Fit But no Profit (Sehat tapi tidak menghasilkan)


Fit But no Profit (Sehat tapi tidak menghasilkan)
Analisis laporan tahunan Simpan Pinjam Kelompok perempuan PNPM MD
Per Kecamatan dengan Asumsi bantuan 2 M Rupiah. Dengan optimal Simpanan 500 juta Rupiah

Setiap laporan keuangans ebaiknya laporan keuangan itu sehat, itulah alas an yang dilakukan oleh Unit Pengelola kegiatan PNPM Mandiri Desa, disertai bimbingan Fasilitaor kecamatan. Namun dlam manajemen perbankan mikro finance ukuran kesehatan perbankan berbeda dengan laopran keuangan perusahaan manufaktur, dagang, jasa dan pemerintahan. Karena dalam manajemen perbankan itu ukuran kesehatan perbankan itu berbeda karena komoditi yang diperjual belikan berbeda yaitu moneter atau uang.
Jadi kalo kinerja dapat diukur keberhasilannya, jika keuntungan yang diperoleh simpan pinjam kelompok perempuan (SPP) maka dapatlah diketahui bahwa hitungan 25% provitabilitas berarti kinerja UPK tidaklah sehat, dimana optimal kalau sehat keuntungan UPK per tahun adalah 39% per tahun. Mengapa begitu?
Coba anda perhitungkan itu kan hanya hasil perguliran pertama, penenrimaan pengembalian dan disimpan di Bank Umum dengan bunga setinggi-tingginya 6% per tahun karena BI rate hanya 6,25 % per tahun, berarti secara strategies kinerja UPK dipertanyakan.
Kondisi ideal adalah jika keuntungan UPK 39 % karena merupakan keuntungan dari perguliran maksimal pinjaman dan pengeluaran yang berkemanag jadi merupakan keuntungan dari 18% pengembalaian, dan 18% dari penerimaan kemblian dan jasa yang digulirkan kembali, untuk nilai ini adalah dikatakan kinerja sangat memuaskan.
Kalaupun untuk idealnya dibagi dalam 5 kriteria yaitu:
– Kinerja sangat jelek adalah keuntungan 25 – 27,8 persen
– Kinerja jelek adalah keuntungan 27,8 – 30,6 persen
– Kinerja sedang adalah keuntungan 30,6 – 33,4 persen
– Kinerja baik adalah keuntungan 33,4 – 36,2 persen
– Kinerja sangat baik adalah keuntungan 36,4 – 39 persen
Maka dapat diukur dan menjadi catatan penilaian kinerja dari UPK sehingga dana itu tetap bergulir di masyrakat terutama kredit mikro dan kecil.
Berdasarkan jawaban dari para pengurus UPK yang dikonfirmasi baik melalui berbagai media elektronik, telepon, internet maupun tatap muka, mereka menjawab :
1. Masih Pembelajaran menjadi pertanyaan Bagaimana orang kerja kok pemebelajaran.
2. Masyarakat lebih suka tidak tanggung renteng pertanyaan saya lagi lah kalo begitu mengapa anda mau bekerja dan membuat visi misi anda waktu anda magang sebagai UPK.
3. Banyak kegiatan pengelolaan non SPP, seperti Sarpras, Laporan Keuangan dan PKH, pertanyaan lagi kenapa tugas inti anda ditinggalkan.
4. Pendapatan kecil.. jadi pertanyaan bahwa pendapatan anda kan diambil dari operasional 2% dari Simpan Pinjam dan BPNPM, lah kalo anda hanya menggharapkan 2% dari BPNPM ya kecil dong, kan harusnya anda pendapatanya dari eprguliran.
5. Teori tidak sama dengan praktek, tapi kan bekerja itu harus taat pada target, kalo tidak yah kalo di perusahaan professional bdan bank umum resikonya apa , jawab sendiri.
Banyak hal yang bias dilakukan oleh UPK karena UPK tidak memiliki resiko liquiditas, karena tidak ada tabungan dari pihak ke tiga. Dan harus dipahami bahwa tujuan PNPM MD adalajh:
1. Menekan Inflasi sampai 2 % per tahun , baru menurunkan 14,7 – 7,4 masih jauh dari tujua pemerataan pendapatan.
2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan kesempatan kerja penuh yaitu menciptakan lapangan kerja dengan adanya dana bergulir.
3. Mengendalokan tingkat suku bunga sehingga bias di atas BI rate, sehingga Bank umum memiliki kecenderungan menyalurkan dana pada sector riil dan PNPM sebagai penyeibang kemungkinan bank umum untuk menyimpan uangnya di SBI dan sector yang beresiko tinggo seperti Valas dan Pasar Modal, serta kredit di sector property yang mengakibatkan krisis di Negara maju dan berkembang.
4. Meningkatkan Pendapatan dan Daya beli masyarakat sehingga memiliki bargaining posisi dengan pihak asing dan capital besar untuk hasil pertanian, dan industry kecil.
5. Mencapaian sasaran target ekonomi makro tersebut dan PNPM menjadi media intermediasi Moneter dan alat untuk meningkatkan emkanisme transmisi kebijakan moneter dengan sasaran akhir di atas.
6. Meningkatkan tabungan masyarakat untuk dapat menciptakan kemandirian rakyat dan meningkatkan investasi di sector riil.
Mengapa kredit mikro itu penting karena industry mikro adalah industry yang terbukti tegar dan tak lekang di goyang krisis moneter, mampu melakukan inovasi, dan cash flow yang cukup cepat, dengan provit besar omset kecil dan modal kecil, serta skill para pelaku yang cukup tinggi.
Kelemahannya adalah masalah administrasi keuangan dan kebutuhan modal karena biasanya perbankan konfensional tidak yakin karena kolateral mereka kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s