perusahaan mengurangi pembayaran mengurangi pembayaran dividen tetapi meningkatkan kepemilikan manajerial dan utang. Namun Wahidahwati (2002) menemukan adanya hubungan antara risiko dan kepemilikan manajerial. (Imanda Firmantyas Putri dan Moh. Nasir, 2005)

Proporsi Utang yang besar akan menempatkan manajer di bawah pengawasan debtholder dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan oleh debtholder tersebut, sehingga pengaruh kebijakan utang terhadap kepemilikan manajerial adalah negtif. Kontras dengan pernyataan di atas, Fitri dan Mamduh (2003) menyatakan adanya pengaruh positif. Pernyataan ini berdasarkan pada asumsi bahwa penggunaan utang akan mengurangi kebutuhan penerbitan saham baru sehingga meningkatkan proporsi kepemilikan manajerial.

Hubungan antara dividen dan kepemilikan manajerial dapat dijelaskan melalui free cash flow hypothesis (FCF) (Jensen, 1986). Melalui hipotesis ini kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan manajerial sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan substitusi antara kebijakan dividen dan kepemilikan manajerial.

4.2 Kebijakan Utang

Menurut Friend dan Lang (1988), kepemilikan manajerial memiliki hubungan kausal terbalik atau substitusi dengan utang. Pada kepemilikan manajerial tinggi menurunkan penggunaan utang karena penggunaan utang tinggi menyebabkan biaya kebangkrutan dan financial distress. Selanjutnya keduanya menambahkan bahwa pihak internal yang menjadi pemegang saham mayoritas sedikit terdiversivikasi dan menginginkan insentif dalam jumlah besar untuk mengurangi risiko finansial. Selain itu dijelaskan bahwa perusahaan dengan kepemilikan manajerial tinggi seharusnya memiliki equity agency cost rendah tetapi memiliki debt agency cost tinggi. Hal ini disebabkan insentif yang diberikan kepada manajer disejajarkan dengan pemilik daripada dengan kreditur. Kepemilikan manajerial tinggi menyebabkan peningkatan biaya keagenan utang sehingga manajer mengurangi penggunaan utang. Dalam menentukan kuantitas utang manajer mempertimbangkan kemungkinan ancaman leverage buy out (LBO’s) karena penggunaan utang kecil atau nol, (Brigham, Gapenski, 1999)

Pada sisi lain Kim dan Sarenson (1986) menyatakan hubungan positif antara kepemilikan manajerial dengan utang. Hubungan ini dipelajari dari hipotesis permintaan dan penawaran. Dalam hipotesis permintaan dijelaskan bahwa bahwa perusahaan yang dikuasai oleh insider atau perusahaan tertutup menggunakan utang dalam jumlah besar untuk mendanai perusahaan. Dalam hipotesis penawaran dijelaskan bahwa perusahaan yang dikontrol oleh insider memiliki debt agency cost kecil sehingga meningkatkan penggunaan utang. Berdasarkan hipotesis ini disimpulkan bahwa perusahaan tertutup memiliki debt agency cost terendah sehingga cenderung menggunakan utang dalam jumlah besar.

Dividen memiliki hubungan kausal negatif dengan kebijakan utang (Jensen, Solberg dan Zorn, 1992). Perusahaan menurunkan pembayaran dividen karena sebagian keuntungan digunakan untuk membayar utang. Pengurangan proporsi keuntungan dalam bentuk dividen dapat mengurangi konflik keagenan antara stockholder dan bondholder. Hubungan kausal negatif antara dividen dengan utang menunjukkan terjadi substitusi pada kedua kebijakan. Penggunaan utang tinggi diikuti dengan pembayaran dividen rendah atau sebaliknya (Jensen 1986)

Kepemilikan manajerial dan kebijakn utang memiliki hubungan negatif. (Chen dan Steiner, 1999) Hal ini dikarena adanya faktor substitusi antara keduanya.

Semakin tinggi kepemilikan institusional maka diharapkan semakin kuat kontrol internal terhadap perusahaan dimana akan dapat mengurangi agency cost pada perusahaan. Adanya kontrol ini akan membuat manajer menggunakan utang pada tingkat rendah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya finansial distress dan kebangkrutan perusahaan. (Crutchley, et.al, 1999)

Chen dan Steiner (1999) menunjukkan bahwa pada kondisi risiko tinggi manajer memilih proyek berisiko tinggi dengan tujuan mendapat return tinggi. Pengurangan risiko dilakukan dengan menggunakan pendanaan utang dari pihak kreditur. Namun penggunaan utang pada tingkat risiko tinggi dapat mengurangi biaya keagenan ekuitas namun memicu biaya keagenan utang.

