Strategi Komunikasi Komunitas Bike to Work (B2W) – Indonesia Dalam Mengajak Masyarakat Bersepeda


Strategi Komunikasi Komunitas Bike to Work (B2W) – Indonesia
Dalam Mengajak Masyarakat Bersepeda
Oleh : Samuel (Mahasiswa FISIP UNDIP 2003)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb. Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi; gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai; gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara; gangguan terhadap permukiman penduduk; pengurangan produktivitas lahan pertanian; peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit.
Beberapa hal diatas, adalah gambaran secara ilmiah mengenai dampak yang akan ditimbulkan oleh pemanasan global. Saat ini prediksi tersebut menjelma menjadi realita yang buruk berupa bencana alam yang terjadi di beberapa tempat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pergeseran musim dengan curah hujan yang besar, banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia, wabah penyakit, adalah sebagian dari fenomena yang terjadi akibat dari pemanasan global tersebut. Hingga akhirnya beberapa negara sepakat untuk duduk bersama dalam konferensi yang bertajuk “World Conference for Climate Change” di Bali beberapa waktu lalu yang akan merancang tentang rencana pengurangan emisi gas CO2 dari tiap-tiap negara peserta sidang.
Sementara itu, Badan Lingkungan Hidup Dunia (UNEP) telah menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi ketiga di dunia setelah Mexico City dan Bangkok. Badan tersebut juga mengungkapkan bahwa sumber utama polusi di Jakarta adalah asap kendaraan bermotor dengan kontribusi sebesar 70 persen dari total penyebab kotornya udara Jakarta. Besarnya kontribusi kendaraan bermotor terhadap polusi udara Jakarta sangat sesuai dengan pernyataan Kojima dan Lovei (2001) yang dari hasil studinya menengarai lalu lintas sebagai penyumbang terbesar dari emisi partikel dan cenderung menghasilkan kenaikan 80-90 persen lead (Pb) yang ada di atmosfir di kota-kota di mana bahan bakar yang mengandung lead (Pb) masih digunakan ( http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global ).
Kandungan timbal (Pb) dalam asap kendaraan bermotor misalnya, dapat menimbulkan keracunan yang merusak ginjal, sistem syaraf, hati, dan lambung. Bahkan,logam Pb juga dapat menyebabkan gangguan pada otak yang mengancam kecerdasasan dan mental generasi muda. Jumlah kendaraan yang terlalu banyak menjadi penyumbang utama tingginya tingkat polusi di Jakarta. Dalam catatan Polda Metro Jaya, sekitar 1.250 sampai 1.500 unit kendaraan sepeda motor baru muncul di jalan setiap harinya. Hingga sekarang, menurut data Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor tersebut sudah mencapai 7.773.957 unit, yang terdiri atas mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.
Sementara itu, luas ruas jalan di Jakarta, menurut data BPS tersebut, hanya mencapai 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta saat ini dikeluarkan, ruas jalan yang tersedia itu tidak akan mampu menampung semua kendaraan (http://www.korantempo.com/korantempo). “Penyumbang polusi terbesar (70 persen) adalah kendaraan bermotor, makanya harus dikendalikan. Kalau tidak segera dikendalikan, polusi udara Jakarta akan semakin parah,” kata Wakil Komisi D DPRD DKI Jakarta Mukhayar, (http://64.203.71.11/kompas-cetak).
Berdasarkan data Eurasian Patent Organisation (EAPO) tahun 2000, emisi sektor transportasi menyumbang 26 persen dari total emisi di Indonesia. Jumlah itu akan terus meningkat tanpa intervensi khusus. Emisi dari sektor transportasi menjadi salah satu persoalan besar, penyebab buruknya kualitas udara di kota-kota besar dunia. Faktanya di Indonesia, jumlah motor dan mobil terus meningkat seiring maraknya fasilitas pendanaan. Kadar emisi per orang per kilometer pengguna mobil pribadi 15 kali lipat emisi bus. Pada hitungan yang sama, sepeda motor emisinya 7,5 kali emisi bus (Koran Kompas 19 april 2008: 13).
Fenomena Global Warming tersebut memicu terjadinya beberapa gerakan sosial di masyarakat dunia. Mereka melakukan berbagai hal untuk menginformasikan kepada masyarakat luas mengenai dampak yang dapat ditimblkan pemanasan global tersebut dan mengajak masyarakat untuk bersama0sama bertindak untuk mencegahnya.
Dalam rangka Hari Bumi 2007, UNEP mengkampanyekan penanaman pohon di seluruh dunia yang disebut Plant for the Planet: Billion Tree Campaign. Tujuannya adalah menanam pohon di seluruh dunia paling sedikit 1 miliar pohon selama tahun 2007. Ide kampanye ini terinspirasi dari Professor Wangari Maathai, penerima Nobel Perdamaian 2004 dan pendiri Kenya’s Green Belt Movement, yang telah menanam pohon lebih dari 30 juta pohon di 12 negara Afrika sejak tahun 197.
Di beberapa daerah di Indonesia seperti di Kalimantan Selatan, Solo, Aceh, pemerintah daerah setempat mengajak masyarakatnya untuk bersama-sama mengurangi dampak dari penebangan hutan yang marak terjadi di wilayahnya. Melalui kampanye ini diharapkan dapat mendorong setiap orang, komunitas, organisasi, kalangan bisnis dan industri, civil society dan pemerintah untuk menanam pohon sebagai suatu tekad atau janji dan kemudian memasukkan janji tersebut pada website yang telah disediakan. Janji menanam pohon tersebut dari hanya menanam satu pohon sampai beberapa juta pohon. Kampanye ini sangan mendorong untuk menanam pohon-pohon local (indigenous trees) dan pohon-pohon yang cocok dengan lingkungan lokal. (http://klipinglainnya.blogspot.com/2007/05/hari-bumi-2007-menanam-pohon-itu.html)
Di Bandung-Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB menggelar kampanye anti kantong plastik. Kampanye yang dilakukan ini diberi tema Anti Plastic Bag. Mereka mengatakan kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama di kota Bandung untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. “Penggunaan kantong plastik secara berlebihan terbukti berbahaya bagi lingkungan”, papar Cinta yang ditemui di kampus ITB, Senin (4/2). Plastik sendiri merupakan limbah yang sulit untuk didaur ulang. Saat menjadi sampah, kantong plastik tidak dapat hancur seperti halnya materi sampah lainnya. Penggunaan kantong plastic yang berlebih terbukti telah merusak lingkungan. Sampah berupa kantong plastik yang dibuang di sungai menjadi mampet hingga akhirnya menyebabkan banjir. (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/05/kesra03.html).
