Pemilu Legislatif 2009 Uji material Popularitas Calon atau partai yang Dominan


Pemilu Legislatif 2009 Uji material Popularitas Calon atau partai yang Dominan

“Ojo Rumongso biso ning sing biso rumongso”
Ada pepatah jawa yang menjelaskan seperti itu, namun sekarang orang bilang :
“Wong Jowo wis ilang Jawane?”
Kisah ini terjadi di suatu Universitas Negeri di Semarang dalam pemilihan lembaga perwakilan Mahasiswa ada seorang mahasiswi begitu yakin bahwa dia akan dipilih dengan suara terbanyak pada pelaksamaan pemilu fakultas. Namun apa ternya dia yang menganggap dia populer ternyata dia tidak memperoleh suara yang signifikan. Justru orang lain yang laki-laki dan berkesan low profile justru terpilih dan meraup suara terbesar.
Padahal berbagai macam cara telah dia lakukan dengan mengerakkan pinggulnya sampai foto-foto yang modus, mengapa suaranya tidak signifikan?
Ternyata dia tidak paham bahwa suara itu tidak semata-mata karena penampilan atau kepribadian seseorang, tetapi siapa yang menggalang suara itu, karena orang datang ke TPS bukan karena ketertarikan pada figur seseorang. Penulis bukan menggurui namaun sudah memperhatikan setiap bentuk pemilihan dan pemungutan suara dimana-mana dan kapanpun, ternyata propaganda yang luar biasa tanpa tenaga penggerak tidak ada artinya sama sekali.
Inilah yang akan menguji apakah popularitas seseorang yang akan mendongkrak suara partai, atau sebaliknya. Namun hipotesis saya tetap mengatakan bahwa Partai akan mendongkrak seseorang menjadi legislatif. Karena orang tidak dapat melakukan pilihan mendadak pada seseorang, hanya karena kedekatan dengan orang-orang tertentu itulah orang kan memilih orang. Namun orang akan memilih partai karena beberapa hal seperti kepentinga prangmatis sampai ideologis. Dan biasanya pemilih tradisional itu lebih ideologis dalam memilih yang kadang dianggap mereka adalah pemilih bodoh. Padahal mereka sangat paham akan pemilih, karena telah melakukan pemilihan yang cukup sering, dan berkali-kali, karena mereka biasanya adalah pemilih tua. Sehingga mereka paham betul dengan pahit getirnya politik. Mereka paham betul bahwa pilihan mereka adalah menentukan arah negara ini, dan sadar bahwa mereka tak mampu untuk menjalani tugas itu dan betul-betul mewakilkan pada partai yang mereka anggap mewakili ideologi mereka meski partai itu telah mengalami distorsi secara ideologi.
Inilah yang kadang tidak dipahami oleh para politikus muda, yang sudah merasa memiliki kemampuan yang luar biasa karena penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi, karena tingkat pendidikan yang merasa cukup lebih tinggi, dan menganggap pemilih tradisional adalah buta huruf. Tapi mereka memiliki jaringan kaut dan sangat menentukan arah kebijakan negara ini.
Hipotesis ini akan teruji pada pemilu mendatang, apakah partai akan tetap dominan meraup suara daripada nomor caleg. Dan satu yang harus disadarai bahwa pemilu itu tidak seperti orang memilih pilihan bintang dadaanh di televisi, bintang dadaanpun ada tangan-tangan ajaib yang bergerak seperti kapital. Pemda, tim sukses dan jaringan.
Maka harus dipahami bahwa untuk mencapai kemenangan politik adalah kerjasama dari berbagai bagian atau aspek, sehingga semua bagian melakukan sebuah aktifitas yang kompak dan bersama-sama menggalang kekuatan. Namun apapun yang ada kekuatan jaringan akan menggangu rezim kekuasaan yang ada. Karena Penguasa lebih senang menguasai wakil yang tak berbasis masa daripada yang berbasis mas. Sedangkan basis masa di partai dan partai di underbow politiknya dan ormas sejenis.
Fenomena bahwa pemakaian artis pada pemulu mendatang akan membuktikan bahwa masyarakat tidak akan mampu digoyahkan dengan iming-iming kecantikan, karena mereka paham betul mana tontonan dan tuntunan. Mereka mampu menilai mana yang layak untuk dunia politik dan mana yang layak untuk dunia hibura. Belum teruji pula bahwa artis mendorong suara dominan atau signifikan, karena di tahun 2004 sekalipun masih menggunakan urutan nomor caleg, bukan suara terbanyak.
Kalaupun terpilih karena kekuatan kapital dan propaganda yang kuat bahkan ada sebagian yang mungkin menggunakan money politik. Keartisannya tidak mendongkrak begitu banyak. Kecuali artis itu mau turun ke bawah dan bertemu mereka. Karena artis pun tanpa kampanye pasti di kejar penggemarnya dan biasanya orangnya itu-itu.
Adapun peran organisasi di dalam dunia politik ataupun bernegara cukup penting bagi adanya suatu negara, karena tidak mungkin aspirasi hanya bisa diperjuangkan oleh seseorang, namun adalah sebuah pertautan dan konsolidasi kepentingan yang sama. Maka kepentingan yang sama itu membentuk patai dan ideologi. Sedangkan partai yang ada dalam pemilu tersebut memungkinkan menjadi partainya presiden, kerana seseorang yang akan mencalonkan diri sebagai seorang presiden harus mendirikan partai, maka dia keluarkan dananya dan jaring feodal dan kekuasaaannya untuk mengeolkan partai tertentu.
Apakah partai baru akan mendngkrak partai lama, saya rasa itu mungkin saja karena dorongan sitem yang tidak mapan, meski dari kalangan elit. Namun biasanya untuk menerobos sebuah kemapanan di masyarakat cukup sulit, mungkin hanya menerobos prosentase kesakit hatian yang tidak lebih besar dari 10 persen, karena 80 persen suara sudah dikuasai 7 partai besar yang memiliki suara terbanyak.
Partai baru menghadapi tantangan berat untuk meraup suara. Namun hal ini memang dilakukan oleh penguasau untu menata dan mempertahankan basis kekuatan di pemilu mendatang, dengan adanya UU parpol dan pemilu yang dilakukan secara kompromis pada pamilu 2009 dan ketat pada pemilu 2004.
Selamat bertarung.

One thought on “Pemilu Legislatif 2009 Uji material Popularitas Calon atau partai yang Dominan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s