Megginson (1997) dalam Mahadwarta menyatakan bahwa free cash flow hypothesys dapat digunakan untuk memprediksi hubungan interdependensi antara kebijakan utang dan kebijakan dividen perusahaan. Dividen mempunyai utang dengan hubungan yang positif. Perusahaan yang membagikan dividennya dalam dalam jumlah besar memerlukan tambahan dana melaui utang untuk membiayai investasinya.

4.3 Kebijakan Dividen

Menurut Rozeff (1982), kepemilikan manajerial yang tinggi menyebabkan deviden yang dibayarkan pada pemegang saham rendah. Penetapan dividen rendah disebabkan manajer memiliki harapan investasi dimasa mendatang yang dibiayai oleh sumber internal. Apabila sebagian sebagian besar pemegang saham menyukai dividen tinggi maka menimbulkan perbedaan kepentingan sehingga diperlukan peningkatan dividen. Sebaliknya, apabila terjadi kesamaan preferensi antara pemegang saham dan menejer maka tidak diperlukan peningkatan dividen. Pada sisi lain penambahan dividen memperkuat posisi perusahaan untuk mencari tambahan dana dari pasar modal. Pengawasan ini menyebabkan menejer berusaha mempertahankan kualitas kinerja dan tindakan ini menurunkan konflik keagenan. Selanjutnya Rozeff(1982), menyatakan bahwa kebijakan dividen dan pemilikan manajerial yang besar membayar dividen dalam jumlah kecil sedangkan pada persentase kepemilikan manajerial kecil menetapkan dividen pada jumlah besar.

Menurut Kale dan Noe (1990), dividen merupakan sinyal dan stabilitas aliran kas dimasa mendatang Perusahaan yang memiliki aliran kas stabil membayar dividen lebih tinggi dibandingkan perusahaan perusalaan yang memiliki aliran kas tidak stabil. Aliran kas yang tidak stabil menunjukkan peningkatan tingkat tingkat risiko yang ditanggung oleh perusahaan. Berdasarkan penjelasan ini dividen digunakan sebagai sinyal atas risiko yang sistematik maupun yang tidak sistematik. Pada tingkat risiko tinggi perusahaan membagi dividen dalam jumlah kecil karena sebagian keuntungan dialokasikan pada laba ditahan. Alokasi keuntungan ini digunakan sebagai sumber internal bagi kepentingan pertumbuhan. Keputusan menetatpkan dividen kecil pada tingkat risiko tinggi dapat memperkecil konflik keagenan.

Semakin banyak saham yang dimiliki oleh manajer akan semakin menurunkan masalah keagenan sehingga membuat dividen tidak perlu dibayarkan pada risiko yang tinggi. Dalam hal ini berarti kepemilikan manajerial mempengaruhi kebijakan dividen yang negatif.

Dengan jumlah investasi yang tinggi, investor institusional melakukan monitoring yang semakin ketat dan menghalangi perilaku oportunis manajer. Monitoring oleh investor institusional ini dapat dapat mengurangi agency cost dalam hal ini yaitu biaya yang ditanggung pemilik untuk mengawasi agen seperti biaya audit, sehingga dividen yang dibayarkan juga menurun. Kehadiran kepemilikan institusional memiliki efek substitusi bagi pembayaran dividen untuk mengurangi biaya keagenan.

Menurut Chen dan Steiner (1999), variabel risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dengan tingginya risiko bisnis yang dihadapi oleh perusahaan akan diantisipasi dengan kebijakan pembayaran dividen yang rendah. Dividen yang rendah dapat digunakan untuk menghindari pemotongan dividen di masa mendatang sehingga mengalokasikan sebagian keuntungan pada lab ditahan dapat digunakan untuk invesatasi lebih lanjut. (Imanda Firmantyas Putri dan Moh. Nasir, 2005)

Melalui penjelasan balancing model of agency cost, Megginson(1997) dalam Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa kebijakan dividen dengan hubungan negatif. Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi akan berusaha untuk mengurangi agency cost debt-nya dengan mengurangi utang. Sehingga untuk membiayai investasinya digunakan pendanaan dari aliran kas internal. Pemegang saham akan merelakan aliran kas internal yang sebelumnya dapat digunakan untuk pembayaran dividen untuk membiayai investasi.