Akhir-akhir ini pun pemerintah DKI Jakarta sedang berupaya untuk menggalakkan kegiatan peduli lingkungan, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat supaya lebih memiliki kepedulian yang serius terhadap lingkungan di sekitar mereka. PT. Pembangunan Jaya Ancol pun menyediakan jalur bersepeda sepanjang 15 kilometer sebagai salah satu upaya mereka mengkampanyekan bersepeda. “Dengan rutin bersepeda pun masyarakat dapat menyelamatkan lingkungan. Kami membuat jalur sepeda ini sebagai ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang tertata, sehat dan hijau”, kata Kepala Bidang Corporate Communications PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Sofia Sakti (Koran Kompas, Minggu, 18 Mei 2008).
Disamping kampanye yang dilakukan oleh pemerintah setempat dan perusahaan swasta, banyak terbentuk komunitas atau organisasi yang bergerak dalam mengajak masyarakat untuk mengurangi dampak pemanasan global dan mencintai lingkungan. Salah satunya adalah komunitas yang menyebut diri mereka B2W-Indonesia dengan slogan kampanye mereka yaitu “Bike to Work”. Sebuah komunitas yang berkampanye untuk mengurangi kadar CO2 yang disebabkan oleh polusi asap dari kendaraan bermotor di Jakarta dengan beralih dari penggunaan kendaraan bermotor ke penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi. “Bike to Work”, sejak tahun 2005 selalu gencar untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi.
”Dalam kondisi jaman yang semakin maju, dimana banyak orang terbiasa untuk menggunakan kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi utama, terlihat dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah dari tahun ke tahun” (http://www.korantempo.com).
Seiring dengan harapan akan peningkatan jumlah anggota Bike to Work maka ada usulan kepada pemerintah DKI (sebagai awal) untuk membangun jalur khusus pengendara sepeda. di Jakarta oleh Pemda Jakarta. Seperti pada pertemuan di gedung Joeang 45 di Jakarta 2006 silam, wakil gubernur Jakarta pada waktu itu Bapak Fauzi Bowo berpendapat ”Bagaimana mungkin kita membuat jalur khusus sepeda? Orang yang rajin menggunakan sepeda jumlahnya hanya segini saja,” sambil menunjuk ke arah jumlah peserta diskusi. Fauzi menilai jumlah pengendara sepeda belum seberapa dibanding dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai sekitar sembilan juta orang. ”Kalau jumlah orang yang bersepeda mencapai ratusan ribu orang, itu bisa dibuatkan jalur khusus. Karena itu ayo kita tingkatkan jumlahnya,” kata Fauzi. (http://kompas.com/kompas-cetak).
Kini, saat manusia mulai terjepit kepadatan lalu lintas dan ”dikeroyok” polusi udara yang membahayakan serta kesadaran untuk hidup lebih ”sehat”, sepeda kembali diupayakan ke fungsi awalnya sebagai alat transportasi. Itulah yang tengah diupayakan komunitas Bike to Work. Komunitas itu ingin mengembalikan fungsi awal sepeda dengan mensosialisasikan bersepeda untuk bekerja. Dalam aktivitas bersepeda bersama yang dilakukan bersama pada hari Jumat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti lima hal keuntungan bersepeda menuju ke tempat kerja. Selain untuk berolahraga, menghemat energi, ikut melestarikan lingkungan, juga ada rekreasi. ”Karena itu, ajak masyarakat lebih banyak lagi ikut komunitas Bike to Work”, ujar Presiden. (Koran Kompas, Sabtu, 21 Juni 2008: 4)
Kampanye itu sendiri adalah serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu, (Rogers & Storey). Kampanye biasa digunakan untuk menggugah kesadaran dan pendapat masyarakat pada isu tertentu. Perloff mengatakan ”Campaigns generally exemplify persuasion in action”, bahwa segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi yakni mengajak dan mendorong publik untukmenerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye adalah contoh tindakan persuasi secara nyata (Venus 2007:7).
Setelah berdirinya tahun 2005 berbagai program telah dilaksanakan oleh Bike to Work baik dengan pemerintah maupun dengan pihak swasta. Pendekatan maupun sosialisasi tersebut diantaranya dilakukan melalui: kampanye pertama komunitas B2W-Indonesia, pembagian leaflet, konvoi reguler yang terjadwal oleh pihak Bike to Work, program Family Fun Bike dengan pihak-pihak swasta, lalu adanya ”Bike to Work Day” yang bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta.
Meski hal ini bisa disebut berhasil untuk ukuran sebuah komunitas, program-program yang telah dilakukan melalui kampanye mereka belum terlalu berhasil dalam mengajak masyarakat untuk terbiasa menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. Hal itu terlihat dari anggota yang terdata hingga sekarang hanya 10.000-an orang, tidak sebanding dengan jumlah penduduk di Jakarta yang masih menggunakan kendaraan bermotor dan banyak dari mereka hanya menggunakan sepeda sebagai salah satu bagian dari olahraga dan bukan sebagai alat transportasi utama dalam kehidupan sehari-hari.
Diharapkan dengan kampanye-kampanye yang dilakukan, jumlah anggota komunitas B2W-Indonesia sudah mencapai ratusan ribu orang, sebagai bukti kepada pemda DKI bahwa banyak masyarakat di Jakarta sudah beralih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi dan mulai untuk memikirkan pembangunan jalur sepeda di wilayah Jakarta.
Namun perubahan yang diharapkan oleh komunias B2W-Indonesia berjalan cukup lambat. Komunitas B2W-Indonesia juga ingin merambah masyarakat pekerja kelas sosial menengah ke bawah supaya mempunyai kesadaran untuk lebih peduli kepada lingkungan dan memulai gaya hidup sehat dengan menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi.
