KONSEP INDONESIA SATU


KONSEP INDONESIA SATU

Sebuah angan-angan dan cita-cita dari seorang anak manusia untuk dapat melihat bangsanya agar lebih makmur, sejahtera dalam kondisi aman, tentram dan damai…….
(oleh : Widionirwono Tundjungseto)

Konsep ini pertama-tama diawali dengan pandangan teologis yang diambil dari kitab suci Al’Quran, beberapa ramalan masa depan oleh Pujangga Kuno bangsa seperti Jayabaya, Ronggowarsito untuk memperkuat dasar pemikiran untuk kemudian dirajut menjadi benang merah pemikiran berikutnya. Konsepsi pertama adalah konsepsi politik disertai penjelasan-penjelasan teori politik dunia yang ada. Konsepsi kedua adalah konsepsi ekonomi dimana berhubungan langsung dengan konsepsi politik yang ujungnya nanti akan berimbas kepada kebangkitan ekonomi masyarakat.

PANDANGAN TEOLOGIS

A.Sejarah umat manusia

Menurut kitab-kitab suci agama Islam, disana diceritakan tentang penciptaan manusia pertama kali di alam langit yaitu Nabi Adam AS. Pada waktu itu di surga yang dipenuhi dengan kenikmatan Allah SWT memperkenalkan Adam sebagai ciptaannya yang sempurna kepada semua makhluknya, yang diciptakan dari tanah.

Pada suatu waktu Allah SWT meminta seluruh makhluk diminta sujud kepada Adam sebagai tanda penghormatan oleh Allah SWT, kecuali satu yaitu iblis.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. 2:34)

Iblis merasa bahwa dirinya lebih terhormat daripada Adam karena tercipta dari api, sedangkan Adam dari tanah.
“Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?. Menjawab iblis: Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. 7:12).

Atas kesombongannya itulah Allah SWT menglaknat Iblis untuk menjadi penghuni neraka.
“Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. 7:13).

Iblis bersedia memenuhi permintaan Allah SWT, tetapi dengan syarat diperkenankan diperkenankan hidup dalam jangka waktu lama sampai dengan hari Kiamat dan diberi kesempatan untuk menggoda Adam dan keturunannya untuk menemaninya di neraka.

“Iblis menjawab: Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” (QS. 7:14)
“Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. (QS. 7:15)”
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus”, (QS. 7:16)

Allah berfirman: Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua. (QS. 7:18)

Atas tipudaya iblislah Adam AS beserta istrinya Siti Hawa turun ke bumi karena dihasut tuk melanggar perintah-Nya.

“Dan Allah berfirman): Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. 7:19)

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS. 7:20)

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya: Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua, (QS. 7:21)

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka: Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua (QS. 7:22)

Keduanya berkata: Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 7:23)

Allah berfirman: Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. (QS. 7:24)

Bila ditilik dari ayat-ayat diatas, tergambarkan bahwa sebelumnya pada waktu Nabi Adam AS hidup di surga, dimana segala sesuatunya selaras dengan kehendak Allah SWT, dimana tidak ada pembangkangan seperti halnya Alam Semesta ini yang beredar dengan teratur sesuai dengan garisnya. Allah SWT berkehendak agar kehidupan manusia di dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan kehendak-Nya yang seperti halnya dapat dibaca melalui tanda-tanda kebijaksanaan Alam Semesta.

Kalau boleh saya menyimpulkan, Allah SWT berkehendak proses pembelajaran manusia sejak Nabi Adam AS dari suatu awal kebudayaan yang sederhana sampai dengan kebudayaan yang canggih dewasa ini sampai nantinya mencapai suatu zaman keemasan yang sudah dijanjikan menjelang hari Kiamat (yang merupakan sunatullah) dapat berjalan dengan tenang dan damai seperti pola bagaimana Alam Semesta berproses.

Sedangkan untuk iblis karena melawan perintah Allah SWT diminta keluar dari surga dan diperintahkan untuk masuk neraka. Dengan demikian Allah SWT sudah mengutuk iblis sehingga menjadi pihak antagonis (melawan perintah Allah SWT).
Di dalam perjalanannya di dunia iblis selalu menggoda umat manusia agar selama menjalani kehidupan menjadi tersesat, dan tidak selaras dengan apa yang diperintahkan-Nya (selaras dengan Alam Semesta) sehingga menimbulkan kerusakan-kerusakan di muka bumi.