4.4 Risiko

Memahami hubungan antara kepemilikan manajerial dengan risiko dijelaskan melalui pengaruh struktur kepemilikan terhadap penerimaan risiko (risk taking). Sounders, Stock dan Travlos (1990), kepemilikan manajerial tinggi menimbulkan konflik keagenan antara stockholder dengan bondholder. Hubungan ini dijelaskan melalui kepemilikan call option. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa saham yang dimiliki oleh menejer dianggap sebagai call options. Harga pelaksanaan opsi (exercise price) sama dengan tingkat tingkat penggunaan utang dan meningkat sesuai dengan peningkatan nilai perusahaan. Harga terendah opsi dibatasi dengan nilai nol. Nilai opsi meningkat sesuai dengan peningkatan risiko perusahaan. Berdasarkan pemahaman ini manajer yang memiliki saham besar menginginkan nilai opsi yang tinggi sehingga risiko perusahaan meningkat. Dalam menghadapi risiko tinggi manajer membagi risiko dengan bondholder sehingga terjadi transfer kekayaan dari bondholder kepada stockholder (wealth transfer effect).

Sebaliknya Penelitian May (1995), menyatakan bahwa manajer yang risk aversion melakukan diversivikasi secara optimal untuk mengurangi risiko pribadi. Pada saat kekayaan pribadi tidak terdiversivikasi, manajer menuntut insentif tinggi untuk mengimbangi risiko yang diterima. Kondisi ini menyebabkan Manjet (CEO) termotivasi memperkecil risiko melalui diversivikasi. Selain itu Chen, Stainer dan Whyte (1998), menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kepemilikan manajerial dengan penerimaan risiko. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada saat tingkat risiko tinggi, manajer berperilaku risk aversion sehingga mengurangi keterlibatan dalam kepemilikan saham. Manajer memilih mengalihkan kekayaan pribadi pada investasi lain atau pada lembaga keuangan.

Chen dan Steiner (1999) mengobservasi bahwa kepemilikan manajerial secara positif mempengaruhi risiko yang konsiten dengan argumen bahwa tingginya kepemilikan manajerial akan mengakibatkan ketidak kompakan dan meningkatkan risiko perusahaan.

Hasil penelitian Fitri dan Mamduh (2003) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara variabel kepemilikan institusional terhadap risiko. Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin kuat kendali yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan, sehingga menyebabkan rendahnya risiko perusahaan. Hasil ini memperkuat asumsi bahwa kepemilikan institusional efektif digunakan sebagai alat monitoring manajemen.

Melalui hipotesis financial leverage dalam Chen dan Steiner (1999) dapat dijelaskan bahwa kebijakan utang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap risiko. Perusahaan menggunakan finansial laverage untuk mendanai sebagian besar aktiva. Peningkatan utang akan meningkatkan risiko finansial distress dan kebangkrutan sehingga kebijakan utang berhubungan positif terhadap risiko. Peningkatan risiko keuangan berarti menimbulkan konflik sehingga diperlukan pengaturan terhadap penggunaan utang untuk mengurangi konflik keagenan. (Imanda Firmantyas Putri dan Moh. Nasir, 2005)

Berdasarkan pada free cash flow hypothesis dapat dinyatakan bahwa pengaruh dividen terhadap risiko adalah negatif, dimana semakin tinggi dividen menyebabkan semakin berkurangnya free cash flow dalam perusahaan dan secara otomatis mengurangi konflik keagenan sehingga akan mengurangi risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan. (Fitri dan mamduh, 2003)

4.5 Kepemilikan Institusional.

Tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional akan mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003)

Risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham perusahaan ini karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas pendapatan (Fitri dan Mamduh, 2003)

Menurut Crutchley et al (1999), pengaruh kebijakan utang terhadap kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan utang yang tinggi memyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders. Karena monitoring dalam perusahaan yang ketat tadi menyebabkan manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga kondisi ini akan menarik masuknya kepemilikan institusional.

Variabel kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif terhadap kepemilikan institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin akan lebih tertarik untuk berivestasi pada saham dengan dividen tinggi dan mekanisme monitoring yang ketat.

