HIV


PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU STAKEHOLDERS DI LINGKUNGAN PEME <!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } A:link { color: #0000ff } –>

  1. ANALISA SITUASI

HIV dan AIDS adalah pekerjaan rumah bagi semua negaera yang ada di seluruh dunia saat ini, semua pemerintah seakan dihadapkan pada batu besar yang menghalangi jalan mereka dan mereka harus bias memecahkan batu tersebut. Di seluruh dunia lebih dari 20 juta orang meninggal sementara 40 juta orang telah terinfeksi. HIV dan AIDS merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pembangunan sosial ekonomi, stabilitas dan keamanan pada negara-negara berkembang. HIV dan AIDS telah menyebabkan kemiskinan yang semakin parah. Fakta yang lebih memprihatinkan adalah bahwa di seluruh dunia setiap hari virus HIV menular kepada sekitar 2000 anak di bawah 15 tahun, terutama berasal dari penularan ibu-bayi, menewaskan 1400 anak di bawah 15 tahun, dan menginfeksi lebih dari 6000 orang muda dalam usia produktif antara 15-24 tahun yang juga merupakan mayoritas dari orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Di tahun-tahun mendatang tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS semakin besar dan rumit sehingga diperlukan strategi baru untuk menghadapinya. Perlu diubahnya upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang semula cenderung berjalan sendiri-sendiri menjadi upaya yang komprehensif, terpadu, dan diselenggarakan secara sinergis oleh semua pemangku kepentingan (stakeholders).

Akselerasi upaya perawatan, pengobatan dan dukungan kepada ODHA dijalankan bersamaan dengan akselerasi upaya pencegahan baik di lingkungan sub-populasi berperilaku risiko tinggi maupun yang berperilaku risiko rendah dan masyarakat umum.

Distribusi usia penderita AIDS pada 2006 memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan usia 20-29 tahun mencapai 55%, dan bila digabung dengan golongan usia sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89%. Sementara persentase anak 5 tahun kebawah mencapai 1%. Diperkirakan pada 2006 sebanyak 4360 anak tertular HIV dari ibunya yang HIV positif dan separuhnya telah meninggal (KPA, 2008)

Dari data di atas dapat dilihat apabila AIDS tidak segera ditangani dengan baik maka akan semakin banyak penderita HIV / AIDS yang merupakan orang-orang yang berada pada usia produktif, dan kebanyakan mereka sedang bekerja.

Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif (94% pada kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada ketersediaan dan produktivitas angkatan kerja. Epidemi HIV dan AIDS akan meningkatkan terjadinya kemiskinan dan ketidakseimbangan ekonomi yang diakibatkan oleh dampaknya pada individu dan ekonomi. Dari sudut pandang individu HIV dan AIDS berarti tidak dapat masuk kerja, jumlah hari kerja yang berkurang, kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dan umur masa produktif yang lebih pendek.

Dampak individu ini harus diperhitungkan bersamaan dengan dampak ekonomi pada anggota keluarga dan komunitas. Dampak pada dunia bisnis termasuk hilangnya keuntungan dan produktivitas yang diakibatkan oleh berkurangnya semangat kerja, meningkatnya ketidakhadiran karena izin sakit atau merawat anggota keluarga, percepatan masa penggantian pekerja karena kehilangan pekerja yang berpengalaman lebih cepat dari yang seharusnya, menurunnya produktivitas akibat pekerja baru dan bertambahnya investasi untuk melatih mereka. HIV dan AIDS juga berperan dalam berkurangnya motivasi pekerja (takut akan diskriminasi, kehilangan rekan kerja, rasa khawatir) dan juga pada penghasilan pekerja akibat meningkatnya permintaan untuk biaya perawatan medis dari pusat pelayanan kesehatan para pekerja, pensiun dini, pembayaran dini dari dana pensiun akibat kematian dini, dan meningkatnya biaya asuransi. Karena itu pengembangan program pencegahan dan perawatan HIV di tempat kerja dengan keikutsertaan organisasi pengusaha dan pekerja sangatlah penting.

