SEJARAH SEPEDA DAN KOMUNITAS BIKE TO WORK – INDONESIA


BAB II
SEJARAH SEPEDA DAN KOMUNITAS BIKE TO WORK – INDONESIA

Dalam perencanaan kota, peruntukan lahan ruang terbangun, dan ruang terbuka hijau (RTH), sistem transportasi publik, sirkulasi pejalan kaki dan sepeda harus mampu bersinergi dengan baik. Pemerintah kota harus mengembangkan kawasan-kawasan kota yang mudah untuk dijelajahi dengan transportasi publik ramah lingkungan (bus trans, monorel, kereta api), bersepeda, dan berjalan kaki. Kawasan pejalan kaki dan sepeda sebagai ruang sosial dan jiwa kota yang sesungguhnya karena berjalan kaki dan bersepeda merupakan hak asasi manusia yang paling hakiki dalam budaya berkota dan beradab.
Ruang jalan yang didominasi kendaraan bermotor harus dikelola ulang menjadi ruang publik yang ramah lingkungan untuk berjalan kaki dan bersepeda. Kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, dan isu pemanasan global membuat banyak penduduk kota dunia di Amerika Serikat, Kanada, Eropa Barat, dan Jepang beralih ke kendaraan nonmotor. Kendaraan ini diyakini lebih ramah lingkungan dan sehat, seperti bersepeda dan atau berjalan kaki.
Berjalan kaki dan bersepeda adalah salah satu jenis alat transportasi paling murah, sehat, dan ramah lingkungan. Warga didorong membiasakan diri berjalan kaki 15 menit atau bersepeda 15 menit-30 menit ke tempat tujuan sekitar yang letaknya tidak terlalu jauh. Ada lima keuntungan bersepeda ke tempat kerja, yakni berolahraga, menghemat energi, ikut melestarikan lingkungan, sehat, dan rekreasi. Budaya berjalan kaki dan bersepeda adalah penanda bagaimana modernisasi dan perkembangan kota dapat berjalan secara humanis.
Kota Amsterdam, Belanda, adalah kota ramah sepeda terbaik di dunia. Kota Boulder, Colorado, mempunyai hampir 500 kilometer jalan kota yang dilengkapi jalur khusus sepeda. Kota Curitiba (Brasil) dan Bogota (Kolombia) membangun jalur pejalan kaki dan pesepeda sejajar jalur koridor bus transkota. Kota Singapura menyediakan jalur pesepeda yang panjang dalam bentuk jejaring taman penghubung kota (Urban Park Connector / UPC).
UPC berupa koridor jalur pedestrian dan jalur hijau kota (bantaran sungai, tepi rel kereta api, tepi pantai) dalam bentuk taman dan jalur hijau (untuk berjalan kaki dan bersepeda) yang terhubungkan satu sama lain secara berkesinambungan ke seluruh kawasan kota. Koridor dapat diperluas untuk menghubungkan tempat tujuan orang untuk bekerja, berekreasi, berganti moda transportasi dan berolahraga (bersepeda, joging) sehingga mengurangi penggunaan kendaraan bermotor/pribadi, memperbaiki perilaku dan kualitas masyarakat dalam budaya berkota.
A. Sejarah Sepeda
Sejarah sepeda lawas bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.
James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil. Sepeda jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent. Sampai kini, kedua teknologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karena posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya. Sampai akhirnya, keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada 1886. Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama. 
Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada 1888. Dunlop berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat. Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan. Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transportasi yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik. Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950-an. Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya. ” Di masyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang dan sundung. ”
B. Sejarah Terciptanya Komunitas B2W-Indonesia
Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang punya semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan, lahirlah Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike-to-Work Community) yang kemudian menggagas kampanye pertama penggunaan sepeda ke tempat kerja pada 6 Agustus 2004. Seiring dengan berjalannya waktu, peminat alternatif moda transportasi selain kendaraan bermotor ini semakin berkembang, hingga dirasa perlu untuk dibuat wadah agar gerakan ini dapat semakin tersosialisasi.
Ozy F Sjarindra mengutarakan ide besar ini muncul dari hobi sekelompok orang yang gemar bersepeda pada akhir pekan. Belakangan ketahuan, sebagian ternyata memiliki kebiasaan naik sepeda ke kantor. Setelah bertemu dengan sesama pencinta sepeda yang menggunakan kendaraan tanpa mesin ini untuk bekerja, akhirnya disepakati untuk membentuk komunitas B2W. “Waktu itu kami berpikir, mengapa tidak membuat suatu kelompok dengan tujuan mengurangi pembakaran BBM dan mencegah polusi udara yang lebih parah,” ujar Ozy.
