PERUMUSAN STRATEGI KOMUNIKASI KOMUNITAS B2W-INDONESIA


BAB III
TEMUAN PENELITIAN :
PERUMUSAN STRATEGI KOMUNIKASI
KOMUNITAS B2W-INDONESIA

Bab ini berisi deskripsi hasil temuan peneliti di lapangan mengenai strategi komunikasi yang digunakan oleh komunitas B2W-Indonesia di Jakarta. Sesungguhnya suatu strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yang akan dijalankan, guna mencapai tujuan. Jadi merumuskan strategi komunikasi, berarti memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan waktu) yang dihadapi dan yang mungkin akan dihadapi di masa depan, guna mencapai efektivitas. Dengan strategi komunikasi ini, berarti dapat ditempuh beberapa cara memakai komunikasi secara sadar untuk menciptakan perubahan pada diri khalayak dengan mudah dan cepat.
Dalam penelitian ini digunakan 3 orang informan yang merupakan pengurus dan anggota komunitas B2W-Indonesia untuk diwawancarai berkaitan dengan strategi komunikasi yang digunakan dalam kampanye komunitas B2W-Indonesia di Jakarta. Adapun masing-masing informan tersebut adalah om Rivo Pamudji (Humas komunitas B2W-Indonesia) yang setelah ini akan disebut dengan informan 1, om Inu Febiana (Pengurus bidang Merchandise dan koordinator kampanye komunitas B2W-Indonesia) yang setelah ini akan disebut dengan informan 2, dan tante Oettie (mantan Humas komunitas B2W-Indonesia) yang setelah ini akan disebut dengan informan 3.
I. Strategi Komunikator
Aspek komunikator dalam strategi komunikasi komunitas B2W-Indonesia, ketiga informan sepakat bahwa spokesperson dari B2W-Indonesia adalah semua pekerja yang menggunakan sepeda ke kantor. Fungsi mereka sebagai komunikator sangat efektif karena posisi mereka sebagai pekerja dan anggota masyarakat dapat mempromosikan bersepeda ke kantor baik secara langsung (mouth to mouth) maupun tidak langsung. Komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung disini dilakukan ketika mereka sedang menggunakan sepeda mereka dan melintasi masyarakat pekerja yang ada, seperti yang dikatakan oleh informan 2 bahwa ketika masyarakat melihat ada pekerja yang menggunakan sepeda, mereka teringat akan komunitas B2W-Indonesia.
Disini ketiga informan juga mengatakan bahwa untuk event tertentu atau campaign, komunitas ini menggunakan baik itu pejabat negara, pemimpin perusahaan hingga presiden RI sebagai komunikator mereka, seperti yang pernah dilakukan oleh komunitas ini beberapa tahun yang lalu. Pemilihan komunikator ini pun dipengaruhi oleh kesediaan mereka dan kemampuan mereka dalam merepresentasikan bersepeda ke masyarakat. Informan 1 menambahkan bahwa komunikator B2W-Indonesia dibagi 2, yaitu untuk event yang bersifat informal, maka dipilihlah anggota yang dilihat cukup dapat mewakili B2W-Indonesia dan mampu mengajak masyarakat untuk bersepeda, untuk ini maka dibuatlah ketua harian. Untuk event yang bersifat formal, maka Ketua Umum B2W-Indonesia dipercayakan sebagai komunikator. Hal ini perlu agar pesan tentang komunitas B2W-Indonesia dan perihal sepeda sebagai sarana transportasi baru lebih berbobot dan bijaksana, karena moment campaign tersebut diliput oleh media secara formal.
Dalam konteks kriteria komunikator, informan 2 dan 3 berpendapat sama bahwa pihak yang akan dijadikan komunikator oleh komunitas B2W-Indonesia haruslah mempunyai pengaruh di masyarakat, bahwa mereka dikenal oleh banyak orang, sehingga efek dapat dicapai dengan lebih cepat. Namun, informan 1 berpendapat bahwa komunitas B2W-Indonesia tidak mempunyai kriteria tunggal dalam pemilihan komunikator mereka, komunikator pun dipilih secara bersama-sama dengan pengurus lainnya dan tergantung pula dengan siapa event campaign tersebut dilaksanakan. Informan 1 dan 2 menambahkan bahwa kriteria utama yang harus dimiliki oleh komunikator yang terpilih oleh komunitas B2W-Indonesia adalah bahwa mereka harus mau bersepeda.
