Kemanakah Arah Suksesi kepemimpinan Kita di Era Liberalisasi Demokrasi Indonesia (Studi Prediksi Pileg, Pilpres dan Pilkada Pasca 2014)


Kemanakah Arah Suksesi kepemimpinan Kita di Era Liberalisasi Demokrasi Indonesia
(Studi Prediksi Pileg, Pilpres dan Pilkada Pasca 2014)

Mau tidak mau suka tidak suka sebagai bangsa yang ingin maju dan besar komitmen bernegara agar konsisten agar rakyat tidak bingung. Apapun UUD’45 amandemen beserta Undang-Undang serta peraturan-peraturan pendukung adalah merupakan satu rangkaian system yang harus ditaati oleh sipapun kalau Negara ini berkomitmen sebagai Negara hokum dan kostitusional. Oleh karena itu persiapan pemimpin nasional harus disiapkan agar lebih selektif memilih calon pemimpin mendatang meski waktu relative jauh dan masyarakata semakin menuju arah mengambang dan tidak terikat pada satu wadah tertentu dalam pilihannya, yaitu minimal figure yang dipilih belum menuju pada cita-cita pemimpin yang ditawrakan oleh calon pemimpin mendatang, dan konsep Negara akan dibawa kemana, masih butuh waktu yang panjang.
Sistem domokrasi yang saat ini menuju kepada kepemimpinan prifat dan kolektifitas akan didorong pada persaingan individual yang tajam dimana kekuatan persaingan cukup kental yaitu pendekatan :
.1. Keluarga, kelompok ataupun grup.
2. Modal atau keuangan pribadi pemimpin.
3. Konsepsi kepemimpinan dan ideology kepemimpinan.
Mau tidak mau suka ataupun tidak suka pemimpin Indonesia mendatang harus memiliki tiga kepeloporan hal tersebu, karena money politik bukan jaminan untuk memenangkan kompetisi, Ikatan kekeluargaan yang kuat pun tidak menjamin, apalagi hanya sekedar tawaran konsepsual.
Karena masyarakat dan pemerintah dalam stake holder pemerintahan harus menghadapi transisi dari demokrasi continental adopsi pemerintahn belanda yang multi partai dan proporsional menuju system perorangan yang bersifat distrik menuju bipartai model Anglo sactions model Amerika Serikat. Jadi kubu terkuat adalah dua kubu yang lebih menawarkan pertumbuhan dan kubu yang menawarkan keadilan dan pemerataan.
Kita tahu dengan system pemilu yang memiliki pergeseran dari proporsional menuju distri artinya bahwa menuju system pemilu yang hasilnya mewakili satu kelompok dengan menhilangkan keterwakilan kelompok lainnya, mau tidak mau suka tidak suka, maka harus disiapkan system kedewasaan yang cukup besar untuk menjadi bangsa yang besar dengan satu cita-cita sosialisme Indonesia di dalam Negara Kesatua Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Meskipun situasi cukuplah berbeda baik dari dalam maupun luar negeri.
Siste distriik ini kedepan akan menuju konsekuensi sempurna baik dalam hal politik, ekonomi dan budaya, dimana dialektika persaingan bebas dan liberalism cukup menjadi isu penting, sampai pada titik kulminasinya, bahwa akan muncul kesenjangan dan ketidak pastian, sehingga kelompok kepentingan harus membangun cita-cita bersama secara alamiah.
Justru situasi transisional ini saatnya para pemimpin membangun posisinya, tidaklah aatnya bahwa kepentingan kelompok atau pribadi mengalahkan kepentingan Negara, karena system demokrasi hanya satu bagian dari sitem, tapi profesionalisme, intelektualitas harus tetap dilindungi, selama ini perbedaan dan para intelektualitas tidak dihargai karena kegagalan para pemimpin mengesplorasi sumber daya manusia yang ada, dan manjadikan kontra produktif dan penghncuran kader bangsa secara sistematis.
Berjuta-juta potensi sumber daya manusia dan beribu-ribu intelektual telah mengalami frustasi karena pemerintahan tidak mengakomodir potensi mereka, dan pemerintah tidak mampu mengendalikan potensi perbedaan, sehingga menjadikan sikap bahwa manusia adlah serigala bagi yang lainnya, yang kuat yang menang, yang kaya makin kaya.
Inilah sesuatu yang menjadi ancaman kita, padahal cita-cita kemerdekaan adalah kemakmuran bersama, dan keadilan secara merata. Bandul pemerintahan adalah bagaimana menciptakan pertumbuhan atau ekonomi, yah itu pilihan taktis, namun apakah lembaga kepegawaian mampu menterjemahkan keinginan pemenang pemilu, karena pimpinan politik itu temporal, dan para pelaku pemerintahan itu cukup panjang masa kerjanya dan mapan.
Inilah yang membuat konsepsi calon pemimpin tidak bias dilaksanakan apabila memperoleh kemenangan, karena merupakan sesuatu yang tidak berubah secara total, sunggu cukup berbeda pabila partai menang pelaku pemerintahan harus berubah pula secara mendasar.
Karena praja atau pelaku pemerintahan sebenarnya harus professional dalam menterjemahkan kepentingan politik para pemenang pemilu. Namun hal ini belum bias dilakukan karena kedewasaan bernegara belum begitu tinggi.
Partai yang banyak selama ini sebagai peredam gejolak mungkin akan mengalami eleminasi atau terkoreksi jumlahnya dimana electoral trace hold dan parlementary trace hold telah menghilangkan kelompok yang minoritas, dan minoritas ini akan bergabung dalam kelompok yang lebih kuat. Sedangkan syarat-syarat untuk berdiri partai baru cukup berat.
Secara dialektis merger dan akuisisi partai itu merupakan dialektika alam system partai yang menggunakan persaingan bebas seperti Indonesia, dan kelompok akan terbagi secara besar-besar pada dua kelompok yaitu kelompok sosialis dan kapitalis, namun karena antara partai yang ada itu kekuatan kapitalis yang dipertandingkan maka akan terjadi pertarungan kekuatan modal antar partai yang cenderung akan menjadi kelompok partai yang berbentuk corporasi atau pabrik partai.
Namun apakah ini akan bertahan lama, kita tidak tahu karena rakyat tidak semakin terakomodir, namun Negara akan mengalami perjalanan sejarah sendiri, karena rakyat Indonesia cukup dinamis sehingga partai harus melakukan perkiraan-perkiraan politik yang tajam dan analistis, partai yang kkau dan pragmatis akan mengalami kehancuran. Karena rakyat makin cerdas , sedangkan stok untuk menjadikan iming politik dari pemerintah dan parpol sudah tipis, tidak ada warna baru yang ditawarkan, akankah statusquo dan oligarki politik dapat bertahan? Dimana tidak ada kekuatan yang sangat solid di negeri ini, sedangkan alamnya pun sangat dinamis dan tidak solid, banyak hal yang harsu melahirkan pemikiran yang luwes.
Cukup menjadi keheranan para pemimpin parpol masih berpikir nepotism, bahkan primitive, padahal mereka sudah harus melakukan analisis dan modifikasi taktik strategi dimana ada beberapa kekuatan terutama partai harus dapat memilih dan menentuka orang-orang yang dapat mendulang suara cukup besar, Partai malah kadang memperlakukan pemilih sebagai bawahan itu hal yang konyol. Karena tidak ada satu partaipun di Indonesia yang mampu melahirkan kader, namun tak ada bedanya dengan rumah makan dan temapt kos atau kontrakan bagi calon legislative dan eksekutif.
Partai sudah bukan merupakan penyalur aspirasi, bahkan apa artinya berebut partai kalau tidak mempunyai dukungan masa kuwat dan capital kuat, partai hanya penjual tiket calon legislative dan presiden, lah kalau masih menggunakan gambar partai, lah kalau sudah nama orang dan poto, sedangkan calon lebih diutamakan yang mampu mengumpulkan KTP, lah partai bagaimana kalau masih primitive dan pragmatis, bahkan tidak mementingkan proses kaderisasi, dimana masyarakat sudah punya jalur aspirasi begitu banyak dan variatif.