Sementara pengurus B2W lainnya, Hendro Poernomo, mengatakan, ia sebelumnya sudah senang bersepeda sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung. Hobi itu kemudian diteruskan ketika sudah bekerja. Menurut Hendro, dia bersama beberapa rekan yang senang mengayuh sepeda di sepanjang jalur pipa gas Jombang, Tangerang, aktif dalam komunitas B2W karena tidak hanya menggunakan sepeda untuk main-main, tetapi juga bekerja. Mereka kemudian memperkuat komunitas B2W yang senantiasa memperjuangkan hak-hak pengendara sepeda. Keberadaan komunitas B2W lalu disosialisasikan melalui berbagai media, termasuk membangun situs internet.
Komunitas B2W yang anggotanya adalah pekerja bersepeda kemudian dideklarasikan kelahirannya pada 27 Agustus 2005 di Jakarta. Dengan visi terciptanya lingkungan hidup yang sehat dengan bersepeda serta  terciptanya jalur prioritas sepeda, misi komunitas ini adalah memasyarakatkan sepeda sebagai moda transportasi. alternatif dalam mendukung aktivitas sehari-hari. Pada saat itu komunitas ini mampu mengumpulkan 500 orang yang bersepeda ke kantor. Setelah dideklarasikan, ternyata kondisi makro-ekonomi malah mendukung keberadaan komunitas B2W. Kenaikan harga BBM, harga sembako, dan tarif angkutan membuat masyarakat harus mencari kendaraan alternatif, yaitu sepeda. Yang menarik, komunitas B2W-Indonesia memang sepenuh daya dalam memperjuangkan fasilitas karyawan bersepeda, misalnya lokasi parkir khusus untuk sepeda di gedung perkantoran mengingat barang ini mudah dicuri.
Hingga saat ini hampir seluruh pengelola gedung tidak memberi tempat parkir yang aman bagi sepeda milik anggota komunitas B2W-Indonesia. Tak berhenti hingga di situ, komunitas B2W-Indonesia juga memperjuangkan dibangunnya kamar mandi lengkap dengan lemari penyimpan di gedung milik instansi pemerintah dan swasta untuk menyimpan baju mereka yang ingin mandi setelah memacu sepeda.
Maklum saja, setelah menempuh jarak yang bisa mencapai puluhan kilometer dengan sepeda tentu saja akan membuat penggunanya bermandikan peluh. Akibatnya, mereka terkadang ingin mandi dulu begitu tiba di kantor agar lebih segar dan bersih. “Masalahnya, tidak semua kantor menyiapkan kamar mandi sehingga ada anggota B2W-Indonesia yang menumpang kamar mandi satpam jika terpaksa harus mandi,” ujar Ozy.
Selain fasilitas di gedung perkantoran, komunitas B2W juga tengah memperjuangkan pengadaan jalur khusus buat pengendara sepeda di jalan-jalan umum. Jadi, selain jalan untuk pejalan kaki, harus ada jalur khusus buat sepeda. Ketua Umum B2W Toto Sugito mengatakan, sebenarnya Pemprov DKI Jakarta sudah bersedia membangun jalan khusus untuk pengendara sepeda. Tetapi, pertanyaan yang diajukan pihak pemda, sudah seberapa banyak pengendara sepeda yang akan menggunakan jalan tersebut. “Mereka khawatir jika permintaan kami sudah dipenuhi tetapi ternyata tidak ada yang menggunakan karena jumlah pengendara sepeda di Jakarta relatif kecil. Jadi, kami akan menggalakkan dulu penggunaan sepeda baru dibangunkan jalur khusus,” ujar Toto.
Menurut Ozy, kelompoknya memang tak mengejar jumlah anggota, meskipun dari waktu ke waktu jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 500 orang saat ini. Bagi komunitas ini, hal terpenting adalah mengajak masyarakat mulai mempertimbangkan menggunakan sepeda ke kantor.
Menyinggung sikap pengendara di jalan raya terhadap pengendara sepeda, Toto mengatakan sejauh ini belum pernah menemukan masalah. Bahkan bila menggunakan jalur cepat, biasanya pengendara roda empat malah memberi jalan untuk sepeda.
I. Visi komunitas B2W-Indonesia
Terciptanya Lingkungan Hidup yang Sehat dengan bersepeda serta tersedianya Jalur Prioritas Sepeda dan sarana pendukungnya.
II. Misi komunitas B2W-Indonesia
Memasyarakatkan penggunaan sepeda sebagai alternatif moda transportasi dalam mendukung aktivitas sehari-hari.
C. Susunan Kepengurusan B2W-Indonesia 2008-2010
Pelindung : Fauzi Bowo
Kusmayanto Kadiman
Ketua Umum : Toto Sugito
Ketua : Ozy F. Sjarindra
Sekretaris 1 : Rifa Ilyasa
Sekretaris 2 : Desi B. R.
Bendahara 1 : Wahyu Prasetya
Bendahara 2 : Mohammad Ali Edwin
Bendahara 3 : Naning D.
Bidang-bidang:
Humas & Komunikasi : Rivo Pamudji
                                      Ripto Gatut
Research & Information : Benny Mamoedi  (Koordinator)
                                                  M. Lutfi
                                                  Sonny Susanto
                                                  Djarot J.
                                                  Sacha Van Diest
Merchandise : Inu Febiana