Dengan kondisi perkembangan teknologi transportasi yang semakin maju, mengubah kondisi sosial masyarakat untuk lebih mengutamakan sarana transportasi sepeda, tidaklah mudah. Meskipun kita semua tahu bahwa penggunaan kendaraan bermotor ini menyumbang emisi yang tidak bagus untuk lingkungan. Selain itu, kemacetan yang disebabkan karena banyaknya kendaraan pribadi ini membawa keresahan bagi warga Jakarta.
Disinilah komunitas B2W-Indonesia berusaha memberikan inovasi baru transportasi bagi publik Jakarta. Bersepeda adalah salah satu jenis alat transporasi paling murah, sehat dan ramah lingkungan. Warga didorong membiasakan diri berjalan kaki 15 menit atau bersepeda 15-30 menit ke tempat tujuan sekitar yang letaknya tidak terlalu jauh. Ada lima keuntungan bersepeda ke tempat kerja, yakni berolahraga, menghemat energi, ikut melestarikan lingkungan, sehat dan rekreasi.
Jakarta harus segera mencari solusi yang dapat mengatasi kecametan di hampir semua sudut jalan kota, sekaligus mengurangi pencemaran udara. Pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi berbanding terbalik dengan penyediaan angkutan massal. Jakarta perlu perubahan alternatif baru. Dalam mencapai misi yang ingin dicapai oleh B2W-Indonesia, diperlukan strategi komunikasi yang efektif dalam menanamkan budaya bersepeda ke masarakat Jakarta di tengah kondisi sekarang. Pemilihan kata-kata, simbol, media, sangat mempengaruhi keberhasilan proses kampanye. Sehingga dalam kampanye yang dilakukan komunitas ”B2W-Indonesia” diperlukan strategi komunikasi yang baik, sehingga prses penyampaian makna terlaksana dengan baik.
B. Perumusan Masalah
Beraktivitas termasuk berangkat atau pulang kantor dengan mengendarai sepeda adalah suatu ide yang ideal bagi orang-orang yang sangat peduli dengan kebersihan udara kota Jakarta disamping pencegahan akan global warming. Namun, hal tersebut mungkin dirasakan bukan sebagai sebuah ide yang bagus bagi mereka yang sudah terlanjur merasakan kenyamanan alat trasporasi modern seperti mobil dan motor. Mengubah perilaku dan gaya hidup orang Jakarta dan sekitarnya yang relatif sangat bervariasi bukanlah hal yang mudah.
Berawal dari sebuah perhatian terhadap kondisi jalan raya di Jakarta yang semakin macet karena banyaknya kendaraan bermotor yang memenuhi jalanan dan merupakan penyumbang emisi gas karbon yang paling besar di Jakarta. Komunitas “Bike to Work “ (B2W-Indonesia) mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengajak masyarakat terutama pekerja di Jakarta untuk menggunakan sepeda guna mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari. Mayoritas anggota Bike to Work memang merupakan anggota dari komunitas Mountain bike Indonesia dan rata-rata anggotanya adalah eksekutif muda yang memang bersepeda karena hobby dan sudah menjadi gaya hidup mereka.
Masyarakat mungkin mengetahui keberadaan komunitas B2W-Indonesia namun mereka belum memahami perihal keberadaan mereka. Untuk itulah kampanye dipilih sebagai cara dalam menyampaikan ide mereka kepada masyarakat di Jakarta. Diharapkan dengan kampanye, B2W-Indonesia dapat menjangkau masyarakat luas meski itupun dipengaruhi oleh kemampuan pelaku kampanye dalam merancang program dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada.
B2W-Indonesia memanfaatkan kampanye untuk menggugah kesadaran dan pendapat masyarakat pada isu tertentu. Kampanye itu sendiri merupakan komunikasi yng dilakukan secara terencana. Apapun ragam dan tujuannya, upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu terkait dengan aspek pengetahuan, sikap dan perilaku (Pfau dan Parrot dalam Venus 2007: 10).
Ostergaad menyebut ketiga aspek tersebut dengan istilah ”3A” yaitu awarness, attitude dan action. Ketiga aspek ini bersifat saling terkait dan merupakan sasaran pengaruh yang harus dicapai secara bertahap agar satu kondisi perubahan dapat tercipta (Venus 2007:10).
Awarness dalam aspek pertama oleh Ostergaad berarti menggugah kesadaran, menarik perhatian dan memberi informasi tentang produk atau gagasan yang dikampanyekan. Dalam hal ini, konsep ajakan dalam kampanye komunitas B2W-Indonesia harus dapat menarik perhatian masyarakat akan ide baru yang ditawarkan.
Aspek berikutnya diarahkan pada perubahan daam ranah sikap atau attitude. Dalam hal ini, komunitas B2W-Indonesia harus memunculkan kepedulian atau keberpihakan masyarakat pada isu-isu yang menjadi tema kampanye mereka.
Sementara pada aspek terakhir kegiatan kampanye komunitas B2W-Indonesia ditujukan untuk mengubah perilaku masyarakat secara konkret dan terukur, yaitu dengan beralih dari penggunaan kendaraan bermotor ke sepeda. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh masyarakat. Tindakan tersebut dapat bersifat ”sekali saja” atau ”berkelanjutan”. Tindakan yang ”berkelanjutan” inilah yang tidak terlalu berhasil dicapai oleh kampanye komunitas B2W- Indonesia tersebut.
Untuk memenuhi tujuan tersebut dibutuhkan strategi komunikasi yang baik dalam mengkampanyekan ide mereka ke masyarakat. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang akan diterapkan dalam kampanye, atau lenih mudahnya dapat disebut sebagai guiding principle atau the big idea. Guiding principle atau the big idea ini dapat diartikan sebagai pendekatan yang diambil untuk menuju pada suatu kondisi tertentu dari posisi saat ini, yang dibuat berdasarkan analisis masalah dan tujuan yang telah ditetapkan.
