Megawati, Kartini dan Caleg Perempuan Karbitan di pemilu 2009


Megawati, Kartini dan Caleg Perempuan Karbitan
di pemilu 2009

Peran wanita dalam kancah politik Indonesia telah menjadi sebuah wacana, terutama prestasi Megawati di dalam memimpin PDI Perjuangan dan memenangkan pemilu tahun 1999. Namun kemenangangannya menjadikan tentangan dari berbagai kelompok terutama dari kelompok agama. Namun kontradiksinya mereka kaum reaksioner menampilkan wanita-wanita karbitan dengan alasan keterwakilan perempuan, seakan mereka harus menjadi caleg jadi dengan menghamba-hamba karena jenis kelaminnya.
Namun apapun yang lahir dengan alami akan tumbuh dan berkembang secara normal, tapi yang lahir secara karbitan akan tumbuh tidak normal, dan kualitasnya berbeda. Hal inilah yang menjadikan ketokohan Megawati dan Kartini dapat menjadi catatan sejarah. Kartini adalah tokoh Emansipasi, sedangkan Megawati adalah Ketua Partai dan Presiden Wanita pertama yang memiliki pendukung yang cukup besar, meski terpaan yang dasyat dari lawan-lawan politiknya.
Sehingga pola dan reka dibuat lawan-lawannya untuk menghadangnya dengan berbagai cara seperti memperdagangkan keunggulan sensualitas lawan-lawannya dan kelemahan-kelemahan gender sebagai daya tarik. Sehingga harus ada pemaksaan keterwakilan perempuan, caleg perempuan jadi, yang cukup tidak rasional dalam logika politik di Indonesia.
Bagaimana tidak semua hadiah adalah hasil jerih payah keringat dan kristalisasi dari kerja keras manusia bukan turun dari langit. Maka wanita-wanita Indonesia mereka harus sadar dan dininabobokan oleh bius rayu keterwakilan perempuan padahal sebenarnya hanya mendapatkan tipu muslihat. Saja.
Wanita memiliki tugas dan kodrat yang berbeda dari laki-laki, dan hal ini juga disadari oleh Kartini dan Megawati. Tugas sebagai tulang punggung keluarga dan penjaga gawang keluarga, yaitu tugas pokok yang tak dapat ditinggalkan, karena ini tugas pokok wanita yang seperti pula laki-laki juga memiliki tugas pokok yang tak dapat ditinggalkan.
Kesetaraan itu tidak sama dengan gotong royong, karena gotong royong itu ada sinergi, sedangkan kesetaraan tidak sinergi dan tak ada kaitan masing-masing, hanya sejajar. Sejajar itu tak berarti saling membantu tapi hanya pesaing, sedangkan wanita bukan pesaing wanita, tapi orang yang dapat diajak kerjasama secara sinergis.
Kapitalisme sendiri menginginkan wanita yang setara dengan laki-laki karena upahnya murah bukan. Namun bukan untuk membuat wanita lebih sejahtera apalagi bahagia. Karena kapitalisme menjadikan manusia sebagai faktor produksi, apabila penawaran faktor tinggi harga turun. Itulah hukum pasar faktor, kapitalis tanpa akan memberi sesuatu tanpa pamrih, semua ada kemauannya.
Semua itu hanya cara-cara kapitalis untuk menaikan posisi tawar pasar faktor, sedangkan pasar barang juga meningkat karena permintaan barang-barang konsusmsi oleh wanita maningkat. Namun di satu sisi kodrat wanita itu memudahkan untu diatawari barang-barang konsumsi.
Karena itu ada pergeseran dari cita-cita kkartini sampai saat ini. Konteks nya menjadi bias dan tbergeser. Konsep kemandirian menjadi konsep menuntut hak dan kadang melupakan kewajiban sebagai wanita, inilah awal kehancuran sebuah negeri. Karena masing-masing antara wanita dan laki-laki memiliki tugas dan fungsi tersendiri, tanpa kecuali, fdan tugas atau pembagiannya sudah diatur sejak jaman nenek moyang kita.
Sejak jaman berburu dan meramu orang selalu hidup berkelompok, baik laki-laki dan wanita, namun mereka memiliki tugas berburu pada awalnya nersama-sama, dan setelah perkembangan jaman wanita bertugas menunggu anak, rumah tinggal, ternak dan tanaman. Jaman ini sudah mulai transisi pada masa pertanian tradisional.
Pertanian tradisional yang dipelopori wanita adalah merupakan prestasi besar wanita namun belum digembor-gemborkan olah semua propaganda wanita, wanita punya waktu luang untuk bertani disela menjaga dan mengurus anak, dan mereka bertani, karena kelebihan wanita adalah pertahananan pada suatu wilayah atau tempat dibanding laki-laki, sedangkan laki-laki kodratnya cenderung memiliki mobilitas tinggi dan lemah menjaga suatu wilayah.
Pada suatu masa adalah dimana alam sudah tidak mencukupi kebutuhan manusia karena padatnya manusia, maka pola berburu dan meramu menjadi berubah pada pola pertanian, dan mulai munculah kekuasaan wanita pada benda-dan harta (Sukarno, dalam sarinah)
Maka munculah pola penguasaan wanita terhadap laki-laki dan dikenallah poliandri, dan inilah awal kejayaan wanita dalam peradapan manusia yang belum dapat disaiingi sampai saat ini. Terutama pada peradaban liberal sekarang, justru wanita telah diperalat dan dimanfaatkan dalam dua tugas berat, mencari nafkah dan mengurus rumah tangga, dan belum diulas dari sisi-sisi negatifnya.
Pada hari kartini 21 April nanti penulis akan mencoba untuk mengajak kembali berbikir, apakah sudah berdayakah wanita Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s