Keanggotaan & Kewilayahan : Wahyu Diartito (Koordinator)
                                                  Poetoet S.
                                                  Okto
                                                  Afan Mendrofa
                                                  Tekad Adiyono

Kegiatan & Perlengkapan : Dudi Sujatmoko (Koordinator)
                                                  Ram Anzhar Moersid
                                                  Blacken
                                                  Sukartono
                                                  Iyunk
                                                  Cank Oot
D. Pencapaian komunitas B2W-Indonesia
a) Diterimanya penghargaan Clean Air Award dari Swiss Contact pada tahun 2005
Meskipun anggotanya masih relatif sedikit, tetapi keberhasilan menciptakan udara bersih dapat diukur dari pemberian penghargaan oleh Clean Air Project-SwissContact. Ini adalah lembaga pembangunan internasional nirlaba yang memberi penghargaan Clean Air Award 2005 kepada organisasi yang berpartisipasi mewujudkan udara bersih. Lembaga ini memberi apresiasi kepada usaha yang secara mandiri dan inovatif menanggulangi pencemaran udara di seluruh dunia. B2W dianggap mampu melahirkan orang-orang yang mampu memengaruhi masyarakatnya sehingga dapat aktif berperan sebagai penerus upaya kampanye udara bersih dan membuka mata masyarakat luas bahwa ada upaya-upaya inovatif yang bisa dicontoh sebagai inspirasi.
Dengan tujuan menciptakan udara bersih, manfaatnya akan dinikmati generasi penerus yang akan datang. Keberadaan komunitas B2W-Indonesia memang belum signifikan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, mengingat anggotanya masih relatif sedikit. Meski demikian, eksistensi komunitas yang satu ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi pencemaran udara dari timbal asal BBM kendaraan bermotor yang digunakan saat berangkat kerja.
Karena kiprah mereka itu, tak salah bila komunitas B2W mendapat penghargaan kategori Lifestyle Leader untuk penggunaan sepeda sebagai alat transportasi kerja. Alasannya, sasaran kampanye bersepeda ditujukan kepada pekerja atau karyawan yang selama ini menggunakan mobil dan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja.\
b) Diluncurkannya Website resmi http://www.b2w-indonesia.or.id pada Agustus 2006.
c) Dipercaya menyelenggarakan event pendahuluan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Denpasar, Bali, November 2007, dengan media berupa kampanye bersepeda Jakarta – Bali dengan nama event Bike for Earth Goes to Bali (BFEGTB), yang dilepas dan diterima oleh Presiden RI Bp. Susilo Bambang Yudhoyono. Perhelatan ini juga mencuatkan nama B2W Indonesia ke dunia internasional dengan munculnya liputan mengenai pelepasan tim BFEGTB di stasiun-stasiun televisi negara lain. Pada perhelatan ini jugalah dilakukan peluncuran “Sepeda B2W” yang menjadi kebanggaan Komunitas.
d) Memperoleh penghargaan ”Indonesia Berprestasi” dari XL pada tahun 2008.
Ide pendirian B2W muncul setelah beberapa orang semakin prihatin dengan kondisi polusi udara, keterbatasan tempat parkir, dan kemacetan. Panitia ”Indonesia Berprestasi Awards” menilai, apa yang dilakukan Toto Sugito memiliki kekhasan yang relevan dengan permasalahan yang tidak saja dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini terkait dengan lalu lintas perkotaan yang semakin macet dan terkena polusi, tetapi juga dengan upaya bersama seluruh umat manusia untuk menanggulangi pemanasan global yang berakibat mengerikan. (Harian Kompas, 19 Desember 2008)