Kesimpulan yang saya dapatkan, iblis berusaha menghalangi sekuat tenaga agar peristiwa terjadinya kiamat seperti apa yang sudah digariskan itu menjadi lebih lama, karena bila terjadi dengan sewajarnya akan semakin mempercepat dia masuk ke dalam neraka seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Sehingga bila diamati secara seksama sebenarnya ada dua hal yang mendasari di dalam perjalanan kehidupan manusia ini, yaitu apa-apa saja yang bersifat alamiah (dijalan Allah) atau bisa disebut nature call (sinkron) yang selaras dengan Alam Semesta. (kejujuran, amanah)

Dan yang kedua bersifat tidak alamiah karena dikendalikan oleh nafsu buruk (tidak alamiah) sehingga tidak sinkron atau selaras dengan Alam Semesta. (kebohongan, manupulasi, keserakahan) sehingga hasutan iblis (fitnah dunia) dapat masuk.

B. Jaman Keemasan

Sebelum terjadinya kiamat digambarkan bahwa umat manusia akan menemui suatu kejayaan yang tiada tanding atau mempunyai istilah jaman keemasan umat. Di waktu itu tatanan umat manusia demikian teraturnya sehingga kehidupan penuh diliputi kedamaian, keamanan dan kesejahteraan.

Ada beberapa ayat Al’Quran yang merupakan kunci agar suatu negara diberikan berkah oleh Allah SWT melalui langit dan bumi, yaitu suatu negara yang beriman dan bertakwa. Dimana beriman dan bertakwa itu sesuai dengan apa yang diperintahkannya (selalu membaca alam dan selaras dengannya)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 96)

Pada saat jaman keemasan nanti, setelah semua rahasia sejarah dan takdir masa lalu terkuak, baik dari segala ilmu pengetahuan, sosial, agama yang ada, pada akhirnya umat manusia manusia akan dapat memahami rahasia kenapa Allah SWT mentakdirkan ini semua, dan mereka mengucapkan syukur untuk itu.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)

Sedangkan hadits Nabi Muhammad SAW menggambarkan jaman keemasan seperti berikut :

Belum akan tiba kiamat sehingga harta banyak dan melimpah, dan orang ke luar membawa zakat hartanya tetapi tidak ada yang mau menerimanya, dan negeri-negeri Arab kembali menjadi rerumputan hijau dengan sungai-sungai mengalir. (HR. Muslim)

Dengan demikian kemakmuran sudah meliputi ke seluruh negeri di seluruh dunia, sehingga dengan demikian sudah pasti kemakmuran itu didukung oleh sistem sosial politik yang sedemikian mapan, dimana sesuai dengan Al’Quran dan Al’Hadits, sehingga barokah memancar dari langit dan bumi ke dunia.

I.SISTEM POLITIK

Sistem politik yang baik adalah suatu sistem politik dimana keinginan / aspirasi masyarakat dapat terwakili dan terakomodasi secara penuh dengan memilih wakil-wakil yang dipercayainya untuk duduk di suatu badan / dewan permusyawaratan untuk menyusun dan menentukan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan dan membela masyarakat demi kesejahteraan masyarakat.

Agar dapat mendapatkan suatu keterwakilan yang mendekati sempurna, setidaknya kita harus memperhatikan suatu pola yang ada di dalam masyarakat. Dan pola tersebut haruslah sama dan simetris diterapkan dalam sistem politik dan ekonomi sekaligus agar terjadi keselarasan, sehingga meminimumkan terjadinya distorsi informasi oleh apa yang diinginkan oleh masyarakat untuk dapat terakomodasi di level pemerintahan, sebagai perwujudan kedaulatan rakyat. Untuk itu perlu disusun suatu sistem yang saling terkait (terintegrasi) baik secara konsepsi politik maupun konsepsi ekonomi dan konsepsi yang lain agar tercipta keselarasan dengan berpedoman meminimalisir distorsi informasi antar bagian sehingga selaras seperti halnya selarasnya Alam Semesta.

A. Dasar Pemikiran

Untuk lebih memperjelas, sebelumnya kita kutip beberapa hal sumber baik dari hadits, ramalan para pujangga masa lalu dari sebagai acuan dasar pemikiran.