Misi yang ingin dicapai oleh komunitas B2W-Indonesia adalah terciptanya jalur khusus sepeda sebagai pemicu masyarakat dalam menggunakan sepeda. Untuk mewujudkan misi tersebut, dibutuhkan strategi komunikasi yang baik dalam mengkampanyekan ide mereka. Komunikasi merupakan salah satu unsur penting dalam kampanye ”Bike to Work”. Strategi komunikasi dalam kampanye yang tepat dapat mendukung kerja-kerja efektif baik di arah perubahan kebijakan publik (advokasi), perubahan sikap dan perilaku masyarakat. Di tingkat komunitas, strategi komunikasi akan diterapkan dalam upaya-upaya komunikasi, informasi dan edukasi yang dapat mendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat maupun individu.
Berdasarkan pemaparan masalah diatas, maka ditarik suatu rumusan masalah ”Bagaimana strategi komunikasi dijalankan dalam program kampanye bersepeda oleh komunitas B2W-Indonesia?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana strategi komunikasi dalam mengajak masyarakat pekerja di Jakarta bersepeda dilakukan oleh komunitas Bike to Work – Indonesia.
D. Signifikansi Penelitian
1. Signifikansi Teoritis
Secara akademik penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi aspek komunikasi dalam merencanakan kampanye dan memberikan masukin bagi kampanye komunitas B2W-Indonesia, yang merupakan kombinasi dari berbagai ide persuasif yang disalurkan melalui media-media sehingga dapat diterima oleh masyarakat dengan baik.
2. Signifikansi Praktis
Penelitian ini mempunyai signifikansi secara praktis, yakni diharapkan dapat memberikan masukan tentang hambatan-hambatan komunikasi yang terjadi di dalam dan selama proses strategi komunikasi yang dilakukan oleh komunitas “Bike To Work”. Kontribusi dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk komunitas “B2W-Indonesia” ataupun komunitas-komunitas lainnya yang ingin melakukan kampanye sosial untuk mengajak masyarakat melakukan pola kehidupan yang membawa pada kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
E. Kerangka Konsep
Diawali dengan adanya fenomena Pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan istilah “global warming” yang mengancam kelangsungan hidup manusia sebagai akibat dari tingkat emisi gas yang diakibatkan oleh banyaknya gas beracun yang berasal dari kendaraan bermotor yang digunakan masyarakat dalam kegiatan sehari-harinya, maka kampanye sosial “Bike To Work” menjadi sesuatu yang penting. Maksud dari program ini adalah untuk mengajak masyarakat beralih ke penggunaan sepeda dalam melakukan kegiatan sehari-harinya, dari yang semula mereka bergantung pada penggunaan kendaraan bermotor pribadi, baik roda dua maupun roda empat.
Menyampaikan pada masyarakat tentang bahaya dari gas emisi yang merusak lapisan ozon adalah awal dari ide yang akan merubah attitude masyarakat sehingga mereka mulai sadar akan bahaya dari gas yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Tetapi kalau hanya sampai disini, sasaran dari komunitas B2W-Indonesia belumlah tuntas karena yang diharapkan adalah agar masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor mau beralih ke penggunaan sepeda. Dalam konteks inilah komunikasi yang harus dilakukan adalah suatu komunikasi yang mampu mempengaruhi masyarakat hingga terjadi perubahan perilaku. Kampanye yang dilakukan oleh komunitas B2W-Indonesia dapat dilihat sebagai model komunikasi yang diharapkan dapat membuat publik merubah behaviornya sehingga sesuai dengan harapan.
Adapun definisi kampanye :
A. Kampanye adalah serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. (Rogers & Storey)
B. Kampanye komunikasi adalah tindakan komunikasi yang terorganisasi yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode tertentu guna mencapai tujuan tertentu (Leslie B. Synder)
(Venus, 2007: 26)
Dari definisi diatas dapat diperjelas bahwa kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goal oriented dan an organized behavior, harus direncanakan dan diterapkan secara sistematis dan berhati-hati.
Menurut Charles U. Larson (Venus, 2007:11) terdapat beberapa jenis kampanye berdasarkan motivasi dan tujuannya,yaitu:
1. Product-oriented campaigns yaitu kampanye yang berorientasi pada produk umumnya terjadi dilingkungan bisnis.
2. Candidate-oriented campaigns yaitu kampanye yang berorientasi pada kandidat umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan politik.
3. Ideologically or cause-oriented campaigns yaitu jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial.
Berdasarkan penjabaran diatas, jenis kampanye berdasarkan tujuan yang ingin dicapai melalui kampanye oleh B2W adalah Ideologically or cause oriented campaigns yang berarti jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Kotler menyebut jenis kampanye ini sebagai social change campaigns, yakni kampanye yang ditujukan untuk menangani masalah-masalah sosial melalui perubahan sikap dan perilaku publik yang terkait (Venus, 2007: 11)
Sepeda oleh komunitas B2W-Indonesia digunakan sebagai ide atau inovasi transportasi. Dalam kampanyenya, salah satu model kampanye yang menggunakan inovasi/hal baru sebagai pesan ataupun tujuan perubahan yang diharapkan disebut model difusi inovasi (lihat gambar 1). Dalam model difusi inovasi Rverett M. Rogers menggambarkan adanya empat tahap yang akan terjadi ketika proses kampanye berlangsung (Larson, 1993; dalam Venus, 2007:24), yaitu tahap informasi, tahap persuasi, tahap membuat keputusan (decision) dan tahap konfirmasi. Terori difusi inovasi menjelaskan bagaimana inovasi-inovasi tertentu berkembang dan diadopsi oleh masyarakat. Teori ini berguna dalam menganalisis kolaborasi yang tepat antara penggunaan komunikasi massa dan komunikasi antar pribadi untuk membuat masyarakat mengadopsi suatu produk, perilaku atau ide tertentu yang dianggap baru.

Model Difusi Inovasi
INFORMASI

PERSUASI

KEPUTUSAN
PENERIMAAN
PERCOBAAN

KONFIRMASI
ReVALUASI

Gambar 1
Dalam model ini, Rogers menggambarkan adanya empat tahap yang akan terjadi ketika proses kampanye berlangsung, yaitu:
1. Tahap informasi
Pada tahap ini khalayak diterpa informasi tentang produk atau gagasan yang dianggap baru. Terpaan yang bertubi-tubi dan dikemas dalam bentuk pesan yang menarik akan menimbulkan rasa ingin tahu khalayak tentang produk atau gagasan tersebut.
