SARINAH


SARINAH

Sejarah perempuan adalah bergandengan dengan laki-laki, soal perempuan tak dapat dipisahkan dari soal laki-laki. (hal.40 buku sarinah)

Tiga sifat/hal yang dituntut dari seorang wanita yang sejati lalah: ya ibu, ya isteri, ya kawan seperjuangan (kawan hidup di dalam masyarakat). Jikalau wanita bisa mengumpulkan tiga hal ini, baru dapat disebut wanita sempurna. Dihari ibu 1960)

Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang ! Sekarang ikutlah, serta-mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik dan nanti jika Republik sudah selamat, ikutlah serta-mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional.( hal 328 buku sarinah)

Sungguh benar perkataan Charles Fourier kalau ia mengatakan: “bahwa tinggi rendahnya tingkat kemajuan suatu masyarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi rendahnya tingkat kedudukan perempuan di dalam masyarakat itu”.(hal17 buku sarinah)

Bukan lagi “kepribadiannya” wanita yang kini menentukan hidupnya, tetapi kecantikannya, kejelitaan, “sex-appealnya”. Keelokannya itu kini menjadi senjata ekonomi, fungsi kelaminnya itu menjadi fungsi ekonomi.(hal 67 buku sarinah)
Sarinah: Pesona yang Tak Pernah Lekang
Tahun 2007 adalah seabad pers nasional. Tarikh ini dihitung sejak Medan Prijaji terbit pertama kali pada Januari 1907. Medan Prijaji adalah tapal dan sekaligus penanda pemula dan utama bagaimana semangat menyebarkan rasa mardika disemayamkan dalam dua tradisi sekaligus: pemberitaan dan advokasi. Dan dua kegiatan itu menjadi gong yang ditalu dengan nyaring oleh hoofdredacteur-nya yang paling gemilang di kurun itu: Raden Mas Tirto Adhi Surjo.
Pada 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Sementara pada 2006, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyempurnakan gelar itu menjadi Pahlawan Nasional atas jasanya menggerakkan kesadaran merdeka lewat jalan organisasi modern dan pergerakan nasional.
Memperingati seabad pers itulah Jurnal Nasional menghadirkan 365 koran terpilih yang pernah/sedang ikut membangun nasionalisme dan tradisi berbangsa dalam 365 hari terbit. Terhitung sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2007.
Sarinah yang hadir hari ini adalah majalah yang terinspirasi nama ”srikandi revolusi” sebagaimana yang diangankan Soekarno. Dan tampaknya, semangat itu pula yang coba dilecutnya. Namun bukan di gelanggang revolusi, tapi dalam situasi ketika mesin pembangunan meraung-raung.
(Taufik Rahzen)
Kita tak asing dengan nama “Sarinah”. Masyarakat Indonesia, terutama yang berkecimpung dalam dunia sejarah, akrab dengan potongan nama itu. Meski sastrawan Boejoeng Saleh (S.I. Poeradisastra) mengatakan “Sarinah” terlalu imajiner, tetapi bagi Soekarno, ia sosok wanita yang hadir pada saat yang tepat.
Sebagian orang bahkan mengatakan “Sarinah” bukan hanya sosok fisik melainkan juga suatu paham atau singkatan dari “Siapa Anti Revolusi Indonesia Akan Hancur”. Saat Idayu Press menerbitkannya menjadi buku pada 1963, nuansa pikir semacam itu masih tetap ada. “Sarinah” adalah sosok yang sulit tergantikan, hingga saat menjadi presiden, Sukarno mengabadikannya dengan sebuah toserba, Sarinah.
Dunia jurnalistik agaknya tak mau kalah. Tersebutlah nama majalah tengah bulanan, Sarinah. Lahir pertama kali pada 1982 di Jalan Garuda No. 62, Jakarta Pusat dengan Pemimpin Umum Soegiarso Soerodjo, Sarinah hadir sebagai simbol baru gaya hidup wanita Indonesia di era modern. Ciri khas majalah itu, antara lain, wajah dan senyum artis cantik di sampul muka.
Diawaki Pemimpin Redaksi Soesilo Murti, dibantu dewan redaksi yang terdiri dari Matheus Erlanda Rosi (ketua), Hoedi Soejanto (wakil), Sari Narulita, K. Usman, Korrie Layun Rampan, dan Theresia Wawa Adam, Sarinah selalu menyapa pembaca dengan warna dan gaya hidup yang penuh dinamika. Tiap minggu, sedikitnya 5000 pembaca membeli Sarinah yang tampil lux.