One thought on “Kemanakah Arah Suksesi kepemimpinan Kita di Era Liberalisasi Demokrasi Indonesia (Studi Prediksi Pileg, Pilpres dan Pilkada Pasca 2014)

  1. ya mau gak mau mau bagaimana ya????????????????????????????????????????????????????????????,.setiap kali mau pemilian dpr presiden semua baik baik ,setelah selesai mereka mangkir dari kebaikan kepada masarakat.
    jika para calon calon hanya memikirkan perut isi api neraka bukan mikir perut diri dan masarakat dengan air sorga bahayaaaaaaaaaaa lah negri ini,.seolah olah negri ini tidk ada pemerintahan nya yang memimpin yang mengayomi rakyat dengan lbaik sesuai cita cita proklamasi yang sesungguhnya.
    saya masaaaaaaaaaaaaraaaaaaaaaaakaaaaaaaaaaaat dfan yakin seyakin yakin nya bilamana paraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa pemimpin negara pusat maupun daerah dpr sampai ke lurah mungkin rt yang menjalan kan amanah undang undang falsafah pancasila falsafah agama yang bersih hati nya dan punya niat yang tulus setulus nya karena yang m,enguasai ALAM SEMESTA DAN DAN YANG MENCIPTAKAN ISINYA TERMASUK ORAAAAAAAAAAAAG2 YANG ADA maka sampai kapan negri ini bahagia .jika mau seluruh masarakat dan pejabat yang mau jujur setiap saat berdoa semuga bila mana manusia pemimpin bangsa pusat dan daerah masarakat yang makan harta mharammmmmmmmmmm yang di atur agama dan uu negara di beri sangsi hukum nyata oleh alloh berupa kepala benjol sebesar kepala ,jika ini di kabulkan saya yakin negri yang gemah ripah loh jinawi katanya akan makmur yang beneran semuga doa doa mujarap aminnnnnnnnnn aminnnnnnnnnn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s