2. Tahap persuasi
Tahap ini terjadi etika khalayak telah tergerak mencari tahu dan mendapati bahwa produk atau gagasan tersebut menarik minat mereka.
3. Tahap decision, adoption and trial
Tahap membuat keputusan untuk mencoba yang didahului oleh proses menimbang-nimbang tentang berbagai aspek produk tersebut.
4. Tahap konfirmasi atau reevaluasi
Tahap ini hanya dapat terjadi bila orang telah mencoba produk atau gagasan yang ditawarkan. Berdasarkan pengalaman mencoba, khalayak mulai mengevaluasi dan mempertimbangkan kembali tentang produk tersebut.
(Venus, 2007:24-25)
Agar penyampaian ide tersebut berlangsung dengan baik, dibutuhkan strategi komunikasi yang baik. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang akan diterapkan dalam kampanye, atau untuk lebih mudahnya dapat disebut sebagai guiding principle atau the big idea. Guiding princple atau the big idea ini dapat diartikan sebagai pendekatan yang diambil untuk menuju pada suatu kondisi tertentu dari posisi saat ini, yang dibuat berdasarkan analisis masalah dan tujuan yang telah ditetapkan, strategi ini kemudian dituangkan secara lebih konkret dalam bentuk taktik.
Taktik sangat bergantung pada tujuan dan sasaran yang akan dibidik program kampanye. Semakin kompleks tujuan dan sasaran bidik maka taktik yang digunakan harus bukanlah hal yang sangat rumit, karena pemilihan taktik sebenarnya hanya didasarkan pada dua fungsi, yaitu fungsi menghubungkan program kampanye dengan sasaran melalui media komunikasi tertentu. Selanjutnya, takik meyakinkan sasaran melalui kekuatan pesan komunikasi hingga membuat sasaran berpikir, percaya dan bertindak sesuai dengan tujuan program kampanye.
Supaya taktik yang dipilih dapat menjalankan fungsi menghubungkan dan meyakinkan, maka harus dilihat tingkat ketepatan dan daya penyampaiannya. Ketepatan takik maksudnya adalah: sejauh mana taktik dapat mencapai sasaran yang dituju?, akankah taktik ini sejalan dengan taktik-taktik yang lain yang juga digunakan?, Sementara daya penyampaian melihat kepada: dapatkah taktik ini dilaksanakan dengan sukses? Bisakah taktik ini dilaksanakan dengan anggaran dan batas waktu yang tersedia? Adakah orang yang mempunyai keahlian untuk mengimplementasikan taktik tersebut.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penetapan strategi dan taktik agar kampanye dapat berjalan efektif:
1. Gunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas untuk taktik. Taktik yang dituntun oleh strategi akan membuat kegiatan menjadi lebih sistematis dan ringan, serta tidak melenceng dari tujuan kampanye. Strategi dibuat berdasarkan kepada tujuan kampanye.
2. Jauhi semua taktik yang bersifat nonstrategis. Taktik yang banyak namun tidak terfokus kepada strategi akanmemecahkan konsterntrasi tim kampanye. Karenanya usahakan untuk berfokus secara maksimal pada taktik yang sejalan dengan strategi.
3. Selalu hubungkan taktik pada strategi, dan strategi pada tujuan. Ketiga hal ini merupakan rangkaian yang harus dijalin dengan erat. Tujuan memberikan arah secara keseluruhan tentang hasil akhir yang ingin dicapai melalui kampanye. Strategi merupakan kekuatan yang mendorong bagaimana menuju hasil akhir tersebut, sementara itu taktik memetakan kegiatan dengan langkah-langkah tertentu dalam rentang waktu yang tersedia.
4. Ujilah taktik bila memungkinkan. Pengujian taktik ini merupakan hal yang sangat disarankan untuk mengetahui kemungkinan tingkat keberhasilannya. Untuk memudahkan pengukuran atau pengujian taktik, perencana kampanye perlu membuat performance indicators yaitu pernyataan yang jelas dan tidak ambigu mengenai hasil yang diharpkan dari penggunaan sebuah taktik. Didalamnya tercantum kriteria yang tepat dan diteliti untuk mengukur hasil aktual, siapa yang diharapkan melalukannya, dan pada kondisi apa hasil itu terjadi (Venus 2007: 154).
Suatu strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan. Jadi, dalam merumuskan strategi komunikasi, selain diperlukan perumusan tujuan yang jelas, juga terutama memperhitungkan kondisi dan situasi khalayak. Sebagaimana kita tahu, khalayak itu sama sekali tidak pasif, melainkan aktif sehingga antara komunikator dan komunikan bukan saja terjadi saling hubungan tetapi juga saling mempengaruhi. Artinya khalayak dapat dipengaruhi oleh komunikator tetapi komunikator juga dapat dipengaruhi oleh komunikan atau khalayak.
Untuk menciptakan persamaan kepentingan tersebut, maka komunikator harus mengerti dan memahami kerangka pengalaman dan kerangka referensi khalayak secara tepat dan seksama, yang meliputi:
a. Kondisi kepribadian dan kondisi fisik khalayak yang terdiri dari:
– Pengetahuan khalayak mengenai pokok persoalan.
– Kemampuan khalayak untuk menerima pesan-pesan lewat media yang digunakan.
– Pengetahuan khalayak terhadap pembendaharaan kata-kata yang digunakan.
b. Pengaruh kelompok dan masyarakat serta nilai-nilai dan norma-norma kelompok.
c. Situasi dimana khalayak itu berada.
Dalam strategi komunikasi terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sehingga penyampaian pesan dapat dilakukan dengan baik, yaitu sebagai berikut:
1. Strategi Komunikator
a. Penentuan sasaran komunikasi
Segala sesuatu yang kita sampaikan kepada komunikan hendaknya bersifat ”lurus” ke arah sasaran yang ingin kita capai. Pengelolaan sasaran komunikasi dapat dilakukan dengan membaginya ke dalam beberapa bagian.
1) Sasaran umum (General Objectives)
Sasaran ini sifatnya umum dan abstrak. Didalamnya tercakup gagasan-gagasan yang memicu proses kreatif dan berpikir kita. Selain itu terdapat pernyataan-pernyataan komprehensif mengenai apa yang kita lakukan, apa yang kita harapkan akan kita lakukan, atau masalah apa yang kita coba pecahkan.