Surabaya,(APIndonesia.Com). Provinsi Jatim menempati urutan keempat dalam kasus HIV/AIDS di Indonesia. Dan yang paling banyak terjadi di Surabaya, yakni 70% atau sekitar 476 jiwa ada di surabaya. faktor pemicunya, selain di surabaya ada tempat lokalisasi terbesar di Asia tenggara, juga karena perubahan perilaku manusia terutama remaja. Hal ini mengingat kasus HIV/AIDS tidak hanya disumbang dari perilaku seks bebas namun juga dari pengguna NAPZA maupun pengguna jarum suntik narkoba. penderita HIV/AIDS yang rata-rata pada usia produktif yakni 20-29 tahun. Berbagai upaya sudah dilakukan baik melalui penyuluhan-penyuluhan di sekolah dan para mahasiswa. namun upaya non teknis penting lainnya yang perlu diperhatikan yakni peran orangtua dalam mendampingi remajanya

Sampai dengan Januari 2008, secara kumulatif jumlah kasus AIDS di Jawa Timur 1.587 orang. Cara penularan kasus AIDS di Prop Jatim berdasarkan faktor risiko terbanyak IDU (47,4%), Heteroseksual (44,5%), Homosek (5,1%). Berdasarkan kelompok umur, sebagaian besar pada kelompok usia produktif yaitu umur 15-49 Th (91%), sedangkan berdasarkan jenis kelamin Laki-laki (76,9%) dan perempuan (23,1%). Jumlah kumulatif kasus AIDS yang meninggal sebanyak 380 orang (CFR=23,94%). Berdasarkan pekerjaan secara kumulatif jenis pekerjaan yang diketahui paling banyak adalah karyawan (18,6%), Wiraswasta (17,4%), PSK (10%), Ibu RT (9,8%)

Diperkirakan 20 juta orang Indonesia rawan terkena HIV/AIDS.Yang sudah terinfeksi sekitar 90 ribu-130 ribu orang. ILO memperkirakan jumlahnya mungkin meningkat pada tahun 2006. Direktur ILO untuk Indonesia, Alan Boulton mengatakan bahwa tempat kerja merupakan kunci penting bagi program pencegahan HIV/AIDS.

program HIV/AIDS di tempat kerja mengurangi tingkat ketidakhadiran, penggantian karyawan dan kehilangan produktivitas, serta membantu karyawan menghadapi masalah diskriminasi dan belajar tentang pencegahan. Enam di antara tujuh perusahaan menunjukkan laba bersih dari program HIV/AIDS mereka, mencapai kurang lebih 47 dolar AS per karyawan pada 2006. Juru bicara IOM Jemini Pandya mengatakan bahwa “kian besar perusahaan, kian besar manfaat yang diperoleh,”mencatat bahwa perusahaan terbesar dengan program HIV/AIDS menghemat hampir 500.000 dolar AS dalam bentuk produktivitas yang mungkin hilang. (Kaiser, 2007)

Menurut IOM, dana yang dikeluarkan perusahaan rata-rata hampir 9.000 dolar AS per karyawan dengan HIV, termasuk biaya pemakaman dan upah pengawas untuk melatih karyawan baru.

Saat ini di Surabaya sendiri semakin hari semakin banyak ditemukan kasus HIV & AIDS pada berbagai lapisan masyarakat, sehingga boleh dikatakan korban sudah mulai berjatuhan. Kasus yang ditemukan saat ini ternyata tidak hanya terbatas pada golongan/usia. Kasus yang ditemukan saat ini sudah beragam, dari yang usia anak-anak sampai dewasa, dan mulai dari kelompok yang berperilaku berisiko tinggi (seperti : pekerja seks, waria, gay, pengguna NAPZA suntik, dll) sampai pada kelompok yang berisiko rendah (seperti : anak-anak, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan karyawan perusahaan). Sampai akhir bulan Maret 2008 data AIDS di Jawa Timur adalah : HIV : 1.159, AIDS : 592, dan meninggal : 321 orang (Sujianto, 2008)

Hal diatas sebaiknya dapat dijadikan wacana bagi masyarakat bahwa HIV & AIDS sudah ada di sekitar kita dan bukan hanya berada pada kelompok yang dianggap berperilaku berisiko tinggi saja, tetapi juga timbul pada kelompok yang selama ini tidak pernah kita jangkau untuk pencegahan seperti ibu rumah tangga dan kelompok Pekerja. dengan demikian diharapkan akan menumbuhkan keberanian dan semangat perjuangan untuk melawannya

Dari seluruh kasus yang dilaporkan lebih dari 80% berasal dari kelompok usia produktif (20-49%). Sebagian dari kelompok usia ini ada di lembaga-lembaga pendidikan, tetapi bagian terbesar ada di dunia kerja. Meluasnya HIV/AIDS akhirnya bukan hanya akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian tetapi juga akan mengakibatkan penurunan kegiatan ekonomi dan pembangunan serta produktifitas negara yang bersangkutan.

