Peran Swadaya Masyarakat dalam Pembangunan Sarana Prasarana dalam PNPM MD


Peran Swadaya Masyarakat dalam Pembangunan Sarana Prasarana dalam PNPM MD

Kita semua sudah terpola pada satu situasi dimana untuk membangun ibfrastruktur (sarana parsarana) dengan mendapatkan bantuan dari pemerintah tanpa memperhatikan peran dan partisipasi masyarakat. Namun di dalam PNPM MD peran masyarakat dan partisipasinya cukup dibutuhkan dalam penyelesaian sarana dan prasarana yang dibangun di Desa yang mendapatkan bantuan.
Manun perlu disadari kesadaran akan swadaya masih cukup rendah, dimana masyarakat hanya mengharapkan bantuan itu diperoleh kemudian dikerajakan ala kadarnya bahwa ini bantuan Pemerintah untuk rakyat. Padahal pembangunan itu akan dirasakan oleh mereka.
Sebenarnya target minimal pemberdayaan adalah membangun perubahan pola pikir masyarakat. Dari menengadahkan tangan menjadi menelungkupkan tangan bukan hanya menerima namun juga memiliki. Sebenarnya masyarakat sejak dulu memiliki kesadaran itu namun menjadi berubah, apakah kerena akibat kemiskinan struktural, ya kemiskinan struktural karena, selama ini berhadapan dengan pemerintahan yang kurang trasparan, sehingga mereka ragu dalam mengulurkan sumbangannya pada pembangunan terutama yang melibatkan pemerintah.
Hal inilah meembangun kesadaran yang secara transparan bahwa membangunan itu adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Setelah banyak kita rasakan hasil pekerjaan prasarana yang melibatkan masyarakat dapat terukur kesadaran swadaya baik uang, material maupun tenaga adalah dari kualitas, volume atau kuantitas cukup dapat dirasakan dan terukur secara pasti.
Pembangunan yang terencana dengan baik, administrasi yang jujur dan transaparan, serta hasilnya berkualitas pasti akan memunculkan kesadaran untuk berswadaya, bahkan di masa datang akan melahirkan kemandirian, didukung dengan peningkatan ekonomi dan kualitas hidup mereka.
Misalkan pembangunan rabat beton atau sender irigasi mereka akan meraskan tebal, tinggi dan panjang yang tercapai, serta kualitas bangunan baik beton maupun sender. Dimana keawetannya, ketebalan, kekerasannya akan berbeda antara yang tinggi swadayanya dengan rendah swadayanya.
Kesadaran akan swadaya ini harus dimunculkan agar tidak ada sangsi program bagi desa. Kualitas itu adalah didukung oleh partisipasi masyarakat terutama yang mengetahui kualitas bahan atau material sampai bangunan.
Pasir apakah yang dipakai tinggi rendah kadar garamnya, kualitas batu belah atau split, kualitas sirtu, dan campuran semen yang proporsional akan menghasilkan kualitas beton yang dapat terukur dengan tonasi tertentu.
Untuk kualitas efisiensi dan efektifitas kerja dapat menggunakan pendekatan model six big losses dan six sigma, dimana di dalam akan terukur, berapa persen tingkat efektifitas dan kualitas, serta efisiensi bangunan yang dibuat.
Kerusakan itu seperti pecah, berlubang, tirus, tipis, kurang keras dan padat. Sedangkan sebabnya adalah pasir yang digunakan apakah pasir laut berarti kualitas rendah bila menggunakan pasir laut karena berlubang-lubang bila kena hujan. Semennya sedikit atau di bawah spesifikasi bangunan, split yang digunakan tidak sesuai, cara pengerjaan yang salah, sirtu yang tidak sesuai.
Pelacakan sebab kualitas yang rendah dapat dilakukan dengan menggunakan analisis pohon masalah, atau model manajemen yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s