2) Sasaran aksi (Action Objectives)
Sasaran aksi lebih spesifik dari sasaran umum. Pada sasaran ini terdapat langkah-langkah yang konkret, dapat diukur keberhasilan pencapaiannya, dan berada dalam suat rentang waktu tertentu.
3) Sasaran komunikasi (Communication Objectives)
Sasaran komunikasi lebih spesifik lagi dari sasaran aksi.
b. Penentuan cara berkomunikasi
Yang dimaksud dengan penentuan cara berkomunikasi adalah penentuan mengenai bagaimana seorang komunikator harus membawa dirinya di hadapan khalayak. Dengan kata lain bagaimana ia membuat pertimbangan yang tepat mengenai keterlibatannya dalam interaksinya dengan komunikan atau sejauh mana ia memiliki kontrol terhadap pesan komunikasinya.
c. Kredibilitas komunikator
Kredibilitas adalah suatu kondisi dimana komunikator dinilai memiliki pengetahuan, keahlian, atau pengalaman yang relevan dengan topik pesan yang disampaikan, sehingga komunikan menjadi percaya bahwa apa yang disampaikannya tersebut bersifat objektif.
Kredibilitas memiliki dua dimensi, yaitu dimensi expertise (keahlian / keterampilan) dan dimensi truthworthiness (kepercayaan). Dengan demikian, seseorang dikatakan memiliki kredibilitas manakala ia ahli atau terampil dalam suatu bidang tertengu dan ia dipercaya sebagai orang yang jujur, memiliki integritas atau memiliki reputasi bisa dipercaya.
Kredibilitas terdiri dari:
1) Initial credibility
Pengertiannya adalah kredibilitas yang dipersepsikan oleh komunikan sebelum suatu kegiatan komunikasi yang aktual terjadi. Disini komunikan memiliki persepsi tertentu mengenai kredibilitas komunikator karena ia (komunikator) menunjukkan atribut-atribut tertentu yang asosiatif.
2) Derived credibility
Ini menunjuk pada kredibilitas yang dipersepsikan komunikan ketika suatu kegiatan komunikasi berlangsung. Ketika berkomunikasi, komunikator tidak hanya menyampaikan siapa dirinya. Dari totalitas perilaku komunikasi yang dibawakan komunikator, komunikan dapat memperkirakan apakah ia sesuai atau tidak sesuai dengan initial cre-dibility-nya.
3) Terminal credibility
Kredibilitas ini merupakan penilaian komunikan sebagai hasil dari perbandingan persepsinya mengenai initial dan derived credibility seorang komunikator. Terminal credibility ini akan membentuk reputasi seseorang yang akan mewarnai persepsi komunikan pada kegiatan komunikasi oleh komunikator yang sama pada kesempatan lain.
2. Strategi Audience
Strategi audience atau strategi khalayak berarti analisis situasi komunikasi dari sudut pandang khalayak. Yang tercakup didalamnya adalah pertimbangan-pertimbangan terhadap:
A. Identifikasi khalayak
Siapa yang akan menerima pesan komunikasi harus kita identifikasikan dengan jelas. Untuk itu kita dapat mengelompokkan mereka ke dalam beberapa kategori, sebagai berikut:
1) Khalayak primer
Adalah mereka yang langsung menerima pesan komunikasi pada saat mereka hadir atau berpartisipasi secara langsung dengan kegiatan komunikasi yang kita lakukan.
2) Khalayak sekunder
Perlu juga dipertimbangkan adalah keberadaan orang-orang yang akan mendengar pesan komunikasi kita (yang tidak hadir langsung), yang menerima fotokopi pesan yang kita sajikan secara tulisan, yang merasa perlu untuk mendapat konfirmasi dari kita atau orang-orang lain yang mungkin terpengaruh oleh pesan komunikasi kita.
3) Gatekeeper
Yang dimaksud dengan gatekeeper adalah mereka yang hadir secara langsung ketika kita menyampaikan pesan kepada mereka, namun mereka hanya berperan sebagai perantara yang akan meneruskan informasi yang mereka terima kepada pihak yang berkepentingan yang mereka wakili.
4) Pengambil keputusan
Di antara khalayak mungkin terdapat orang-orang tertentu yang memiliki posisi kunci yang berwenang untuk mengambil keputusan. Pesan komunikasi yang kita sampaikan hendaknya lebih diarahkan kepada mereka (dengan tanpa mengurangi / merendahkan kepentingan anggota audience yang lain).
Setelah kita mengkategorikan khalayak, langkah kita berikutnya adalah melakukan analisis terhadap mereka.
B. Latar belakang pengetahuan khalayak
Seringkali seseorang berbicara di hadapan sekelompok orang tanpa mempertimbangkan apakah mereka dapat memahami pesan yang kita sampaikan atau bahkan apakah mereka dapat mengintegrasikan informasi yang mereka terima ke dalam struktur kognisinya. Dengan mempertimbangkan latar belakang pengetahuan mereka kita dapat menyesuaikan perilaku komunikasi kita untuk tidak membahas hal-hal yang berada di luar frame of reference audience, tidak menghubung-hubungkan dengan konsep yang asing bagi mereka.
C. Perasaan audience
Yang kita pertimbangkan mengenai perasaan audience adalah hal-hal sebagai berikut:
1) Seberapa tertariknya audience pada pesan komunikasi.
2) Apakah pesan yang kita sampaikan mendapat prioritas tinggi / rendah dari audience.
3) Seberapa jauh pesan kita akan mempengaruhi tujuan-tujuan mereka.
4) Apakah mereka akan mendukung, biasa-biasa saja atau menentang komunikasi kita.
3. Strategi pesan
a. Penekanan inti pokok pesan
Masalah ini berkenaan dengan kemampuan audience untuk mengingat dan memberikan perhatian pada pesan komunikasi kita.
b. Pengorganisasian pesan
Agar dapat membantu pemahaman audience, pesan yang kita sampaikan dapat kita organisasikan sedemikian rupa sehingga penyampaiannya menjadi teratur.