Dalam konteks kredibilitas komunikator, informan 1 dan 3 berpendapat bahwa pihak yang akan dijadikan komunikator oleh komunitas B2W-Indonesia harus memiliki kharisma dan yang pasti mau bersepeda, sehingga masyarakat mau mendengar dan mencoba pesan yang nantinya disampaikan oleh komunikator tersebut. Sedangkan informan 2 berpendapat bahwa komunikator nantinya akan dipengaruhi pula dengan siapa komunitas B2W-Indonesia bekerjasama, sehingga mungkin akan dipilih orang yang sekiranya pantas dijadikan komunikator.
II. Strategi Audience
Dalam konteks target audience B2W-Indonesia tersegmentasi atau tidak, informan 1 dan 2 berpendapat bahwa target audience mereka tersegmentasi ke masyarakat yang notabene sudah mapan dan memiliki kendaraan pribadi. Karena penyumbang emisi gas buang terbesar adalah kendaraan pribadi yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Jika efek campaign tersebut mengenai para pengguna kendaraan umum, hal ini dikatakan oleh informan 1 sebagai bonus dari usaha mereka selama ini. Pekerja disini oleh informan 2 tidak hanya terbatas pekerja yang mempunyai jabatan tinggi di perusahaan,
Sedangkan informan 3 berpendapat bahwa target audience mereka tidak tersegmentasi, karena sifat mereka sebagai komunitas yang tidak memaksakan ide bersepeda ke masyarakat, sehingga terbuka bagi siapapun untuk menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi mereka. Hal ini membuat target mereka menjadi tidak terfokus karena luasnya target yang diikutsertakan dalam campaign mereka baik secara langsung maupun tidak langsung.
Target audience ini dipilih oleh karena memang misi yang dijalankan oleh komunitas ini adalah menawarkan sepeda sebagai pengganti kendaraan bermotor. Tidak mungkin menyalahkan mereka yang menggunakan kendaraan umum, karena keberadaan mereka yang ekonomis dan sosial seperti yang dikatakan oleh informan 1. Namun, atas dasar bahwa komunitas ini tak memiliki target audience khusus yang ingin dituju, informan 3 mengatakan bahwa semua orang dapat menggunakan sepeda, karena saat ini anak sekolah pun bisa ikutan ber-bike to work karena work disini bukan berarti pekerja, namun dipilih karena kata work dapat mewakili kegiatan sehari-hari.
Untuk target audience yang berbeda, digunakan juga pendekatan yang berbeda. Informan 1 dan 2 sepakat bahwa terdapat perbedaan dalam penyampaian ide dalam strategi komunikasi tiap campaign mereka. Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan latar belakang pekerjaan dari masing-masing target audience. Penggunaan cara penyampaian yang sama ke target audience yang berbeda dapat memberikan dampak yang berbeda-beda pula.
Informan 3 mengatakan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh komunitas ini adalah getok tular sehingga pendekatan yang nantinya dilakukan, dilaksanakan oleh petinggi di perusahaan yang menggunakan sepeda ke kantornya. Getok tular disini maksudnya adalah yang digetok adalah petinggi perusahaan tersebut oleh pesan yang disampaikan komunitas B2W-Indonesia, kemudian menularkannya ke pekerja dibawahnya.
Penentuan target audience oleh komunitas B2W-Indonesia oleh informan 1 dikatakan bahwa pesan mereka ditujukan kepada para pekerja yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, hal ini pun tergantung pula dengan siapa mereka bekerjasama dalam melaksanakan campaign. Namun, ditambahkan bahwa perkembangannya di lapangan tidak direncanakan, sehingga efek yang didapatkan sifatnya sporadis.
Informan 2 mengatakan bahwa target audience mereka ditentukan sesuai dengan tema campaign mereka. Seperti salah satu campaign mereka yang memberikan sepeda ke salah satu sekolah di daerah Jakarta, target audiencenya jadi berbeda juga. Namun berbeda dengan kedua informan diatas, informan 3 menegaskan bahwa sebenarnya komunitas ini tidak mempunyai target audience khusus dalam campaign mereka.
III. Strategi Pesan
Pesan yang disampaikan oleh komunitas B2W-Indonesia rata-rata adalah bahwa dengan bersepeda dapat mengurangi pemanasan global. Selain penggunaan isu lingkungan dan pemanasan global, isu ekonomis juga digunakan sebagai salah satu cara B2W-Indonesia mengajak masyarakat bersepeda. Hal ini dikarenakan kondisi yang ada disekitar baik lingkup nasional maupun internasional. Isu global warming, isu harga BBM yang dulu sempat naik, dan hal ini pun berkembang ke isu-isu lain dengan sendirinya sesuai dengan kondisi yang ada.
