TEROR BUKAN ANCAMAN

Saya mendapat beberapa ancaman dari para pelaku yang saya duga sedang terlibat praktek-praktek kotor yang bertentangan dengan hati nurani di desa ini. Saya merasa terpanggil mengemukakan adanya dan sedang berlangsungnya praktek-praktek kotor tersebut kepada siapapun yang ingin membacanya.

Kiranya jelas bahwa kalau saya membeberkan semua hal dalam situs Dumadi dot com ini adalah karena di dalam benak dan hati nurani demikian banyak warga, termasuk kaum muda yang menjadi pelakunya. Hal tersebut perlu diketahui dan dikutuk oleh para anggota masyarakat kita yang di dalam kehidupan bermasyarakatnya jelas berasaskan agama dan peraturan negara.

Memang ada upaya dilakukan untuk memberangus dan mengekang saya, entah itu lewat istri saya atau cara lain, tetapi Insya Allah, sampai sekarang tidak mempan. Disebarkan lah cerita bahwa yang melandasi tulisan-tulisan saya adalah karena kedengkian, kebencian, dan iri hati. Tidak ada sedikitpun alasan untuk itu, karena seperti yang selalu saya katakan, saya tidak ada pamrih apapun, selain demi kemajuan dan kebaikan desa kita ini. Saya tidak membutuhkan pengakuan apapun, dengan sendirinya saya tidak pernah meminta sehingga tidak pernah di tolak. Karena tidak pernah di tolak, dengan sendirinya juga tidak pernah sakit hati dan dengki.

Muak atas banyaknya sikap dan perilaku para tokoh memang sangat, tetapi hal ini tidak pernah membuat benci, dengki dan iri hati. Saya bahkan kagum kalau ada orang-orang yang bukan termasuk kategori tokoh tetapi berani melakukan perlawanan terhadap penindasan. Saya tidak mempunyai beban sedikitpun untuk membeberkan fakta-fakta yang saya dapat, karena bertentangan dengan hati nurani saya. Tidak ada yang dapat melarang saya, apa salah dan pasalnya? Hak bicara dan mengemukakan pendapat saya dijamin dan dilindungi oleh UUD 1945. Sejak sekolah pun saya diajarkan dan diyakinkan berkali-kali bahwa saya warga yang ikut memiliki negara ini dan menjadi anggota bangsa Indonesia dengan hak dan kewajiban yang sama. Atas landasan inilah saya tidak akan membiarkan hak dan kewajiban konstitusi saya dikurangi dan dikekang oleh siapapun.

Ada juga yang mengatakan bahwa saya akan kehilangan banyak teman karena tindakan saya membeberkan ketidak senonohan ini, saya jawab kalau yang hilang adalah teman-teman yang kotor dan tidak senonoh, apa ruginya? Karena pelu diketahui, disamping adanya upaya pengekangan dan ancaman terhadap saya, dukungan moral dari banyak warga desa dan luar desa, termasuk elit-elit perangkat desa mengalir tiada tara berlipat gandanya. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih yang mana dari pada tidak berterima kasih.

Terhadap para perangkat desa, saya tekankan perlunya kemandirian sikap yang dilandasi pemahaman yang utuh terhadap peraturan-peraturan yang ada di dalam bekerja baik sebagai pelayan masyarakat maupun sebagai pembantu kepala desa. Bila hal ini dipegang teguh oleh perangkat desa, tentu dengan sendirinya dapat mencegah aspek negatif yang muncul karena pengaruh arogansi dan libido kekuasaan kepala desa. Hal tersebut perlu di ugemi, untuk menjernihkan dan menyortir agar tidak membuat rancu definisi kekuasaaan yang sehat. Perangkat adalah profesi profesional, bukan jabatan selir atau garwa padmi. Sehebat apapun posisi garwa padmi, tetap saja dia terikat oleh nafsu sang penguasa tanpa batasan, kata simba “Swargo nunut neraka katut”. Jabatan perangkat adalah mulia, karena lewat kompetisi, bukan sekedar nunut atau katut. Kalau anda laki-laki jadilah seperti Begawan Bisma, yang berani mempertaruhkan nyawa demi membela kebenaran. Jangan anda jadi Arjuna, karena sehebat apapun Arjuna, dia suka selingkuh menyakiti wanita. Kalau ada wanita, jadilah seperti Srikandi, yang tidak takut darah dalam membela bangsanya, jangan seperti Banowati sudah bersuami tetapi masih main sama Permadi. Semoga Banowati dan Arjuna masuk neraka.

