56 Tahun GMNI Idealisme, Materialisme dan Pragmatisme


56 Tahun GMNI Idealisme, Materialisme dan Pragmatisme

1. Pendahuluan
Tak ada gading yang tak retak itu kata pepatah. Bahwa sebaik-baik organisasi adalah memiliki kelemahan dan itu harus menjadi sebuah perenungan bagi siapa saja yang ingin organisasinya maju. Meminjam kata-kata dari Sudisman bahwa harus ada kritik dan autokritik dalam sebuah organisasi, terutama bagi GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang lahir sejak tanggal 23 Maret 1953.
Kelahiran GMNI tidak hanya serta merta begitu saja, adalah lahir daris ebuah pemikiran dan perjalanan panjang sja, bukan serta-merta untuk memenangkan PNI dalam pemilu 1955. Hal ini bisa dimaklumi karena keneradaan GMNi sangat didukung oleh tokoh-tokoh PNI pada waktu itu baik nasional maupun di daerah.
Inilah yang menjadikan sebuah suka-duka perjalanan sejarah GMNi dalam kancah politik dan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan republik dan negeri ini. Dimana telah menjadikan GMNi sebagai organisasi yang lahir dewas dengan keindependenannya dengan kematian ayah kandung PNI dan Ibu kandungnya Ormas-Ormas Kino PNI. Dengan bubarnya organ-organ tersebut menjadikan GMNi kurang mampu meletakkan dirinya pada laboratorium marhenisme, kegagalan sejarah yang akan membentuk GMNi sebagai kader bangsa. Namun meski tidak optomal sebagai gerakan GMNI mampu mempertahankan eksistensinya dibanding Ormas-Ormas mahasiswa lainnya yaitu HMI, PMII, PMKRI, GMKI, dan lain-lain.
Namun GMNI masih dapat berkiprah meskipun dalam desakan Depolitisasi Orba melalui KNPI dan NKK/BKK selama ORBA meski pernah punya peranan dominan di masa ORLA bersama CGMI dan HMI.
2. GMNI dalam Sejarah Gerakan mahasiswa yang saya Kenal
GMNI yang saya kenal sejak saya aktif merupakan organisasi yang berkembang di bawah pesaing beratnya dalam merekrut masa yaitu HMI, ddan ada dialektika yang etgas antara keduanya tentang ideologi. Dan pada masa ORBA itu sangat tidak menguntungkan GMNI.
Banyak rintangan dan halangan dengan dididkreditkannya kader-kader GMNi di Kampus dengan sebutan mahasiswa sekuler dan biang kerok, padahal orang hanya melihat GMNI dari sisi luarnya saja, dan bahkan tidak menyangka bahwa kader-kader GMNi memiliki kemampuan dan keahlian secara akademis tak kalah dengan mahasiswa yang kutu buku sekalipun, karena di dalamnya ada diskusi-diskusi yang tajam mengkritisi kebijakan pemerintah dan nasib bangsa akan di bawa ke mana.
Kader GMNI rajin berdiskusi kelompok, meski masih banyak kekurangan dalam hal referensi karena keterbatasan informasi dan pembatasan ruang gerak mahasiswa di jaman Orde baru. Bersama aliansi-aliansi taktis dengan organ revolusioner lainnya GMNI mampu mempelopori perlawanan terhadap rezim Suharto Bersama PRD dan kawan-kawan.
3. GMNI dan Ideologi Marhaenisme
GMNI tak pernah lepas dari ideologinya yaitu marhaenisme meskipun pada tahun 1983 harus menerima keadaan pancasila sebagai ideologi dan asas, meski pancasila jaman ORBa tidak seperti Pancasila yang dipidatokan oleh Bung karno pada tanggal 1 JUni 1945. namun ,au tidak mau suka tidak suka karena siapa lagi kalu bukan GMNI yang harus menjaga keberadan pancasila senbagai dasar negara. Meski sebenarnya Marhaenisme itu tidak sama dengan pancasila karena fungsinya pun berbeda dan pemaknaannya berbeda, serupa tapi tak sams.
Marhaenisme adalah marxisme yang diterapkan sesuai situasi dan kondisi Indonesia
kader GMNI dan alumni GMNI itu risih kalo ada ungkapanm ini terutama di jaman Orde Baru, sebenarnya memang benar marhaenisme itu marxisme yang diterapkan sebagai sutuasi dan kondisi di Indonesia, karena di dalam Marhaenisme tidak kenal manifesto komunis. tanpa marxisme marheinisme tidak akan mampu menerangkan kondisi ideologi yang dihadapi rakyat Indonesia, bahwa marhaenisme seperti halnya 10 tesis marhaenisme adlah melupakan ajran ideologi yang berlandaskan pada pemikiran-pemikiran Karl mark.
ajaran marhaenisme itu ajran ideologi kiri, karena tanpa ideologi kiri kemerdekaan Indonesia tidak akan tercapai. marhaensime itu memiliki kerangka pikir marxisme, Dialektika, dan historis materialisme.