” Ya.. kita makai yang kira-kira disebut sebagai pesan komunikasi kesehatan dan komunikasi sosial. Karena memang hal-hal itu yang kita pikir dapat diangkat sebagai alasan buat masyarakat di Jakarta bersepeda.”
Bentuk pesan yang digunakan pun berubah-ubah tergantung dengan kondisi yang ada dan channel yang kita pikir sangat cocok sebagai sarana penyampaian pesannya. Seperti yang dikatakan oleh informan 2, “Bentuk pesan pun beragam jadinya sejalan dengan kondisi, misal dengan macet yang ada di Jakarta, kita selalu menggunakan pesan untuk menghindari kemacetan, namun hal itu nanti semua sambung-menyambung antara kesehatan, lingkungan, efektifitasi waktu.”
Dalam pesan terdapat bahasa persuasif didalamnya, bahasa persuasif yang digunakan oleh komunitas B2W-Indonesia menurut informan 1 bahasa yang digunakan ke tiap target audience berbeda-beda, seperti ke eksekutif muda digunakan pendekatan lifestyle, bahwa sepeda sekarang gaya, ga murah, dll. Bahwa selain gaya, bersepeda ke kantor juga sebagai sarana olahraga, karena kebanyakan eksekutif muda tidak mempunyai waktu untuk berolahraga. Sedangkan untuk kalangan menengah ke bawah, digunakan bahasa ekonomis. Dan untuk kalangan mahasiswa digunakan bahasa persuasif yang bersifat patriotik, sehingga mereka bangga ketika menggunakan sepeda.
Informan 2 mengatakan bahwa penggunaan bahasa yang menyindir adalah salah satu cara yang juga digunakan komunitas B2W-Indonesia dalam berkampanye. Sindiran halus yang berupa “hari gini naik mobil??” adalah salah satu sindirian halus yang digunakan.
Informan 3 mengatakan bahwa karena penggunaan sistem getok tular, maka pemilihan bahasa persuasif tersebut lebih ditentukan oleh pihak yang diberi tanggung jawab dalam menyampaikan pesan tersebut di campaign, namun sifatnya mengajak dan bukan mengintimidasi.
Terhadap semua faktor yang berada dalam penentuan strategi pesan yang telah dilaksanakan oleh komunitas B2W-Indonesia, ketiga informan sependapat bahwa pesan yang dirancang sudah sesuai dengan target audience yang ingin dicapai dan kondisi saat campaign dilakukan, mereka mengatakan bahwa jikapun ada masalah berarti masalah tersebut berasal dari luar pihak B2W-Indonesia.
IV. Strategi Media atau Channel
Pemilihan media oleh komunitas B2W-Indonesia diutamakan dengan penggunaan media nir-massa seperti flyers, brosur, spanduk, merchandise dan yang pasti penggunaan internet sebagai sarana komunikasi baik dengan sesama anggota maupun dengan masyarakat yang ingin mengetahui lebih banyak tentang B2W-Indonesia dan sebagai sarana perkenalan antar anggota.
Informan 1 mengatakan, “Biasanya kita sangat memanfaatkan coverage media setiap ada acara yang diikuti oleh B2W-Indonesia, dan ini ngasih dampak positif yang signifikan buat kita. Karena dari awal kita mulai berkampanye dan diliput oleh media, jumlah keanggotaan di B2W-Indonesia bertambah banyak. Biasanya kita bekerja sama juga dengan media untuk meliput kita atau mereka yang memang ingin meliput.” Penggunaan media massa sangat dibutuhkan, namun karena keterbatasan biaya maka dengan adanya media coverage ketika event campaign mereka dilaksanakan sangat berperan penting bagi mereka untuk memberikan dampak secara luas.
Media yang paling berpengaruh menurut ketiga informan tersebut adalah penggunaan mouth to mouth media. Media ini terbukti sangat berpengaruh karena jumlah anggota bertambah karena pengaruh satu orang ke teman-teman kerjanya.
Pemilihan media tersebut didasari karena sangat mahal buat B2W-Indonesia untuk berkampanye dengan menggunakan media massa seperti televisi atau radio secara terjadwal. Penggunaan media-media lini bawah didapati sangat efektif sebagai sarana kampanye mereka, ini karena masyarakat Indonesia terlebih di Jakarta yang sudah sangat berkembang dan tidak terpaku hanya pada satu atau dua media saja. Informan 3 pun menambahi bahwa hal ini didasari karena kesibukan para anggotanya yang rata-rata pekerja.