e) Dipatenkannya Logo B2W-Indonesia.
f) Hingga awal 2008 telah terbentuk 18 B2W-Wilayah yang tersebar seantero negeri, yaitu Aceh (NAD), Bandar Lampung, Bandung, Bali, Balikpapan, Cirebon, Madiun, Makassar, Mataram, Mojokerto, Pangkalpinang, Pekanbaru, Sangatta, Semarang, Surabaya, Simeulue (Kepulauan), Tuban, dan Yogyakarta. Menyusul Palembang, Purwokerto, Meulaboh dan Ambon.
g) Peningkatan jumlah Pekerja Bersepeda yang cukup signifikan di kota-kota besar. Dari 500 orang menjadi hampir 5000 dalam kurun 2 tahun (berdasarkan mailing list dan website);
h) Selalu disertakan dalam kegiatan-kegiatan maupun seminar yang berkaitan dengan lingkungan hidup;
i) Semakin banyak pejabat pemerintah yang berminat dan mendukung jajarannya untuk bersepeda ke kantor; Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta), Andi Alifian Mallarangeng (Juru Bicara Kepresidenan), Koesmayanto Kadiman (Menristek), Rahmat Witoelar (Mentri LH), termasuk beberapa CEO perusahaan besar dan multinasional;
j) Bekerja-sama dengan salah satu produsen sepeda terbesar di Indonesia yaitu Polygon, untuk memproduksi dua jenis sepeda edisi khusus B2W-Indonesia. Setelah sukses dengan peluncuran sepeda B2W edisi pertama berwarna kuning yang ditandai dengan meledaknya jumlah peminat, sesuai rencana pada kuartal II tahun 2008 diluncurkan varian warna baru sepeda B2W yaitu hitam. Meskipun dalam perjalanannya peminat edisi warna hitam ini cukup besar, namun produksi edisi warna ini tidak dilanjutkan (discontinued) karena spesifikasi warna yang sebenarnya kurang sesuai dengan yang telah direncanakan. Setahun sejak diluncurkan pertama kali, tercatat lebih dari 4000 sepeda B2W diproduksi dan dipasarkan. Jumlah yang tergolong luar biasa bagi penjualan 1 tipe sepeda saja.
E. Sejarah Pelaksanaan Strategi Komunikasi Komunitas B2W-Indonesia dalam
setahun terakhir.
a) Car Free Day (Hari Bebas Kendaraan Bermotor)
Untuk menjaga kualitas udara yang segar dan sehat, Pemprov DKI Jakarta menggelar Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day setiap bulan sekali. Berawal 22 September 1998, ketika Menteri Lingkungan Hidup Prancis mencetuskan “Di kota tanpa mobilku” pada 34 kota. Gerakan meluas tahun 2000, di mana 760 kota di berbagai negara Eropa berpartisipasi. Saat ini “Car Free Day” menjadi acara rutin tahunan di berbagai negara, walau dilaksanakan pada tanggal yang berbeda.
Kebijakan HBKB ini diberlakukan lantaran kualitas udara di Jakarta sagat buruk bagi kesehatan. Dalam setahun terakhir, udara bersih (udara dalam kategori baik) yang bisa dinikmati warga hanya 54 hari. Sisanya banyak mengandung bahan polutan berbahaya bagi kesehatan tubuh. ”Jumlah 54 hari ketika udara di Jakarta benar-benar bersih itu adalah perhitungan per Juli 2007. Namun jumlah tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya 45 hari,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Budirama Natakusumah, Rabu (19/9). (http://kompas.co.id/read/xml/2009/02/19/17270058/jakarta.gelar.car.free.day.dua.kali.sebulan).
Kegiatan HBKB sendiri, telah dimulai sejak 1970-an, saat berlangsung krisis minyak di Amerika Serikat. Di Eropa, baru dimulai pada 1990-an