Sebagaimana dibelahan dunia lain, “Laki-laki, Mobilitas dan Uang” merupakan unsur-unsur awal dari epidemi HIV/AIDS nasional yang berskala besar. Para pebisnis yang bepergian untuk urusan bisnis atau mereka yang bekerja jauh dari rumah, seperti dibidang pertambangan, minyak dan gas, industri pengiriman barang dengan truk dan pengapalan, sering terlibat dalam perilaku beresiko tinggi yang membahayakan diri mereka sendiri, isteri mereka serta anak mereka yang belum dilahirkan.

  1. PRIORITAS MASALAH

HIV mempunyai dampak yang sangat besar pada semua perusahaan di antara seluruh rangkaian keterampilan, Dengan menerapkan serangkaian program HIV untuk staf, keuntungannya jauh melebihi biaya yang dikeluarkan, pada manusia dan keuangan.

Kondisi tempat kerja juga sangat berpengaruh pada penularan penyakit AIDS. Di Indonesia, minimnya fasilitas bagi pekerja cukup memungkinkan terjadinya hubungan seks bebas sehingga penularan AIDS terus meningkat. Kondisi tempat kerja seperti mes yang tak terpisah antar pekerja lelaki dengan pekerja perempuan sangat berpotensi memancing seks bebas.(Sinar Harapan, 2007)

Angkatan kerja menjadi target penting dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, karena 50 persen kasus HIV berasal dari angkatan kerja. “Tetapi kelihatan tersembunyi karena tidak ada gejala. Orang tidak mengetahui. Ketika dia jatuh sakit, dianggap bukan AIDS. Tapi sakit diare, TBC, kanker, dan lain-lain. Faktanya, sudah banyak orang muda sekarang yang mati muda. Juga banyak orang muda yang sudah ditinggal teman sepermainannya. Selain itu, banyak juga orang tua yang menyaksikan anaknya meninggal lebih dulu (erviani, 2005)

Menyikapi hal tersebut Depnakertrans telah mengadakan program-program edukasi dan pedoman pencegahan AIDS di tempat kerja. Pihak Depnakertrans juga bekerja sama dengan badan perburuhan dunia, International Labour Organization (ILO) untuk mengatasi masalah penularan AIDS di lokasi kerja

Perusahaan yang memiliki program AIDS di tempat kerja, dikatakan justru akan memiliki citra yang makin bagus. Perusahaan kelihatan ikut penanggulangan HIV, ikut memutus mata rantai dan melindungi masyarakat luas. Hanya perusahaan-perusahaan yang sadar betul bahwa kekayaan utama perusahaan adalah karyawan, yang biasanya mau melakukan ini.

Sayangnya, sebagian besar perusahaan masih menunjukkan perhatiannya terhadap HIV/AIDS di tingkat wacana. Wacana dan komitmen sudah, tapi keterlibatan belum. Action-nya belum optimal. Dengan adanya tim penyuluh di tempat kerja, diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS untuk meningkatkan kewaspadaan (Erviani, 2005)

Perusahaan menjadi prioritas pencegahan HIV / AIDS di Surabaya karena selain surabaya merupakan kota industri juga perlu diperhatikannnya kelompok pekerja karena kelompok ini merupakan kelompok yang tidak pernah dijangkau oleh berbagai pihak dalam upaya pencegahan HIV / AIDS

Sebelum melakukan program tersebut ada baiknya kita analisa dulu surabaya dan perusahaan untuk mendukung langkah selanjutnya sehingga dalam pelaksanaan nantinya akan dapat dikurangi hambatan dan memperkuat dukungan. Analisa yang dipakai adalah analisa SWOT untuk memilah bagian mana yang mendukung dan bagian mana yang menghambat pelaksanaan program baik dari luara maupun dari dalam organisasi

Analisa SWOT

Strengthen

  • Surabaya merupakan kota industri dengan prioritas perkembangan pada sektor industri

  • Dukungan pemerintah untuk perkembangan industri tinggi

  • Banyaknya perusahaan besar yang sudah berdiri dan peduli terhadapa kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan

  • Jumlah karyawan yang sangat besar

Weakness

  • Pengetahuan pemerintah tentang besarnya masalah, strategi pencegahan yang masih rendah

  • Perilaku organisasi yang masih rendah dalam menerapkan strategi pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS

  • Dana masih sangat kecil yang dialokasikan ke program

  • Kegiatan masih bersifat sektoral

Opportunity

  • Peluang donor tinggi

  • Adanya dukungan APBD untuk perkembangan industri

  • Kerjasama sektor yang baik

  • Banyaknya LSM yang bergerak di bidang HIV / AIDS

  • Adanya dukungan peraturan dari Menkertrans

Threaten

  • Lokalisasi besar dan banyak

  • Data dasar sasaran sulit dikumpulkan

  • Jumlah kasus HIV/AIDS makin meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun

  • Sebagian besar kasus bersifat anonimous sehingga tidak diketahui nama dan identitasnya

  • Beban penanganan masih pada Dinkes

  • Masih rendahnya kesadaran pengusaha akan penanganan masalah kesehatan di perusahaan

  • Masih adanya stigma dan diskriminasi pada ODHA

  • Rendahnya pengetahuan karyawan dan manajemen perusahaan terhadap Pencegahan HIV / AIDS di tempat kerja

Berdasarkan hal tersebut maka dipilih beberapa masalah yang harus diselesaikan yang merupakan akar permasalahan yakni “ RENDAHNYA PENGETAHUAN KERYAWAN DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN TERHADAP HIV AIDS DI TEMPAT KERJA” karena adanya anggapan bahwa ini merupakan pintu masuk akan program yang akan kita laksanakan, karena dengan adanya pengetahuan yang cukup tentang pencegahan HIV di tempat kerja maka dukungan program, dan kesadaran akan muncul dengan sendirinya

HIV/AIDS menjadi masalah di Tempat Kerja karena mempunyai dampak secara langsung dan tidak langsung yaitu sebagai berikut:

          1. Langsung :

  • Peningkatan biaya perawatan medis.

  • Meningkatkan biaya tenaga kerja dengan meningkatnya kebutuhan untuk merekrut, melatih dan melatih ulang karyawan.

  • Mengurangi jumlah angkatan kerja dan pendapatan para buruh/pekerja.

2. Tidak Langsung :

  • Menurunkan tingkat produktivitas perusahaan disetiap sektor industri, termasuk pertanian.

  • Mengurangi jumlah tenaga-tenaga terdidik dan terlatih serta berpengalaman.

  • Klaim asuransi karyawan meningkat.

  • Produksi menurun akibat PHK.

  • Terjadi penularan antar karyawan melalui perilaku beresiko tinggi.

  • Memunculkan stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV yang mengancam prinsip serta hak dasar ditempat kerja, serta menghambat upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan.

Sedangkan dampaknya terhadap pekerja adalah :

  • Kehilangan pendapatan dan tunjangan pegawai

  • Stigma dan diskriminasi

  • Tekanan terhadap keluarga.

  1. TUJUAN

Tujuan dari pelaksanaan program ini adalah adanya :

  1. Membantu pemerintah, pengusaha dan pekerja dalam menanggu-langi HIV/AIDS melalui kerjasama teknis, pelatihan dan pembuatan pedoman kebijakan untuk pencegahan, penanggu-langan dan jaminan sosial.

  2. Memerangi diskriminasi dan stigma yang berkaitan dengan status HIV.

  3. Mengurangi tingkat penularan HIV/AIDS di tempat kerja

  4. Menciptakan suasana/lingkungan kondusif untuk memudahkan diselenggarakannya upaya pencegahan, pengobatan serta perawatan komprehensif terhadap ODHA di tempat kerja.

  5. Meningkatkan kemampuan penanggulangan untuk mencegah, mengobati, merawat dan memberikan dukungan kepada ODHA di tempat kerja.

  6. Meningkatkan kesadaran akan dampak HIV/AIDS terhadap persoalan sosial dan ekonomi di dunia kerja

4. SASARAN

Pengetahuan tentang besarnya masalah HIV dan program pencegahan disampaikan pada Sasaran dari program ini antara lain :

  1. Pemerintah

  2. Manajemen Perusahaan

  3. Karyawan

  4. LSM

5. TARGET

Target yang ditetapkan agar mencapai tujuan tersebut adalah:

  1. 100% sasaran baik di lingkungan pemerintah maupun dari perusahaan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang program pencegahan yang komprehensif

  2. 80% mempunyai sikap yang positip terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS dan timbul minat untuk melaksanakan program pencegahan HIV / Aids di Tempat kerja

  3. 60% stakeholders mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan kewenangan untuk mendukung program pencegahan HIV/AIDS di tempat Kerja.

