MANAGEMEN

-SAWANG SINAWANG-

Dalam hidup ini kita pasti pernah mengalami saat-saat yang mengesankan entah itu kesan yang baik dan indah atau kesan buruk dan mengenaskan.

Bermula dari sebuah keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat desa di mana kemampuan dan ketahanan sosialnya sangat rendah, baik terhadap pemerintahan desa maupun terhadap elit-elitnya. Atas dasar tersebut saya mencoba menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan untuk peduli dalam kepedulian, dalam satu kesamaan dasar, dalam satu paradigma untuk bersama-sama membangun dalam kebersamaan. Sehingga kelak masyarakat diharapkan secara mendasar mampu memahami paradigmatik pada aspek epistemologi dan penguasaan metodologi di semua bidang dan berikut  aksiologinya. Yang pada gilirannya mampu meningkatkan setiap individu maupun komunitas yang ada di dalamnya mempunyai sikap atas realita yang melingkupinya. Terutama pada aspek menentukan pilihan dan hak atas struktur sosial yang tidak adil dari kekuasaan (baca pemerintahan desa) yang tidak memberi perlindungan dan pencerdasan pada rakyat.

Oleh karena itu, saya memilih menjadi diri saya sendiri, menjadi orang kecil dan menjadi orang biasa-biasa saja. Orang kecil letaknya di bawah sehingga tidak bisa dijatuhkan. Orang kecil tak punya apa-apa, sehingga aman dari pencurian. Orang kecil tak memiliki angan-angan yang muluk-muluk kecuali citra baik di mata Allah, sehingga tidak mudah dipojokkan manusia.

Meskipun menjadi orang kecil, rasa syukur saya tetap begitu besar dan rasanya jatah waktu hidup saya tidak cukup saya pakai untuk memanifestasikan rasa syukur saya kepada Allah. Dengan menjadi orang kecil, dengan menjadi orang biasa, saya bisa mengurangi keterikatan dan ketergantungan tertentu kepada pamong desa. Kalau Pak Lurah atau orang berpangkat, ia tergantung pada kedudukannya di kursi sehingga bila tidak amanah bisa diseret, ditodong atau ditakut-takuti untuk khawatir akan kehilangan kekuasaan sehingga terkadang terpaksa melakukan perbuatan tercela dan nista untuk mempertahankan kekuasaannya. Demikian juga orang kaya, ia akan menjadi makanan bagi pencuri dan bagi kekayaannya sendiri.

Kalau orang diperbudak oleh pamrih jabatan, status sosial, kekayaan, harta benda, dan lain sebagainya ia tidak bisa menjadi pemberani atas hidupnya sendiri. Ia gampang takut, gampang kehilangan, gampang merasa terancam, sehingga sering kali harus menindas suara hatinya sendiri.

Seperti yang baru saja terlewati, dimana gelombang ajudikasi lewat begitu saja, sehingga kami rakyat miskin tidak punya prospek untuk sekedar memiliki selembar sertifikat tanah yang konon kabarnya bisa dijadikan agunan untuk pinjam duit di bank bila tidak punya uang untuk beli pupuk, atau modal jualan kripik singkong atau bahkan untuk membayar atau menebus ijazah anaknya yang ditahan oleh kepala sekolah yang keparat. Kini mimpi ajudikasi tinggallah mimpi, mimpi buruk buat orang miskin.

Buat Pak Lurah, buat Pak Camat apakah menurut sampean, Allah lebih sering “berada” ditempat sepi, terasing dan amat jauh dari rakyat, ataukah Allah lebih suka menemani sampean dikantor yang dibangun oleh duit rakyat? Apakah sampean tidak punya angan-angan? Betapa indahnya kalau bisa mengantarkan mimpi orang miskin seperti saya ke hari depan? Sebab betapa indahnya pula bila dalam sholat-sholat kami, mengantarkan doa-doa kami untuk sampean kepada cinta kasih Allah.

Dimanapun saya berada, saya akan terus menulis, biarpun orang-orang disekeliling saya menganggap saya bodoh dan usil. Ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan seseorang, tidak membuat kasih sayangnya meningkat dan menurut pandangan saya ini adalah ironis dan sesat yang menyesatkan.

Rakyat hanya dijadikan obyek yang boleh diapakan saja, dimarahi, diancam, dituduh semaunya. Tidak boleh protes, tidak boleh menjawab meskipun dalam posisi yang benar. Apakah itu ilmu yang didapat dari bangku akademik, dari perpustakaan atau referensi buku-buku ilmiah? Apakah sampean tidak pernah belajar ilmu sejati, yang bersumber dari pengalaman otentik dari keringat dan air mata realitas, dari nurani yang jujur, dan pikiran yang jernih. Itulah ilmu sejati yang pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen dan ustad yang hanya mentransfer kalimat-kalimat dari buku-buku dan diktat-diktat.

Dalam agama sering diungkapkan kalimat qulil haqqa walau kana murron. Katakan yang benar meskipun pahit. Yang benar tentang kebenaran, maupun yang benar tentang kejahatan.