4.7 Penelitian Terdahulu.

Chalimah, 2006, meneliti Keterkaitan Antara Kebijakan Utang, Dividen, Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Institusional dalam Rangka Mengurangi Konflik antara Manajer dengan Pemilik Modal. Jumlah Sampel 104 data tahun 1999-2002 dari BEJ. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa Utang berhubungan negatif dengan dividen, kepemilikan manajerial berhubungan negatif dengan kepemilikan institusional. Hubungan antara utang dan kepemilikan manajerial, utang dengan kepemilikan Institusional, dan dividen dengan kepemilikan manajerial menunjukkan hasil yang tidak signifikan. (Sebagian Variabel Endogen memiliki keterkaitan antar variabel)

Silvi dan Lestari, 2008, melakukan analisis Simultan antara kepemilikan Manajerial, Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, dan Kebijakan Risiko, dalam perspektif Teoti keageanan. Jumlah Sampel 466 data tahun 1994-2004. Menyimpulkan bahwa Risiko tidak memiliki hubungan dengan kepemilikan manajerial, kepemilikan manajerial mempunyai hubungan substitusi yang tidak signifikan terhadap utang. Deviden tidak memiliki hubungan dengan utang. Kepemilikan manajerial dan dividen tidak ada hubungan yang signifikan. Kepemilikan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan risiko. Kesimpulan umumnya adalah tidak ada keterkaitan antara variabel Endogen.

Imanda FP dan M. Nasir meneliti Persamaan Simultan kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Utang dan kebijakan Dividen dalam Perspektif Teori Keagenan, menyimpulkan bahwa ada interdependensi dari seluruh variabel endogen. Jumlah sampel adalah 166 dari 758 populasi data tahun 2000-2004.

4.6 Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis dalam model simultan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.

Hubungan antara Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Utang, Kebijakan Deviden, dan Resiko dalam Perspektif Teori Keagenan pada perusahaan manufaktur yang go publik di BEI

0100090000037400000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000050000000c025903bd07040000002e0118001c000000fb02c4ff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e0000000000000000000000000000000000040000002d0100000400000002010100050000000902000000020d000000320a350000000100040000000000bc075703204f1b001c000000fb021000070000000000bc02000000000102022253797374656d00000000000000000000180000000100000078252602e4040000040000002d010100030000000000

Sumber : Imanda F dan M. Nasir, 2005

4.6 Devinisi Operasional

Devinisi operasional dari model simultan ini adalah :

  1. Kepemilikan Manajerial adalah dalam hal ini adalah merupakan proxy dari Insider yaitu berupa prosentase saham yang dimiliki oleh direktur dan komisaris pada akhir tahun terhadap total jumlah saham yang beredar dipasar saham (BEI), yaitu pada 104 perusahaan manufaktur yang go publics di BEI pada tahun 2006-2007. Diperoleh dengan menggunakan data ICMD (Indonesia Capital Market Directory)

  2. Kebijakan Dividen adalah merupakan rasio dati total dividen dibagi dengan EBT (Earning before tax) sama dengan Dividen per share yang dibayarkan oleh perusahaan tertentu pada tahun tertentu dibagi EAT per share pada perusahaan tertentu pada tahun tertentu. Dalam hal ini adalah 104 perusahaan manufaktur yang go publics di BEI pada tahun 2006-2007. Diperoleh dengan menggunakan data ICMD (Indonesia Capital Market Directory)

  3. Kebijakan Utang adalah rasio utang dibagi total aset yang diambil dari 104 perusahaan manufaktur yang go publics di BEI pada tahun 2006-2007. Diperoleh dengan menggunakan data ICMD (Indonesia Capital Market Directory)

  4. Resiko perusahaan (RISK) yang banyak digunakan adalah leverage (total ekuitas dibagi dengan total Utang) dari 104 perusahaan manufaktur di BEI atau diperoleh dengan menggunakan data ICMD (Indonesia Capital Market Directory) Periode tahun 2006-2007.

  5. Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham institusional dan blochorders terhadap total saham dari 104 perusahaan manufaktur di BEI atau diperoleh dengan menggunakan data ICMD (Indonesia Capital Market Directory) Periode tahun 2006-2007.

4.7 Hipotesis

Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

  1. H1 : pengaruh Variabel kepemilikan institusional, risiko, dividen dan utang terhadap kepemilikan manajerial.

H1a : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

H1b : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

H1c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

H1d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

  1. H2 : pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial institusional, Dividen dan risiko terhadap kepemilikan utang.