Sejak pertama kali terbit, Sarinah tak pernah berganti kolom. Tersuguh 10 kolom, yaitu “Utama”, “Rumah Tangga”, “Keluarga”, “Supaya Cantik dan Anggun”, “Konsultasi Kesehatan”, “Fiksi”, “Profil”, “Features”, “Umum”, “Yang Tetap dan Bonus”. Nama-nama penulis terkenal kala itu, La Rose dan Dr. Sarlito W.S., ahli psikologi UI, setia menghiasi halamannya. La Rose, yang penulis novel, mengasuh rubrik “Lika-Liku Cinta” dalam kolom “Rumah Tangga”.
Ikon lainnya yaitu Moerjati Soedibjo yang setia dengan ramuan tradisional, Sari Ayu. Disuguhkan dengan menarik dalam kolom “Supaya Cantik dan Anggun”, diajeng Yogyakarta ini aktif mengupas rubrik “Konsultasi Tradisonal Masalah Kewanitaan”. Martha Tilaar, pemilik Mustika Ratu, saat itu juga telah unjuk gigi, akan tetapi kiprahnya tak selincah Moerjati Soedibjo.
Para pembaca wanita paling menggemari rubrik kecantikan dan mode pakaian yang diperagakan oleh model-model ternama. Nuansa keanggunan baju dari para perancang terkenal, menjadi suguhan up to date untuk gaya hidup elegan. Mode pakaian selalu diikuti dengan style berhias, berdandan, dan bagian ini sesuai dengan jargon Sarinah, “Pesona Wanita Indonesia”.
Sebagai majalah yang cukup mapan, dengan alamat yang kemudian pindah ke Gedung Patra Lt. 8 Jln Gatot Subroto No. 32-34, telp. 510239-510354-513827-514275 dan tromol pos No. 483, Sarinah selektif dalam menyuguhkan berita dan memilih editor. Beberapa nama editor Sarinah di antaranya Sugiono MP, Donna Sita, Harry Tjahyono, dan Nadjib Kartapati Z. Reporternya antara lain Aswina Aziz Miraza, Asruar Sahab, S. Budi Utami, Apri Swan Aswanti, Sisca Susanto, Rus Prasetyo, Hernasoe, Nestor Rico Tambunan, Suhardi, dan Soetedja.
Sarinah juga mempunyai dewan penasihat yang terdiri dari 4 orang: Sk. H. Wibowo, Ny. Tuti Hutagalung, S.H., dan Abdul Rahman Saleh. Dengan penerbit PT. Mangunjaya Abadi dan pencetak PT Yudha Gama Corp Slipi Baru, Sarinah ingin menjadi sahabat keluarga dan wanita Indonesia.
Sarinah pada perkembangannya meragamkan suguhan. Pada bulan Oktober 1985, Sarinah mengupas makna Sumpah Pemuda, antara lain dengan suguhan artikel, “Kebenaran Sejarah dalam Tatap Muka”. Hadir dalam kesempatan itu tokoh-tokoh yang merupakan saksi sejarah: Lasmidjah Hardi, Soejono, Mr. Soenario, dan B.M. Diah yang juga pemilik Harian Merdeka.
Tersuguh pula artikel, “Bangkitkan Rasa Malu Pemuda Sekarang, bila Prestasi Tak Gemilang” yang menampilkan Soegondo Djojo Poespito dan Mohammad Tabrani, lengkap dengan foto-foto kongres dan hasilnya. Untuk lebih mendekatkan dengan kaum wanita, dikupas pula lima wanita saksi mata Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, yaitu Oemi Hani A. Salim, Suhariah Sutarman, Wahyudi, Siti Chatimah Sukahar, dan Matuchach Yusuf.
Isinya pun bertambah. Ia menampilkan pula cerita pendek, novelet, dan kisah nyata dalam rubrik “Oh…Tuhan”. Tampilan yang lux, plus isi yang familiar, memancing para pengiklan untuk mendatangi biro iklannya yang ditangani Merry H. Tanjung dan Vera B. Hartono. Kurang lebih ada 50 jenis iklan yang menghias layar Sarinah, beberapa di antaranya Jamu Awet Ayu Ny. Meneer, Biore, Bedak Amami, Sari Ayu, Mustika Ratu, Hazeline Body Talc, Sunsilk, Napacin, Vitacimin, dan Sustagen-HP.
Tahun 1987, pesona Sarinah pudar. K. Usman menanggapi hal itu dengan sajak “Selamat Tinggal Pelabuhan Tua” yang dimuat di Sarinah pada 21 Juli 1985, halaman 27.
Selamat tinggal pelabuhan tua
Sekali kapal berlayar kita jelajah benua-benua .Tinggalkan pelabuhan tua yang menorehkan luka .Kita dirikan pelabuhan baru .Bagi kapal-kapal masa datang .Tanpa gaya tipu berliku-liku .Tanpa tradisi janji-janji usang .Memang masih benua yang kita tuju .Ranjau-ranjau lautan mengintai di antara pulau .Pesona camar di udara jangan sampai menipumu .Kita perlu berlayar dari pelayaran masa lampau .Senyum manis dewa dewi belum tentu madu .Rayuan tepi jalan jangan dulu disangka cinta .Sarinah adalah bagian tak terpisahkan baik dari dunia pers maupun pesona wanita Indonesia. Nama dan kenangan Sarinah tak akan lekang.
(Reni Nuryanti/Indonesia Buku)

