Konsep Hidup Negara Indonesia yang Berdaulat Penuh


Konsep Hidup Negara Indonesia yang Berdaulat Penuh

16 Maret 2009 jam 23:57
Negara adalah keganjilan mekanisme manusia yang berserikat dan saling mengikatkan diri dalam suatu entitas politik dan pemerintahan. Yang pada saat ini di Indonesia keganjilan tersebut telah mencapai titik ekstremitas yang tinggi. Negara Indonesia tidak lagi melayani manusia-manusia Indonesia yang menjadi warga negaranya, yang notabene lebih dari 67 % hidup dalam garis kemiskinan. Pada saat ini ,negara lebih melayani sekumpulan manusia tengik yang bernama Elite Politik, Selebritas Akademika, Ekspatriat, dan komunitas Multinasional Company.

Wewenang negara sudah melenceng jauh dari usaha-usaha untuk mensejahterakan dan memberi perlindungan bagi warga negaranya baik di dalam maupun di luar negeri. Memang tidak dipungkiri ada beberapa usaha pemerintah untuk mengangkat harkat hidup warga negara, hanya sangat disayangken tindakan-tindakan tersebut hanya bersifat propagandis, dan demi mengejar kepopuleran semata ketika masa Pemilu mendekat.

Selama hampir 400 tahun terakhir ini telah terjadi kesengsaraan sejati yang mendera rakyat di Nusantara ini, sejak dari jaman penjajahan Belanda yang kebanyakan orang lupa ( karena memori kolektif bangsa ini cenderung pendek dan berkapasitas rendah), hingga ketika menjadi nama Indonesia. Dalam beberapa episode memang Indonesia sempat mengalami masa2 kenikmatan, tetap saja belum mencapai masa keemasan seperti ketika jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dulu. Walaupun sekarang Indonesia bergerak dalam era globalisasi dan Incumbent pemerintahan mencanangken “INDONESIA INCORPORATED” (yang saya rasa adalah salah kaprah: Bagaimana mungkin mengatur/ memimpin negara seperti mengatur sebuah multi nasional company dan memposisikan diri sebagai CEO alih-alih sebagai Presiden?).

Dan dalam kasus negara tercinta bukan dalam proses Indonesiasi melainkan perusakan total Indonesianik hingga kesendi-sendi dan ke akar tradisi kita sebagai masyarakat Agraris dan Masyarakat Maritim. Ketika sebuah negara dijalanken dalam model korporasi, maka pemerintahan akan cenderung Profit Oriented, dan akan menegasikan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, karena dibelahan bumi manapun tidak ada yang namanya korporasi itu bersifat Non-Profit. Ketika metode itu diaplikasikan di negara kita: “Free Trade, Free Fight Liberalism, dll.” maka mayoritas warga negara yang hidup miskin dan tertinggal dalam pendidikan hanya akan menjadi penonton melompong di pinggir arena, tanpa tahu apa maksud dari permainan tersebut. Seperti penduduk pedalaman Afrika yang menyaksikan Rally bergengsi PARIS-DAKKAR dari pinggir jalan, ketika tuan-tuan bule yang mulia itu menggilas tanah mereka dengan kendaraan bermesin dan berteknologi tinggi. Mereka tidak akan pernah mengerti mengapa para peRally itu merusak jalanan dan bahkan membahayakan nyawa penduduk lokal, mereka hanya bertempik sorak secara kosong, gegar budaya dan gegar teknologi yang terjadi.

Perlu dicermati bahwa agen2 Neo Liberal dalam merangsek masuk dan merusak tatanan budaya Indonesia tidak secara serta merta dengan cara2 kasar dan frontal, tapi mereka masuk melalui politik asimilasi budaya, menciptaken model-model panutan melalui baliho iklan dan media, serta kegiatan-kegiatan budaya asing yang hedonis, sehingga pelan tapi pasti racun hedonisme mulai meracuni benak penduduk kota2 besar di Indonesia, seperti ketika kolonialis Amerika merusak suku-suku Indian dengan Air Api ( Minuman Keras) dan melakukan genocida terselubung melalui “Evil Charity” yaitu membagi-bagikan selimut yang terkontaminasi kuman cacar air pada suku2 Indian Pedalaman. Sehingga suku-suku pedalaman yang sama sekali tidak kebal terhadap penyakit itu akan menderita dan cacar menjadi wabah yang mematikan bagi kaum Indian.

Betapa buruknya kerusakan secara tidak langsung kepada Indonesianik kita saat ini, karena pengaruh orang-orang asing terutama Amerika dan Inggris yang berceloteh dalam bahasa Indonesia, mereka yang mendengungkan Globalisasi, Hak Asasi Manusia yang sangat-sangat liberal, konsep demokratisasi liberal, ekonomi liberal, dan konsep pemerintahan yang bersih dan tidak korup, ketika mereka mendarat di tanah air kita saat ini. Jangan pula dilupaken bahwa Kolonialis Belanda menjajah negeri ini itdak serta merta setelah mendarat, mereka lalu bertempur dengan pasukan-pasukan kerajaan di Nusantara, tetapi melalui perdagangan, korporasi dan pelan-pelan mulai mengatur sendi-sendi pemerintahan Kerajaan. Seperti saat ini agen-agen Neo Liberal juga melaksanaken siasat jitu yang sama ( Lagu Lama, Gendang Baru), mereka mulai memaksakan nota-nota kesepahaman yang menguntungkan korporasi mereka dengan kemasan data ilmiah yang menyesatken, dan komisi yang menggiurkan para elite dan eselon kita.

Oleh karena itu, sebuah kewajiban bagi suatu gerakan baru, yang berdiri diatas dasar suatu pandangan dunia-Nasionalis untuk memastiken bahwa konsepsi negara Nasional dan tujuan negara nasional memperoleh karakter yang jelas dan seragam. Manfiestasi Politiknya adalah, Negara tidak mewakili tujuan pemerintahnya ( siapapun itu yang memerintah), melainkan mewakili cara pemerintah. Hal tersebut dapat dijadikan dasar pikiran bagi pembentukan sebuah budaya manusia Indonesia yang lebih tinggi dan akan menciptaken elite-elite politik yang setangguh baja demi memperjuangken ideologi dan idealisme negara, bukan ideologi partai atau golongannya. Negara tidak mewakili isi, melainkan sebuah bentuk. Suatu tingkat budaya rakyat yang menegasikan kualitas negara dimana dia hidup. Ketika negara menjadi alat bagi rakyat untuk mencapai tujuan2nya demi mencapai kesejahteraan dan kejayaan serta kebanggaan sebagai suatu bangsa. Ketika gerakan baru ini diadopsi dan dijalanken oleh rakyat banyak maka ia akan menjadi gempa tektonik yang memicu tsunami sosialisme diseluruh asia tenggara, asia pasifik bahkan seluruh dunia, dimana epicentrum gempa tektonik tersebut berasal dari lautan Indonesia.

Tabikk…

JB. Agung Untoro
Selalu berada dalam front perjuangan melawan Supremasi Kulit Putih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s