Cara-cara pengorganisasian pesan antara lain adalah sebagai berikut:
i. Deduksi : Inti pokok pesan kita sampaikan terlebih dahulu baru kemudian penjelasan-penjelasan serta perincian-perincian menyusul diberikan.
ii. Induksi : Kebalikan dari deduksi. Yang disampaikan pertama kali adalah uraian-uraian, detil-detil dari suatu gagasan yang susunannya mengarah pada suatu kesimpulan yang diberikan pada akhir kegiatan komunikasi.
iii. Kronologis : Pesan komunikasi disampaikan menurut urutan waktu terjadinya peristiwa.
iv. Spasial : Pesan komunikasi disampaikan menurut urutan tempat.
v. Topikal : Pesan komunikasi disampaikan menurut urutan prioritas tertentu. Dari yang penting ke kurang penting, dari yang tidak menarik ke menarik, dari konsep / pengertian yang sudah dikenal ke yang asing. Dapat berlaku pula sebaliknya.
vi. Kausal : Disini pesan komunikasi disajikan dengan urutan ”sebab” kemudian ”akibat” atau sebaliknya.
4. Strategi pemilihan channel
Strategi pemilihan channel berkenaan dengan pertimbangan kapan kita harus berbicara dan kapan kita harus menulis. Dengan kata lain, kapan kita menyampaikan pesan komunikasi secara lisan dan kapan secara tulisan.
5. Strategi budaya
Pada strategi budaya yang harus dilakukan adalah pertimbangan terhadap semua unsur yang terlibat dalam strategi komunikasi dan meletakannya dalam konteks budaya tertentu.
(Syam ,Sugiana. 2001: 1.20-1.26)
Strategi adalah jalan-jalan yang meyakinkan yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan. Strategi sifatnya jangka panjang dan tidak boleh diubah-ubah, sedangkan taktik sifatnya jangka pendek. Strategi komunikasi yang dipilih komunitas B2W-Indonesia untuk penyebaran informasi mengenai manfaat bersepeda dan mengajak publik beralih ke penggunaan sepeda, dilakukan melalui saluran komunikasi massa mulai dari yang paling sederhana yaitu mulut ke mulut (word of mouth), penyebaran pamflet, poster, iklan layanan masyarakat, konvoi dijalan-jalan di daerah Jakarta, penggunaan media internet. Dalam teori komunikasi massa, model ini dikenal dengan model alur banyak tahap (Multistep flow model), model ini mengatakan bahwa hubungan timbal balik dari media ke khalayak (yang juga berinteraksi satu dengan yang lain), kembali ke media, kemudian kembali lagi ke khalayak dan seterusnya (Nurudin, 2003:134).
Segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi yakni mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian, kampanye pada prinsipnya adalah contoh tindakan persuasi secara nyata, yang oleh Perloff (1993) katakan ”Campaigns generally exemplify persuasion in action”.
Komunikasi yang persuasif memiliki dampak yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan komunikasi yang bersifat informatif, yakni dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral (Effendy, 2004: 21-24). Dampak kognitif terjadi apabila publik telah mengetahui perihal bersepeda ke tempat kerja sangat perlu dan sehat, hanya sekedar pataran pikiran. Dampak afektif adalah dimensi perasaan yang dialami oleh penerima pesan kampanye bersepeda oleh komunitas B2W-Indonesia, seperti mendukung atau tidak mendukung atas kampanye bersepeda, sementara dampak behavioral adalah perilaku yang terjadi karena efek dari proses komunikasi persuasi tersebut yaitu masyarakat mau untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dalam kegiatan sehari-hari mereka.
Fokus dari komunikasi persuasif bukanlah pada sumber ide/pesan, pesan itu sendiri, media, penerima pesan. Keberhasilannya terletak pada keempat elemen tersebut secara sebanding. Keempat elemen tersebut harus bersama-sama membuat proses persuasif itu bisa berlangsung, sehingga dalam komunikasi persuasif ini keempat elemen yaitu siapa sumber pesan, apa pesan, melalui media apa, dan siapa penerima pesan haruslah masing-masing mempunyai kejelasan tentang motif yang dirancang untuk mempengaruhi perubahan.
Kampanye ”Bike to Work” merupakan program yang bisa berhasil bila masing-masing individu dalam meresepon pesan akan berperilaku seperti yang diharapkan oleh pembuat program. Keberhasilan bisa terjadi bila pesan yang disampaikan telah dapat menyentuh aspek behavioral dari masing-masing individu. Untuk memahami individu, berarti seorang perencana program sosial dituntut untuk memahami nilai-nilai yang mereka anut. Dalam kampanye ”Bike to Work”, perencana program harus memahami apa yang masing-masing individu percayai tentang kepedulian lingkungan dalam diri mereka masing-masing.
Kampanye ”Bike to Work” dapat menimbulkan efek-efek tertentu pada khalayak yang terkena paparan pesan. Namun khalayak yang terdiri dari beberapa individu ini, kemungkinan tidak akan mendapatkan efek yang sama. Seperti yang dikemukakan oleh Winarni, ”Ada individu yang dapat dipengaruhi secara kuat dan ada individu yang kurang dipengaruhi oleh media massa. Dengan kata lain pengaruh media massa terhadap khalayak masyarakat bersifat terbatas dan ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keterpengaruhan khalayak terhadap media massa” (Winarni, 2005:116).
Masyarakat yang dimaksud dalam kampanye ”Bike to Work” dapat dikategorikan sebagai khalayak dalam komunikasi massa, artinya terdiri dari berbagai jenis dan latar belakang. Keragaman itu dapat dilihat dari pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, jabatan, agama (Nurudin, 2004:19). Komunikasi massa seringkali menyangkup kontak antara satu pengirim dengan banyak penerima, menciptakan pengaruh luas dalam waktu singkat, dan menimbulkan respon seketika dari banyak orang secara serentak.
