Suksesi Kepemimpinan di Indonesia Tahun Ini


Pergantian Presiden tak dapat dihindari sesuai amanat konstitusi bahwa Jabatan Presiden adalah dua periode saja. Hal ini menjadikan suasana pergantian pemimpin lebih cepat, sehingga muncul kandidai baru yang muncul dengan menawarkan popularitas mereka. Dimana sistem pemilihan langsung adalah merupakan budaya demokrasi saat ini.
Demokrat mengikuti Jejak partai Golkar 2 periode yang lalu yaitu dengan sistem konvensi dimana sebagai partai modern yang tidak memandang kepopuleran pemimpin partai, namun pelajaran pait dengan adanya konvensi akankah membuat kekalahan pada pilpres mendatang, karena empirisme terjadi seperti itu.
Peran press dan media masa dari 15 tahun periodisasi Pemilu di Indonesia peran media masa cukup mendominasi persepsi pemilih sehingga secara dibawah sadar mendorong kemenangan seseorang. Strategi pencitraan mendominasi. sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk menguasai media masa begitu besar, sehingga peran kappital cukuplah besar. Siapa yang menguasai media masa akan memenangkan kompetisi, namun untuk periode mendatang apakah empirisme ini akan menjadi Postulat.
Media masa sekarang sangat mengarahkan WIN-HT dalam segala kampanyenya dan menguasai waktu bahkan durasi penuh di Televisi, dan seakan tidak dikejar oleh pesaing lain bahkan dari Partai yang sudah mapan dan establish, dimana telah mendominasi kursi pemilu legislatif sebelumnya.
Seperti bunyi Proklamasi bahwa ” hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain dijalankan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” hal ini menjadikan pegangan bahwa perubahan Indonesia bisa dalam waktu yang cukup singkat. Mampukah Win HT yang diusung partai Hanura dengan suara dibawah Parlemen trace hold dan Elektoral Trace hold sehingga mampu menguasai Presindensial Trac Hold. Dimana harus dipenuhinya syarat-syarat untuk mengajukan pasangan Presiden dan wakil dengan jumlah suara 7 persen dari suara sah, kalau tidak dicapai pupuslah harapan mereka dan biaya yang telah dikeluarkan kalau tidak juga harus menggandeng partai lain yang memiliki suara gabungan, dengan berbagai kontrak politik.
Sejarah menunjukan bahwa Presiden dan wakil presiden bukan dimenangkan oleh partai tapi figur calon itu sendiri, dan partai dapat tiba-tiba mendominasi suara dan kursi parlemen, sudah dibuktikan pada masa kejayaan Soekarno di tahun 1950-an, sehingga kemenangan partai tidak bisa berdeasaerkan prediksi perhitungan suara pemilu sebelumnya. Hal ini akibat bahwa Partai Di Indonesai pasca reformasi tidak memilik Ormas penyangga yang kuat, sehingga masa adalah masa mengambang sehingga mobilisasi pemulih cukup singkat dan cepat, dan indifidualisme anggota Partai dominan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s