a.Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)
b.Secara teologis Islam dapat diambil dari 99 Nama Allah (Asmanul’husna) dimana menunjukan sifat-sifat Allah SWT, yang dapat dibaca melalui keberadaan Alam Semesta.
c.Seorang Arab Badui bertanya, “Kapankah tibanya kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab, “Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari)
d.Kehidupan ini di dasarkan atas fungsi. Hal ini dapat diamati pada kehidupan sel biologi, dimana disana terdapat neukleus (inti sel) dan didukung oleh piranti (fungsi-fungsi) pelengkap sel untuk menunjang kehidupan sel tersebut. Piranti yang terdapat dalam sel disesuaikan dengan kondisi dan manfaat sel tersebut terhadap lingkungan sekitar. (misal sel pada tumbuhan akan berbeda dengan sel yang terdapat pada hewan).
e.“…..segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya;” (bait 173 bait terakhir ramalan jayabaya)
f.Dalam pandangan HOS Tjokroaminoto (Tokoh Syareat Islam) yang merupakan guru Soekarno, sosialisme Marx dan kapitalisme menjadikan benda sebagai segalanya, dan manusia sebagai obyek. Sedangkan dilihat dari sudut pandang Islam, manusia itu khalifah, subyek yang merupakan muara atas semua sistem sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Dengan sosialisme Islam, menurut Tjokro, hak individu masyarakat tetap terjamin, yang penting bukan membangun kondisi sama rata sama rasa, tetapi membangun semangat berkompetisi dengan keahlian masing-masing, karena setiap orang memang dilahirkan tidak untuk sama rata sama rasa dengan orang lain.

Dari beberapa dasar diatas, maka boleh disimpulkan, bahwa susunan politik yang ideal adalah berdasarkan fungsi atau manfaat, dimana itu digambarkan berdasarkan keahlian dari masing-masing individu masyarakat. Sehingga dibutuhkan suatu perubahan struktur politik baru untuk mengakomodasi hal tersebut.

B. SISTEM POLITIK YANG BERJALAN DEWASA INI

Sebelum dijelaskan lebih lanjut maka sebelumnya kita bahas terlebih dahulu sistem politik yang berjalan dewasa ini.

Pola sistem politik demokrasi adalah suatu keniscayaan karena itu mewakili suatu gerak dinamis masyarakat yang dicerminkan dengan gerak dinamisnya alam ini bekerja. Semua unsur baik terkecil (sub atom) sampai dengan jagad raya semua selalu bergerak dan saling mempengaruhi dan tercipta keseimbangan-keseimbangan baru.

Pola sistem kepartaian yang digunakan saat ini, pada awalnya dirasa dapat memenuhi keinginan masyarakat untuk menuju kepada kemakmuran, dengan berbasiskan kepada ideologi ideologi politik yang dicetuskan oleh pemikir abad 16-17, dan menjadi beberapa aliran seperti aliran Sosialis dan aliran Kapitalisme.

Setelah perjalanan beberapa abad dan menjelang akhir abad 20, akhirnya kedua aliran tersebut saling melebur dan dimenangkan oleh aliran kapitalisme dengan dukungan demokrasi. Akan setelah hal itu semua dilalui ternyata ada sesuatu yang salah, karena keadilan masyarakat tidak tercapai, sehingga terjadi badai krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1999 yang mengakibatkan perekonomian Indonesia jatuh, dan kemiskinan semakin meningkat. Hal tersebut berulang lagi pada akhir tahun 2008 dengan jatuhnya Wallstreet dan mengakibatkan perekonomian Amerika jatuh dan mengakibatkan resesi ekonomi yang merembet ke kawasan Eropa dan Asia.

Atas dasar inilah perlu dilakukan terobosan untuk membantu pemecahan permasalahan ini, yang dimulai dengan konsep berpolitik terlebih dahulu. Karena suatu perubahan yang relatif cepat dan terintegrasi satu sama lain dalam perkembangan dunia dewasa ini tanpa dukungan masyarakat secara riil akan menemui suatu kendala yang sangat besar dalam implementasinya.

Hambatan-hambatan ini semakin terlihat pada waktu terjadi krisis dewasa ini karena tools perangkat pemerintah secara ekonomi untuk menggerakan kinerja masyarakat semakin mandul dan kurang efektif dari ke hari, dan hal ini juga terjadi di negara-negara Barat seperti Amerika.

Hal ini seperti apa yang ditulis oleh Donald B. Calne dalam bukunya Batasan Nalar : Rasionalitas dan Perilaku Manusia, mengemukakan pendapat
“Memang demokrasi, seperti semua bentuk pemerintahan, rentan terhadap intrik dan korupsi, tapi semua itu lebih bersifat kiasan daripada harfiah berupa pertumpahan darah dalam kerajaan dan kediktatoran. Kelemahan besar demokrasi adalah kelambanan (inertia); tindakan tegas dan cepat sulit diambil bila golongan-golongan dalam masyarakat sengit satu sama lain. Selama masa-masa krisis ekonomi atau militer, kelambanan itu bisa jadi bencana – sifat demokrasi berupa saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances) menjadi beban yang menghambat pengambilan keputusan tegas, dan menambah kebuntuan dalam keadaan yang menuntut tindakan. Semua ini menyodorkan peluang bagi diktator untuk merebut kendali pemerintahan”
Bila ditinjau secara kaidah teologis seperti yang diungkapkan di atas, hal ini bisa disebabkan oleh suatu hal mendasar yaitu terjadinya asinkronisasi informasi yang luar biasa dalam sistem perpolitikan dan perekonomian demokrasi yang berkembang di masyarakat dewasa ini. Sehingga terjadi kesan bahwa sistem politik berjalan dengan jalannya sendiri dan perekonomian berjalan dengan jalannya sendiri. Sehingga kehidupan dalam masyarakat terasa semakin tidak menentu, karena timbulnya suatu ketidakpastian yang tinggi.