Kini, tak kurang 1.500 kota di 40 negara memperingatinya dengan cara menutup sepenggal jalan, untuk kemudian mengisinya dengan sejumlah kegiatan. Jalan Thamrin dan Sudirman termasuk penggal jalan yang ditutup selama 13 jam. Sejak pukul 06.00 hingga 19.00 WIB, hanya kendaraan angkutan umum yang diizinkan melintasi dua ruas jalan itu. Itu pun di jalur lambat, dan jalur khusus untuk bus Transjakarta.
Pelaksanaan HBKB di Jakarta seolah mensimulasikan kepada masyarakat, bagaimana suasana dan kondisi kota saat jumlah kendaraan dibatasi. Di samping itu, juga mendorong penggunaan alat transportasi alternatif selain kendaraan pribadi, yakni angkutan umum, sepeda, serta fasilitas bagi pejalan kaki. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Budirama Natakusumah menegaskan, pencemaran udara tidak saja mengganggu ketenangan lingkungan juga mengancam kesehatan manusia. Melalui terobosan HBKB, diharapkan meningkatkan disiplin warga Jakarta, sekaligus menggugah kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan sehat yang bisa dinikmati semua orang.
Hal itu merupakan implementasi dari Perda no. 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Bila Perda itu dilaksanakan konsisten, berarti, kelak, tiap bulan sekali akan diselenggarakan HBKB di lima wilayah DKI Jakarta.
Dalam HBKB kali ini juga dibarengi dengan uji emisi gratis di Monas. Sekitar sepuluh tenda bersama petugasnya siap untuk membantu masyarakat untuk mengecek emisi kendaraannya. (Suara Pembaruan, 23 September 2007).
i. Car Free Day (Hari Bebas Kendaraan Bermotor). Minggu, 12 April 2009
Komunikator : Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni.
Media : Liputan televisi nasional, permainan bola basket, dan egrang.
Stand B2W-Indonesia, dan beberapa stand dari perusahaan yang ikut ambil bagian seperti, Carrefour, Telkom Flexy, Sprite, dll.
Pesan : Statement dari wali kota Jakarta Pusat yang mengatakan,”Pada
pelaksanaan HBKB sebelumnya di lokasi itu diketahui terjadi penurunan partikel debu sebanyak 21,5 persen, karbon dioksida 71,88 persen, dan nitrogen monoksida sebanyak 72,68 persen.”
Target : Sasaran Car Free Day adalah semua jenis kendaraan pribadi, baik
roda dua, maupun roda empat serta taksi dan bajaj. Adapun transjakarta dan kendaraan umum yang bertrayek dapat melalui ruas jalan tersebut.
b) Kegiatan Obor Nusantara, 19 Mei 2008
Komunitas B2W-Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu organisasi penunjang kegiatan Obor Nusantara dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Obor nusantara adalah sebuah kegiatan mengarak Obor dengan Sepeda keliling Nusantara melewati 270 Kabupaten, 33 Propinsi Seluruh Indonesia, bersama elemen organisasi sosial lainnya. Di pihak lain kegiatan ini sekaligus sebagai ajang kampanye penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi alternatif. Obor Nusantara dilepas oleh Menteri Dalam Negeri RI disaksikan oleh Menteri Sosial RI dan Gubernur Propinsi DKI Jakarta tepat pukul 00.00 WIB ditandai dengan penyerahan 2 (dua) Obor Merah & Putih, dan dengan dukungan dari PeloporAdventure Camp serta menggunakan sepeda B2W Indonesia diarak ke wilayah Barat dan Putih ke wilayah Timur Indonesia.
c) Gerakan Penghematan Energi Nasional, 20 Juni 2008