H2a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

H2b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijaan utang.

H2c : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

H2d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn utang.

  1. H3 : pengaruh Variabel kepemilikan manajerial, institusional, risiko dan utang terhadap bijakan dividen.

H3a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

H3b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

H3c : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

H3d : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

  1. H4 : pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial, institusional, dividen dan utang terhadap risiko.

H4a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

H4b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn pengambilan risiko.

H4c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

H4d : Kebijak dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

  1. H5 : pengharuh Variabel Kepemilikan Manajerial, utang, dividen dan risiko terhadap kepemilikan institusioanal

H5a : Kepemilikan manajerial mempunyai mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

H5b : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

H5c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

H5d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

5. Metode Penelitian

5.1 Pemilihan Sampel Penelitian

Pemilihan sampel penelitian dilakukan secara purposive sampling untuk mendapatkan sampel yang dapat mewakili kriteria yang ditentukan. Kriteria sampel penelitian adalah 104 Perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama periode 2006 – 2007

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan periode pengamatan 2006-2007 dari Indonesia Capital market Directory (ICMD). Sampel dipilih dengan menggunakan purposive sampling dengan kriteria memiliki laporan keuangan selama periode pengamatan dan dipublikasikan dalam ICMD, mempunyai informasi kepemilikan saham direktur dan komisaris, memiliki informasi pembagian dividen, memiliki informasi variabel resiko, memiliki informasi variabel utang dan memiliki informasi yang berkaitan dengan pengukuran variabel eksogen atau variabel kontrol, yaitu meliputi

5.2 Variabel-Variabel Penelitian

5.2.1 Variabel Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan Manajerial sebagai variabel endogen diformulasikan dalam bentuk proxy dari Prosentase saham yang dimiliki direktur dan komisaris pada akhir tahun terhadap total saham yang beredar. Variabel kepemilikan Manajerial dirumuskan sebagai :

Satuan masing-masing adalah lembar saham dan kerena merupakan rasio dan dikalikan dengan persen maka satuannya adalah persen (%)

5.2.2 Variabel Kebijakan Utang

Kebijakan utang merupakan kebijakan perusahaan dalam mendapatkan sumber pendapatan berupa pinjaman baik kredit, utang lancar ataupun menjual obligasi perusahaan. Variabel yang menjadikan acuan dalam penelitian ini merupakan proxy dari rasio total utang terhadap total aset. Dirumuskan dalam persamaan matematika sebagai berikut :

Merupakan gambaran daripada kemampuan perusahaan untuk medapatkan utang yang merupakan proporsi utang terhadap aset perusahaan. Karena satuan rupiah dibagi satuan rupiah dan dikalikan prosentase maka satuannya adalah prosentase.

5.2.3 Variabel Kebijakan Dividen

Kebijakan Dividen merupakan rasio daripada total dividen yang dibagi terhadap pendapatan sebelum pajak (EBT). Rumusannya adalah :

Div/share merupakan Dividen yang dibayarkan perusahaan i pada periode t pada setiap lembar saham. EAT/Share merupakan besarnya earning per share pada perusahaan i pada periode t.

5.2.4 Variabel Kebijakan Risiko

Risiko perusahaan diambilkan dari besarnya laverage perusahaan yaitu :

Merupakan besarnya ekuitas atau kepemilikan modal/saham dibagi dengan besarnya utang yang harus ditanggun perusahaan.

5.2.5 Variabel Institusi

Merupakan prosentase saham yang dimiliki oleh institusi pada akhir tahun terhadap total saham yang beredar di pasaran. Dapat dirumuskan :

Institusi merupakan variabel kontrol atau eksogen dari persamaan simultan dalam model ini.

5.2.6 Variabel Value

Value merupakan nilai saham/ekuitas yang dimiliki perusahaan. Penggunaan log maupun logarisma natural merupakan hal penting karena merupakan nilai saham yang diperoleh pada setiap akhir tahun buku. Pengunaan Log merupakan ukuran pertumbuhan dan Ln merupakan ukuran elastisitas dari Value.

5.2.7 Variabel Tobin’s q

Tobin’s q merupakan penentuan tentang harga asset dimana proxy yang digunakan adalah dirumuskan dengan :

5.2.8 Variabel ROA (Return on Assets)

Variabel ROA merupakan rasio dari pada :

Merupakan kemamapuan dari modal atau aset perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (return) pada perusahaan.