6. AREA PROGRAM

Area Program ini terbagi menjadi 3 kelompok besar untuk memudah kan langkah pelaksanaan program

    • Advocacy

Pada area advocacy kita akan memeberikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran pada berbagi pihak yang mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan program pencegahan HIV / AIDS di tempat kerja dengen pendejakatan dan tujuan yang berbeda pada setiap pihak missal :

  • Pemerintah : pendekatan pada pemerintah tidak memerlukan Effort yang berarti karena pada posisi mentri sudah dikeluarkan Permennakertrans yang mengatur pelaksanaan pencegahan Hiv ? AIDS di tempat kerja, sehingga tinggal pelaksanaan dari tingkat daerah.

  • Manajemen perusahaan : pendekatan pada manajemen perusahaan dengan melakukan pendekatan segungga muncul kesadaran dari perusahaan bahwa pelaksanaan program ini merupakan investasi jangka panjang yang dapat mencegah pemborosan perusahaan apabila program ini tidak dilaksanakan

  • Karyawan : pendekatan pada karyawan melalaui serikat pekerja sehingga ada kesamaan langkah pada semua karyawan dan juga diperlukan pemberian pengetahuan pada karyawan yang merupakan sasaran utama kita

    • Edukasi

Pemberian pendidikan tentang apa itu HIV, AIDS dan bagaimana HIV dapat menular, bagaimana pencegahan HIV dan memeberikan informasi yang benar dan mencoba mengeliminir anggapan dan mitos seputar HIV sehingga stigma dan diskriminasi pada ODHA dapat dikurangi

    • Rehabilitasi

Perlunya penyaluran dan perhatian pada ODHA dan pada pekerja yang terjangkit HIV sehingga mereka bukan lagi dianggap sebgai sampah yang membebani perusahaan.

Beberapa kegiatan untuk mendukung program tersebut antara lain

    • Sosialisasi program

    • Advocacy pada pemerintah

    • FGD dengan melibatkan manajemen perusahaan sebagi peserta

    • Penyuluhan HIV / Aids pada Karyawan

  1. RESPONSE DAN STRATEGI

Program pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja akan difokuskan pada pembentukan perilaku pekerja untuk tidak terpapar pada rantai penularan HIV/AIDS, antara lain melalui kontak seksual dan kontak jarum suntik. Bentuk kegiatan pencegahan HIV/AIDS ditempat kerja akan banyak berupa pendidikan pekerja (Workers Education) untuk meningkatkan kesadaran akan resiko HIV/AIDS dan adopsi perilaku aman untuk mencegah kontak dengan rantai penularan HIV/AIDS

  1. COSTING

Nama Kegiatan

Volume kegiatan

Rupiah

Sumber

Sosialisasi program

2 kl/th x 200 org x 30.000

12.000.000

APBD II

Advocacy pada pemerintah

3 kl/th x 10 org x 30.000

900.000

Funding

FGD

2 kl/th x 30 org x 30.000

1.800.000

Funding

Penyuluhan kepada karyawan

4 kl/th x 300 org x 30.000

36.000.000

Funding

DAFTAR PUSTAKA

Erviani, Komang, 2005, Ketika Aids Masuk Kerja, http://warnawarnibali .wordpress.com/ 2005/05/30/ketika-aids-masuk-kerja/, sitasi tanggal 30 Mei 2008

Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep.68/Men/Iv/2004 Tentang Pencegahan Dan Penanggulangan Hiv/Aids Di Tempat Kerja

KPA, 2008, Strategi Nasional Penanggulangan Hiv Dan Aids 2007-2010, Komisi Penanggulangan AIDS, Jakarta

Menkokesra, 2007, Pengidap HIV Juga Merindukan Pekerjaan http://www.menkokesra.go.id /content/view/1348/39/, sitasi tangal 30 Mei 2008

Sinar Harapan, 2007, Tempat Kerja Masih Rentan HIV / AIDS,Sinar Harapan, Jakarta

Sujianto, Ian, 2008, Malam Renungan Aids di Surabaya, http://aids-ina.org/modules.php?name=Report&file=report&idreport=36, sitasi tanggal 2 Juni 2008.

The Kaiser Daily HIV/AIDS Report, 2007, Benefits of HIV/AIDS Programs in Workplace Outweigh Costs, USAID, Zambia

WHO, 2006, Declaration of work Health, WHO, Stressa, italy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s