Dalam rangka pencanangan Gerakan Penghematan Energi Nasional, Presiden RI, Bp. Susilo Bambang Yudhoyono beserta jajaran menteri Kabinet Bersatu secara khusus mengundang Komunitas B2W Indonesia untuk bersama-sama melakukan “Kampanye Bersepeda Untuk Beraktivitas”. Acara ini diikuti oleh lebih dari 1000 B2W-ers Jabodetabek dan Bandung serta Cirebon, serta diakhiri dengan ramah tamah di halaman Istana Merdeka. Sepanjang sejarah, area ini selalu digunakan bagi perhelatan resmi kenegaraan dan belum pernah sekalipun digunakan untuk acara non-formal khusus bagi sebuah komunitas non-profit seperti B2W Indonesia. Sebuah bukti bahwa penguasa negeri turut ini memberikan dukungan moral bagi gerakan B2W Indonesia.
d) Bike to Work Day, 29 Agustus 2008
Agustus adalah bulan di mana Komunitas B2W Indonesia berulang tahun. Pada tahun 2008 ini, di usianya yang ke-3, tahun semangat Komunitas B2W Indonesia tidak surut untuk semakin membuat gaung gerakan moral bersepeda ke tempat aktivitas menjadi semakin dahsyat. Keinginan untuk membuat kegiatan yang besar dalam merayakan hari jadi ke-3 kali ini sebenarnya sangat besar. Namun dengan mempertimbangkan jadwal penyelenggaraan yang kurang sesuai, maka rencana tersebut harus ditunda hingga waktu yang akan ditentukan kemudian. Komunitas B2W Indonesia merayakan hari jadi mereka secara serentak di 24 wilayah di Indonesia pada hari Jumat tanggal 29 Agustus 2008.
Meskipun dilakukan secara sederhana, hanya dengan turun kampanye bersepeda bersama saat berangkat dan pulang kerja, namun di beberapa wilayah hal ini akan dilakukan bersama-sama dengan partisipasi pimpinan daerah masing-masing. Perhelatan ini juga menandai bahwa perwakilan B2W Indonesia di berbagai kota di negeri ini telah mencapai angka 24 B2W Wilayah. Di penghujung 2008 ini bahkan tercatat telah mencapai 31 wilayah yang gencar memasyarakatkan gerakan B2W, di mana 29 wilayah di antaranya telah memiliki kepengurusan Komunitas B2W.
e) SIMPATIZONE Cyclist Gathering 2009 – Jakarta
Setelah sukses menggelar SimpatiZone 6 Series Biking Adventure di Bandung, Jambi, Malang, Makassar, Samarinda dan Bali, kini Telkomsel dan Sepedaku.com beserta Komunitas Bike2Work Indonesia dan IBA akan menyelenggarakan Temu Akbar Pesepeda Indonesia yang sekaligus menjadi Final dan penutup dari SimpatiZone 6 Series Biking Adventure.
Acara ini diikuti dan diliput oleh beberapa media, yaitu : Sepedaku.com, Kompas Group, SWA, Media Indonesia, Ascomaxx, Simpatizone Corner, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Tempo Group.
f) Sepeda Untuk Sekolah
Komunitas B2W-Indonesia yang aktif dalam konsorsium Sepeda Untuk Sekolah bersama Ikatan Alumni UI (ILUNI UI), Klub Guru, dan Centre for the Betterment of Education (CBE) dengan didukung oleh Pertamina kembali mendistribusikan bantuan sepeda bagi pelajar kurang mampu pada Kamis, 5 Februari 2009 lalu. 
Sebanyak 100 sepeda diserahkan kepada beberapa sekolah yang seremonialnya dilakukan di SDN 07/08 Petamburan, Jakarta Pusat, dan dihadiri oleh Walikota Jakarta Pusat, Sylviana. 54 sepeda di antaranya akan dialokasikan kepada siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan sisanya akan diberikan kepada siswa SMP yang semuanya ada di wilayah Jakarta Pusat.
Adapun misi Konsorsium SUS ini adalah membantu anak usia sekolah agar tetap dapat mengikuti pelajaran tanpa terganggu masalah transportasi. Caranya adalah dengan memberikan bantuan sarana transporasi yang bersahabat dengan lingkungan dan berwawasan sosial kepada para siswa dan pelajar. Tujuannya tidak lain agar terbentuk wawasan yang berkesadaran lingkungan dan sosial sejak dini selain membantu membentuk manusia Indonesia yang berkualitas secara fisik maupun psikis.