C. ULASAN TENTANG PEMILU

Dengan melihat sistem politik demokrasi diatas, memang diperlukan perubahan yang cukup mendasar di tingkat legislatif pemerintahan sebagai wujud miniatur kondisi masyarakat yang ada baik ditingkat daerah maupun secara nasional. Dalam sistem multi partai dewasa ini, apakah sudah merupakan perwujudan bentuk masyarakat?

Dengan menilik hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa serahkan sesuatu pada ahlinya kelihatannya pola multi partai dewasa ini belum menggambarkan pola masyarakat secara seutuhnya. Karena mereka yang duduk di dalam partai dan mencalonkan diri menjadi legeslatif belum tentu memiliki dan mewakili kondisi masyarakat, dan tidaklah merupakan orang-orang yang benar-benar paham (ahli) di bidangnya.

Sebagai contoh, untuk masalah transportasi jakarta, apakah mereka yang duduk di legeslatif bener-bener paham masalah transportasi, demikian pula di bidang kesehatan, bidang kesenian, bidang agama dan lain sebagainya. Karena mereka-mereka yang duduk disini adalah orang-orang yang secara “kebetulan” terpilih tanpa melihat keahliannya.
Anggap saja begini suatu partai didirikan orang-orang yang kebetulan berpendidikan dan ahli di bidang hukum dan politik dan banyak diantara mereka duduk di legeslatif, apakah secara otomatis mereka juga ahli dan berhak mewakili masyarakat yang kebetulan berkiprah di bidang kesehatan misalnya. Karena ketidaksesuaian inilah dapat menyebabkan banyak misinterpretasi di dalam pemahaman suatu permasalahan, sehingga seringkali menyebabkan terjadinya banyak kesalahan kebijakan dalam peraturan perundangan, dan acapkali terjadi tumpang tindih antara peraturan satu dengan yang lain.
Masalah itu belum lagi diperburuk karena terjadinya blok antar partai pada waktu menyusun perundang-undangan atau pun menyusun suatu kebijakan dengan alasan politik yang lebih cenderung kepada egosentris kekuasaan (partai berkuasa) yang cenderung merusak, bukan demi alasan masyarakat yang diwakilinya.

Hal ini belum lagi masalah komunikasi politik antara legeslatif terpilih dengan warga masyarakat yang memilihnya. Sangat sulit terjadi, karena disamping ada beberapa caleg yang didroping dari pusat, caleg-caleg tersebut tidak bisa menyerap keinginan masyarakat karena tidak sesuai dengan bidang pekerjaan para masyarakat pemilihnya. Ini bisa juga diasumsikan suatu kabupaten dimana dominan kelautannya, sedangkan legeslatif itu berpendidikan hukum, bagaimana dapat menyerap aspirasi masyarakat secara utuh.

Sehingga boleh kita ambil kesimpulan bahwa sistem politik dengan multi partai minimbulkan asinkronisasi informasi yang luar biasa sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya fitnah masuk dan menimbulkan ketidakstabilan politik karena efek terbesar dari asinkronisasi informasi adalah kepercayaan antara masyarakat menjadi menurun. Dan sumber kekacauan paling hakiki dimuka bumi ini adalah permasalahan kepercayaan, baik itu antar pribadi perorangan, komponen masyarakat, ataupun masyarakat keseluruhan dalam suatu negara.

D. PEMECAHAN : SUATU TEROBOSAN PEMIKIRAN

Hal yang pertama kali dikemukakan adalah suatu keselarasan informasi supaya komunikasi antara masyarakat umum dapat terwakili di dewan perwakilan rakyat yang merupakan wujud kedaulatan rakyat, yang nantinya bersama dengan pemerintah (pemimpin) yang juga dipilih langsung oleh rakyat menjalankan penyusunan legeslasi yang sesuai dan dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan sesuai keinginan rakyat.

