Hubungan Persepsi Orang Tua tentang Program Televisi dengan Perilaku Menonton Anak


Hubungan Persepsi Orang Tua tentang Program Televisi
dengan Perilaku Menonton Anak

Teknologi televisi masuk ke Indonesia bersamaan dengan dilangsungkannya peristiwa akbar Olah raga Asian Games di tahun 1962. Embrio penyiaran televisi lahir bersamaan dengan didirikannya TVRI oleh Presiden Soekarno. Dengan adanya kehadiran Satelit Palapa untuk pertama kalinya ditahun 1976, TVRI bisa diterima hampir seluruh tanah air. Siaran pembangunan, hiburan, dan pendidikan mudah diterima masyarakat. Sehingga, setidaknya masyarakat bisa well-informed dengan pelbagai peristiwa seputarnya. TVRI mulai menerima iklan lebar-lebar dipenghujung 1980. karena diduga kehadiran iklan terutama untuk kalangan masyarakat pedesaan, memicu pola konsumerisme. Maka, pada 1981, tayangan iklan di TVRI dihentikan (Malik, 1997 : 37).
Setelah sekian lama TVRI memonopoli bidang siaran sejak 1963, pemerintah pun kemudian merangkul pihak swasta untuk ambil bagian dibidang siaran televisi. Pada 1988 RCTI diberi hak siaran. Televisi milik grup Bimantara Pimpinan Bambang Trihatmojo, mulai beroperasi sejak April 1989 dan diresmikan pada 24 Agustus 1989 tepatnya pada hari lahir TVRI ke-28. Meskipun, siarannya masih terbatas di Jakarta saja, dengan menggunakan antena parabola.
Di Surabaya, pada 1989 berdiri SCTV yang merupakan “adik kandung” RCTI. SCTV membuka cabang di Denpasar. RCTI membuka cabang siaran di Bandung. Pada 1991, deregulasi televisi swasta makin melaju, hal ini terlihat dari pemberian izin lahirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang dikelola PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia milik Siti Hardiyanti Indra Rukmana. Diresmikan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1991, bertempat di studio 12 TVRI Senayan Jakarta. Berbeda dengan RCTI dan SCTV, TPI tampaknya lebih beruntung. TPI sejak awal dibolehkan siaran secara nasional. Alasannya, karena TPI bukan semata-mata komersial, melainkan pendidikan. TPI bisa menasional berkat dukungan fasilitas transmisi dari TVRI.
Pada 1993 pemerintah mengeluarkan izin membolehkan televisi swasta bersiaran nasional. Alasannya, untuk pemerataan informasi, atau yang lebih pasti, demi meningkatkan perolehan iklan. Melalui aturan yang mulai melonggar itu, RCTI dan SCTV segera membangun pelbagai stasiun relay-nya di beberapa kota. Pada 1993 itulah RCTI dan SCTV yang tadinya satu atap manajemen, kini berpisah untuk mengatur dirinya masing-masing. Keduanya bisa bebas bersaing.
Diawal 1993 lahir pula AN-TV, menyusul berikutnya Indosiar yang resmi go public awal 1995. Indosiar dimodali oleh Sudono Salim alias Liem Siue Liong dan keluarga Supardjo Rustam. Tampil pertama kalinya, Indosiar menayangkan film yang baru diproduksi dan belum beredar di bioskop. Hal ini mengejutkan banyak pihak. (Gumgum Gumilar, 2008)
Televisi sampai saat ini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi seluruh masyarakat dari berbagai umur, usia, tempat, suku bangsa dan Negara dengan berbagai latar belakang budayanya. Menjadikan setiap orang tidak lagi asing tentang keberadaan televise, terutama dikalangan ibu-ibu rumah tangga, remaja dan anak-anak.
Keberadaan televisi tersebut telah mengakibatkan dampak positif dan dampak negative di kalangan masyarakat yang menjadikan televisi sebagai media hiburan, informasi maupun pendidikan. Banyak tudingan yang negative akan fungsi dan peran televise yang negative selama ini. Tudingan terhadap media massa terutama televisi sebagai biang keladi tindak kekerasan dan perilaku negatif lainnya pada pada anak-anak sebenarnya sudah terjadi sejak lama. (Oos M Anwas, 2009)
Banyak akibat dari acara televise yang memunculkan akibat yang kurang baik, maka perlu peran orang tuanya dalam mengawasi, mendampingi dan atau menemani anak-anak mereka, terutama yang sedang mengalami perubahan seperti remaja (pubertas) atau anak-anak yang masih berusia dini.
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang duduk di depan layar televisi. Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak-anak. Hampir semua stasiun TV menyajikan program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor keluarga dalam menangkal gencarnya siaran televisi tersebut. . (Oos M Anwas, 2009)
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada anak-anak. Menurut Skomis, dibanding-kan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel Indonesia, tampak hidup di layar televisi.
Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan. Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksi-kannya Memang televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.
Dari segi penontonya, sangat beragam. Mulai anak-anak sampai orang tua, pejabat tinggi sampai petani/nelayan yang ada di desa bisa menyaksikan acara-acara yang sama melalui tabung ajaib itu. Melalui beberapa stasiun mereka juga bebas memilih acara-acara yang disukai dan dibutuhkannya. Begitu pula sebagai media hiburan, televisi dianggap sebagai media yang ringan, murah, santai, dan segala sesuatu yang mungkin bisa menyenangkan.
Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam aspek kognetif, apektif, ataupun psiko-motor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaat-kan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi. Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas. Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. (Oos M Anwas, 2009)
Karena segala latar belakang itulah maka perlu dipejari bahwa peran orang tua dalam melakukan tindakan preventif dalam mengatasi akibat negative dari tayangan televisi harus memberikan berbagai macam saran yang positif. Efektif tidaknya perlunya menjalin hubungan komunikasi anak dan orang tua dalam menonton televise, maka perlu melakukan penelitian secara empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, (1991), Psikologi Sosial, Jakarta: Rineka Cipta.
Abin Syamsudin Makmun, (1990), Pedoman Studi: Psikologi Kependidikan, IKIP Bandung.