Menurut Liliweri, ketika komunikator berkomunikasi dengan komunikan maka sejak awal harus diantisipasi beberapa tipe sikap audiens. Tipe sikap itu dimiliki oleh semua komunikan dalam semua jenis media. Kelima tipe itu adalah: (1) Audiens yang bersahabat (friendly audiences), merupakan tipe komunikan yang mempunyai disposisi positif terharap informasi yang dikemukakan oleh komunikator, kelompok audiens ini lebih mudah dipengaruhi. Artinya, mereka sudah mempunyai suatu pikiran, pendapat, pandangan, sikap yang sama, relatif sudah konsisten dengan tujuan persuasi; (2) Audiens yang bermusuhan (hostile audiences) adalah audiens yang memiliki disposisi negatif, mereka akan sangat sulit menerima dan memahami informasi dari komunikator dan akan sangat sulit dipengaruhi; (3) Audiens yang netral (neutral audiences) adalah audiens yang mempunyai sikap netral, sikap komunikan seperti ini mau berdiri di antara sikap positif ataupun negatif, tipe sikap yang ambigu bahkan tidak tegas; (4) Audiens yang apatis (apathetic audiences) adalah audiens yang bersikap masa bodoh, sikap ini didorong oleh keterlibatan audiens terhadap informasi yang mereka terima, artinya tidak ada keuntungan atau kerugian apapun yang mereka terima lantaran memberikan disposisi negatif atau positif; (5)Audiens dengan sikap campuran (mixed audiences) adalah audiens yang mempunyai sikap bersahabat namun bermusuhan, bersahabat namun netral, bermusuhan namun netral, bermusuhan namun masa bodoh, bersikap netral namun kadang-kadang masa bodoh, dan lain-lain (Liliweri, 2007:186-188).
Mengantisipasi hal diatas, dalam teori perilaku terencana dijelaskan pula bahwa faktor utama yang menentukan terbentuknya suatu perilaku adalah tujuan perilaku itu sendiri. Kesadaran akan tujuan tertentu akan membawa individu untuk membuat rencana membentuk sebuah perilaku dalam suatu situasi tertentu. Jadi, landasan utama perilakunya adalah tujuan perilaku itu sendiri. Pada dasarnya, tujuan sebuah perilaku ditentukan oleh faktor-faktor berikut:
1. Sikap terhadap perilaku. Ini menyangkut kepercayaan individu terhadap konsekuensi positif dan negatif dari sebuah perilaku, serta pertimbangan yang ada pada masing-masing konsekuensi tersebut.
2. Norma subjektif yang berhubungan dengan perilaku. Hal ini berhubungan erat dengan sejauh mana individu termotivasi agar dapat memenuhi harapan orang-orang tersebut.
3. Persepsi terhadap pengawasan perilaku. Ini adalah persepsi individu mengenai kekuatan faktor eksternal yang akan sangat mempengaruhi tingkat kemudahan atau kesulitan munculnya perilaku tersebut.
(Venus, 2007:35)
Berdasarkan teori ini, maka kampanye komunitas B2W-Indonesia tersebut harus dapat pula membangun motivasi publik dalam melakukan berbagai tindakan yang dianjurkan didalamnya. Dengan mengerti nilai-nilai yang dimiliki individu penerima pesan dan bagaimana efek pesan terhadap sikap dan perilaku mereka maka keberhasilan kampaye bersepeda oleh komuntas B2W-Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Bagaimana strategi komunikasi dirancang dan dilaksanakan akan sangat mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku dari masyarakat pekerja Jakarta sebagai khalayak sasaran dalam program kampanye bersepeda oleh komunitas Bike2Work-Indonesia.

F. METODOLOGI PENELITIAN
1. Tipe Penelitian
Penelitian mengenai strategi komunikasi komunitas B2W-Indonesia ini merupakan studi yang menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu variable atau tema, gejala atau keadaan yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Erna Widodo, 2000:15).
2. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah informan atau narasumber sebanyak 3 orang yang akan diwawancarai mengenai bagaimana strategi komunikasi disusun dan dijalankan oleh komunitas B2W-Indonesia. Sedangkan informan adalah pengurus yang bergerak langsung dalam mengurus strategi komunikasi yang digunakan komunitas B2W-Indonesia. Wawancara dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disusun dan dapat berubah serta berkembang sesuai dengan kondisi.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui wawancara mendalam (Indepth Interview) dengan beberapa orang yang mengurus dan mengambil keputusan dalam menentukan strategi komunikasi komunitas B2W-Indonesia. Pedoman yang digunakan dalam wawancara tidak terstruktur, dimana pertanyaan dapat berkembang dan tidak terpaku dengan daftar pertanyaan.
4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Merupakan data yang dikumpulkan peneliti langsung dari lapangan. Dalam penelitian ini, informasi diperoleh dari sumber melalui wawancara mendalam (Indepth Interview ), dengan beberapa orang yang berperan dalam merencanakan strategi komunikasi komuntas Bike to Work (B2W) – Indonesia.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh melalui arsip-arsip strategi komunikasi yang dijalankan oleh komunitas B2W-Indonesia yang berguna bagi penelitian, studi pustaka dan referensi lainnya.
5. Unit Analisis
Satuan analisis (Unit of Analysis) dalam penelitian ini adalah pendapat dan reaksi dari individu yang ikut serta dalam proses menentukan strategi komunikasi dalam kampanye bersepeda yang dilakukan oleh pihak Bike2Work-Indonesia.
6. Analisis data dan pengelolaan data
Hasil interview dengan para narasumber dijabarkan dalam bentuk tulisan dan kritikan. Penelitian dilakukan lebih eksplisit dan sistematis yang mengarah pada penelitian massa secara kualitatif. Penekanan dalam analisis data ini adalah pemikiran dan pendapat dari informan tentang strategi komunikasi yang digunakan oleh komunitas B2W-Indonesia dalam mengajak masyarakat pekerja di Jakarta untuk bersepeda.

Advertisements

6 thoughts on “Strategi Komunikasi Komunitas Bike to Work (B2W) – Indonesia Dalam Mengajak Masyarakat Bersepeda

  1. Excellent blog! I actually love how it is easy on my eyes and also the facts are well written. I am wondering how I may be notified whenever a new post has been made. I have subscribed to your rss feed which must do the trick! Have a nice day!

  2. I am curious to find out what blog platform you’re utilizing? I’m having some minor security problems with my latest blog and I would like to find something more safeguarded. Do you have any solutions?

  3. Appreciating the dedication you put into your blog and detailed information you present.
    It’s nice to come across a blog every once in a while that isn’t the same out of date rehashed information.
    Excellent read! I’ve bookmarked your site and I’m including your RSS feeds to my Google account.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s