Seperti halnya alam ini, semua memiliki suatu pola yang unik, dan anehnya lagi pola-pola itu memiliki suatu kecenderungan yang sama. Pola atau pattern ini sering kali dijumpai pada kondisi-kondisi tertentu dan terjadi perulangan. Misalkan pola bagaimana suatu zat untuk berperilaku. Ternyata pada waktu dilihat secara atomik, suatu zat apapun memiliki pergerakan atom yang sama dimana ada suatu inti (proton) dikelilingi oleh elektron (jagad cilik). Hal itu juga berpola sama pada sistem tata surya bumi yang kita tempati ini, dimana bumi mengelilingi pusat matahari bersama-sama planet lainnya.

Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui pola-pola kepentingan apa saja yang diinginkan dalam suatu masyarakat. Ternyata setelah dilakukan pengamatan terdapat tiga kelompok besar kepentingan. Yang pertama adalah kepentingan yang berhubungan dengan ekonomi (pekerjaan), kedua berhubungan dengan sosial, dan yang ketiga yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak (publik).

Setelah dilakukan identifikasi hal tersebut, langkah selanjutnya adalah menyusun suatu formulasi bagaimana kepentingan-kepentingan masyarakat dapat terakomodasi dalam bentuk wakil-wakil di dewan perwakilan rakyat. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana metode pemilihan yang terbaik, agar suara rakyat tersampaikan sepenuhnya, dengan tetap mempertahankan cara berdemokrasi akan tetapi dapat tercapai tingkat responsi yang tinggi, apabila suatu masyarakat menghadapi suatu bencana atau kegentingan akibat terjadi situasi krisis ekonomi, bencana alam, atau pun kondisi militer.

Untuk lebih jelasnya diagram kepentingan masyarakat yang diakomodasikan dalam bentuk dewan perwakilan rakyat dapat dilihat di bawah ini.

Melihat diagram diatas, seyogyanya anggota dewan adalah berisi komponen-komponen masyarakat seperti tersebut diatas, dan merefleksikan komposisi keinginan masyarakat. Masalah komposisi antara ekonomi, sosial dan publik dapat diasumsikan misal 60:20:20. Berarti 60 persen anggota dewan menyerap aspirasi masyarakat mengenai perekonomian, 20 persen anggota menyerap aspirasi sosial kemasyarakatan dan untuk sektor publik 20 persen.

Metode berdemokrasi yang sesuai memenuhi hal ini adalah dengan cara membentuk kelompok keahlian yang anggotanya adalah masyarakat yang memang mencurahkan hidup dan pekerjaannya di bidang tersebut. Kelompok keahlian tersebut seyogyanya digolong-golongan dalam suatu sektor berdasarkan kepentingan yang lebih luas (himpunan).

Himpunan ini dimana merupakan representasi masyarakat berhak mendudukan wakilnya di dewan perwakilan rakyat. Sehingga pada waktu diadakan pemilu, masyarakat akan lebih antusias karena mereka memilih yang akan memperjuangkan nasib atau ide-ide mereka di dewan. Dan diharapkan kepemilihan masyarakat terhadap pemilu mendekati sempurna sehingga asas demokrasi benar-benar mewakili masyarakat. Sisi lain yang dapat digunakan sebagai kontrol adalah masyarakat yang memilih wakilnya benar-benar memahami track record (sejarah) dari wakilnya dan mengetahui bagaimana tindakan wakil tersebut dalam menjalankan bisnisnya. Karena antara masyarakat yang memilih dan wakil yang dipilih berada dalam koridor bisnis yang sama, sehingga secara otomatis akan lebih mengenal.

Metode perwakilan ini memiliki flesibilitas yang cukup baik, karena mengikuti kondisi masyarakat berada. Sehingga dapat dimisalkan suatu daerah merupakan daerah pertanian dan banyak penduduknya bekerja di sektor itu, maka komponen wakil yang menduduki akan dominan dari himpunan pertanian. Demikian pula apabila suatu masyarakat berada di suatu daerah yang memiliki laut/pantai, maka wakil yang ada lebih banyak yang memiliki profesi di bidang laut.

Kefleksibilitas ini juga dapat terjadi apabila suatu daerah menentukan suatu tahapan pembangunan (masyarakat). Pada saat pertama, masyarakat lebih banyak terdiri petani yang kondisi miskin, dan kondisinya memprihatinkan. Maka pada waktu pemilu pertama kali, masyarakat lebih memilih kepada pertanian (para ahli) sebagai wakilnya. Setelah lima tahun berjalan dan pertanian terbangun dengan baik, maka boleh jadi pada waktu pemilu berikutnya masyarakat lebih memilih wakil dari himpunan pedagang, karena menginginkan meningkatnya perdagangan hasil pertanian.