Jadi jangan salahkan saya bila Pak Camat atau Pak Lurah atau Pak- Pak yang lain bila berpidato saya akan menyiapkan gigi rangkap untuk mengunyah maknanya sebelum saya telan, jadi harus dikunyah dulu, tidak boleh ditelan apalagi diuntal begitu saja. Sebab zaman ini, terutama yang ada dijajaran kekuasaan entah itu pemerintahan, sekolah-sekolah, instansi penegak hukum bahkan masjid atau yayasan, semua pasti baik. Pak camat baik, pak lurah baik, pak polisi baik, pak guru baik, dan pak ustadz baik, semua baik yang jelek pasti “oknum”.

Di benak orang-orang miskin, tidak ada yang lebih membahagiakan di banding kesempatan untuk di”ayomi” oleh jenis kepemimpinan yang memiliki estetika elastisitas dan fleksibilitas. Kepemimpinan yang bukan Cuma bisa memerintah, tapi juga bisa menghibur orang yang susah jadi tersenyum, orang yang kehilangan harapan jadi bangkit kembali menatap matahari baru. Kepemimpinan yang memiliki kemampuan untuk mengubah yang kaku menjadi lembut, yang hitam menjadi penuh warna terang menyala-nyala. Tapi apa yang terjadi kini? Rakyat tetap saja menjadi obyek yang tidak bisa mengakses semua kebijakan publik yang mempersulit hidupnya. Akhirnya sebagai representasi orang miskin, pandai-pandailah saya membohongi diri sendiri, pandai-pandailah memilih kosmetika psikologis untuk mengubah rasa tertindas menjadi tidak tertindas, rasa di anak tirikan menjadi di anak emaskan. Belajar menyanyi dan melawak seperti bapak-bapak camat dan bapak-bapak lurah kita, agar yang menyakitkan terasa menyenangkan, sambil terus belajar menerima kesedihan dengan cara gembira, menangis dengan cara tertawa.

Barang kali bapak-bapak kita akan bingung bagaimana menemukan kerangka logika yang terbalik itu, tapi apa peduli saya? Karena saya juga bingung menggathuk ghatukkan logika yang bapak-bapak buat sendiri, seperti logika sinting yang baru saja saya dengar, tanah sudah bersertifikat masih dikenai pologoro 10% padahal pologoro hanya untuk membuat “C” di desa. Apakah desa ini mau makar, sehingga Pak Lurah mau membuat aturan sendiri tanpa landasan “perda dan undang-undang” yang diatasnya?

Kalau sudah begini jadinya, kepada siapa saya mengeluh dan mengadu? Akankah saya keluhkan derita dan kesedihan ini kepada Allah? Tetapi bukankah ia telah mewakilkan diri-Nya dalam mengurusi pologoro dan tugas-tugas lain yaitu kepada Pak Lurah? Akankah kita perintahkan Allah saja agar mengurusi soal pologoro dan soal-soal lainnya? Sesungguhnya sang maha kuasa itu sudah menyediakan obat untuk setiap penyakit, dan cahaya untuk setiap kegelapan. Persoalannya tinggal apakah manusia mau mencari obat dan cahaya itu atau tidak. Apakah manusia mau mendayagunakan atau tidak. Akan tetapi tatkala perimbangan cosmis sudah terancam oleh egosentrisme manusia (baca Camat-Lurah) ada kemungkinan Allah akan turun tangan. Tapi ada kemungkinan juga tidak, itu sepenuhnya hak Allah.

Dan kalau selama ini Allah seolah-olah diam saja, barangkali sejak semula toh sudah gamblang bagi akal sehat kita semua, mana benar mana salah, mana baik mana buruk, mana indah mana jorok. Sunnahnya telah jelas, hukum alam dan undang-undang kehidupan di muka bumi sudah tertera dalam kepekaan kecerdasan setiap manusia. Tetapi di desa kita ini, agaknya Allah masih menyisakan kasih sayang yang tidak sedikit. Ketika pemerintahan desa tidak menjalankan kekhalifahannya dengan murni, dimana para perangkatnya hanya sibuk dengan angon bebek atau nggenjot becak demi kepentingannya sendiri, Allah tidak membiarkan rakyat tenggelam dalam kesepian dan derita. Allah selalu hadir diputaran siang maupuan malam. Allah bersemayam dalam diri setiap orang, meskipun banyak diantara kita justru menolak kehadirannya itu dan karena barang kali tidak mengenali gejalanya. Lebih parahnya lagi, pemimpin kita sekarang ini tidak punya kesadaran dan elan kepemimpinan, ia boleh dikatakan sama sekali tidak mengerti apa yang harus diperbuatnya sebagai pemimpin desa. Menjadi lurah baginya adalah rejeki atau modal bisnis bukan tugas, kewajiban atau tanggung jawab.

Di jaman ini kalau seseorang lurah tidak mengerti bahwa jabatannya adalah modal dagang, ia adalah lurah yang dungu ….!

Dlangu, 8 April 2010

Fathur Huda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s