Namun marhaenisme ini tidak mampu diteruskan oleh pengikut ajarannya dalam emnciptakan teori-teori perjuangan terbaru, tidaks seperti marxisme.
Kemampuan kader memahami ideologipun berbeda-beda berdasarkan latar belakang kemampuan, kecerdasan, dan kepentingan hidup kader GMNi rata-rata tidak berhubungan langsung dengan apa yang menjadi landasan perlawanan kaum Mahaen. Karena GMNI adalah merupakan kelas menengah yang latar belakang keluarganya dari borjuis Menengah. Yang memiliki kesempatan untuk berpikir dan membangun perubahan, namun masih terbatas karena pengalaman sebagai mahasisw terbatas dengan membagi waktu untuk belajar dan kuliah, GMNi sebagai kader harus mementingkan tugas utamanya yaitu belajar.
GMNI dan pemilu 2009
GMNI dalam pemilu 2009 kurang memiliki peran karena kembali lagi bahwa ruang gerak GMNi tidak bisa lebar akibat pemberangusan Orde abru, sehingga jalur ke masa terputus dan sulit membangunnya kembali kecuali kader GMNi mau mengembalikan ide dasar ideologi dan berkumpul bersama kaum tertindas, bersama rakyat, berjuang bersama rakyat. namun kader GMNI kadang terjebak dalam ideologi kontemporer yang lebih menjanjikan popularitas. pemilu 2009 bukan yang utama bagi GMNi tetapi peran itu harus ada melalui kritik dan tanggapannya dalam berbagai media dan berbagai bentuk pemantauan. Hal ini tidak dapat berjalan dengan baik karena GMNI yang independen mendapat sorotan Awam bahwa GMNi adalah merupakaj underbow PDIP pada saat ini, adalah salah karena GMNI tetap menjaga Independensinya.
GMNI tetap netral dalam pemilu 2009 tanpa mengarah kadernya pada kelompok tertentu atau parpol. namun Independensi sendiri juga menjadi sesuatu yang pelik untuk dijalani karena membutuhkan sebuah konsekuensi tertentu. perjuangan kelas GMNI sebagai kelas menengah taka akan etrakomodir dalam pemilu 2009.
GMNI dan posisioning
GMNI dalam kancah politik sekarang harus memiliki pesan posisioning dalam sifatnya yang independen, karena GMNi secara ideologis tidak memiliki hubungan se ideologi dengan 44 partai yang ada. Sedangkan GMNI sebagai wadah pergerakan harus mengedepankan ideologi di atas kepentingan politik dan dana-dana politik. Partai politik tidak hidup tanpa dana, Tetapi GMNi dapat hidup tanpa dana. Karena banyak ajang pergerakan yang bisa ditempuh oleh GMNI selama kader-kadernya konsisten.
Posisi independen ini tidaklah steril namun yang jelas bahwa independen dalam kerangka bebas dan aktif seperti yang telah diajarkan oleh bapak marhaenisme sebagai kader-kader pelopor. Meski situasi telah memaksa kader GMNI untuk pragmatis dan kepada arus globalisasi dan instan dalam politik dengan kentalnya money politik tetapi tidak boleh mematahkan posisi pergerakan poltik GMNI.
GMNI bersama rakyat, berjuang bersama berjuta-juta rakyat marhen tidak akan takut dan tidak akan merasa harus terhenti ketika ia tidak duduk pada parlemen, karena ajang aspirai politik ada di mana-mana. Sedangkan GMNI sedang menghadapi perang besar dengan imperialisme, kapitalisme, hedonisme, dan pragmatisme dengan desakan masyarakat yang materialistis.
Nepotisme dan kapitalisme partai harus dilawan pada prinsip diri karena GMNI adalah organisasi yang akan memiliki usia yang panjang dan tak pernah mati, sedangkan partai politik hanya seumur jagung.. seumur dengan kekuasaan angin rezim itu berkuasa.
Sikap GMNI
Sikap GMNI yang independen akan mempermudah gerak GMNI karena dengan sikap yang independen ini GMNi dapat bergaul dengan siapapu dalam kerangka NKRI. karena kepentingan bangsa dan negara lebih penting dari kepentingan pribadi dan kelompok. GMNI harus konsisten dengan pemikiran ini. Marhaenisme itu beda dengan Pancasila karena pancasila sebagai dasar negara adalah merupakan alat pemersatu bangsa. Sedangkan marhaenisme adalah alat perjuangannya kaum marhen. Sedangkan GMNI adalah organisasi yang berasaskan marhaenisme. GMNi harus berpihak pada kaum marhaen, artinya secara ideologi GMNI tidak pernah independen.

Advertisements

One thought on “56 Tahun GMNI Idealisme, Materialisme dan Pragmatisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s