Dedi Supriadi, (1997), Kontraversial tentang Dampak Kekerasan Siaran Televisi terhadap Perilaku pemirsanya; Bercinta dengan Televisi, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Gene L. Wilkonson, (1980), Media dalam Pembelajaran: Penelitian Selama 60 tahun, Jakarta: Rajawali.

Jalaludi Rakhmat, (1991), Islam Aktual; Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim, Bandung: Mizan.

Oos M. Anwas, (1998), Kaum Ibu adalah Pendidik Utama, Artikel: HU: Suara Karya Jakarta, 4 Mei 1998.

Sri Andayani dan Hanif Suranto, (1997), Perilaku Antisosial di Layar Kaca; Bercinta dengan Televisi, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Wawan Kuswandi, (1996), Komuni-kasi Massa: Sebuah Analisi Media Televisi, Jakarta: Rineka Cipta.

DeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia – Kuliah Dasar. Jakarta: Professional Books .

Gumgum Gumilar, 2008 . Menyikapi Tayangan di Televisi Indonesia. Penulisan lepas dengan Media Brosing. Google Search Engine.

Rivers L. William, et al. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media.

Subroto, Darwanto Sastro.1992. Televisi sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ghazali, Abd. Moqsith. 2005. Sinetron Religius. Diakses 26 Desember 2005 pukul 11.30 WIB. http://islamlib.com/id/index.php.

Eramuslim. 2002. Paket Program di TV, Bisnis Oriented?. Diakses 26 Desember 2005 pukul 12.00 WIB. http://eramuslim.com/br/as/2b/4241,1,v.html.

Mizwar, Deddy. Prihatinkan Langkanya Sinetron Religi. Diakses 27 Desember 2005 pukul 09.00 WIB. http://www.suarakaryaonline. com/news.html?id=2450.

Rahman, Encon. 2005. Ritual Tayangan Televisi di Bulan Ramadhan. Diakses 27 Desember 2005 pukul 10.00WIB. http://www.pikiranrakyat. com/cetak/1004/22/ramadan01.htm.

Kompas. 2005. Dari Sinetron ke “Emerging Reason”. Diakses 27 Desember 2005 pukul 10.30 WIB. http://www.kompas.com/kompascetak/ 0510/01/Bentara/200

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s