Kegotong-royongan akan lebih mudah dilakukan dengan metode perwakilan ini, karena himpunan kerja/sosial dapat membentuk suatu ranting dari tingkat daerah kabupaten/kota, propinsi dan nasional (pusat). Sehingga pada suatu waktu ada daerah yang dewannya didominasi oleh himpunan perikanan misalnya, sedangkan tingkat keahliannya kurang, maka dapat meminta bantuan dari himpunan perikanan tingkat diatasnya (propinsi) ataupun pusat untuk membantu di dalam pelaksanaan penyusunan peraturan berhubungan dengan itu atau bisa juga pendampingan dari segi teknis.

Beberapa keuntungan dari sistem demokrasi ini antara lain :
a.Kegotongan-royongan yang dilakukan oleh himpunan baik dari pusat dan daerah ini secara nasional dapat mempercepat pembangunan di semua sektor baik itu sektor ekonomi, sosial maupun publik
b.Fungsi dewan perwakilan rakyat untuk saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances) dengan pemerintah dapat berjalan sempurna, karena selain pengawasan di tingkat penyusunan peraturan (legeslasi) dengan pemerintah, dewan dengan bantuan himpunan kerjanya masing-masing dapat melakukan pengawasan untuk implementasinya di tingkat daerah.
c.Terjadinya pelaksanaan permusyawaratan perwakilan lebih baik antar anggota dewan yang mewakili himpunan kerja yang berbeda, baik di tingkat daerah maupun pusat.
d.menekan terjadinya money politics karena itu tidak bermanfaat sama sekali.
e.mengembangkan budaya profesionalisme di bidang mereka masing2 untuk kemajuan bersama
f.hanya orang-orang yang kompeten di bidang yang bisa menjadi wakil atas masyarakat
g.penghargaan atas ide pencerahan untuk kemajuan bersama lebih dihargai dan lain sebagainya

E. LAIN-LAIN

Untuk pelaksanaan kepala daerah kabupaten/kota, propinsi dan presiden untuk tingkat nasional tetap dapat dilaksanakan dengan konsep demokrasi yang sekarang telah berjalan. Mungkin sedikit ada nuansa lain, yaitu program kerja yang dilaksanakan oleh kepala daerah/presiden akan lebih membumi, karena sudah langsung bersentuhan permasalahan riil yang dihadapi oleh masyarakat dan kemungkinan penyelesaiannya.

Permasalahan yang dihadapi untuk melaksanakan demokrasi keahlian adalah konsep demokrasi yang berjalan dewasa ini adalah demokrasi multipartai. Sehingga untuk dapat menjalankan demokrasi keahlian, setidaknya harus dilakukan proses transformasi secara perlahan. Adapun cara yang digunakan adalah dengan cara mewajibkan tiap partai memiliki pola keahlian bidang sesuai dengan kondisi masyarakat. Sehingga secara perlahan-lahan partai yang tidak sanggup memenuhi itu akan hilang secara alamiah.
Setelah jumlah partai semakin sedikit dan mendekati jumlah seminimal mungkin, selanjutnya tinggal pengajuan suatu wacana untuk menghilangkan partai dan menggantinya dengan demokrasi keahlian dengan mekanismenya yang telah dijabarkan diatas.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan agama yang ada di Indonesia, adakah suatu tempat tersendiri? Karena apabila agama di gabungkan ke dalam mekanisme demokrasi keahlian bisa menyebabkan terjadinya friksi-friksi perpecahan, sehingga menjadikan mekanisme demokrasi tidak efektif, dan dapat menjadikan timbulnya disinformasi (asinkron informasi) di dalam pelaksanaannya sehingga fitnah dunia dapat mencemarinya.

Untuk agama-agama dan kepercayaan, akan ditampung ke dalam suatu wadah tersendiri, karena sebenarnya agama-agama itu bersifat menyeluruh (holistik) ke semua komponen sistem demokrasi yang ada, dan sifat daripada agama adalah melakukan pendidikan ke dalam masyarakat untuk mengindahkan dan melaksanakan nilai-nilai moral agar semua sistem ini dapat selaras dengan alam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagian ketiga sistem syaraf sosial

II.SISTEM EKONOMI

Dengan sistem demokrasi keahlian ini maka proses transformasi informasi dari dewan perwakilan rakyat ke ekonomi dapat berjalan dengan lebih lancar, sehingga informasi lebih dapat berlangsung secara sinkron.

