Bagian Tiga GM Sudarta Ketidakberdayaan Menghadapi Kekuasaan


Setelah era eforia Orde baru usai, dari kacamata kartun ada banyak pengalaman yang tidak terduga muncul sihadapannya. Rasa optomisme yang meluap-luap padamasa awal orde baru menjelma menjadi selain harapan baru juga persoalan baru dan kekecewaan baru. Tekanan terhadap pers yang berupa SIT dan SIUPP yang berujung dengan pembredelan sangat terasa akibatnya bagi Kartun.
Eufemisme,hati-hati, tidak sarkastik, tidak to do point, tepo seliro, ngono yo ngono ning aja ngono adalah pedoman dia dalam menyampaikan kritik lewat kartun. Jangan katakana maling pada maling, melainkan sebut saja orang yng mengambil milik orang lain tanpa ijin. Tapi waktu itu bukan kendala baginya, melainkan meningkatkan kreatifnya dalam melntarkan kritik.
Dari pengalaman selama ini, dimana kadar humor juga menjadi muatan utama kartun, ada cara menyampaikan kritik lewat kartun supaya aman dan sejahtera. Yakni kartun bersenyum. Senyum untuk yang dikritik, suapaya tidak marah dan mau membaca Koran itu. Apabila tidak bias membuat tersenyum brarti misi tidak tercapai. Bahkan Koran bias tewas karena dibredel. Senyum untuk masyarakat yang terwakili aspirasinya, dan senyum bagi kartunis karena tidak takut ditangkap. Memang Absurd tapi ini yang membuat dunia kartun tetap hidup di Indonesia.
Hasilnya? Ada juga, meskipun peranan kartun lebih merupakan pembuka katup-katup tekanan social. Kekecewaan terhadap keadaan, bias dibikin lega dan terhibur oleh humor dalam kartun. Tetapi kartun juga juga lebih dari sekedar cermin ketidak berdayaan menghadapi kekuasaan sang penguasa. Bahkan lebih untuk menertawakan dan mengolok-olok nasib diri sendiri. Misalnya menyampaikan ribuan kritik tetang korupsi dan birokrasi, hasilnya tetap saja banyak korupsi dan bahkan berkembang.
Memang kartun hanya untuk menyampaikan misi perbaikan. Masalah baik atau tidak, bukan tanggung jawab kartunis. Kartun hanya sebagai anjing yang menggonggong kalau ada sesuatu yang tidak beres. Kartun hanya berteiak pada bsiiskan yang mengatkan kita belum terlambat untuk memperbaiki.
Sejak Orde lama, orde aru sampai orde reformasi,adalah sebuah kenyataan sikap para pemimpin bangsa seperti sklus, yang sellau berulang. Setiap kali sampai ke puncak kekuasaan, seakan mereka enggan menerima kriti pers.
Penulis: Dumadi Tri Restiyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s