5.2.9 Variabel Pertumbuhan (Growth)

Variabel Pertumbuhan merupakan merupakan pertumbuhan pendapatan atau penjualan pada peride saat ini dari periode sebelumya. Dirumuskan sebagai :

Atau,

5.2.10 Variabel Ukuran perusahaan (Size)

Variabe ukuran perusahaan (Size) adalah : Logaritma dari tolat asset perusahaan. Satuannya dari rupiah menjadi prosentase ataumerupakan sebuah elstisitas dari pertumbuhan asset.

5.2.11 Variabel Fixed

Variabel Fixed merupakan merupakan rasio dari Aset tetap terhadap total aset. Dapat dirumuskan sebagai berikut :

Satuan merupakan prosentase guna membentuk satuan yang sama dari variabel yang lain.

5.3 Teknik Analisis

Penelitian ini mengembangkan model persamaan simultan untuk mengetahui hubungan interdepensi pada kedua variabel bebas. Model simuitan terdiri lebih dari satu variabel tidak bebas (endogenous variable) dan lebih dari satu persamaan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan lebih dari satu persamaan yaitu persamaan kebijakan utang dan kebijakan dividen. Persamaan simultan berbeda dengan model persamaan tunggal. Persamaan tunggal memiliki satu persamaan yang menghubungkan variabel endogen tunggal dengan sejumlah variabel eksogen. Ciri dari model persamaan simultan adalah variabel endogen dalam saiah satu persamaan dimungkinkan muncul pada persamaan lain dalam sistem. Hubungan interdependensi menyebabkan variabel endogen yang menjelaskan (dependent explanatory variable) menjadi stokastik dan terkorelasi dengan gangguan (disturbance) dari persamaan yang muncul sebagai variabel yang menjelaskan.

Metode kuadrat terkecil klasik (Ordinary least Square) tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada persamaan simultan karena menghasilkan estimasi yang tidak konsisten dan bias. Penggunaan metoda OLS untuk persamaan simultan akan menghasilkan estimator yang tidak BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Hal ini disebabkan karena adanya korelasi antara variabel endogen pada persamaan simultan pertama dengan epsilon pada persamaan kedua. Dengan keterbatasan OLS maka penelitian ini menggunakan metoda Two-Stage Least Square (2-SLS) untuk mengestimasi parameter pada kedua persamaan. Metode ini menghasilkan estimasi parameter secara konsisten dan tidak bias dibandingkan dengan metode OLS.

Di dalam model persamaan simultan sebelum melakukan estimasi parameter dengan metoda 2-SLS model harus memenuhi order condition. Berdasarkan kriteria maka dalam mengestimasi parameter dengan metode 2-SLS, model harus pada kondisi over identified atau exactly identified.

Formulasi dari kriteria identifikasi adalah : (K – k) ≥ (m – I)

Keterangan :

K = Jumlah variabel dalam Model

k = Jumlah varlabel eksogen dan endogen pada persamaan utama

m = Jumlah persamaan

(K – k) > (m – I) = berarti persamaan dalam kondisi over Identified.

(K – k) = (m -1) = berarti persamaan dalam kondisi exactly identified.

(K – k) < (m -1) = berarti persamaan dalam kondisi under identified.

Identifikasi mengenai order condition dari kedua persamaan yang digunakan dalam model penelitian dapat dijelaskan pada tabel.

Tabel. 2
Pengujian Identifikasi Persamaan

Variabel Endogen

(K- k)

(m – 1)

Hasil

Keterangan

Manag

12-7

5-1

5>4

Over identified

Debt

12-7

5-1

5>4

Over identified

Div

12-8

5-1

4>4

Exactly identified

Risk

12-6

5-1

6>4

Over identified

Institusi

12-7

5-1

5>4

Over identified

Berdasarkan penjelasan pada tabel diketahui bahwa persamaan Manag, Debt, Div dan Risk pada kondisi Over Identified. Berdasarkan identifikasi pada order condition maka penelitian ini dapat menerapkan metode estimasi 2- SLS.