g) Bike to Jazz
Java Jazz Festival adalah perhelatan musik jazz yang setiap tahunnya diadakan di Jakarta dengan pangsa pasar yang cukup besar di daerah Jakarta. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 6, 7 dan 8 Maret 2009 ini digunakan oleh komunitas B2W-Indonesia sebagai sarana dalam berkampanye dengan cara menjual tiket yang lebih murah bagi mereka yang menggunakan sepeda ketika datang ke acara tersebut.
h) Peluncuran sepeda lipat (folding bike) versi B2W-Indonesia
Karena keberadaan sepeda lipat (folding bike) mulai diminati masyarakat Jakarta, dan keefektifan dalam penggunaannya, maka komunitas B2W-Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk meluncurkan sepeda lipat versi B2W-Indonesia, sebagai salah satu bentuk komunikasi mereka untuk mengkampanyekan sepeda. Sepeda lipat ini akan resmi dikeluarkan oleh B2W-Indonesia yang bekerja sama dengan salah satu produsen sepeda ternama Polygon dan distributor sepeda yaitu Rodalink SCBD pada bulan Mei 2009.
i) Sepeda Sehat B2W – The Sultan
Komunitas B2W-Indonesia bekerja sama dengan hotel The Sultan di Jakarta mengadakan acara Fun Bike dengan tema Saver, Faster, Fun and Fitness yang bertepatan dengan acara Car Free Day pada tanggal 26 April 2009, dengan rute Sultan Hotel – HI -bunderan Indosat dan sebaliknya.Untuk menarik minat masyarakat, acara tersebut dimodifikasi dengan memunculkan beberapa kontes bersepeda, seperti:
1. Traditional costume male dan female on bike contest.
2. Performance for biker male and female contest.
3. The healty family contest.
4. The oldiest and the youngest contest.
5. Kontes bongkar-pasang sepeda.
6. Performance Entertaiment.
j) Konvoi Reguler Komunitas B2W-Indonesia
Sejak awal diresmikan pada tahun 2005, komunitas B2W-Indonesia mulai menyadari untuk mengajak masyarakat bersepeda secara umum. Maka dari itu, dipilihlah hari Jumat sore tiap minggunya sebagai hari bagi mereka untuk konvoi dan membagi-bagikan flyers, serta bike-tag di sekitar jalan protokol di Jakata. Hal ini dimaksudkan selain untuk mengajak masyarakat luas untuk mulai bersepeda, moment ini digunakan oleh anggota B2W-Indonesia untuk saling berkenalan dengan anggota lainnya.
Penggunaan konvoi sebagai salah satu strategi komunikasi dianggap efektif dan efisien, karena dalam prakteknya B2W-Indonesia dapat secara langsung mengajak masyarakat untuk bersepeda di sepanjang rute konvoi mereka. Penggunaan media nir-massa seperti flyers, brosur, spanduk dapat dilakukan selama kampanye dilakukan.
F. Strategi Komunikasi yang digunakan oleh Komunitas B2W-Indonesia
Strategi Komunikator :
1. Penggunaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
Strategi Target Audience :
1. Pemilihan masyarakat pekerja terutama di daerah Jakarta Pusat sebagai target campaign mereka.
2. Pemilihan keluarga yang mapan dalam campaign fun bike mereka.
Strategi Media dan Channel
1. Penggunaan media coverage televisi nasional maupun lokal di Jakarta sebagai media campaign mereka.
2. Penggunaan flyers, brosur dan merchandise Bike to Work yang dibagikan ke masyarakat di Jakarta.
3. Penggunaan website dan mailing list di internet, sebagai sarana penghubung antara anggota maupun yang belum menjadi anggota komunitas B2W-Indonesia.
Strategi Pesan
1. Penggunaan global warming dan isu lingkungan sebagai pesan yang ingin disampaikan melalui campaign mereka