Penggunaan media seperti televisi ataupun radio dilakukan tidak terjadwal. Hal ini tergantung dari liputan media yang dilakukan ketika event berlangsung. Sedangkan oleh ketiga informan penggunaan intenet dilakukan setiap saat sehingga jika ada informasi terbaru dapat langsung disebar melalui internet tersebut. Internet juga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah. Mailing list sering digunakan sebagai sarana tanya jawab baik mengenai event campaign yang akan dilakukan, keluhan dan saran dari anggota, chatting dengan anggota yang lain, hingga jual menjual sepeda.
Pencarian informasi mengenai komunitas B2W-Indonesia pun dapat dilakukan melalui internet. Tanya jawab mengenai kegiatan yang dilakukan oleh B2W-Indonesia, informasi kampanye, dan kondisi B2W-indonesia pun dapat ditanyakan melalui website mereka. Feedback yang diterima pun lebih cepat daripada media lain yang digunakan.
Selain media-media tersebut, event regular pun digunakan sebagai salah satu aspek media B2W-Indonesia dalam strategi komunikasi mereka. Ketiga informan mengatakan bahwa B2W-Indonesia mempunyai jadwal konvoi regular yang diikuti oleh anggota komunitas. Konvoi dilaksanakan setiap jumat setelah jam kantor, dan memutari senayan hingga ke bundaran HI dimana akan banyak pekerja yang baru selesai kerja. Hal ini pun dibarengi dengan pembagian pamphlet, brosur, dan penggunaan jargon-jargon bersepeda sebagai salah satu cara mengkampanyekan sepeda.
Ketika pemda kota Jakarta menentukan adanya HBKB (Hari Bebas Kendaraan Bermotor / Car free day), komunitas B2W-Indonesia diajak bekerja sama untuk mengelola acara yang akan diselenggarakan bersamaan dengan event tersebut. Sehingga jadwal campaign mereka bertambah dengan adanya HBKB tersebut, karena komunitas ini pun ikut ambil bagian dalam pencetusannya.
Endorce adalah penggunaan seseorang yang diketahui oleh masyarakat banyak, baik artis ataupun pejabat. Ketiga informan mengatakan bahwa mereka menggunakan artis maupun pejabat sebagai endorce mereka, jika mereka dikatakan sebagai endorce, namun tidak ada kontrak antara pihak artis ataupun B2W-Indonesia, sifatnya sukarela. Namun, informan 1 dan 3 menambahkan bahwa yang menurut B2W-Indonesia adalah endorce yaitu salah satu produsen sepeda Polygon yang bekerjasama dengan B2W-Indonesia dalam mengajak masyarakat untuk bersepeda.
V. Strategi Budaya
Strategi budaya adalah pendekatan budaya yang dilakukan dalam penyampaian pesan agar pesan dapat tersampaikan dengan baik dengan adanya kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan. Dalam strategi komunikasi komunitas B2W-Indonesia, ketiga informan mengatakan bahwa B2W-Indonesia tidak melakukan pendekatan budaya secara khusus oleh karena keragaman budaya yang ada di Jakarta akan menyulitkan mereka jika harus melakukan pendekatan ke masing-masing budaya secara berbeda.
Informan 1 dan 3 mengatakan bahwa B2W-Indonesia sendiri berkampanye untuk menawarkan kebudayaan baru ke masyarakat, yaitu budaya bersepeda. Kemungkinan yang melakukan pendekatan budaya dalam strategi komunikasinya adalah komunitas B2W-Indonesia yang ada di daerah luar Jakarta.
VI. Kendala
Tiap usaha pasti akan menemukan kendala yang harus dihadapi, termasuk dalam pelaksanaan strategi komunikasi yang dilakukan oleh komunitas B2W-Indonesia. Ketiga informan sependapat bahwa kendala yang didapatkan komunitas B2W-Indonesia rata-rata berasal dari luar, jalanan berlubang di Jakarta, lalu lintas yang padat, kendaraan yang tidak teratur, menyebabkan kurang amannya bersepeda di daerah Jakarta.
Jumlah kendaraan motor dengan ruas jalan yang tersedia sangat mempengaruhi keputusan masyarakat banyak untuk menggunakan sepeda. Selain itu, belum adanya fasilitas yang mendukung para pengguna sepeda baik dijalan, maupun di kantor tempat individu masyarakat bekerja seperti tempat untuk mandi. Informan 1 menambahkan bahwa mental bangsa Indonesia pun menjadi kendala dalam mengajak masyarakat bersepeda. Mental manja, dan ga mau susah, masih melekat di tiap individu di Indonesia.