5.4 Pengujian Hipotesis

Model persamaan simultan untuk menganalisis simultan/keterkaitan antara Kepemilikan Modal, Utang, Dividen, dan Risiko adalah :

Persamaan 1 :

Pengaruh risiko, Utang, Dividen, Kepemilikan Instirusional, Ekuitas, dan Harga Asset terhadap kepemilikan manajerial dirumuskan sebagai berikut :

Persamaan 2 :

Pengaruh Manajerial, Risiko, Dividen, Utang, ROA dan Pertumbuhan terhadap kepemilikan Institusional dirumuskan sebagai berikut :

Persamaan 3

Pengaruh Manajerial, Risiko, Dividen, Institusional ROA, Pertumbuhan dan Harga Asset terhadap utang dirumuskan sebagai berikut : Persamaan 4 :

Pengaruh manajerial, risiko, utang, institusional, ROA, pertumbuhan dan harga asset terhadap Dividen dapat dirumuskan sebagai berikut :

Persamaan 5 :

Pengaruh Manajerial, Utang, Ukuran Perusahaan, Harta Tetap dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

Variabel Endogen.

Man = Kepemilikan Manajerial merupakan proporsi kepemilikan saham manajerial terhadap terhadap total saham.

Debt = Kebijakan Utang

Div = Dividen

Risk = Risiko

Variabel Eksogen

Ins = Kepemilikan Institusional.

Val = Total ekuitas perusahaan.

Tobin’s q = Harga Asset perusahaan.

ROA = Return on Asset

Grw = pertumbuhan perusahaan

Size = Ukuran Perusahaan.

Fixed = kekayaan tetap

Hasil persamaan simultan ini akan memperlihatkan hasil hubungan simulatan antara model dan persamaan di atas dengan menggunakan alat analisis SPSS 12 dengan model 2 SLS.

5.5 Uji Statistik

Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fitnya. Secara statistik, dapat diukur dari nilai statistik F, dan nilai statistik t :

  1. Pengujian Koefisien Regresi Secara Serentak (Uji F)

Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara keseluruhan signifikan secara statistik dalam mempengaruhi variabel dependen. Apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel maka variabel-variabel independen secara keseluruhan berpengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis yang digunakan :

Ho : b1 = b2 = ……………………………….= B1 = 0

Hi : b1 # b2 = ……………………………….= Bi # 0, atau paling tidak ada sebuah Bi # 0.

Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut :

…………………………………………………………………… (3)

Dimana :

k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta.

N = jumlah observasi.

Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut :

    1. Ho diterima dan Hi ditolak apabila F hitung < F tabel, yang artinya variabel penjelas secara serentak atau bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.

    2. Ho ditolak dan Hi diterima apabila F hitung > F tabel, yang artinya variabel penjelas secara serentak atau bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.

Hasil perhitungan uji F akan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut

  1. H1 : pengaruh Variabel kepemilikan institusional, risiko, dividen dan utang terhadap kepemilikan manajerial.

  2. H2 : pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial institusional, Dividen dan risiko terhadap kepemilikan utang.

  3. H3 : pengaruh Variabel kepemilikan manajerial, institusional, risiko dan utang terhadap bijakan dividen.

  4. H4 : pengaruh Variabel Kepemilikan manajerial, institusional, dividen dan utang terhadap risiko.

  5. H5 : pengharuh Variabel Kepemilikan Manajerial, utang, dividen dan risiko terhadap kepemilikan institusioanal

Uji F ini akan mengukur apakah ada pengaruh atau tidak variabel eksogen terhadap variabel endogen?

  1. Pengujian koefisien Regresi Secara Individual (Uji t)

Uji t dilakukan untuk mengetahui berarti tidaknya suatu variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Mula-mula ditentukan hipotesis nol atau Null Hypotesis (Ho) yang menyatakan bahwa masing-masing variabel penjelas berpengaruh terhadap variabel yang dijelaskan secara individu.

Ho : bi = 0, i = 1,2,3,……….k

Hi : bi # 0, i = 1,2,3,……….k

Dimana :

bi = koefisien regresi masing-masing variabel penjelas

k = jumlah variabel yang digunakan

Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1997 :124) :

………………………………………………………………………………. (4)

Dimana :

βi = Parameter yang diestimasi

βi * = Nilai hipotesis dari βi (Ho : βi = βi *)

SE (βi ) = Simpangan baku βi

Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Ho ditolak apabila t hitung > t tabel, yang berarti variabel independen (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

  2. Ho diterima apabila t hitung < t tabel, yang berarti independen (X) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).