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut,strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang menunjukan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. Strategi komunikasi merupakan panduan perencanaan komunikasi dengan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Effendy, 2004,hal. 32).
Menurut Rosady Ruslan (2005, hal.36), tujuan komunikasi dapat dilihat dari berbagai aspek dalam kampanye dan propaganda. Untuk itu diperlukan strategi yang pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya. Dari definisi diatas terdapat kesepakatan bahwa strategi komunikasi memberikan fokus terhadap usaha komunikasi yang dilakukan karena dengan perencanaan dan manajemen membantu mendapatkan hasil dan melihat jauh ke depan.

Advertisements

11 thoughts on “SEJARAH SEPEDA DAN KOMUNITAS BIKE TO WORK – INDONESIA

  1. ternyata untuk lingkungan yang lebih baik adalah hal yang sulit di laksanakan khususnya bg warga jakarta .. sungguh memprihatinkan dan ironis .

  2. Nice posting buddy…I love to read it…I love your blog. Thanks for sharing..
    I would like to share good news also. Here you:
    LOWONGAN KERJA ENGLISH TUTORS. Konsultan Pendidikan Bahasa Inggris Nasional untuk cabang
    i. Pekanbaru (0761-7641321)
    ii. Balikpapan (0542-737537)
    iii. Samarinda (0541-273163)
    iv. Banjarmasin (0511-3362559)
    v. Palembang (0711-350788)
    vi. Makassar (0411-451510)
    vii. Surabaya (031-5324548)
    Kirim surat lamaran & CV anda ke easyspeak.recruitment@gmail.com atau hubungi Nomor Telepon yg tertera diatas. Contact Person: 081 24 111 111 (dodi)
    Kunjungi http://www.easyspeak.co.id untuk mengetahui profile perusahaan kami. Terima Kasih.

  3. mas izin masukin artikelnya buat referensi skripsi saya yaa, akhirnya dapet referensi artikel buat ngebahas kampanye bersepeda 😀

  4. Dear Sirs,

    I realize that this is likely a far-fetched request but I have to try anyway. I am one of 10 Canadians who will be cycling from Jakarta, Java to Bima, Sumbawa in Jan/Feb. 2013.

    Hotel accommodation is readily available via the internet, but we are looking for a place to stay before and after our tour where we can leave our cardboard bike boxes and our empty suitcases for the duration of our cycling adventure without an excessive cost. We will be on the road for 30 days and we will be contributing generously to tourism in Indonesia during our stay through our food, beverage and accommodation purchases at the very least.

    If you can recommend a hotel or guest house in Jakarta, preferably near a bike shop and/or the airport, I would be deeply grateful to hear of it. Otherwise, if you can put me in contact with a bike club in Jakarta, the membership of which might be of assistance, I would also be grateful.

    Kind regards,

    Dr. Lili Hrabchak
    Toronto, Canada
    lilihrha@aolcom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s