Soekarno dan Gerakan Perempuan: Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan

Marhaen sebagai nama seorang petani itu masih di pertanyakan, karena itu adalah ikon yang di ciptakan orde baru. Marhaen adalah implementasi dari buku Soekarno sebelumnya yang berjudul Sarinah (SAtu Repubik Indonesia taNah air (satu cita2 negara kesatuan Republik Indonesia))……yang di implementasikan Soekarno pada kekuatan2 yang ada waktu itu lewat MARx Hegel Agamais En Nasionalis (MARHAEN)…kemudian di implementasikan lagi jadi NASAKOM…NASinonilis Agamais KOMunis…(dalam hal ini Sosialis di hilangkan(Marx-Hegel), Tapi Soekarno lebih condong kepada Marx-Angles yang di implementasikan Lenin lewat Leninmisme)…..So, bagaimana anda bisa tahu Marhaen kalo Sarinahpun anda tidak menyebutkan…..mungkin isu yang beredar di PDI-P cuma Sarinah itu adalah monyet peliharaan Soekarno(Versi Klenik)…..
Selamat menggali lebih dalam…..

Tentang hubungan internasional
 

 
Politik bebas bukanlah suatu politik yang mencari kedudukan netral jika pecah peperangan; politik bebas bukanlah suatu politik netralitas tanpa mempunyai warnanya Beograd; berpolitik bebas bukanlah berarti menjadi suatu negara penyangga antara kedua blok raksasa.
[KTT NON BLÖK, Beograd 1-9-1961 ]
 
 
Berpolitik bebas berarti pengabdian yang aktip kepada tujuan yang luhur dari kemerdekaan, perdamaian kekal, keadilan sosial dan kemerdekaan untuk merdeka. Ia adalah tekad untuk mengabdi kepada tujuan ini; ia kongruen dengan hati nurani sosial manusia.
[KTT NON BLÖK, Beograd 1-9-1961]
 
 
Politik Non-Blok adalah pembaktian kita secara aktip kepada perjuangan yang luhur untuk kemerdekaan, untuk perdamaian yang kekal, keadilan sosial dan kebebasan untuk Merdeka.
[KTT NON BLÖK, Beograd 1-9-1961]
 