Mari kita kembali ke topik semula, yaitu perangkat. Kepada rekan-rekan perangkat, saya meminta untuk terus menerus kritis terhadap kebijakan-kebijakan kepala desa, karena itu menyangkut setiap sen uang yang dikeluarkan negara dan masyarakat untuk mendukung pembangunan dan kekuasaan yang dijalankannya. Saya yakin anda kritis, tetapi itu tidak dilakukan secara terbuka, sehingga yang berkembang adalah desas-desus dan intrik di belakang. Kebiasaan main belakang ini tidak sehat, lakukan secara terbuka, jangan mengkritik dengan cara sodomi, seperti robot gedek. Jadilah kesatria tanah jawa, seperti Ronggo Lawe, Joko Tingkir dan lain-lain. Jangan dibiasakan berperilaku sodomi, karena kalau keterusan anda bisa jadi pelaku mutilasi. Naudzubillah min dzalik. Jadilah kaum teladan yang doanya dinantikan semua orang. Jadilah ili-ili yang berbudi, yang bisa mengaliri lahan sampai meresap ke hati masyarakat, jadilah kaur pembangunan yang profesional yang ahli menata insfrakstruktur desa, bukan lari terbirit-birit melihat bruk ambrol kidul sepur. Jadilah Sekdes idaman Andalah ruhnya pemerintahan desa, di tangan Anda tersimpan arsip dan sejarah desa. Ingatlah, kalau anda menyimpang sesungguhnya hati masyarakat yang akan mencatat sejarah anda yang kelam. Kaur Kesra, siapa bilang pembalap tidak bisa? Di tangan anda tersimpan raskin, BKT, almarhum tua maupun muda, janda-janda, perawan maupun jejaka menanti anda. Bayi lahir lapor anda, orang mati lapor, hati-hatilah yang saya sebut terakhir adalah penuh keghaiban, ngomong-ngomong akte sudah pada jadi belum? Kaur Pemerintahan, jabatan anda sungguh strategis, jadikan sebagai wasilah untuk melicinkan siratal mustakim, agar surga dan neraka tidak sama jaraknya. Kaur Umum, adalah penjaga aset desa, jagalah properti desa, jagalah mesin-mesin milik desa, komputer desa, meubelair desa, di tata dan dicatat dengan jujur, jangan sampai digerogoti tikus seperti lumbung desa yangsudah tidak jumengglung lagi, tapi cicit-cicit suara tikus. Kaur Keuangan, Andalah gubernur BInya desa, jagalah aliran dana agar tidak terjadi kasus Century yang berdampak sistemik bagi keuangan desa. Jogoboyo, andalah satpam nya desa, jadilah Satpam yang baik, timbulkan rasa aman dan tentram di masyarakat.

Kepala Desa, andalah presiden kita, jadilah panutan dan suri tauladan, pemimpin yang sepi ing pamrih rame ing gawe, mau manjing ajur ajer demi membela warganya, tegakkan disiplin, buatkan SK-SK yang standar, jangan membuat SK yang rumit seperi resep dokter yang sulit di baca. Libatkan sebanyak mungkin partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan desa. Mintalah nasehat ulama-ulama agar kendali pemerintahan tetap di jalur yang amanah.

Kadus : kepala dusun, jabatan yang prestisius, jadi rebutan semua orang. Jadilah kadus yang lurus, membela warganya, jangan sampai warganya tertipu oleh tindakan-tindakan kotor, hidupkan budaya silaturahmi untuk merekatkan masyarakat.

BPD (bikin pusing desa) saya hanya bisa ikut berbela sungkawa, semoga arwah anda tidak gentayangan.

Wassalam

Dlangu, 19 Maret 2010

-FATHUR HUDA-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s