Kendala pun juga terdapat di internal komunitas B2W-Indonesia sendiri. Kurangnya SDM dalam mengelola komunitas karena masing-masing pengurusnya adalah pekerja yang aktif di kantor menjadi kendala dalam mengurus komunitas ini. Keberadaan SDM ini sangat dibutuhkan karena dibutuhan orang untuk mengurus semua pesan yang masuk ke pihak B2W-Indonesia
VII. Sumber Dana
Sumber dana komunitas B2W-Indonesia ditanggapi oleh ketiga informan berasal dari usaha B2W-Indonesia sendiri. Komunitas ini bersifat swadaya jadi sumber dana mereka berasal dari penjualan merchandise yang memang juga dipromosikan kepada masyarakat banyak dan kepada anggota komunitas tersebut. Hal ini ditanggapi oleh informan 2 sebagai sumber dana mereka yang sangat efektif karena pasti ada inovasi merchandise baru dan selalu dibeli oleh anggota B2W-Indonesia.
Pengadaan event-event campaign yang bekerja sama dengan beberapa pihak sponsor juga dikatakan sangat member keuntungan finansial bagi komunitas ini, informan 2 mengatakan, “Bikin event dan sponsorship juga jadi salah satu sumber dana kita, soalnya dana yang dibutuhin buat bikin event lumayan besar, jadi bantuan sponsor sangat penting banget buat kita.”
Informan 3 menambahkan bahwa pemerintah tidak memberikan bantuan dana, melainkan dengan memberikan kemudahan dalam perijinan tiap kali komunitas ingin mengadakan campaign di jalan protokol di Jakarta.
Iuran memang tidak diwajibkan oleh komunitas ini, karena banyaknya jumlah anggota yang terdaftar di komunitas ini, seperti yang diutarakan oleh informan 1. Jadi salah satu sumber dana mereka adalah sumbangan yang diberikan oleh ke komunitas, baik berupa uang maupun kebutuhan-kebutuhan sekeretariat mereka.
VIII. Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengetahui bagaimana program dilalkukan sehingga dapat di lihat kekurangan dan kelebihannya untuk mengembangkan efisiensi dan efektifitas di program berikutnya. Evaluasi biasanya tertuju pada penyelesaian akhir dari suatu program.
Bagi komunitas B2W-Indonesia evaluasi dilakukan setelah event campaign mereka selesai. Namun, evaluasi yang dilakukan hanya sebatas proses pelaksanaan program tersebut. Belum ada evaluasi mengenai dampak atau feedback yang didapatkan setelah campaign tersebut selesai, seperti yang dikatakan oleh informan 1. Informan 3 menambahkan bahwa kekurangan SDM yang dapat bekerja full time di kepengurusan membuat evaluasi yang dilakukan hanya bisa diikuti sebagian besar pengurus, sehingga evaluasi tersebut tidak terlalu penting.
IX. Kiat yang perlu dilakukan
Kiat yang perlu dilakukan bagi komunitas lain yang sedang mencoba berkampanye seperti yang dilakukan oleh komunitas B2W-Indonesia menurut ketiga informan adalah bahwa jangan pernah menyerah, putus asa, karena perubahan tersebut akan datang meskipun memakan waktu yang cukup lama. Karena semakin keras usahanya dan continue, maka masyarakat akan semakin aware dengan keberadaan komunitas tersebut.
X. Pencapaian komunitas B2W-Indonesia
Dalam aspek ini, ketiga informan berpendapat bahwa saat ini pencapaian yang diperoleh oleh B2W-Indonesia sudah sangat baik. Jumlah anggota yang bertambah cukup pesat sangat disyukuri pengurus komunitas ini, seperti yang dikatakan oleh informan 1, ”Soalnya jarang ada komunitas yang baru berdiri sekitar 5 tahun namun anggotanya ada sekitar 10.000 orang di beberapa wilayah di Indonesia pula.”
Meskipun jalur khusus sepeda yang sedang diusahakan oleh komunitas ini belum terealisasi, informan 3 mengatakan bahwa usaha yang dilakukan hingga saat ini sudah cukup maksimal dan akan terus berkembang. “Yang pasti hingga saat ini, semua hal yang sudah kita lakukan ada hasilnya dan itu berkembang terus. Jadi meskipun misi kita untuk membangun jalur sepeda belum tercapai, dengan ngelihat banyak orang yang naik sepeda menurut saya kita sudah puas.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s