Ekonomi di dalam pelaksanaannya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu perekonomian secara riil dan perekonomian secara moneter (mata uang). Proses perekonomian secara riil dapat digambarkan dengan membaginya berdasarkan sektor-sektor ekonomi yang memiliki kesesuaian dengan himpunan yang membentuk unsur dewan perwakilan rakyat. Sedangkan perekonomian secara moneter dikelola oleh mekanisme perbankan seperti yang sudah berjalan selama ini. Akan tetapi ke depannya diusahakan untuk mengubah mekanisme komponen bunga (menimbulkan ketidaksinkronan informasi nilai terhadap sektor riil) sebagai alat kontrol menjadi komponen berdasarkan syariah. Komponen bunga digantikan dengan komponen kemitraan (ada konsultasi bisnis), sehingga menimbulkan saling kepedulian antara pihak bank dengan pihak pengusaha dan saling menjaga untuk kemajuan usaha.

Dengan mengamati jalannya ekonomi secara sektoral, maka pengamatan yang sebaiknya digunakan adalah dengan pendekatan ekonomi kelembagaan. Dimana memandang sektor perekonomian adalah secara menyeluruh (holistik). Dalam suatu alur sektor ekonomi terbagi ke dalam beberapa proses ekonomi. Satu proses ekonomi diwakili oleh satu jenis industri. Dimana masing-masing industri tersebut memiliki daya serap tenaga kerja.

Optimalisasi industri dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama pihak universitas. Proses training kerja dan penelitian oleh mahasiswa dapat dilakukan di semua lini sektor ekonomi yang ada. Sehingga hasil akhir yang nanti diharapkan adalah terjadinya optimalisasi kinerja dengan teknologi yang dihasilkan oleh kalangan akademisi di setiap industri yang ada. Dalam jangka panjang akan meningkatkan kinerja dan daya saing industri Indonesia terhadap perdagangan dunia. Dengan proses ini tenaga kerja baru terdidik akan mudah diserap oleh semua sektor perekonomian (proses link and match berjalan), sehingga dalam jangka panjang diharapkan dapat menurunkan tingkat pengangguran tenaga kerja.

Efek terbesar yang ada adalah pengembangan perekonomian secara terarah sesuai dengan karakteristik daerah dan dapat mengoptimalkan sumber daya manusia secara penuh, sehingga tingkat pengangguran akan turun secara perlahan-lahan.
Efek yang lain terjadi optimalitas proses produksi secara menyeluruh sehingga pasar dapat dioptimumkan juga, sehingga dapat menjadikan masyarakat dapat mendapatkan penghasilan secara cukup dan wajar, dengan output produksi barang dan jasa dengan harga yang terjangkau.

III.SISTEM KONTROL SARAF SOSIAL

Informasi yang selalu sinkron harus selalu diupayakan untuk menghindarkan terjadinya fitnah dunia yang diakibatkan asinkronisasi informasi. Untuk itulah konsep awal ini diambil dari hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa segala sesuatu hal dimulai dari NIAT. Dimana NIAT yang baik akan berakibat baik pada akhirnya demikian pula NIAT yang buruk.

Berikut kutipan beberapa hadits Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi.” (HR. Bukhari)

“Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya”. (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)

“Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka”. (HR.-Muslim)

Sebenarnya ide awal bisa digambarkan dengan proses keuangan dimana seorang anggota masyarakat menyimpankan dananya di perbankan syariah. Proses penyimpanan disana didasarkan atas niat penabung. Apabila seorang penabung hanya ingin menyimpan dananya maka akan ditaruh disuatu tabungan yang aman dan diutak-atik nilainya selamanya. Sedangkan bagi mereka yang ingin menyimpan sambil mendapatkan hasil dari investasi bank kepada sektor riil dimana keuntungan/kerugiannya dalam bentuk bagi hasil, maka dalam kurun waktu tertentu uang yang dimilikinya akan bertambah nilainya.

