Hasil Pemilu 2009 Kembalinya Pewaris Rezim ORDE baru dalam Pemerintahan


Hasil Pemilu 2009 Kembalinya Pewaris Rezim ORDE baru dalam Pemerintahan

Pemilu 2009 telah usai dan ditutup pada pukul 12 pada tanggal 9 April 2009, dan suarapun diumumkan, semua orang terperangah. Tapi bagi sebagian pengamat hasilnya tidak begitu mengherankan, dan dialektikanya telah terlihat. Apakah orang akan kembali sadar bahwa reformasi hanya isapan jempol belaka, dan bukan kemenangan rakyat, tapi hanya perubahan komposisi suksesi Istana kepresidenan yang dimulai dari bulan mei sepuluh tahun silam. Sebuah revolusi Istana yang melibatkan mahasiswa sebagai kuda tungganngan dan interfensi dunia terutama negara adikuasa cukup tinggi untuk merebut dominasi kekuasaan Orde baru Suharto yang begitu kuat dan mengakar.
Komposisi pemilu 2009 tidak jauh berbeda dari komposisi hasil pemilu 1992 dimana jumlah suara Golkar adalah 60 Persen, PDI P adalah 15 persen dan PPP adalah 25 persen. Kalau Dibandingakan dari pemilu 2009 tidahlah jauh derbeda, Turunan Golkar yaitu Partai Golkar (14,69%), Gerindra (4,384%), P Demokrat (20,097%), P Hanura (3,64%), kemudian turunan PDI yaitu PDI Perjuangan (14,4%), PPP diturunkan pada PKS(8,22%), PAN (6,26%), PKB (5,09%), PPP (4,43%), bukankah tidak jauh berbeda.
Mungkin orang banyak bilang bahwa komposisi partai Islam terpuruk namun sebenarnya bukan terpuruk memang kristal suara adalah sebesar itu (24%), sehingga sebenarnya sejak kemerdekaan terutama orde baru komposisi pilihan rakyat Indonesia tidak berubah. Berarti dio Indonesia telah terjadi tiga kelompok besar yaitu pendukung ajaran Sukarno, Pendukung Suharto, dan Pemeluk mayoritas yaitu Islam, dan ketiganya bersaing di komposisi kursi DPR, Namun dalam perkembangan ke depan karena sistem menuju sistem Distrik akan menjadikan beberapa kekuatan terpolarisasi tersebuta kan mengecilkan kelompok yang lebih lemah, sehingga melahirkan diktator mayoritas sebagai penguasa menghadapi kekuatan Oposisi.
Kalau hal tersebut berlangsung shat tak menjadi sebuah persoalan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam demokrasi. Semua kekuatan itu akan beradu dan saling mematikan peran politik lawan politiknya yang sangat tidak dikehendaki oleh pendiri Republik ini.
Perubahan UU pemilu dengan dikeluakannya keputusan MK dan peraturan KPU telah menjadikan pengkaburan sistem proporsional di Indonesia menuju sistem Distrik, dan apabila kedewasaan politik kita semakin mapan hal itu tidaklah bermasalah, namun apabila kedewasaan kurang kan muncul disintegrasi sektoral, setelah terjadai disintegrasi secara regional, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terancam terganggu.
Kalau dilihat pada pemilu 1999 dan 2004 sebenarnya pemilu 2009 tak jauh beda, namun pada pemilu 1999 muntahan Golkar banyak yang lari ke PDI Perjuangan dan sebagian ke partai Islam, namun pada pemilu 2004 P Demokrat telah mampu menampun garda luar Golkar ke tubuh P Demokrat, dan semakin memantapkan pelarian golkar pada Demokrat pada pemilu 2009, dan P Demokrat sebagai Alternatif Golkar telah berhasil, setelah gagal emnjadikan PDI P sebagai partai Alternatif Pasac Kejatuhan Suharto.
Apakah kembalinya Kekuatan Orde baru akan mengembalikan keganasan Orde baru? Mungkin saja terjadi, namun tekanan internasional membuat keganasan itu agak terhambat, namun nafsu untuk mengecilkan peran lawan politiknya cukup tinggi, terutama de Sukarnoisasi yang merupakan kekauatan laten yang mengancam rezim kekuasaan mereka. Sehingga bagaimanapun cara dilakukan untuk memperkuat posisi mereka.
Banyak cara dilakukan untuk memenangkan pemilu 2009 seperti money politik dan penggelembungan suara, tantangan berat bagi para pendukung Sukrano yang rata-rata hidup dalam kebersahajaan, sehingga propaganda penyadaran tetap terus dipropagandakan, namun dengan sistem liberalisasi politik ini kelompok berkapital kecil dan lemah kekuasaan akan kalah dan tersingkir, sehingga pada saatnya nanti kan terjadi pemusatan parlementer dan ekstra parlementer. Namun apakah akan menghasilkan perubahan yang signifikan pada kultur politik kita pasac gerakan itu, semua dialektika akan terjadi secara alami, namun kekuatan teori akan selalu melakukan impulsnya atau benturannya dengan momentum yang tepat.
.Kesdaran bahwa revolusi belum selesai dan bahkan telah disesar dengan adanya revormasi 1999 dan sekarang muncul Orde baru Jilid III maka kita harus sadar bahwa persatuan di kalanga rakyat terus ditingkatkan terutama rakyat tertindas. Meski kita sadar belum seluruh kawan kita belum tersadarkan, karena ada yang masih tergiur dengan politik uang dan politik ketergantungan seperti BLT dan dana bantuan. Namun perlu disadari rakyat akan makmur apabila terus berdikari, dan kita terus berjuang agar kawan-kawan kita semakin sadar, dan selalu sadar bahwa mereka masih dalam tekanan Orba dan segala bentuk feodalisme baru dan bemtuk akumulasi kapital mereka yang semakin mencekik kita. Kita tidak boleh terlenakan dengan bantuan-bantuan sesaat, berdikari perlu terus ditingkatkan, perlawanan terus dilakukan dan pasti kita menang, meski dari kita belum memiliki satu kebulatan yang utuh.
Untuk mengatasi hal tersebut perlulah dibangun organisasi rakyat yang kuat dan revolusioner, sadar akan pentingnya perjuangan hak-hak rakyat. Sadar akan ancaman imperialisme, kapitalisme dan feodalisme yangs emakin memiskinkan rakyat dan menambah beban hidup rakyat, seperti BBM membubung tinggi, pajak meningkat, pupuk langka, harga gabah rendah, dan harga sembako cukup tinggi, sehingga kepemilikan bukan pada rakyat namun hanya pada beberapa gelintir orang pemilik modal.
Rakyat sudah lama terlenakan oleh Orde Baru dan mereka belum memiki kesadaran yang tinggi untuk merebut hak-hak mereka, dan kadang-kadang dari mereka sudah terjebak money politik yang menghasilkan militansi pada orde baru yang membabi buta, dan kadang mereka hanya memikirkan segi materi namun bukan hragadiri sebagai bangsa yang memilik karakter dan kedaulatan.
Namun itulah demokrasi, namun kita sadar bahwa perjuangan menuju kemenangan demokrasi untuk rakyat melalui wadah demokrasi cukup panjang, bahka US sendiri sampai 500 tahun, dengan kemenangan obama sebagai persiden Us, kapankan rakyat kecil bisa jadi prsesiden, kita tunggu saja kapan dialektika demokrasi tersebut terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s