 
Adalah menjadi keyakinan kita bersama kita bahwa, suatu polltik yang bebas merupakan jalan yang paling baik bagi kita masing-masing untuk memberikan suatu sumbangan yang tegas kearah pemeliharaan perdamaian dan pengurangan ketegangan-ketegangan Internasional.
[KTT NON BLÖK, Beograd 1-9-1961]
 
 
“…..kita mempertahankan pendapat bahwa pembentukan blok-blok, apalagi jika berdasarkan kekuatan dan perlombaan persenjataan, hanya mengakibatkan peperangan.”
[KTT NON BLÖK, Beograd 1-9-1961]
 
 
Kita menginginkan satu Dunia Baru penuh dengan perdamaian dan kesejahteraan, satu Dunia Baru tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l’homme par l’homme et de nation par nation.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Bangsa Indonesia (saya) berjanji pada diri Beograd untuk bekerja mencapai suatu Dunia yang lebih baik, suatu Dunia yang bebas dari sengketa dan ketegangan, suatu Dunia di mana anak-anak dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu Dunia di mana keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk semua orang. Adakah suatu bangsa menolak janji semacam itu?”.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Dengan segala kesungguhan, saya katakan: kami bangsa-bangsa yang baru Merdeka bermaksud berjuang untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Badan itu hanya dapat menjadi effective, bila Badan tersebut mengikuti jalannya sejarah dan tidak mencoba untuk membendung atau mengalihkan ataupun menghambat jalannya.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Di zaman pembangunan bangsa-bangsa ini telah muncul kemungkinannya, keharusan akan suatu “Dunia” yang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan-penindasan Nasional.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Bagi suatu bangsa yang baru lahir stau suatu bangsa yang baru lahir kembali milik yang paling berharga adalah “kemerdekaan” dan “kedaulatan”.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Dunia kita yang satu ini terdiri dari Negara-negara Bangsa, masing-masing sama berdaulat, dan masing- masing berketetapan hati menjaga kedaulatan itu, dengan masing-masing berhak untuk menjaga kedaulatan itu.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Dalam hal ini kita tidak hanya berjuang untuk kepentingan kita Beograd melainkan kita berjuang untuk kepentingan ummat manusia. Seluruhnya, ya perjuangan kita lakukan untuk kepentingan mereka yang kita tentang..
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Bukanlah pion-pion yang di atas papan catur yang tuan-tuan hadapi. Yang tuan-tuen hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusla dan hari depan manusia.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Saya serukan kepada tuan-tuan kepada semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bergeraklah bersama arusnya sejarah, janganlah mencoba membendung arus itu.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
. “Sesuatu” itu kami namakan “Pancasila”, ya “Pancasila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi/Dasar tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto komunis ataupun Declaration of Independence. Declaration of Independence memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa paham-paham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan Nasional.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Singkirkan penyelewengan terhadap kemerdekaan dan emansipasi dan ancaman terhadap perdamaian akan lenyap. Tumbangkan Imperialisme dengan segera dengan Beogradnya Dunia akan menjadi suatu tempat yang lebih bersih, suatu tempat yang lebih baik dan suatu tempat yang lebih aman.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
 Bangunlah Dunia ini kembali! Banguniah Dunia ini kokoh kuat dan sehat! Bangunlah suatu Dunia di mana semua bangsa hidup dalam Damai dan Persaudaraan. Bangunlah Dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita ummat manusia.
[Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960]
 
 
Masalah bangsa Asia harus diselesaikan oleh Bangsa Asia Beograd dengan cara-cara Asia. Asian Problems to be solved by themselves in Asian ways.
[Konperensi Maphilindo di Manila 1963]
 

Abad ke-20 berisi fenomena:
1. Merdekanya bangsa-bangsa Asia-Afrika.
2. Timbulnya negara-negara sosialis.
3. Terjadinya atomic-revolution.
4. Akibat paradox historis, di satu fihak ummat manusia oleh tehnik yang maju sekali menjadi satu, di lain pihak dipisah-pisahkan menjadi bangsa-bangsa yang merdeka dengan pagar Beograd-sendlri.
[Pancasila sebagai dasar negara  hlm. 62]