Dari narasi diatas dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.Niat si penabung yaitu untuk menyimpan uangnya secara aman
2.Dari niat tersebut terjadilah suatu akad atau kesepakatan dengan pihak perbankan dan terjadi transfer kekayaan dari pihak penabung ke pada bank disertai tujuan akhir untuk menjaga nilai kekayaannya selalu tetap.
3.Dari proses akad untuk menuju tujuan supaya selalu terjaga nilainya itulah pihak bank dipercaya untuk memegang amanah, disinilah proses amanah sebagai fungsi evaluasi berlangsung.
Sehingga apabila digambarkan secara grafis berbentuk sebagai berikut :

Penggambaran diatas menunjukan proses bagaimana proses informasi yang sinkron itu berlangsung. Dan merupakan satu blok bagian proses saja.
Tapi apabila dikembangkan lebih lanjut dapat menyerupai bentuk sel syaraf (secara biologi). Dimana AKAD dimana suatu persetujuan dimana merupakan manifestasi dari niat terbentuk sebagai PUSAT PERINTAH atau SIMPUL UTAMA, dan TUJUAN dengan dikontrol oleh AMANAH (sebagai fungsi evaluator) bertindak sebagai penyalur informasi untuk menuju ke SIMPUL SELANJUTNYA dan proses ini berjalan terus menerus menyebar keseluruh bagian yang memerlukan informasi ini

Fungsi sistem dalam penyampaian informasi ini dapat diterapkan di segala lini kehidupan termasuk dalam lingkungan moneter (keuangan) sehingga mengakibatkan dunia perbankan yang ada selalu dalam rel yang selalu amanah.
Proses ini dapat diandaikan seperti blok-blok perintah. Sehingga dapat dengan cepat dideteksi suatu error atau kesalahan perintah (NIAT) apabila ada pihak-pihak yang ingin menyelewengkan informasi (asinkronisasi) sehingga hasil akhir tidak sesuai seperti yang diharapkan, dan dapat diketahui pada bagian blok mana, kesalahan tersebut terjadi.

Gambar : sel saraf dalam tubuh manusia.

Dari proses inilah antara nilai religi (keagamaan) dengan kondisi riil kehidupan sehari-hari menjadi bersatu padu. Karena semuanya dikontrol oleh NIAT yang merupakan refleksi perintah yang sesuai dengan perintah agama/adat/kebijaksanaan lokal (nature call). Sehingga dalam proses berkehidupan selanjutnya tidak ada dikotomi permasalahan itu. Sehingga semua kebijaksanaan tersebut tidak diwakili oleh suatu kepartaian, akan tetapi meliputi kesegala sistem kehidupan yang ada.

Berdasarkan buku Titik Balik Peradaban (Fritjof Capra), suatu organisme makhluk hidup memiliki dua sifat mendasar, yaitu dia harus selalu berusaha beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, kemudian tiap organisme tersebut juga memiliki kehendak pribadi yang aktif. Dan terbukti sistem organisme ini dapat bertahan di dalam segala kondisi untuk selalu survive hidup dalam jangka waktu lama.

Dan itu bisa disimbolikan dengan sel saraf dalam tubuh manusia yang terhubung dengan otak. Dimana sel saraf pun terbagi menjadi dua bentuk yaitu sel saraf yang motorik yang mengakibatkan manusia dalam menggerakan organ tubuh secara sadar, dan yang kedua adalah sel saraf non motorik (tidak sadar) yang menggerakan organ-organ tubuh dapat bekerja secara otomatis seperti organ dalam jantung, paru-paru, hati dan lain sebagainya. Bila ditilik dari komposisi otak manusia, yang digunakan secara sadar hanya sekitar 8-12%, sedangkan 88% digunakan secara tidak sadar yang mengontrol mekanisme tubuh manusia secara keseluruhan.

Bila hal ini diterapkan dalam sistem kemasyarakatan maka agama/adat/lokal memegang peranan utama dalam membentuk organisme masyarakat supaya sesuai dengan alam (nature call), dimana sudah dijabarkan dalam berbagai kitab suci dan kepercayaan lokal masyarakat. Dan itu nantinya dengan sistem kontrol saraf sosial akan mengarahkan masyarakat agar sesuai dengan kondisi alam dimana mereka bermukim / bertempat tinggal. Dan ini kalau dianalogikan memegang peranan penting (88% saraf tidak sadar)

Sedangkan sistem saraf sadar kontrol sosial (12%) bisa dianalogikan seperti sistem pemerintahan masyarakat yang secara aktif selalu mencari bentuk-bentuk yang ideal untuk menjawab tantangan jaman, dan melakukan pemecahan permasalahan di dalam masyarakat.

Sekiranya cukup sekian, usulan dari saya tentang konsep berpolitik Indonesia ini, dan mohon maaf sebelumnya kalau banyak kesalahan dan kekurangtepatan di dalam penulisan karena keterbatasan saya secara pribadi. Semoga ini semua dapat dijadikan masukan ke depan untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik dan dunia pada umumnya.

Widionirwono T.
Semarang, 18 Maret 2009

NB : terima kasih kepada Mas Anggoro, Cooky, Handrini, Juworo dan teman-teman lain yang telah memberikan masukan sehingga memperluas pandangan dalam penulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s