Berikut ini hasil yang diharapkan dari uji t :

    1. H1a : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

    2. H1b : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

    3. H1c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

    4. H1d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan manajerial.

    5. H2a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

    6. H2b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijaan utang.

    7. H2c : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan utang.

    8. H2d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn utang.

    9. H3a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

    10. H3b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

    11. H3c : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

    12. H3d : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

    13. H4a : Kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

    14. H4b : Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakn pengambilan risiko.

    15. H4c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

    16. H4d : Kebijak dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan pengambilan risiko.

    17. H5a : Kepemilikan manajerial mempunyai mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

    18. H5b : Kebijakan pengambilan risiko mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

    19. H5c : Kebijakan utang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

    20. H5d : Kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepemilikan institusional.

Uji t akan menghitung secara parsial dari variabel eksogen terhadap endaogen.

5.6 Analisis Variabel Yang Mempengaruhi (Eksogen terhadap Endogen)

Koefisien regresi dalam persamaan regresi linier berganda yang menggunakan SPSS For Windows nilainya dapat diketahui dalam unstandardized coefficients, dengan melihat beta masing-masing variabel penelitian. Unstandardized coefficients ini dipergunakan karena di dalamnya terdapat nilai konstanta.

Untuk menentukan variabel independen yang memiliki pengaruh paling dominan dalam model regresi, dipergunakan Unstandardized coefficients, dengan melihat beta dari masing-masing variabel independen. Variabel independen dengan nilai beta terbesar merupakan variabel yang domonan. Unstandardized coefficients ini dipergunakan untuk analisis variabel yang dominan berpengaruh, dikarenakan variabel dalam penelitian merupakan variabel dengan unit ukuran yang berbeda (persen, rupiah) ukuran variabel-variabel ini perlu disandarkan dahulu dalam rangka penentuan variabel dominan, oleh karena itulah maka dipergunakan unstandardized coefficients.

Daftar Pustaka

Bathala CT, KP moon dan RP Rao, 1994. Manajerial Ownership, debt policy, and impact of institutions holding: An Agency Prespective. Financial management. 23 : Hal. 38-50

Brigham Engene F., Gapensky Louis, C Daves and Philip R. 1999. Intermediate Financial Management. Sixth editions. Orlando : The Dryen Press.

Budi Sutrisno, Retno. 2001. Informasi Laba Perusahaan Hubungannya Dengan Dinamika Perubahan Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta Tahun 2001(Suatu Tinjauan Aspek Informasi Laba Perusahaan). tulisan lepas di down load dari search google.co.id.

Chalimah . 2006. Keterkaitan antara kebijakan Utang, Dividen, Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Institusional dalam Mengurangi Konflik antara manajer dan Pemilik Modal. Jurnal Keuangan dan Perbankan, No. 2 Mei 2006. Hal 310 – 324

Crutchley C dan Hansen. 1989. A Test the Agency theory of Manajerial Owner Corporate Leverage and Corporate Dividend. Financial Management, 18: Hal 177 – 197.

Demzet, H., dan K. Lehn (1985). The Structure of Corporate of Corporate Ownership : Causes and Consequences, Journal of Political Economy, 93, 1155-1177.

Husnan, Suad. 1998. Dasar-Dasar portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

I.F. Putri , Nasir, 2005 . Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Utang, Dan Kebijakan Dividen dalam Perspektif teori Keagenan. Jurnal Media Ekonomi dan Bisnis. FE UNDIP. 2005

Jensen , MC. 1986. Agency Cost and Free Cash Flow, Corporate Finance and Take Over. American Economics Review. Vol 76

Kertonegoro, Sentanoe. 1996. Pasar Uang Pasar Modal. Jakarta: Yayasan Tenaga Kerja Indonesia.

Melisa Silvi, Wiwik Lestari. 2008. Analisis Simultan Antara Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, dan Risiko dalam Perspektif Teori Keagenan. EKOBIS. Vol.9, No. 1 Januari 2008. Hal 39-49.

Advertisements

4 thoughts on “ANALISIS SIMULTAN

  1. pak…penelitrian ini hampir sama dengan skripsi yang saya sedang susun..
    boleh tidak pak..saya minta softcopynya…
    mohon bantuannya ya pak tuk referensi saya…
    maap banged kalo saya sudah lancang…
    saya bener-bener membutuhkannya pak…
    terimakasih banyak ya pak..

  2. maaf pak, apakah sy boleh tau nama peneliti dari penelitian ini? saya bisa dapatkan artikel penelitian drmn pak? dipublish atau tidak penelitian ini pak? trmksh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s